Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
109


__ADS_3

Tujuh hari kemudian, Shen Zhu baru sadarkan diri.


Kekuatan spiritualnya meningkat lagi hingga enam ribu lebih. Lebih tepatnya sudah menerobos level Ksatria Tingkat Enam Ranah Surgawi.


Tapi kali ini Xiao Mao tidak berada di sisinya seperti biasa.


Dan ia sudah tidak berada di penginapan.


Shen Zhu tersentak mendapati dirinya sedang berbaring di sebuah altar kuno di dalam kuil.


Anak laki-laki berusia sebelas tahun yang telah resmi menjadi Ksatria Pengawalnya duduk bersila di lantai di tengah ruangan dengan pakaian biksu. Matanya terpejam, kedua tangannya terlipat di depan dada. Satu telapak tangan menghadap ke samping, telapak tangan lainnya menghadap ke atas di bawah pergelangan tangan lainnya.


"Di mana Xiao Mao?" pekiknya seraya mengedar pandang dengan panik. "Sudah berapa lama aku tertidur?"


"Sudah tujuh hari, Tuan!" Jingwei membuka matanya dan beranjak dari lantai, kemudian menghampirinya sambil membawa semakuk obat. "Dewi Lieren sedang mengikuti Ujian Ksatria."


"Apa?" Shen Zhu terpekik dan kalang-kabut.


"Tenanglah!" Jingwei menahan bahu Shen Zhu. "Sebagian besar kuota Ujian Ksatria sudah direbut klan Liu dan dewa pemburu."


"Bagaimana bisa?" Shen Zhu mendesis dengan suara tercekat. Lalu mengerjap dan mengerutkan keningnya.


"Sejumlah pihak membantu Dewi Lieren untuk merealisasikan rencana Tuan dalam Ujian Ksatria," tutur Jingwei. "Sekte Jianyou telah berhasil ditaklukkan. Sebuah sekte aliran alkemis menyerahkan kuota Ujian Ksatria dengan suka rela."


"Sekte alkemis?" Shen Zhu memicingkan matanya.


"Ketua mereka bernama Tjia Xiawu!" Jingwei memberitahu.


"Si Kembar?" gumam Shen Zhu. Dahinya kembali berkerut-kerut. Ia ingat gadis kembar berlainan sifat yang menjadi Peserta Jalur Juara dalam Ujian Ksatria sepuluh tahun lalu. Tjia Xiawu cukup dekat dengan Xie Ma.


"Pasti Kakak yang membantunya!" Shen Zhu menyimpulkan.


"Kalau begitu apa yang Tuan khawatirkan?" tanya Jingwei. "Meski masih jauh dari rencana, Ujian Ksatria sudah sepenuhnya di bawah kendali Tuan. Tuan hanya perlu fokus pada pencarian pusaka. Dengan begitu, rencana bisa berjalan lebih cepat!"


Shen Zhu mendesah berat dan tercenung.


"Untuk saat ini, Tuan hanya perlu menyegel ulang kekuatan spiritual," Jingwei mengingatkan. Lalu menyodorkan mangkuk berisi cairan obat yang sejak tadi dipeganginya.


Shen Zhu menerimanya dan meneguknya hingga tandas. Lalu kembali termenung.


Setelah berkali-kali mengalami sekarat, melewati batas hidup dan mati yang selalu menguntungkannya, Shen Zhu akhirnya menyadari bahwa perjalanannya menuju keilahian terlalu beruntung.

__ADS_1


Selalu ada pihak lain yang membantunya melakukan sesuatu ketika ia terpuruk dan hilang kesadaran.


Dibandingkan usahanya, faktor keberuntungannya selalu jauh lebih besar.


Sebagai calon dewa tertinggi, bukankah ia terlalu lemah?


"Semua kemudahan ini… apakah tidak terlalu mengada-ada?" Shen Zhu menggumam tak yakin, dahinya berkerut-kerut semakin dalam.


"Seorang raja memang sudah selayaknya dilayani," sahut Jingwei.


Shen Zhu menoleh ke arah anak laki-laki itu dengan mata terpicing. Bahkan anak laki-laki berusia sebelas tahun menua dalam sekejap, katanya dalam hati. Meski tubuhnya tumbuh alami, kepribadiannya tumbuh pesat secara mengerikan. Apakah anak laki-laki ini masih orang yang sama dengan anak laki-laki yang rumahnya terbakar?


Shen Zhu menatap ke dalam mata Jingwei.


Anak laki-laki itu balas menatapnya dengan ekspresi tenang. Sama seperti ketika ia berdalih bahwa dirinya tidak membunuh seperti yang dituduhkan para penduduk desa yang menghujatnya.


Benar, katanya dalam hati. Memang anak laki-laki itu!


Tidak ada yang aneh dengan kepribadian Jingwei. Sejak awal anak laki-laki itu memang sudah memiliki jiwa yang sangat tua. Kekuatan kuno yang tak banyak dimiliki anak-anak lain seusianya.


Seperti putra Bao Yu misalnya.


