
"Paman!" Shen Zhu kembali tertunduk di bawah tudung jubahnya dan mengusap-usap kepala kucingnya. "Kau masih ingat di mana letak Kuil Liu?"
Suami-istri yang bersimpuh di belakang Shen Zhu bertukar pandang.
Shen Zhu menoleh ke samping dan menghujamkan tatapan menuntut melalui ekor matanya.
Pasangan suami-istri itu langsung tertunduk. "Tentu," sang suami menjawab cepat-cepat.
"Kalau begitu berkemaslah!" perintah Shen Zhu seraya memalingkan wajahnya lagi, menatap lurus ke depan.
Pasangan suami-istri itu tergagap dan kembali bertukar pandang.
"Saatnya pulang ke rumah!" Shen Zhu menambahkan.
"Tapi…" sang suami tertunduk dengan raut wajah muram. "Kuilnya sudah menjadi reruntuhan."
"Rumahmu juga sudah menjadi reruntuhan sekarang," tukas Shen Zhu tanpa menoleh.
Suami-istri itu terlihat ragu, tapi lalu bertukar pandang lagi dan saling mengangguk. Kemudian bergegas ke dalam rumah mereka yang sudah menjadi puing.
Putra mereka masih terbaring di halaman di belakang Shen Zhu.
"Siapa lagi di sini yang bermarga Liu?" Shen Zhu mengedar pandang, menatap semua orang.
Beberapa orang tiba-tiba menyisi. Seorang pemuda seusia Shen Zhu berdiri kikuk dan tertunduk di ujung kerumunan yang terkuak itu.
Lalu seorang pria tua renta didorong ke hadapan Shen Zhu.
"Dia juga bermarga Liu!" teriak seseorang bernada sarkas.
Shen Zhu menatap mereka dengan tatapan dingin.
Orang-orang itu langsung terdiam.
"Tuan…" seseorang memanggil Shen Zhu dari belakang dengan suara tercekat.
Shen Zhu menoleh ke belakang dan mendapati pasangan suami istri lain berdiri kikuk mengapit seorang gadis. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Bolehkah kami tahu…" kepala keluarga mereka berkata terbata-bata tanpa berani mengangkat wajah. "Siapa Tuan Muda sebenarnya?"
"Aku Liu Shen Zhu!" Shen Zhu menjawab datar.
Para penduduk spontan menggumam dan saling bertukar pandang. Sebagian terlihat bingung, sebagian terlihat tak nyaman.
Keluarga kecil di belakangnya bertukar pandang dengan dahi berkerut-kerut. Barangkali sedang mengingat-ingat di mana mereka pernah mendengar nama itu. Tapi tentu saja tak ingat. Nama itu tidak terkenal seperti Liu Hanzou yang melegenda.
Kecuali…
Sebagai buronan Aliansi Ksatria.
Tapi untungnya desa itu cukup terpencil. Terletak jauh di pedalaman, di luar jangkauan Aliansi Ksatria. Meski masih termasuk wilayah Jiangnan, rumor itu mungkin tak sampai ke desa ini.
__ADS_1
Lagi pula sudah berlalu sepuluh tahun!
Meskipun rumor itu pernah beredar di desa ini, bisa jadi para penduduk sudah melupakannya.
"Putra Liu Hanzou!" Shen Zhu menambahkan dalam bisikan tajam yang terdengar jelas oleh semua orang.
Para penduduk terperangah.
"Ternyata Putra Ketua!" Tiba-tiba sejumlah pria menyeruak keluar dari kerumunan.
Shen Zhu menatap mereka dengan mata terpicing.
Para pria itu menghampiri Shen Zhu dengan tergopoh-gopoh. Kemudian membungkuk dengan tangan tertaut di depan wajah.
"Ternyata lumayan banyak!" sindir Shen Zhu tanpa ekspresi.
"Mohon maklumi kecerobohan kami," kata mereka sambil berlutut. "Kami sungguh bodoh tak bisa membedakan orang."
"Kuberi kalian pilihan," kata Shen Zhu setengah berbisik. Namun tetap terdengar jelas mengingat kekuatan spiritualnya sudah mencapai ranah surgawi. Suaranya terdengar seperti desau air bah di kejauhan. "Ikut aku pulang, atau tetap di sini sebagai budak?"
Pemuda yang sejak tadi hanya berdiri kikuk seraya tertunduk menghampiri Shen Zhu dengan ragu-ragu. Begitu juga dengan pria tua yang ditunjuk para penduduk.
Tiga orang di belakang Shen Zhu segera mendekat dan membungkuk ke arah Shen Zhu, memberikan salam soja.
Pemilik rumah yang kebakaran keluar tak lama kemudian membawa banyak buntalan. Keduanya terkejut melihat kerumunan itu.
