Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
40


__ADS_3

Bao Tiao duduk bersila dalam posisi lotus.


Sejak kembali dari Hutan Perburuan, ia belum keluar dari ruang latihan pribadinya.


Berlatih dan terus berlatih dengan semangat baru yang menggebu-gebu.


Sebelum ini, dia lebih banyak melatih kekuatan, ketangkasan, kecepatan dan teknik pedang yang menguras banyak tenaga.


Ini adalah pertama kalinya dia bertahan dengan latihan pernapasan, ketenangan dan meditasi.


Ia mengepalkan tangannya dan menyalurkan energi dingin padat ke sela-sela jarinya, lalu menyentakkan kelima jarinya, dan seketika jarum es melesat keluar dari sela-sela jemarinya, kemudian menancap di dinding kayu. "Berhasil!" pekiknya tak percaya.


Sekarang ia menyalurkan energi dingin ke dalam genggamannya hingga memadat, lalu memecahkan energi dingin padat itu dan berhasil membuat serpihan salju berbentuk pelat stellar.


Akhirnya aku bisa memiliki kesempatan untuk memperkaya teknik elemen, pikirnya. Dengan begini, tak hanya menghemat tenaga untuk mengeluarkan lebih banyak teknik pedang, tapi juga memperbanyak serangan dan pengalihan.


Tak disangka… semua yang tak kumiliki ini diberikan oleh Shen Zhu dengan percuma, katanya dalam hati. Sementara aku, karena terlalu angkuh, hampir melewatkan peluang ini!


Suara-suara berderak dan berdebuk ribut di luar mengusik Tiao.


Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghambur keluar untuk melihat apa yang terjadi. Lalu tercengang mendapati ayahnya sedang mengamuk di ruang bacanya. Melempar segala sesuatu sambil meraung-raung seperti orang gila.


"Ayah! Apa yang terjadi?" tanyanya khawatir sambil menghampiri ayahnya dengan tergopoh-gopoh.


Bao Hu tiba-tiba merenggut kerah bajunya dan mengendus-endus.


Tiao menatap ayahnya dengan dahi berkerut-kerut.


Tak lama kemudian, ayahnya melepaskan cengkeramannya dan mendorong Tiao dengan kasar. "Tinggalkan aku sendiri!" hardiknya.


Tiao menelan ludah dan tergagap. Ia mencoba membuka mulutnya untuk bertanya. Tapi ayahnya menghardiknya lagi dengan suara yang menggelegar.


"Keluar!"


Tiao tersentak dan menghambur keluar ruangan. Lalu bergegas ke pekarangan.


Guru-guru dan para tetua sudah berduyun-duyun meninggalkan aula singgasana.


Tiao mengedar pandang untuk mencari siapa saja yang bisa ditanyai. Tapi kemudian menyadari ia hampir tak pernah bicara pada siapa pun. Lalu memutuskan untuk menemui Shen Zhu.


Begitu sampai di Asrama Tujuh, situasi di sana ternyata tak lebih baik.


Ia melihat adiknya juga mengamuk dan berteriak-teriak seperti orang gila, seperti ayah mereka, meronta-ronta dalam cengkeraman para tetua.


Bao Yu berdiri dengan wajah garang di depan Jialin sambil berkacak pinggang. Raut wajahnya seratus kali lipat lebih mengerikan dari yang pernah diingatnya.


Shen Zhu dan kakak-kakak seperguruannya berderet di belakang Bao Yu, menyilangkan tangan di depan dada dengan wajah tertunduk.


Sebenarnya apa yang terjadi? pikir Tiao. Dengan ragu, ia menyeret langkahnya menuju kerumunan itu. "Paman Yu!" desisnya dengan suara tercekat.

__ADS_1


Bao Yu mengerling padanya dengan ekspresi dingin.


Tiao mengerling ke arah Shen Zhu dengan tatapan memelas.


Shen Zhu mengedikkan kepalanya sedikit, mengisyaratkan supaya Tiao bergabung di belakang Bao Yu.


Tiao mendekat ke arah Shen Zhu dengan takut-takut ketika ia melewati Bao Yu. Bola matanya bergerak-gerak gelisah mengawasi semua orang.


"Apa yang kau lakukan?" hardik Jialin, tiba-tiba menudingkan telunjuk ke arah Tiao seraya memelototinya. "Kau ingin bergabung dengan para pengkhianat?"


"Pengkhianat?" Tiao menghentikan langkahnya dan menoleh pada Jialin dengan mata terpicing.


"Mereka menjebak ibu kita!" teriak Jialin sambil menunjuk ke arah Shen Zhu. Napasnya tersengal-sengal karena terlalu emosi.


Tiao tersentak dan menoleh pada Shen Zhu.


Shen Zhu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.


