
"Penyihir nomor empat delapan menang!" Pemandu acara mengumumkan.
"Apa—" beberapa orang terpekik.
Semua orang terbelalak.
Penyihir nomor empat delapan adalah Xie Ma.
"Bagaimana bisa? Aku tak melihat apa-apa tadi!" gumam seseorang.
Arena masih terlihat bias akibat cahaya yang menyilaukan. Tapi semua orang bisa melihat penyihir dari aliran hex membungkuk menekuk perutnya dalam posisi berlutut sementara Xie Ma berdiri di depannya seraya menjulurkan tongkat sihirnya menekan dahi pemuda itu.
Shen Zhu menelan ludah dan mengerjap. Menatap kakaknya dengan terkesiap. Bagaimana bisa dia terbebas dari formasi? ia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Akumulasi momentum!" gumam seorang guru di belakang Shen Zhu. "Gadis itu memanfaatkan serangan lawan untuk mencari celah."
Shen Zhu mengerutkan keningnya. Mencari celah? pikirnya. Aku mengerti, batinnya setelah lama berpikir.
Yang dimaksud dengan memanfaatkan serangan lawan untuk mencari celah adalah menemukan titik terlemah dari tekanan spiritual yang menghimpitnya.
Berkat kutukan ular yang ditebarkan lawannya, Xie Ma akhirnya tahu bahwa di tempat ular-ular itu masuk adalah tempat yang tidak ditekan aura spiritual.
Pada detik terakhir, Xie Ma memusatkan kekuatan spiritualnya ke telapak kaki dan menebarkannya di lantai hingga radius ratusan meter yang menyentakkan lawannya hingga kehilangan fokus untuk mengendalikan dua kekuatan.
Mengendalikan bola kristal sekaligus mengendalikan tongkat sihir sudah membuat konsentrasinya terbagi. Meski tekanan aura spiritual yang ditebarkan Xie Ma di lantai tak cukup kuat untuk menumbangkannya, sengatan energinya sudah lebih dari cukup untuk mengacaukan konsentrasinya. Sihirnya melemah dan Xie Ma memanfaatkannya untuk membuat serangan balik.
"Berikutnya pertarungan elementalis!" Pemandu acara mengumumkan.
Semua orang masih membeku dengan mata terpicing.
Shen Zhu memandangi punggung kakaknya yang sedang berjalan meniti undakan menuju tempat duduknya. Kau seorang Liu sejati, katanya dalam hati. Apa yang akan kulakukan kalau kita dihadapkan untuk saling mengalahkan? Apa yang akan kau lakukan?
Shen Zhu menghela napas berat dan tertunduk.
Ketika ia kembali ke penginapan yang disediakan panitia penyelenggara, yang masih berada dalam satu gedung, Shen Zhu berpapasan dengan Jyang Yue di koridor. Cincin ruang warisan keduanya saling bereaksi.
Tidak salah lagi! pikir keduanya terkejut. Memang pewaris pusaka dewa!
Lalu kedua-duanya berlalu tanpa bisa berhenti untuk saling memikirkan meski kedua-duanya tidak saling melirik ketika mereka berpapasan.
Auranya sangat dominan! pikir Shen Zhu.
Auranya sangat mengerikan! pikir Jyang Ryu.
Shen Zhu baru saja sampai di depan pintu ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Ni hao, Kakak Tampan!" Seraut wajah mungil muncul di belakangnya.
__ADS_1
Shen Zhu tersentak dan terperangah.
Gadis mungil itu menelengkan kepalanya dan menyeringai. Kedua tangannya terlipat di belakang tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanya Shen Zhu tergagap-gagap.
Gadis itu membelalakkan matanya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?" ia balik bertanya dengan gaya kekanak-kanakan. "Apa yang kau lakukan di depan kamarku?"
"Kamarmu?" Shen Zhu menoleh ke arah pintu itu dan terbelalak.
Kamar nomor tujuh!
"Maaf—Xiao Meimei!" ungkap Shen Zhu terbata-bata. "Aku—"
"Adik!" Suara kakak seperguruannya menyelamatkan Shen Zhu dari situasi. Tiao melambai-lambaikan tangannya dari seberang ruangan. "Sebelah sini!" Ia memberitahu.
Gadis mungil berpakaian serba pink itu berdesis menahan tawa sambil membekap mulutnya dengan jemari tangan.
Shen Zhu memaksakan senyum seraya mengusap bagian belakang kepalanya dan meminta maaf sekali lagi. Lalu melesat ke arah Tiao.
