
Shen Zhu terbangun oleh suara berdebam keras yang membahana. Ia duduk mendengarkan di dalam lubang.
BUUUUUMMM!
Seluruh tempat di sekelilingnya berguncang dan berkeretak.
Kaisar Raja Iblis sedang push-up, pikirnya tak peduli.
Lalu kembali memejamkan matanya.
Tapi suara lain terdengar.
Suara gemeretak kering di atas kepalanya.
Ia menarik duduk tubuhnya dan melayangkan pandang ke sekeliling. Tapi hanya melihat kegelapan pekat.
Ia mendongak mengikuti suara itu ke atas. Gelap total. Tidak ada secercah cahaya pun dari atas kepalanya.
Tak ada bulan. Tak ada bintang. Tak ada angin.
Di mana aku? pikirnya kebingungan.
Ia menepuk lantai di sekelilingnya. Tangannya menyentuh permukaan batu kasar dan serpihan kerikil. Sebatang logam. Lubang di permukaan lantai.
Semacam terowongan bawah tanah atau gua, ia menyimpulkan. Tapi kenapa aku bisa berada di sini?
Shen Zhu mengambil napas dalam-dalam. Tempat itu terasa lembap, seperti berlumut. Di mana pun aku berada, tak ada yang masuk ke sini dalam jangka waktu cukup lama, katanya dalam hati.
Bersamaan dengan itu, seluruh tempat di sekelilingnya kembali berguncang.
GROAAAAAAARRR!
Suara-suara aneh kembali bergemuruh.
Lalu ia mendengar teriakan nyaring yang familier.
"HIAAAAAAAT!"
Tuan Bao! Shen Zhu tersentak dan melompat berdiri. Sekarang kesadarannya benar-benar pulih. Begitu juga dengan penglihatannya.
Shen Zhu mengedar pandang untuk mencari keberadaan pedangnya.
Bersamaan dengan itu…
BUUUUUMM!
Ledakan di atas kepalanya menebarkan cahaya terang benderang.
Shen Zhu menemukan pedangnya tergolek tak jauh dari kakinya dalam keadaan utuh dan licin mengkilap.
Kolam darah di sekelilingnya telah mengering tanpa menyisakan genangan sedikit pun. Bahkan percikan darah.
"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!"
Teriakan nyaring Bao Hu menyentakkannya lagi. Ia mendongak menatap lubang di atasnya sambil berpikir keras. Bagaimana caranya keluar dari sini?
Sementara itu, Bao Hu sudah terpelanting sekali lagi.
Gerombolan iblis tengkorak sudah mengepungnya di sana-sini.
Iblis raksasa berbulu hitam legam dengan tanduk banteng itu berjalan ke arahnya dengan suara langkah berdebum-debum. Setiap pijakan kakinya meninggalkan percikan api.
__ADS_1
Bao Hu mencoba menarik bangkit tubuhnya, tapi rasa panas menghujam dadanya seperti sengatan petir. Gelombang rasa mual bercampur sesak. Ia terbatuk dan memuntahkan segumpal darah.
Iblis raksasa itu mengayunkan cakarnya mencabik udara kosong, melontarkan semburan api berbentuk kubah berwarna merah darah ke arah Bao Hu.
Bersamaan dengan itu, ledakan cahaya menyilaukan membuncah dari dalam sumur.
DUAAAAARRRR!
Sumur itu turut meledak menyemburkan serpihan debu dan bebatuan bersama keredap cahaya dan gemuruh angin yang mengerikan.
Gerombolan iblis tengkorak tersapu dan terserak ke sana-kemari.
Iblis raksasa terhempas hingga berlutut.
Apa lagi sekarang? Bao Hu terhenyak disergap kengerian.
Seseorang melesat keluar dari sumur itu dan mendarat di depan Bao Hu dalam posisi setengah jongkok setengah berlutut. Satu lututnya bertumpu di lantai, lutut lainnya terlipat di depan dengan sikap jongkok. Satu tangannya bertumpu pada lantai, tangan lainnya terkepal di depan wajahnya, bertopang pada batang pedangnya.
"Shen Zhu!" Bao Hu terpekik lemah. "Kau masih hidup?" desisnya terengah-engah.
Shen Zhu menoleh ke samping dan melirik ke arah Bao Hu melalui sudut matanya sambil mengangguk singkat.
Bao Hu merangkak di belakangnya dengan sebelah tangan terulur ke arah Shen Zhu, mencoba meraih pundak pemuda itu tapi hanya menggapai udara kosong.
Shen Zhu sudah melesat ke arah iblis raksasa yang sudah beranjak bangkit dan menerjangnya.
"HIAAAAAAAT!"
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
Ledakan-ledakan cahaya membuncah bertubi-tubi bersama suara-suara berdebum yang kemudian berakhir dalam dentuman dahsyat yang membuat seluruh tempat kembali berguncang dan menggelegar.
Tubuh raksasa berbulu itu meledak berkeping-keping menyemburkan lahar membara seperti letusan gunung, yang secara otomatis membuat gerombolan iblis tengkorak di sekelilingnya turut tersapu dalam sekejap, lalu terbakar dan lenyap menjadi asap yang kemudian menguap tersapu angin.
Apa aku benar-benar melihatnya? batin Bao Hu di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam. Aku pasti sedang bermimpi! pikirnya tak yakin. Lalu semuanya tersaput oleh kegelapan bersama kesadarannya.