"Ibu kita akan diserahkan pada iblis sebagai budak. Kita takkan pernah melihat ibu lagi untuk selamanya!" jerit Jialin mulai hilang kontrol. "Iblis kecil itu menjebak ibu kita!"


Tiao membeku dengan raut wajah tegang.


Bao Yu meliriknya dengan tatapan dingin.


Tiba-tiba, di luar dugaan semua orang, Tiao tersenyum getir. "Menjadi budak iblis?" tanyanya bernada sinis. "Bukankah memang begitu ibu kita?"


"Apa?" Jialin meledak murka.


GROAAAAAAARRR!


Jeritan Jialin berubah menjadi auman binatang buas. Aura tubuhnya seketika menyala dan berkobar-kobar.


Ia melolong dan menyentakkan kedua tangannya dan seketika para tetua yang memeganginya terpelanting di sana-sini.


Tubuh gadis itu melayang beberapa kaki dari permukaan tanah. Angin kencang berpusar di sekeliling tubuhnya. Rambut dan hanfunya melecut-lecut seperti sedang tenggelam di dalam air. Sepasang matanya menyemburkan lidah-lidah api. Begitu juga dengan ujung rambutnya yang meliuk-liuk di atas kepalanya seperti ditiup dari bawah. Sekujur tubuhnya mengeluarkan kobaran api.


Detik berikutnya, gadis itu melesat ke arah Tiao sambil mengulurkan tangannya dengan jemari membentuk cakar.


Tiao melejit menghindarinya sambil melontarkan energi cahaya berbentuk kubah dengan elemen es.


Tubuh Jialin mendesis, dan seketika sebagian nyala api di tubuhnya meredup.


Tapi setiap kali ia melolong, nyala api di tubuhnya kembali berkobar-kobar.


"Hari ini adalah hari kematian kalian semua!" geram Jialin dengan suara sengau yang terdengar asing. Tidak seperti suara aslinya. Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan pedangnya yang juga menyala-nyala seperti obor.


"Dia hampir sesat!" teriak para tetua.


Tak lama kemudian, para tetua lain dan guru-guru menghambur ke arah mereka.

__ADS_1


Jialin melontarkan serangan dengan membabi-buta.


Semua orang terlempar setiap kali ia mengayunkan pedangnya.


Tiao menghadang adiknya dengan sikap kuda-kuda, kemudian melontarkan lagi energi cahaya dengan elemen es ke arah Jialin. Tapi kali ini tidak berpengaruh apa-apa, sementara adiknya sudah semakin dekat.


Jialin mengayunkan pedangnya seperti sedang berjalan dalam tidur, dan hampir menebas leher kakaknya.


Namun pada saat bersamaan, Shen Zhu melesat ke arah Tiao dan mendorongnya menjauh dari Jialin.


Jialin tersentak dan seketika pedangnya terlempar dari genggaman tangannya.


"Kakak! Aku tahu kau membenciku," kata Shen Zhu pada Jialin. "Sayangnya aku juga membencimu," timpalnya menjengkelkan.


"Shen Zhu!" para tetua meneriakinya dengan isyarat peringatan.


Bao Yu mendesah pendek dan menggeleng-geleng.


Jialin meraung semakin gencar. Seluruh tempat di sekelilingnya berguncang ketika ia melolong.


"Baguslah!" seloroh Shen Zhu semerdeka otak penulis. "Kerahkan seluruh kebencianmu," pancingnya memprovokasi.


"Apa dia sehat?" gumam semua orang tak habis pikir.


"Entah yang mana yang kehilangan akal sehat," gerutu seorang tetua. "Keduanya tak bisa dibedakan!"


Jialin merentangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan jemari membentuk cakar, seraya melolong dan mendongakkan kepalanya seperti seekor serigala. Kobaran api meledak di telapak tangannya.


"Shen Zhu, kau membuatnya semakin menggila!" teriak para tetua.


"Hanya iblis kecil saja berani menantangku?" dengus Shen Zhu dengan sikap mencemooh.


Jialin menerjang ke arah Shen Zhu sambil menggeram seperti monster buas.


Shen Zhu melipat kedua tangannya ke belakang.


"Bocah Tengik ini cari mati!" erang Bao Yun tak sabar.


Bao Yu hanya mendesah pendek.


Ketika Jialin akhirnya berhasil menyergap Shen Zhu, pemuda itu tetap bergeming.


Semua orang terperangah seraya menahan napas.


Tubuh Shen Zhu mulai terbakar oleh kobaran api dari tubuh Jialin.


Sedetik kemudian…


DUAAAAARRRR!

__ADS_1


Kobaran api itu meledak seperti letusan gunung.


Semburan api bercampur angin panas dan debu membuncah hingga radius puluhan meter.


__ADS_2