Gadis mungil itu terkikik sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu melongok ke arah gadis itu melalui bahu Shen Zhu dengan ekspresi penasaran.
"Aku tidak mengira selera Adik ternyata seorang pemanggil!" gumam Lim Hua.
"Aha!" goda Lian Ze sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Lalu apa yang kau lakukan di depan kamarnya?"
"Itu—" Shen Zhu menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak terasa gatal. "Kukira itu kamarku," jawabnya dengan ekspresi bodoh.
"Kau tak bisa membedakan angka tujuh dengan angka tujuh-tujuh?" sela Jialin menginterupsi.
"Aku—" Shen Zhu tergagap dan mengerjap menatap Jialin. Lalu tiba-tiba mengerutkan keningnya. "Kenapa aku harus menjelaskannya padamu?" katanya bernada ketus.
"Apa?" Jialin memelototinya. "Kau—" ia menudingkan telunjuk ke wajah Shen Zhu dan tergagap. Tiba-tiba tersadar kemarahannya tak beralasan.
Shen Zhu berpaling dan menghilang ke dalam kamarnya, diikuti kakak-kakak seperguruannya yang tidak berhenti menggoda Shen Zhu mengenai kelakuannya di depan kamar peserta Jalur Juara dari aliran elementalis itu.
"Hati-hati dengan Gadis Pemanggil!" kelakar Lim Hua. "Kalau kau sampai mengecewakannya, bisa saja dia memanggil monster dari ranah galaksi!"
Yang lainnya tergelak dan terbahak-bahak.
Jialin menelan ludah dan tergagap. Lalu berbalik ke dalam kamarnya dan membanting pintu.
Jiangwu terlonjak di sampingnya. Pemuda itu menatap pintu kamar Jialin dengan dahi berkerut-kerut kebingungan. Kenapa Kakak terlihat begitu marah? pikirnya. Lalu memutuskan untuk bergabung dengan yang lain di kamar Shen Zhu yang bersebelahan dengan kamar Jialin.
Kakak-kakak seperguruannya tidak mendapat kamar karena tak lolos putaran pertama. Mereka semua sudah tereliminasi kecuali Tiao dan Jialin.
__ADS_1
Jialin lolos ke putaran kedua, sementara Tiao belum bertarung.
Keesokan harinya, mereka berpapasan dengan gadis pemanggil itu di koridor ketika mereka semua sedang bergegas menuju arena.
Gadis mungil itu melambai-lambaikan tangannya ke arah Shen Zhu dari balik payungnya yang semarak sembari cekikikan.
Membuat Shen Zhu spontan gelagapan.
Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu berdesis bersamaan menahan tawa, sementara Jialin memasang wajah masam.
Shen Zhu memandangi kakak-kakak seperguruannya dengan wajah tersipu-sipu.
Apa hebatnya seorang pemanggil? gerutu Jialin dalam hatinya.
Hari itu giliran Tiao yang akan turun untuk bertarung, setelah sebelumnya semua peserta dari Sekte Baohu tereliminasi.
"Ronde terakhir putaran pertama!" Pemandu acara mengumumkan. "Sekte pedang melawan sekte belati!"
Tiao membungkuk pada ayahnya di seberang ruangan dengan hormat tentara. Ayahnya mengangguk singkat. Lalu Tiao membungkuk pada Bao Yu.
Bao Yu menepuk bahunya dan menyemangatinya. "Tetap tenang," ia menasihati. "Berjuanglah dengan stabil!"
"Baik!" Tiao membungkuk lagi. "Guru!" Ia menambahkan.
Bao Yu tersenyum haru.
"Kakak! Semangat!" Shen Zhu dan Jialin berseru bersamaan.
Yang lainnya hanya mengacungkan tinju di sisi wajah.
Tiao menghela napas dalam-dalam seraya mengepalkan tangannya penuh tekad. Lalu melangkah turun ke arena.
Seorang peserta berpakaian ninja sudah menunggu di arena dengan tunggangan elang berbulu perak dengan bulu sayap mirip belati.
Tiao membungkuk dengan hormat tentara. Begitu juga sebaliknya.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara menginstruksikan.
Lalu kedua peserta itu mulai memasang kuda-kuda.
Tiao menyentakkan sebelah tangannya ke samping dan seketika pedangnya sudah terhunus di tangan.
Seekor rusa putih bertanduk perak, melangkah keluar dari balik punggung Tiao yang telah mengeluarkan formasi sihir.
"Rusa Kutub Pangeran!" para peserta lain menggumam takjub di bangku penonton.
Arena pertempuran tersapu badai cahaya dan angin ribut.
__ADS_1