Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
88


__ADS_3

Sama halnya seperti Pilar Dewa Iblis yang menjadi sumber kekuatan dari tiga puluh satu Dewa Iblis. Awalnya, dewa-dewa juga terlahir dari Pilar Dewa. Setiap mahkota dewa juga memiliki kristal dewa yang menjadi simbol identitas mereka.


Ketika seorang dewa mati, mahkota dewa akan kembali ke Pilar Dewa dengan sendirinya, untuk kemudian memilih ulang penerus yang akan menjadi dewa yang baru.


Jika mahkota dewa dihancurkan, Pilar Dewa membutuhkan waktu ratusan tahun lagi untuk menciptakan dewa baru.


Dari pemuja setia dewa tertentu biasanya dewa yang baru akan terlahir. Kuil pemuja dewa inilah yang disebut sebagai Pilar Dewa.


Di dalam Pilar Dewa, pusaka-pusaka dewa tertentu akan terkumpul. Jika salah satunya hilang, kuil tersebut tidak bisa disebut sebagai Pilar Dewa.


Setelah kekuatan spiritual pemuja dewa tertentu mencapai ranah surgawi tingkat tertinggi, pemuja dewa akan mengalami perubahan fisik secara alami menjadi makhluk abadi. Jika memenuhi syarat, mereka akan diangkat sebagai dewa yang baru menggantikan dewa yang dianutnya.


"Dewa Zainan adalah dewa tunggal tertinggi yang merajai semua dewa," singa penjaga itu memberitahu. "Ia tidak berharap mahkotanya jatuh ke tangan dewa yang salah. Jadi ia memecahkan sendiri mahkotanya menjadi tujuh bagian yang kemudian disegel dalam tujuh pusaka. Lima di antaranya sudah menjadi milik Tuan. Segel petaka, kitab petaka, rantai petaka, pedang petaka dan kucing petaka."


"Kitab petaka?" Shen Zhu mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat apakah ia memiliki kitab petaka.


"Kitab petaka adalah pantulan dari semua ajaran," singa itu menjelaskan. "Bisa dikatakan karma untuk setiap perilaku. Siapa menggunakan pedang, akan mati oleh pedang!"


Tiba-tiba Shen Zhu teringat rangkaian huruf yang menjadi mata rantai dalam aliran darahnya.


"Kitab petaka adalah perisai terkuat di alam semesta," singa itu menambahkan. "Di mana setiap orang yang menyerangnya akan menerima serangan balik."


Shen Zhu bergeming dalam waktu yang lama. Mencoba mencerna kata demi kata yang dituturkan singa penjaga itu. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan seiring pengetahuan barunya.


"Tuan, Sekte Liu dulunya adalah Pilar Dewa Petaka," singa itu memberitahu. "Salah satu leluhur Tuan pernah berhasil menduduki tahta Kaisar Dewa. Dewa petaka pertama yang menjadi Kaisar Dewa. Juga satu-satunya manusia yang menjadi dewa. Dialah yang memecahkan mahkotanya menjadi tujuh bagian dan menyegelnya dengan darahnya sendiri untuk memastikan penerusnya adalah keturunannya."


"Pantas saja dia mirip denganku," gumam Shen Zhu.

__ADS_1


"Berbeda dengan Dewa Pemburu," singa itu melanjutkan. "Dewa Pemburu bukan dewa tunggal. Mereka adalah sebuah klan. Setiap pemimpin klan dewa disebut Pilar Dewa. Pemimpin tertinggi disebut Penghulu Malaikat. Rata-rata dewa pemburu berasal dari monster spiritual jutaan tahun. Setelah mencapai usia jutaan tahun, monster spiritual akan mengalami perubahan fisik secara alami dan akan berevolusi dari tahun ke tahun setelah itu. Seperti Xiao Mao!" singa itu menoleh ke arah gadis di samping Shen Zhu.


Shen Zhu menoleh pada Xiao Mao dan meneliti gadis itu seraya mengusap dagunya.


"Matamu melihat ke mana?" Xiao Mao memelototi Shen Zhu seraya berbalik memunggunginya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Shen Zhu mengusap bagian belakang kepalanya sambil cengengesan.


"Tinggal beberapa langkah lagi, Tuan sudah akan menjadi Dewa," singa itu memberitahu. "Temukan dua pusaka lainnya dan ikuti ujian pewaris."


