
Semak-semak bergetar dan hutan bergemuruh.
Tianba melesat dalam gerakan memutar di udara sambil mengayunkan pedangnya.
SLAAAASSSH!
Burung-burung hutan terlempar dan jatuh menggelepar di lantai hutan bersama sedikitnya puluhan binatang kecil sekelas kelinci dan tupai.
Tianba mendarat dan menjejakkan kakinya lagi untuk kemudian melejit ke udara dan memantul-mantul ke sana kemari sambil mengayun-ayunkan pedangnya, mengacaukan hutan dan menyerang semua binatang kecil yang menurutnya menggangu dan menghalangi jalan.
Ketika ia mendarat, binatang-binatang kecil mencicit dan menggelepar. Ketika ia melejit, burung-burung tersentak dan berjatuhan.
Entah apa yang sedang coba ia buktikan pada binatang-binatang kecil malang yang tidak berdosa itu. Sepanjang perjalanan itu Tianba tidak henti-hentinya menebas apa saja yang dilewatinya.
Barangkali Tianba merasa kesal karena tak kunjung menemukan buruan. Bisa jadi hanya sok aksi di depan Jialin.
Apa pun yang dilakukannya terkesan lancang dan berlebihan.
Sangat gegabah!
Jialin melangkah tertatih-tatih di belakangnya, ranting-ranting kering berkeretak terinjak sepatu armornya yang berat. Ia menengadahkan wajahnya dalam sorot sinar matahari yang terik sambil terengah-engah.
Bunyi gemeretak di belakang membuatnya berbalik badan, tapi lalu mendesah berat.
Seekor tupai tanah berbulu cokelat-putih menyelusup masuk ke balik tumpukan daun kering.
Bukan monster! Jialin mengerang dalam hatinya, kemudian mengibaskan rambutnya yang panjang dan disanggul sebagian ke belakang ditunjang hiasan rambut glamor berbahan emas dua puluh empat karat dengan manik-manik batu giok terbaik. Sangat tidak sesuai untuk berburu monster!
Tianba melontarkan pedangnya ke arah tupai itu dan seketika tupai itu terkapar dan tidak bergerak lagi.
"Sudah hampir gelap," Jiangwu terus mengeluh di belakang mereka. "Masih perlu berapa lama? Aku lelah sekali. Tak bisa jalan lagi!"
Tianba mendengus kesal mendengar keluhan rekannya. "Kalau melambat lagi, bagaimana bisa menyelesaikan misi?"
"Aku sungguh ingin beristirahat," rengek Jiangwu. "Kakiku sudah tak sanggup lagi!"
"Dasar manja!" cebik Tianba tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. "Orang cengeng sepertimu bagaimana bisa melawti seleksi?"
"Kakak!" sela Jialin. "Di sana ada sungai!" serunya sambil menunjuk ke arah lembah. "Kenapa kita tidak beristirahat saja dulu barang sebentar?"
"Baiklah!" sahut Tianba. Wajahnya berubah dengan cepat. "Kita akan beristirahat," ia memutuskan. Lalu menuntun Jialin ke arah sungai.
Diam-diam Jiangwu memutar bola matanya dengan tampang muak. Lalu bergegas mengikuti mereka.
Rumput basah oleh percikan air terjun. Sepatu ketiganya tergelincir dan mereka terpeleset-peleset.
Langkah mereka baru mencapai tepi sungai ketika seseorang meneriaki mereka, "Kakak! Menjauh dari air! Sudah mau gelap, tak aman dekat air!"
Ketiga remaja itu serentak menoleh ke sumber suara dan mendapati Shen Zhu sedang membungkuk di puncak tebing sambil menangkupkan kedua tangannya di sekeliling mulutnya membetuk corong. Bao Tiao berdiri di sampingnya seraya bersedekap dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Ranah galaksi apa?" dengus Jialin sambil mendongakkan hidungnya dan berkacak pinggang. "Ternyata masih pengecut!"
Tianba menyeringai sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap mencemooh.
Tak sampai tiga detik setelah Shen Zhu memperingatkan mereka, tanah di bawah mereka sudah berguncang. Air sungai di dekat mereka mendadak bergeluguk.
Jialin dan kedua rekannya tersentak dan tergagap, lalu menoleh ke belakang.
Detik berikutnya, teriakan Jiangwu melengking nyaring tersapu gemuruh air bercampur angin, disusul suara ledakan yang menggelegar.
DUAAAAARRRR!
Air sungai membuncah seiring munculnya binatang raksasa di tengah sungai.
"Yang penting aku sudah memperingatkan," Shen Zhu meluruskan punggungnya dan berbalik memunggungi sungai.
BRUSSHHH!