Kalau begitu Tainjin… Shen Zhu menggumam dalam hatinya. Tianjin juga calon pilar dewa! Ia menyadari. Tapi dewa yang mana?


"Apa yang terjadi?" bisiknya seraya mengangkat wajah, mencoba menatap Jingwei. Tapi lalu membeku mendapati anak laki-laki itu tersenyum tipis. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Tersenyum? pikirnya tak yakin. Anak itu tersenyum?


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Shen Zhu dengan suara tercekat. Lalu tiba-tiba teringat ia baru saja menenggak cairan yang diberikan Jingwei. Racun! ia menyimpulkan. "Kau meracuniku?"


Jingwei tetap bergeming di dekat altar yang menjadi tempat tidur Shen Zhu. Memandangi Shen Zhu seraya tersenyum tipis. Menunggu.


Shen Zhu akhirnya terkulai dan jatuh terjengkang.


Jingwei memperbaiki posisi tidurnya seperti semula dan meraih pedang petaka yang tergeletak di tepi tempat tidur Shen Zhu, mengangkatnya dengan kedua tangan, kemudian menikam dada Shen Zhu.


Darah segar mengalir dari luka Shen Zhu dan membanjiri altar itu.


Jingwei mencabut kembali pedang itu dan meletakkannya lagi di sisi Shen Zhu. Lalu duduk di lantai dalam posisi lotus. Kembali bermeditasi.


Asap gelap menyembur dari luka Shen Zhu dan membentuk pusaran.


Seluruh ruangan berguncang dan bergemuruh.

__ADS_1


Jingwei tetap bergeming.


Sesosok malaikat berjubah gelap dengan tudung kepala dan sepasang sayap yang sama gelap muncul dari pusaran kabut gelap itu. Membungkuk di atas tubuh Shen Zhu seperti hantu. Menghisap cahaya putih yang memancar keluar dari tubuh Shen Zhu.


Tubuh Shen Zhu berangsur-angsur memudar menjadi gambar transparan yang berkilauan seperti permata, semakin lama semakin pupus, lalu menguap menjadi butiran cahaya berwarna emas, sementara sosok malaikat di atas tubuhnya berubah semakin nyata. Jubahnya mulai memutih dan bercahaya, wajahnya berubah perlahan menjadi Shen Zhu dengan sepasang sayap.


Bola-bola cahaya berwarna emas itu meliputi tubuhnya seperti perhiasan, kemudian meresap ke dalam sayapnya.


Sepasang sayap itu perlahan berubah warna menjadi warna emas.


Kesadaran Shen Zhu bangkit dalam tubuh barunya. Ia tertunduk mengamati dirinya dengan dahi berkerut-kerut.


Apa yang terjadi? pikirnya. Apa aku sudah mati?


"Apa yang kau lakukan padaku?" hardiknya seraya menudingkan telunjuk ke arah Jingwei.


Jingwei membuka matanya perlahan. Kemudian mengangkat wajahnya. "Tahap kedua Ujian Pewarisan," jawabnya dengan ekspresi tenang.


"Apa maksudmu tahap kedua?" Shen Zhu mendesis tajam.


"Tahap pertama, Tuan mungkin pernah berlatih dengan Dewa Zainan di Ranah Galaksi. Kali ini, Tuan akan berlatih di Ranah Surgawi," Jingwei menjelaskan.


"Apa?" Shen Zhu terpekik dan tergagap-gagap.


"Anak Muda!" Shen Zhu melotot pada Jingwei. "Kau tahu dari mana tentang semua ini? Siapa yang mengajarimu?"


"Ksatria Pilar Dewa Petaka terdahulu, Tetua Tang," jawab Jingwei tetap tenang.


Shen Zhu mendesah dan terdiam. Lalu menunduk menatap Jingwei sembari berkacak pinggang. "Baiklah," katanya tak berdaya. "Sekarang apa yang harus kulakukan?"


"Ke Surga," jawab Jingwei tanpa ekspresi.


"Kau—" Shen Zhu menudingkan telunjuknya ke arah Jingwei sekali lagi, tapi tak yakin apa yang harus dikatakan. Jadi ia hanya membeku tanpa daya dengan mata dan mulut membulat.


Jingwei menatap Shen Zhu dengan alis bertautan. "Tuan," tegurnya takut-takut. "Apa Anda tak tahu cara menggunakan sayap?"


"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" Shen Zhu melotot tak sabar.


Jingwei tersenyum kikuk sambil mengerling melewati bahu Shen Zhu.


Shen Zhu mengikuti lirikan matanya dengan dahi berkerut-kerut, kemudian mengangkat kedua tangannya, memeriksa kedua sisi tubuhnya dan terkesiap mendapati sepasang sayap berbulu emas. Sayap? batinnya takjub. Ternyata memang ada sayap! Ia menyadari. Jadi ini maksudnya pergi ke surga?

__ADS_1


Shen Zhu berdeham dan berbalik memunggungi Jingwei, "Jaga sekte dengan baik," pesannya pura-pura tenang. Lalu terbang melesat secepat komet, menembus kubah dan menerobos awan di langit tinggi. Menghilang dari pandangan.


__ADS_2