Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
110


__ADS_3

Surga?


Shen Zhu membeku seraya mengedar pandang dengan alis bertautan.


Surga apanya?


Sebuah padang tandus yang didominasi warna arang membentang di sekelilingnya seperti hutan terbakar.


Pohon-pohon kering dan bebatuan di sekelilingnya berwarna hitam. Permukaan tanah di bawah kakinya retak-retak. Setiap retakannya menyala seperti bara.


Burung-burung gagak pemakan bangkai berkeriap di udara, terbang menukik dan berputar-putar di sekelilingnya. Beberapa bertengger di dahan-dahan kering seraya mengawasinya.


Tulang-tulang dari kerangka ikan purba dan makhluk laut lainnya berserak dan mencuat di sana-sini bersama kerang-kerang raksasa yang sudah membatu.


"Surga apa—" pekik Shen Zhu dalam bisikan tercekat.


"Surga Petaka!" Salah satu burung bangkai yang bertengger di dahan kering menjawab pertanyaannya dengan suara bariton seorang pria.


Shen Zhu tersentak dan menoleh ke arah burung itu dengan mata terpicing.


Burung itu melayang turun dalam bentuk asap, kemudian mendarat di depan Shen Zhu dalam bentuk pusaran gelap, lalu perlahan menjadi sosok pria berjubah gelap dengan tudung kepala berwajah sama persis seperti dirinya, juga menghunus pedang yang sama dengan miliknya.


Shen Zhu beringsut selangkah ke belakang, menatap wajah di bawah tudung jubah itu dengan waspada. Dewa Zainan! pekiknya dalam hati.


Sosok itu melangkah pelan seraya menyeret pedangnya, ujung pedangnya menggores permukaan tanah di belakangnya dan meninggalkan percikan api.


Shen Zhu mengerjap dan tertunduk mengawasi mata pedang itu dengan curiga. "Surga Petaka?"


Surga Petaka tercipta dari Kolam Nirwana. Samudera purba yang bergolak dan mengental seperti lahar. Karena terlalu panas, Kolam Nirwana mengalami perubahan dan terus menguap, mengepulkan asap gelap dan membuat kekacauan. Menyebabkan semesta gelap gulita.


Seiring berjalannya waktu, Kolam Nirwana mengalami penyusutan akibat terlalu panas. Uap yang dihasilkannya melahirkan dua dunia yang membelah Kolam Nirwana. Disebut Dunia atas dan Dunia Fana. Dunia Atas adalah surga tertinggi atau Dunia Cahaya di mana tak ada kegelapan. Dunia Fana adalah dunia rapuh di mana makhluk alamiah tinggal.


Kolam Nirwana berada di bawahnya, kemudian dikenal sebagai Dunia Bawah.


Uap panas Kolam Nirwana membuat Dunia Fana berevolusi. Pertumbuhan tanaman dan binatang di dalamnya berkembang terlalu pesat hingga menjadi makhluk-makhluk raksasa yang nyaris menentang langit.


Dunia baru melahirkan kekacauan baru.


Dewa Purba akhirnya menciptakan Dunia baru di antara Dunia Atas dan Dunia Fana untuk mengurangi pertumbuhan raksasa yang menentang langit. Disebut Dunia Tengah.


Dunia Bawah semakin melesak ke bawah.

__ADS_1


Tapi tetap tak cukup untuk meredam panasnya.


Demikian seterusnya hingga Dewa Purba menciptakan enam dunia, tapi Kolam Nirwana selalu mendatangkan petaka.


Kolam Nirwana dikeringkan.


"Aku yang menyegelnya!" sahut suara lain dari dahan pohon lainnya.


Shen Zhu spontan menoleh ke arah suara itu.


Seorang pria lainnya duduk berlunjur, bersandar pada batang pohon itu seraya meneguk sesuatu dari dalam guci berwarna hitam mengkilat.


Pria itu juga mengenakan jubah gelap dengan tudung kepala yang sama. Wajahnya juga tidak ada bedanya.


Guci abu kremasi! Shen Zhu terpekik dalam hatinya.


Guci antik yang disebut-sebut sebagai guci abu kremasi itu adalah Cawan Murka yang berisi lautan api dari Kolam Nirwana. Kolam Nirwana mengering setelah airnya dikeruk ke dalam guci itu. Itulah sebabnya kenapa guci itu juga disebut Segel Dewa Petaka.


Pria di atas dahan pohon kering itu menurunkan guci dari mulutnya, menyumbat gucinya dan menggantungnya pada ikat pinggangnya. Lalu mengeluarkan sebatang seruling yang sama gelap dan mulai meniupnya.


Alunan nada sendu dengan aura mistis menebar seperti semilir angin. Membuat bulu kuduk Shen Zhu meremang.