Jiangwu terlempar ke dalam air.
Tiao masih membeku di tempatnya seraya bersedekap. Pekik-jerit Jialin tak membuatnya mengerutkan dahi. Raut wajahnya tetap datar dan tidak peduli.
Shen Zhu berhenti dan menoleh pada Tiao. Lalu melirik ke arah sungai.
Sesuatu seperti belalai gajah mencuat setinggi gunung di belakangnya. Ujung belalainya merekah seperti bunga matahari, memperlihatkan duri-duri tajam seperti taring ular.
"Hydra?" gumam Tiao. "Kalau begitu…"
"Belalainya lebih dari satu!" sahut Shen Zhu memotong perkataan Tiao.
Dan begitu ia selesai mengatakannya, belalai-belalai lainnya mencuat di kiri-kanan belalai pertama.
"Jika satunya ditebas, dua kepala lainnya akan tumbuh menggantikannya!" Shen Zhu menambahkan.
"Ternyata lebih rumit dari Sang Ratu Surga!" cemooh Tiao tak peduli. Lalu berbalik memunggungi sungai dan berjalan pelan dengan kedua tangan terlipat ke belakang.
"HIAAAAAAAT!" teriakan Jialin memantul ke dinding tebing. Tubuhnya melesat cepat ke sana-kemari tanpa kendali. Pedangnya melecut-lecut dengan gerakan membabi-buta.
Tianba menyerampang di sisi lain di antara dua belalai lainnya yang melecut-lecut.
Jiangwu meronta-ronta di dalam air dengan kalang-kabut.
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
Jialin akhirnya berhasil menebas satu belalai dengan teknik tebasan spiral.
Potongan belalai itu terlempar ke dalam air dan menimpa tubuh Jiangwu.
__ADS_1
Jiangwu semakin kalang-kabut. Tangan dan kakinya mengais-ngais tanpa kendali, sementara mulutnya bergeluguk ketika ia mencoba berteriak.
Ketika Jiangwu hampir berhasil menarik dirinya ke permukaan air, Tianba juga berhasil menebas salah satu belalai yang kemudian terpental dan menimpanya juga.
Pada akhirnya, Shen Zhu menghentikan langkah dan mendesah. Lalu berbalik dan melesat ke arah sungai.
Tiao serentak menoleh dan menggeleng-geleng. Sudah kuduga dia tak akan tega! pikirnya sambil tersenyum tipis.
Jialin dan Tianba baru saja mendarat di tepi sungai ketika belalai binatang yang sudah terpotong itu terkuak membelah diri.
"Apa?" pekik Jialin terkejut.
"Kepala mereka tumbuh menjadi dua setelah ditebas!" Tianba menyadari.
Keduanya tersentak ke belakang dengan waspada, lalu kembali memasang kuda-kuda.
Sementara itu, Jiangwu sudah melemas di dalam air. Sebelah tangannya terulur ke arah Tianba, berteriak bisu di antara kesadarannya yang mulai tenggelam bersama tubuhnya.
Tianba tidak menyadarinya. Tatapannya terpaku pada sosok raksasa yang membelah diri. Begitu juga dengan Jialin. Keduanya membeku tanpa berkedip dengan kepala mendongak. Menatap ngeri pemandangan di atas kepala mereka.
Bersamaan dengan itu, seberkas cahaya berwarna merah seperti komet melesat cepat melewati mereka dan menembus ke dalam air.
Jialin dan Tianba terpekik bersamaan, lalu menoleh ke arah sungai di mana cahaya itu jatuh.
Air sungai berubah seperti darah.
Jialin dan Tianba beringsut mundur menjauhi sungai.
Pada saat yang sama, Ulat Lumpur Hydra telah sempurna berevolusi dan menerjang ke arah mereka.
Dan sebelum mereka dapat bereaksi, seberkas cahaya lain melesat di atas kepala mereka.
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Ledakan cahaya itu menerjang belalai-belalai itu dan membekukannya.
Jialin tersentak dan terperangah. Kemudian menoleh ke puncak tebing dan mendapati kakaknya sedang berdiri dengan sebelah tangan terulur ke depan sementara tangan lainnya terlipat di belakang tubuhnya.
Jialin mengerjap dan menelan ludah. Tianba memalingkan wajahnya dan tertegun menatap patung es di tengah sungai.
Bersamaan dengan itu, patung es itu tiba-tiba bergetar. Air sungai kembali menggelegak. Lalu meledak bersama semburat cahaya dan bongkahan es.
Sesuatu melesat keluar dari ledakan ke puncak tebing.
Jialin dan Tianba kembali terperangah.
Shen Zhu mendarat di samping Tiao sambil membopong tubuh Jiangwu.
__ADS_1