Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
136


__ADS_3

Pekik-jerit rakyat jelata menggema di dua negara, Qingyun dan Jiangnan.


Aliansi Ksatria telah menemukan alasan untuk menghukum semua orang yang berniat berpaling dari otoritas mereka.


Mereka mungkin tak bisa menemukan kekurangan Kaisar Langit, tak bisa menuduhnya sesat. Tapi mereka selalu menemukan celah untuk menindas.


Dengan dalih penghujatan terhadap dewa, setiap orang yang menggunakan simbol Kaisar Langit ditangkap dan dihukum atas tuduhan pelecehan terhadap dewa.


"Jangan menyebut nama dewa dengan sembarangan!" Berbekal satu hukum ini, mereka menindas rakyat.


Itu adalah hukum langit.


Setiap rumah digeledah. Setiap sekte dihancurkan. Bahkan balai-balai pengobatan.


Rakyat kecil meratap!


Qingyun dan Jiangnan menjadi lautan api.


"Saatnya Dewi Pelindung turun tangan!" perintah Shen Zhu yang berada di Tahta Langit.


Semburat cahaya emas memancar di atas Laut Elemen, menembus dunia tak kasatmata dan menyoroti Xiao Mao, kemudian membawanya terbang ke langit, membawanya keluar Benua Jingling, membawanya melayang di langit Qingyun dan langit Jiangnan.


Xiao Mao menaruh seruling di mulutnya, kemudian memainkannya.


Irama sejuk mengalir seperti riak air. Selaksa bidadari melayang turun dalam lingkaran cahaya emas yang menyelubungi Xiao Mao, seperti hujan salju dalam pusaran angin.


Melayang ringan dalam tarian lembut seperti di dalam air.


Semburat pelangi tercipta dari alunan seruling Dewi Pelindung, membentang dari Jiangnan sampai ke Qingyun.


Para bidadari itu berpencar menjadi dua bagian, seperti air yang ditumpahkan langsung dari langit, kemudian mengalir ke tanah Qingyun dan Jiangnan.


Para wanita dan anak-anak tidak berdosa diselamatkan. Para pria diberi kekuatan.


Langit mendadak terang dan berkilauan seperti permata yaspis. Semua orang mendongak dan terperangah, tercengang seperti terkena sihir.


Lalu ketika para bidadari itu melayang turun ke seluruh penjuru negeri, semua orang merasa seakan mereka sedang sekarat.


Para bidadari itu sedang menjemput kami ke surga! pikir sebagian besar orang.


Menjadikan semuanya terlihat seperti bukan dalam kenyataan.


Sementara itu di penjara bawah tanah yang pengap dan dingin, semakin bertambah pengap dan mulai panas seiring bertambahnya para tahanan.


Setiap bilik penjara mulai padat hingga tak ada lagi yang bisa berbaring, hanya duduk membungkuk memeluk lutut mereka.


Hening…


Di tengah-tengah keheningan yang memilukan itu terdengar suara aneh dari tengah-tengah kerumunan para tahanan yang sedang terpuruk dalam salah satu sel.


Crok, crok, crok, crok!


Seluruh penghuni sel itu serentak menoleh ke sumber suara. Dua di antaranya adalah tetua dari Klan Darah.


Seseorang mengenakan jubah gelap dengan tudung kepala, berjongkok di tengah-tengah mereka, membungkuk seraya menggali lantai batu di bawah kakinya dengan sendok bubur dari kayu yang diambil dari mangkuk jatah makan mereka.


Semua orang mengerutkan keningnya, menelengkan kepalanya dan membungkuk rendah untuk melihat wajah yang tersembunyi di bawah tudung jubah gelap itu. Beberapa bertukar pandang dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Tetua Klan Darah menatap punggung pria itu dengan tatapan menilai.


"Apa yang kau lakukan?" Seseorang memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Menggali dunia bawah," jawab pria bertudung itu tanpa mengangkat wajahnya.


Beberapa orang menahan tawa mendengar perkataannya.


Seseorang yang duduk paling dekat dengan pria misterius itu membungkuk rendah untuk melihat wajahnya, "Ternyata kau sangat tampan," katanya.


"Kau masih sangat muda," komentar pria di sisi lainnya. "Sayang sekali sudah gila!"


Seisi penjara itu terkekeh.


Pria itu tetap tertunduk.


Kedua tetua Klan Darah bertukar pandang. Lalu mengerjap dan menyelinap ke tengah-tengah kerumunan. Menguak kerumunan itu dengan tergopoh-gopoh, lalu membungkuk di belakang pria bertudung itu. "Yang Mulia!" bisik mereka.


Beberapa orang yang mendengar bisikan mereka langsung terdiam, menatap kedua tetua itu dengan mata terpicing.