Shen Zhu menoleh ke arah pria yang menyeret pedang, lalu kembali menatap pria yang meniup seruling di dahan pohon.


Dan sebelum Shen Zhu menyadari apa yang terjadi, sebelum ia dapat bereaksi, seekor burung lainnya terbang menukik melewati bahunya dan berputar ke bahu lainnya, kemudian berubah menjadi sosok pria yang sama dengan sepasang sayap gelap. Sebelah tangannya menggenggam sabit besar dengan tangkai panjang yang disandarkan pada bahunya.


Zainan lagi? pikir Shen Zhu terkejut.


Bersamaan dengan itu, muncul lagi sosok yang sama dari belakang Shen Zhu, melongokkan wajahnya yang tersembunyi sebagian di bawah tudung jubah yang sama, melayang ringan di sisi lain seperti bayangan. Sekeliling pinggang dan kedua bahunya dililiti rantai gelap seperti selendang.


Detik berikutnya, terdengar suara langkah di belakang.


Shen Zhu menoleh ke belakang dan mendapati dua sosok yang sama.


Satunya membawa tongkat raja, satunya lagi menggendong seekor kucing dan membawa kipas.


"Xiao Mao!" pekik Shen Zhu seraya berbalik dengan mata berbinar-binar.


Pria yang menggendong kucing itu berhenti dan mengangkat wajahnya, menatap Shen Zhu tanpa ekspresi sambil menutup kipasnya. Lalu berjongkok dan menurunkan kucingnya.


Kucing itu mengepulkan asap gelap dan berubah bentuk menjadi pria yang sama. Hanya saja sedikit lebih muda. Seperti Shen Zhu saat remaja.

__ADS_1


Pemuda itu mengenakan pakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat. Sepasang hiasan berbentuk sayap dari logam berwarna hitam mencuat di belakang kedua telinganya seperti mahkota peri. Ikat pinggang dan sepatu armornya sama persis dengan milik Xiao Mao. Begitu juga dengan pelindung bahu dan pelindung tangannya.


Dewa Pemburu! Shen Zhu menyimpulkan. Kenapa wajahnya juga seperti aku? batinnya tak habis pikir.


Shen Zhu memutar tubuhnya dan mengedar pandang.


Ketujuh pria itu sudah mengelilinginya dengan ekspresi tenang yang mencurigakan.


Hanya pemain seruling yang tampak tidak peduli. Tetap bersandar di tempatnya tanpa berhenti meniup seruling. Tapi alunan serulingnya sudah mengintimidasi. Aura yang ditebarkan alunan musiknya seperti asap beracun yang membuat Shen Zhu terbius, membuat kepalanya terasa merayang dan ia mulai terhuyung.


Pria bersayap gelap dengan senjata sabit menangkap bahunya, kemudian mengungkungnya dengan kedua sayapnya.


Shen Zhu mengedikkan bahunya dan menarik dirinya menjauh.


Tapi pria bersayap gelap itu mengangkat sabitnya.


Shen Zhu melejit seraya mengepakkan sayap emasnya, menepis sabit yang diayunkan di atas kepalanya.


Tapi pada saat yang sama, pria berselendang rantai mengayunkan rantainya.


Shen Zhu menghindar dengan bersalto di udara dan mendarat di salah satu bukit batu yang hitam legam.


Pria berpedang melontarkan pedangnya. Semburat cahaya jingga melesat dari kibasan pedangnya berbentuk sabit.


Shen Zhu melejit lagi.


Dewa Pemburu menerjang ke arahnya dan berubah bentuk dalam sekejap menjadi seekor puma dan mengayunkan cakarnya.


Shen Zhu mengepakkan sayapnya, beberapa helai bulunya terlontar ke arah binatang itu seperti belati.


Tapi dengan cepat pemilik kucing itu berhasil menangkis serangan Shen Zhu dengan belati kecil berbentuk sabit berwarna hitam seperti senjata rahasia kelompok Sicarii.


Shen Zhu mendarat sesaat di dahan sebatang pohon untuk memantulkan tubuhnya semakin tinggi, lalu terbang memutar seraya melontarkan rantai dari telapak tangannya.


Lima untai rantai emas melesat keluar dari sela-sela jari tangannya.


Pemilik tongkat raja mengetukkan ujung tongkatnya di permukaan tanah, lalu dalam sekejap rantai emas Shen Zhu meliuk dan berbalik menyerang Shen Zhu.


Shen Zhu segera menarik rantainya dan melontarkan jarum-jarum cahaya dari telapak tangan lainnya.


Lagi-lagi pemilik kucing berhasil menepisnya dengan kipas yang dapat melontarkan belati.

__ADS_1


Kipas itu terlihat sama persis dengan milik Long Hua Ze.


Pusaka lainnya berada di tangan Kaisar! pikir Shen Zhu terpukul.


__ADS_2