
"Xiao Mao, berapa banyak dewa pemburu yang patuh padamu?" tanya Shen Zhu.
"Sebanyak bintang di langit," jawab Xiao Mao dengan gaya menggoda kekanak-kanakan.
Shen Zhu mengetatkan rahangnya dan mendorong dahi Xiao Mao sekali lagi dengan ujung jarinya. "Jauhkan wajahmu!" geramnya.
Xiao Mao menggembungkan pipinya dan melepaskan pelukannya di lengan Shen Zhu. Lalu menarik wajahnya menjauh dan bersedekap dengan wajah cemberut.
"Hanya tujuh puluh peringkat atas dari tujuh aliran yang bisa masuk ke Aliansi Ksatria," gumam Shen Zhu, tidak mempedulikan sikap Xiao Mao.
"Sekte baru takkan berhasil," pengawal bayangan yang menjadi kusir mereka menyela dari kotak pengemudi. "Jangan lupa tujuh peserta jalur juara dari tujuh kekaisaran!" Ia mengingatkan.
"Tidak ada pengaruhnya bagiku," tukas Shen Zhu tanpa beban. "Aku percaya kelompok Sicarii dan dewa pemburu bisa mendominasi. Lagi pula, siapa bilang aku akan mendaftar sebagai sekte baru!"
"Maksud Tuan…" pengawal bayangan itu menoleh ke belakang dan mengerutkan keningnya, mencoba menerka rencana Shen Zhu. Tapi tidak berhasil. Kalimatnya tetap menggantung dan menguap begitu saja.
"Lakukan saja sesuai instruksiku," kata Shen Zhu.
"Baik," sahut pengawal itu seraya mempercepat laju kereta.
Tak lama kemudian, mereka menepi di sebuah penginapan dan memesan kamar.
"Dua kamar," pesan pengawal bayangan itu.
"Satu kamar!" sergah Shen Zhu.
Pengawal itu menoleh ke arah Shen Zhu dengan takut-takut. Lalu melengak mendapati Shen Zhu hanya sendiri. "Ah—ya, satu kamar!" ulangnya pada pelayan dengan terbata-bata. Ke mana perginya gadis dalam kereta tadi? Ia bertanya-tanya dalam hatinya, kemudian melirik sekali lagi ke arah Shen Zhu melalui sudut matanya.
Seekor kucing kecil bertengger di pangkuan Shen Zhu dan menatap pengawal itu dengan sorot mata yang seakan mengejek.
"Siapkan sepuluh mata-mata wanita untuk mendaftar Ujian Ksatria," instruksi Shen Zhu setelah mereka berada di dalam kamar.
"Baik," pengawal itu membungkuk dengan hormat tentara. "Saya akan kembali ke Sekte sementara Anda beristirahat," katanya.
"Kirim pesan pada guruku dan kakak iparku," Shen Zhu menambahkan.
"Baik!" Pengawal itu membungkuk lagi. Lalu berbalik dan bergegas menuju pintu.
"Tunggu!" Shen Zhu tiba-tiba menghentikannya.
Pengawal itu spontan berhenti dan berbalik, lalu membungkuk sekali lagi.
"Siapa namamu?" tanya Shen Zhu.
__ADS_1
"Liu Yanxi, Tuan!" jawab pengawal itu dengan sabar.
"Baiklah," kata Shen Zhu. "Aku sudah ingat. Pergilah!"
"Baik," pengawal itu membungkuk lagi. Lalu berbalik ke arah pintu.
"Tunggu!" panggil Shen Zhu lagi ketika pengawal itu hampir keluar pintu.
Pengawal itu mengernyit diam-diam dan mengerang dalam hatinya. Lalu kembali berbalik dan membungkuk. "Ya, Tuan," katanya menahan sabar.
"Bagaimana caranya menemui Paman?" tanya Shen Zhu.
"Saya akan mengirim pesan," kata pengawal itu.
"Baguslah!" kata Shen Zhu seraya mengibaskan sebelah tangannya.
Pengawal itu masih membungkuk, menunggu instruksi selanjutnya. Tapi Shen Zhu berbalik ke arah jendela di seberang ruangan seraya mengusap-usap kepala kucingnya.
Pengawal itu masih membeku di tempatnya.
Shen Zhu mengerling ke belakang melalui bahunya dan memicingkan mata. "Apa yang kau tunggu?" tanyanya bernada tajam.
"Masih ada yang lain, Tuan?" Pengawal itu menawarkan.
"Tidak ada!" jawab Shen Zhu seraya mengibaskan tangannya lagi. "Pergilah!"