Pria bertudung itu berhenti menggali, lalu mengerling melewati bahunya dan tersenyum miring.


WUSSSHHH!


Angin kencang menerpa seperti badai tsunami.


DUAAAAARRRR!


Seluruh tempat di sekeliling mereka meledak. Lantai di bawah mereka tiba-tiba ambruk. Satu deret penjara melesak ke dalam tanah.


Semua orang terperosok ke dalam lubang besar yang seolah tanpa dasar. Teriakan mereka melengking nyaring dan panjang seolah tiada akhir.


Semua orang akhirnya mendarat di sebuah tempat paling gersang dengan nuasa gelap.


Sosok berjubah gelap dengan tudung kepala itu menarik bangkit tubuhnya dan berdiri.


GRAAAAAAK!


Sepasang sayap gelap berderak di belakang punggungnya, kemudian mengepak pelan. Sebatang tongkat sabit tersampir di bahunya.


Semua orang terperangah menatap sosoknya.


"Malaikat Jurang Maut?" desis beberapa orang ketakutan.


Ya!


Itu memang Shen Zhu!


Shen Zhu ketujuh yang memimpin Dunia Bawah.


Dua tetua Klan Darah menghambur menghampirinya dengan antusias, kemudian membungkuk di depan pria itu.


Pria lainnya memekik dan menahan napas. Kedua tetua itu juga bersayap, mengenakan jubah gelap dengan tudung kepala dan membawa sebatang tongkat sabit.


Lalu semua orang berteriak menyadari dirinya juga bersayap, berjubah gelap dengan tudung kepala dan membawa sebatang tongkat sabit.


"Apa yang terjadi?" pekik semua orang.

__ADS_1


"Kenapa kami serupa denganmu?"


"Apa kami semua sudah mati?"


Situasi berubah gaduh.


"Ssshhh!" Shen Zhu meletakkan ujung telunjuk di bibirnya, dan seketika semua orang langsung terdiam. "Kalian baru benar-benar hidup," bisiknya bergemuruh seperti air bah di kejauhan.


Orang-orang itu tersentak dan tergagap-gagap seraya memeriksa di mereka masing-masing.


"Jadilah kematian bagi para penindas!" perintah Shen Zhu dalam bisikan tajam. "Jadilah hukum bagi mereka yang menghukummu!"


Mata semua orang serentak berbinar.


Penindas? pikir mereka. Yang menghukumku?


Lalu secara serentak pikiran semua orang tertuju pada Aliansi Ksatria.


Lalu secara tiba-tiba, dan tanpa peringatan, semua orang berlutut di sekeliling Shen Zhu.


"Sekarang kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan," Shen Zhu melanjutkan. "Pergilah!" perintahnya.


SLAAAASSSH!


SLAAAASSSH!


Satu per satu orang-orang itu melesat dari permukaan tanah yang hitam, kemudian menghilang dari Dunia Bawah. Berpindah tempat dalam sekejap, kembali ke sel penjara yang mendadak kembali utuh.


Para tahanan itu berdiri serempak dan membeku sesaat sebelum akhirnya melesat ke arah pintu jeruji seraya mengayunkan sabit mereka masing-masing.


TRAAAAANG!


DUAAAAARRRR!


Pintu jeruji penjara meledak beruntun dalam satu deretan.


Para penjaga tersentak dan menoleh ke belakang.


Sejumlah makhluk bersayap menyeruak keluar dari semua ruang tahanan dan menerjang ke arah mereka, menyerampang di sana-sini dan membongkar semua pintu tahanan.


Para tahanan menghambur keluar secara serentak.


Situasi mendadak gaduh dan bising.


Sejumlah ksatria menyeruak ke koridor dan dalam sekejap sudah tergilas gerombolan manusia bersayap.


"GAWAAAAATTT!" Seorang penjaga berteriak nyalang sembari menghambur keluar ruang tahanan. "Para tahanan tiba-tiba berubah menjadi monster!"


"Apa?" pekik para ksatria yang berjaga di luar gedung.


Dan sebelum mereka mengerti apa yang terjadi, gerombolan manusia bersayap itu sudah menghambur keluar seperti gelombang kelelawar raksasa.


Menghancurkan seisi gedung dan mengacaukan seluruh tempat. Lalu semuanya terbang melesat ke udara dan mengepung seluruh markas.


Para ksatria yang berjaga di pekarangan hingga ke pintu gerbang mendongak dan terkesiap, begitu juga dengan para penjaga di tiap balkon bangunan bertingkat dan di menara-menara.


Tak sampai satu dupa, seluruh ksatria yang dimiliki Aliansi Ksatria habis binasa.

__ADS_1


Ketua Aliansi dan para petingginya terpaksa bersembunyi, sementara para tahanan melarikan diri.


__ADS_2