Bercak-bercak ungu tua melayang di depan mata Bao Hu. Sebagian dari dirinya ingin tenggelam lagi ke dalam kegelapan, tapi sebagian dirinya yang lain berjuang keras untuk sadar sepenuhnya.
Lambat laun bercak-bercak ungu itu memudar, berganti abu-abu.
Kabut menipis dan muncullah wajah istrinya. Lalu wajah-wajah lainnya.
Mula-mula jauh sekali. Lalu semakin dekat.
Semakin dekat.
"Kurasa dia sudah mulai sadar," Bao Hu mendengar suara pamannya berkata.
Ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh keningnya. Lalu wajah khawatir istrinya muncul dari balik kabut abu-abu.
"Kakak!" Suara Bao Yu memicu ingatannya.
Dengan susah payah Bao Hu berusaha bangkit, menyangga tubuhnya dengan kedua siku. "Di mana Shen Zhu?" tanyanya setengah memekik.
"Tenanglah," hibur istrinya sambil memegangi lengannya dengan lembut.
Tatapan Bao Hu yang panik menyapu seluruh ruangan, dan menemukan sosok yang dicarinya sedang tersungkur di sisi tempat tidurnya.
__ADS_1
"Tuan! Aku telah mencelakai Tuan," sesal Shen Zhu sambil membentur-benturkan dahinya ke lantai. "Aku pantas dihukum!"
Bao Hu menepiskan tangan istrinya dan menghambur ke arah Shen Zhu, lalu berjongkok dan meraup kedua bahu pemuda. "Apa yang kau lakukan?" Bao Hu memarahinya. "Akulah yang hampir mencelakaimu! Bangunlah!"
Shen Zhu mengangkat wajahnya dan menatap Bao Hu dengan ekspresi muram.
"Kau yang menyelamatkanku!" Bao Hu menambahkan.
Seisi ruangan terperangah mendengar pengakuan Bao Hu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya istrinya sambil membungkuk dan menarik bangkit tubuh Bao Hu, kemudian menuntunnya kembali ke tempat tidur.
Shen Zhu masih tergagap kebingungan dalam posisi berlutut.
"Bangunlah!" hardik Bao Hu pada Shen Zhu.
Shen Zhu menoleh pada gurunya dengan tatapan ragu.
Bao Yu menanggapinya dengan anggukan samar.
Shen Zhu akhirnya beranjak dari lantai, kemudian bergabung dengan Bao Yu.
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi mengirim murid untuk pelatihan khusus!" gumam Bao Hu.
Para tetua di sekeliling ruangan serentak terperangah.
"Kultivasi iblis di reruntuhan kuno rata-rata sudah ratusan ribu tahun," Bao Hu memberitahu.
"Apa?" para tetua memekik bersamaan.
"Dan aku hampir celaka," Bao Hu menambahkan dengan muram. "Beruntung Shen Zhu selesai tepat waktu, kalau tidak…" ia menggantung kalimatnya dan membiarkannya menguap begitu saja bersama helaan napas berat.
Seisi ruangan serentak menoleh pada Shen Zhu dengan dahi berkerut-kerut.
"Kau membawa Shen Zhu ke reruntuhan?" tanya Bao Yu terkejut.
"Semuanya terlintas begitu saja," tukas Bao Hu dengan raut wajah bersalah. "Aku mendapati Shen Zhu sedang berlatih sembunyi-sembunyi, dan melihatnya menyempurnakan ruang warisan."
"Ruang warisan?" seisi ruangan kembali memekik bersamaan. Lalu semua mata mengerling ke arah Shen Zhu sekali lagi.
Bao Yu menelan ludah dan tercengang. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Merasa sedikit jengkel. "Kau memata-matai muridku?" desisnya bernada sinis.
Bao Hu mengerjap sambil memalingkan sedikit wajahnya, lalu tertunduk dengan raut wajah menyesal.
"Lancang!" geram istri Bao Hu sambil mengetatkan rahangnya, melontarkan tatapan tajam pada Bao Yu.
"Ini salahku!" sergah Bao Hu sambil mengangkat sebelah tangannya.
Istrinya mendesah kasar dan membeliak. Tapi tak mengatakan apa-apa lagi.
"Kau sungguh bukan Bao Hu palsu?" Istri Bao Hu berkacak pinggang di tengah ruangan setelah semua orang keluar.
"Yin'er, kenapa kau bisa berpikir begitu?" Bao Hu menatap istrinya dengan dahi berkerut-kerut.
"Kau membawa murid Bao Yu untuk pelatihan khusus dengan mengantarnya sendiri, itu sudah di luar dugaan," sembur Jianyin bernada ketus. "Lalu demi melindunginya kau menemaninya sampai bermalam-malam, sampai diserang gerombolan iblis, sampai hampir kehilangan nyawa, dan kau sama sekali tak marah!"
Bao Hu membuka mulutnya, bersiap untuk menyela istrinya.
Tapi Jianyin kembali mengoceh, "Jika hal ini terjadi pada Bao Yu, itu biasa. Tapi jika hal ini terjadi padamu, maka itu aneh!"
"Yin'er—"
__ADS_1
"Kalau bukan karena tubuhmu tak ada aura aneh, aku pasti akan curiga kau diculik!" tukas Jianyin memotong ucapan Bao Hu.
Bao Hu mendesah pendek. Tidak berdaya mendebat istrinya.