"Ujian lagi?" tanya Shen Zhu setengah mengerang.


"Jangan khawatir," singa itu menenangkan. "Ujian Pewaris berbeda dengan Ujian Ksatria. Tidak akan ada kompetisi untuk meraih juara satu. Hanya menjawab setiap tantangan dan melakukan beberapa hal yang seharusnya dilakukan seorang dewa."


"Lalu ke mana aku harus mencari dua pusaka lainnya?" tanya Shen Zhu tak sabar.


"Dan itu artinya aku harus menggasak Markas Besar Aliansi Ksatria?" dengus Shen Zhu.


"Tak ada jalan pintas untuk menjadi dewa," tukas singa itu.


Shen Zhu mendesah berat dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur batu yang mirip altar persembahan.


"Satu hal lagi," singa itu menambahkan. "Perbedaan kekuatan spiritual alam manusia dan alam dewa terpaut seribu level. Kekuatan spiritual Tuan saat ini baru mencapai level tiga puluh di alam dewa, masih belum memenuhi syarat untuk mengikuti Ujian Pewaris Dewa. Tuan masih perlu berlatih."


Shen Zhu mengerang lagi.


"Tapi Tuan sudah mencapai ranah surgawi tingkat tiga di alam manusia," singa itu menambahkan lagi. "Lebih dari cukup untuk menerobos Markas Besar Aliansi dan menghabisi sejumlah monster iblis. Dengan kata lain, Tuan adalah Master Spiritual terkuat di dunia manusia. Seharusnya, merebut kembali pusaka Liu bukanlah masalah besar."

__ADS_1


"Baiklah, baiklah!" Shen Zhu mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi bosan. "Aku sudah mengerti," katanya seraya menarik bangkit tubuhnya dengan berat hati, kemudian berjalan ke tepi kolam untuk membasuh dirinya.


Ketika ia membungkuk di tepi kolam itu tiba-tiba ia tersentak ke belakang seraya berteriak panik. "Kenapa aku terlihat seperti Guru Yu?"


"Apa yang kau pikirkan?" Xiao Mao memarahinya. "Usiamu sudah dua puluh lima tahun sekarang!"


Shen Zhu membungkuk lagi ke arah kolam, meraba-raba wajahnya sambil berkaca di kolam. Rambutnya sudah memanjang melewati pinggang, lehernya sudah berjakun. Bahunya bertambah lebar dan suaranya terdengar aneh. Namun terlihat lebih cantik seperti gurunya.


Setelah membasuh dirinya, Xiao Mao membantunya mengenakan pakaian baru dan menata rambutnya juga dengan hiasan rambut yang baru.


"Aku membelinya setiap kali aku ke kota manusia," cerita Xiao Mao. "Tapi setiap aku kembali ke sini, ukuran tubuhmu bertambah besar. Terakhir kali aku keluar portal. Aku membeli ukuran yang lebih besar."


"Kenapa kau tidak membeli sekalian untuk dirimu?" tanya Shen Zhu seraya mengerling ke bagian dada Xiao Mao. "Pakaianmu sudah sempit!"


"Kau—" Xiao Mao menggeram seraya melemparkan jubah armor yang baru dibelinya ke wajah Shen Zhu dan menyilangkan kedua tangannya lagi di depan dada. "Pakai sendiri!" semburnya bernada jengkel.


Shen Zhu terkekeh seraya memasang sendiri jubah armor dan pelindung bahunya. Lalu memasang pelindung tangan dan sepatu armornya.


Semuanya benar-benar pas.


Dalam hati Shen Zhu memuji ketelitian Xiao Mao. Atau lebih tepatnya tersentuh oleh perhatian gadis itu yang menyeluruh. Dia benar-benar memperhatikanku, katanya dalam hati. Lalu tersenyum diam-diam.


Tak lama kemudian, keduanya sudah bersiap untuk kembali berpetualang.


Singa penjaga itu melakukan formasi besar di mulut gua untuk mengirim mereka ke dunia manusia.


Detik berikutnya, mereka muncul di Bukit Perjanjian di hutan pemeliharaan binatang spiritual milik Klan Darah, kemudian melesat keluar gerbang diiringi gelegar halilintar dan auman singa yang menggemuruh.

__ADS_1


Para Tetua Suci Sekte Darah melihat mereka dengan gentar.


__ADS_2