"Aku ikut Tuan Muda!"
"Aku ikut Tuan Muda!"
Orang-orang lainnya menggumam dan berbisik-bisik.
"Kenapa begitu ribut? Memangnya siapa yang akan menghalangi mereka?" ciibir para wanita.
"Mereka hanya pendatang di desa kita," bisik yang lainnya. "Menetap di sini juga apa ada gunanya?"
Shen Zhu tiba-tiba menoleh ke arah kerumunan yang berkasak-kusuk itu, dan seketika angin kencang menerpa para penduduk.
Para penduduk itu serentak terdiam.
Suasana berubah hening, dicekam ketenangan gaib dalam waktu yang lama.
"Pendekar!" Seorang pria berbadan kekar tiba-tiba mendekat dan membungkuk ke arah Shen Zhu. "Apakah selain marga Liu boleh ikut?"
"Boleh saja!" jawab Shen Zhu seraya mendongakkan hidungnya dengan ekspresi dingin. "Tapi seperti halnya desa kalian yang memiliki peraturan, Sekte Liu juga memiliki peraturan sendiri."
"Aku mengerti!" pria itu membungkuk semakin dalam. "Apa pun itu, aku akan ikut!"
Shen Zhu tersenyum miring. "Kau yakin takkan menyesal? Asal kau tahu, tujuan kami adalah reruntuhan kuno yang mungkin saja sudah menjadi sarang iblis!"
"Percayalah! Di sini tak ada bedanya," tukas pria itu sambil membungkuk lagi.
__ADS_1
Para penduduk spontan mengumpat.
"Orang tidak berguna sepertimu akan selalu menemukan tempat yang sama!" hardik seorang pria.
"Seorang budak saja berani berlagak!" timpal yang lainnya. "Kami memberimu makan dan tempat tinggal selama ini. Tidak tahu terima kasih!"
Pemuda berotot itu mengerling ke arah mereka dengan risih. Lalu menatap Shen Zhu dengan sorot memohon.
Shen Zhu tersenyum sedih tanpa kentara.
Lemah!
Tidak berguna!
Shen Zhu membatin getir, merasa familier dengan situasi itu.
Ia juga datang sebagai yatim-piatu di Aliansi Ksatria, dipungut sebagai budak secara tak langsung. Mendapati dirinya begitu lemah, semua orang berebut untuk menyingkirkannya.
Tentu situasinya akan berbeda jika ayahnya masih hidup.
Begitu juga dengan orang-orang yang tidak diinginkan ini, mungkin takkan disinggung jika mereka memiliki kekuatan dan latar belakang yang bagus.
Orang-orang yang tidak diinginkan ini… membutuhkan orang seperti Guru Yu dan Guru Jyang, pikir Shen Zhu. Tak banyak orang seperti mereka, katanya dalam hati.
Sudah saatnya mencari penerus mereka! tekadanya. Dimulai dari klanku!
"Ada lagi yang ingin ikut denganku ke sarang iblis?" Shen Zhu menawarkan.
"Bawa sekalian orang tidak berguna lainnya!" gumam seorang pria dalam kerumunan.
Shen Zhu mendengus sinis, "Sangat berisik!" desisnya bernada dingin.
Sekali lagi, seluruh tempat di sekelilingnya diterpa angin ribut yang mengintimidasi.
Para penduduk langsung mengkerut.
Tak lama kemudian, sekitar tujuh keluarga berkemas dan mengikut Shen Zhu bersama sejumlah pemuda liar dan yatim-piatu.
Para pria membuat dua kereta pengangkut dan beranjak meninggalkan desa itu.
Ada lima kuda yang mereka miliki. Shen Zhu menunggangi salah satunya, sementara empat lainnya untuk menarik kereta pengangkut.
Perjalanan itu memakan waktu tujuh hari di bawah instruksi pria yang rumahnya dibakar. Terasa canggung pada hari pertama, mengingat beberapa dari mereka ikut terlibat dalam aksi pembakaran rumah itu.
Tapi sejak remaja, bukankah Shen Zhu sudah memiliki bakat mumpuni dalam menyatukan perpecahan internal sebuah koloni?
Mendamaikan mereka bukanlah hal yang sulit.
Ketika malam tiba, mereka menepi di sebuah hutan dan membangun tenda seadanya. Kemudian membuat perapian. Dan selama itu, tanpa sadar mereka sudah saling bahu-membahu meski belum saling bertegur sapa.
Mereka hanya bicara pada Shen Zhu. Beberapa ibu lebih memilih bicara pada anak-anak yatim-piatu yang mereka bawa. Atau menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tidak penting.
__ADS_1
Shen Zhu mengawasi mereka seraya tersenyum samar.