
Hari kedua Putaran Kedua Ujian Ksatria…
Shen Zhu berhadapan dengan peserta dari aliran zen.
Ia kembali tampil dengan wajah asing yang tidak terlihat seperti dirinya. Bergeming dalam balutan ekspresi dingin dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya.
Peserta dari aliran zen itu mengenakan seragam ninja tertutup dengan selubung wajah dan kepala, ditambah caping.
Senjatanya adalah sepasang katana. Selain itu, dia juga memiliki elemen ganda.
Tidak seperti kebanyakan peserta yang mengeluarkan tunggangannya di awal, peserta itu tidak segera mengeluarkan tunggangannya untuk menyembunyikan aura. Ia bahkan tidak menggunakan energi spiritual. Hanya menghunus kedua katana di punggungnya dan memasang kuda-kuda.
Aliran zen sangat menjunjung tinggi kekuatan elemen. Jadi sebelum peserta itu turun ke arena, gurunya sudah memperingatkan untuk tidak mengeluarkan tunggangannya di awal supaya lawan tidak bisa menebak elemen yang dimilikinya.
Peserta dari aliran zen itu menunggu dengan waspada.
Pancing dia untuk bergerak!
Buat dia menghunus pedangnya!
Kemudian desak sampai dia mengeluarkan rekan monsternya!
Itu adalah misi yang dibebankan sejumlah oknum kepada peserta dari aliran zen, setelah sebelumnya mereka juga menjerat seorang majus untuk melihat siapa lawan Shen Zhu berikutnya.
Ninja itu mengepalkan kedua tangannya dengan penuh tekad, kemudian menerjang ke arah Shen Zhu sambil menyilangkan kedua pedangnya di depan wajah.
Shen Zhu menarik satu tangannya dan merentangkannya ke samping dengan jemari terkepal. Sebilah pedang tercipta dari elemen api.
"Masih tak mau menarik pedang?" teriak peserta dari aliran zen itu seraya menjejakkan sebelah kakinya ke lantai untuk kemudian memantulkan tubuhnya ke udara. "Sebagai ksatria pedang… kau terlihat seperti pecundang!" geramnya sembari terbang menukik dan mengayunkan pedangnya, melontarkan energi cahaya putih berbentuk silang ke arah Shen Zhu.
Cahaya putih adalah teknik dasar manna serangan tanpa elemen.
Shen Zhu tiba-tiba tersenyum sambil membuka kepalan tangannya, dan seketika ilusi pedang di tangannya menghilang.
Peserta itu terpekik
Semua orang terkesiap bersamaan.
"Kenapa dia malah menarik akumulasi momentum di saat serangan datang?"
Peserta dari aliran zen segera meredam kecepatan dan mundur menjauh dengan cepat untuk menghindari serangan tak terduga.
Bersamaan dengan itu, pedang ilusi yang tercipta dari elemen api tadi melesat dari arah belakang peserta itu.
Para penonton serentak menahan napas.
Peserta itu tersentak dan terkesiap. Lalu secara refleks tubuhnya mengeluarkan manna pelindung yang secara otomatis mengungkapkan warna auranya.
Elemen air! Shen Zhu menyimpulkan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" gumam para peserta di bangku penonton. "Melontarkan serangan dari arah yang berlawanan?"
Bao Hu mengerjap di deretan bangku ketua.
Shen Zhu meliriknya sekilas seraya tersenyum samar.
Dia mempelajari teknikku hanya dengan sekali melihat! batin Bao Hu takjub. Dia memang tidak seperti manusia!
"Nomor Tujuh Tujuh ini dipenuhi kejutan!" gumam seorang pejabat tak bisa menutupi perasaan takjubnya.
"Baiklah!" geram peserta dari aliran zen seraya kembali memasang kuda-kuda. "Karena rahasiaku sudah terungkap, aku tak akan sungkan lagi!" Pemuda itu melejit sekali lagi, mengayunkan kedua pedangnya dalam gerakan cepat yang kemudian melontarkan terjangan air yang bertubi-tubi dengan kecepatan luar biasa.
Shen Zhu akhirnya bergerak, beranjak dari tempatnya, melompat dan memantul-mantul dengan tak kalah cepat.
Arena meledak oleh tepuk tangan dan sorakan semangat para penonton.
"Akhirnya dia mulai terlihat seperti ksatria!" pekik para gadis semakin menggila.
Gouw Anio melompat-lompat lagi di tempat duduknya sambil mengayun-ayunkan payungnya. Ujung gaunnya yang berenda ikut melompat-lompat di sekeliling tubuhnya.