Shen Zhu tiba-tiba berbalik seraya membuka mulutnya, bersiap untuk memanggil pengawal itu lagi. Tapi pengawal itu sudah menghilang. Sebelah tangannya terulur menggapai udara kosong.
"Hmh!" Shen Zhu mendesah pendek dan menggeleng-geleng. Lalu kembali memandang keluar jendela. "Kesabarannya begitu tipis," gumamnya, lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Shen Zhu sudah berkumpul dengan Bao Yu dan Jyang Ryu di restoran di lantai bawah penginapan itu.
"Aku ingin meminta sepuluh kuota kalian untuk menyusupkan klan Liu," ungkap Shen Zhu setelah mereka memesan makanan dan arak.
"Lalu bagaimana dengan murid-muridku?" bisik Bao Yu bernada tajam.
"Guru…" Shen Zhu menyahut dengan nada membujuk. "Mana yang lebih baik? Merebut Aliansi atau menjadi budak Aliansi?" tanya Shen Zhu balas berbisik.
"Apa tepatnya rencanamu?" sela Jyang Ryu seraya melirik Shen Zhu dengan mata terpicing.
"Tentu saja merancang petaka," jawab Shen Zhu tanpa beban sedikit pun. Lalu meneguk arak dari cangkirnya.
Xiao Mao makan dengan lahap di sampingnya dengan sosok seorang gadis, tidak peduli sekitar.
__ADS_1
Bao Yu melirik gadis itu dengan tatapan geli dan tersenyum samar.
"Berapa banyak kuota yang kau butuhkan?" tanya Jyang Ryu.
"Sebanyak mungkin!" jawab Shen Zhu. "Semakin banyak semakin baik!"
"Kau mengenal baik Tetua Suci klan Darah," Bao Yu mengusulkan. "Kurasa mereka tak akan keberatan!"
Shen Zhu mengerutkan keningnya dan berpikir keras.
"Urusan Sekte Darah, serahkan saja padaku!" Xiao Mao menyela di antara kunyahannya.
"Baik," Shen Zhu setuju.
"Kau masih ingat Long Hua Ze?" tanya Ryu sambil membungkuk di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Shen Zhu.
"Hmh!" Shen Zhu mengangguk singkat sambil mengunyah makanannya.
"Dia adalah Kaisar Jiangnan sekarang," Ryu memberitahu.
Shen Zhu berhenti mengunyah dan tertegun menatap Ryu.
"Aku bisa menjamin dia berada di pihakmu," bisik Jyang Ryu. "Selain itu, kakak perempuannya, Long Yueyan menikah dengan Putra Mahkota dari kekaisaran Qingyun sebagai kerjasama regional. Tapi tentu saja Long Hua Ze lebih dominan."
Shen Zhu melirik guru dan kakak iparnya bergantian seraya tersenyum miring.
"Selama kau tidak menentang langit, Sekte Bao akan mendukungmu!" Bao Yu menepuk bahu Shen Zhu.
"Sebenarnya aku masih belum bisa terima kau menjadi adik iparku," kelakar Ryu tanpa tertawa. "Tapi selama bukan pihak Aliansi Ksatria, siapa pun adalah saudaraku!" ia menambahkan dalam bisikan tajam.
Bao Yu terkekeh tipis.
"Kalau begitu, ayo kita bersulang untuk pengacau tingkat langit!" sela Xiao Mao seraya mengangkat cangkir araknya.
"Untuk pengacau tingkat langit!" Bao Yu dan Jyang Ryu menanggapi dengan membenturkan tepi cangkir arak mereka satu sama lain.
Menjelang dini hari, Liu Tang menyelinap ke kamar Shen Zhu dengan pakaian Sicarii, lengkap dengan jubah gelap bertudung dan selubung wajah.
"Masih ingat juara teratas dalam Ujian Ksatria sepuluh tahun lalu?" tanya Liu Tang setelah mereka duduk di depan meja teh di dalam kamar Shen Zhu. "Tjia Qianxi, Li Qinfeng, Gouw Anio, Shi Tan, Jyu Jieru."
"Perempuan Tampan, Alkemis Brutal, Pemanggil Kecil yang tidak bisa mengendalikan monster yang dipanggilnya, Ninja Katana dengan tiga elemen dari aliran Zen, Biksu muda dari aliran Tao," Shen Zhu menimpali seraya terkekeh tipis.
"Ingatanmu lumayan bagus!" puji Liu Tang.
__ADS_1
Aku hanya tidur selama tiga hari setelah Ujian Ksatria, kata Shen Zhu dalam hati. Bagaimana mungkin aku sudah lupa?
"Aku menjamin mereka akan berada di pihakmu!" Liu Tang meyakinkan Shen Zhu. Lalu beranjak dari tempat duduknya dan memohon diri.