Semua mata mengerling ke arah gadis itu.
Para peserta Jalur Juara lainnya mengerang dan memutar-mutar bola mata mereka dengan tampang muak.
Jialin mendelik ke arah gadis pemanggil itu dengan raut wajah kesal.
Tiao menepuk dahi dan mengusap wajahnya sambil menggeleng-geleng.
"Kurasa para wanita itu akan menyerbu ke tengah arena untuk mengelap keringatnya!" timpal Lian Ze.
"Bisa jadi para wanita itu akhirnya bertarung massal untuk memperebutkan saputangan siapa yang akan dipakai!" Zhang Junda menambahkan.
Lalu mereka semua tergelak.
Jialin melipat kedua tangannya di depan dada seraya menggertakkan gigi.
Bao Yuwen meliriknya dengan alis bertautan.
Bao Yu tersenyum samar dengan wajah tetap lurus menghadap arena.
Peserta dari aliran zen itu sekarang mulai mengeluarkan teknik ketiga. Pusaran air meliputi tubuhnya seperti ular raksasa, kemudian terlontar ke arah Shen Zhu dan melilit pergelangan kakinya.
Sedetik kemudian, pusaran air itu mengeras dalam sekejap dan berubah menjadi bongkahan es yang membelenggu pergelangan kaki Shen Zhu, sementara pemuda itu masih dalam posisi melayang di udara.
Para wanita terpekik bersamaan.
Itu adalah elemen kedua peserta aliran zen itu.
"Elemen ganda!" seru beberapa peserta dengan takjub.
__ADS_1
Dan sebelum Shen Zhu menghancurkan belenggu es itu dengan elemen apinya, peserta dari aliran zen itu segera menyiapkan teknik keempat. Tapi ia tidak bisa bergerak. Pusaran air yang melilitnya juga mengeras dan membelenggunya.
Peserta itu juga terjebak dalam kurungan es.
"Bagaimana bisa?" pekiknya terkejut.
"Elemen ganda?" Shen Zhu mendesis di atas kepalanya. "Aku juga!" katanya seraya tersenyum miring.
Sekeliling arena membeku bersamaan seakan turut terjebak dalam belenggu es bersama kedua peserta itu.
Bahkan Bao Yu. Elemen ganda? pikirnya tak yakin.
Bao Yuwen dan Tiao mengerling ke arah Bao Yu dengan alis bertautan.
"Dari ekspresi wajahmu, kelihatannya kau juga tidak tahu kalau dia memiliki elemen ganda!" terka Bao Yuwen.
Bao Yu menggeleng. Dia merahasiakannya dariku! katanya dalam hati. "Liu Shen Zhu memiliki terlalu banyak rahasia," katanya dengan raut wajah muram.
Bao Hu mengerling ke arah mereka dari seberang ruangan.
Kaisar dan Ketua Aliansi mengerjap bersamaan.
"Ternyata dia juga memiliki elemen ganda!" bisik beberapa oknum yang terlibat dalam konspirasi dengan peserta dari aliran zen itu dengan ekspresi syok.
"Bagaimana bisa elemen api dan es berada dalam satu tubuh?" gumam para tetua terheran-heran.
"Ini aneh!" desis ketua sekte aliran zen. "Dia bahkan ditolak di Laut Elemen!"
Shen Zhu menyalurkan elemen api ke pergelangan kakinya, kemudian melayang turun.
"Nomor Tujuh-tujuh menang dengan perolehan empat puluh poin!" Pemandu acara mengumumkan.
Arena meledak oleh tepuk tangan spektakuler dan jeritan histeris para wanita.
Gouw Anio kembali melompat dan bersorak. Kali ini sampai melayang berputar-putar di udara dengan hanya bergantung pada payungnya.
Para penonton terperangah takjub melihat gadis itu.
Shen Zhu membungkuk ke arah Kaisar dan Ketua dengan hormat tentara, kemudian berbalik dan melangkah pelan menjauhi lantai arena.
Peserta dari aliran zen masih terkurung dalam es dengan raut wajah kesal.
Shen Zhu tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Setiap pijakan kakinya meremukkan sebagian bongkahan es itu dan mencairkannya perlahan-lahan.
Seorang peserta dari aliran zen di bangku penonton menjulurkan kakinya ke gang, mencoba menjegal kaki Shen Zhu.
Tapi Shen Zhu malah sengaja menginjaknya sekalian membekukannya.
"Kau—" peserta itu menggeram dan menggeliat-geliut mencoba menarik kakinya.
__ADS_1
Shen Zhu meliriknya dengan dingin melalui sudut matanya sambil tersenyum miring.