
Nilai kristal monster berusia sembilan ratus ribu tahun setara dengan mahkota dewa iblis. Bisa membantu meningkatkan level kekuatan spiritual hingga sembilan puluh tingkat.
Memang cocok untuk ksatria level galaksi tingkat tinggi.
Tapi apa maksudnya setara dengan waktuku? pikir sang tetua suci. Bocah Tengik ini tak sedang menyindirku, kan?
Tetua suci itu mengamati kristal yang melayang diam di atas telapak tangannya.
Tetua suci itu adalah paman tertua Bao Hu dan Bao Yu, adik pertama ayah mereka. Namanya adalah Bao Fu. Usianya sudah hampir mencapai sembilan puluh tahun. Tapi karena ia berpantang selama bertahun-tahun, penampilannya terlihat seperti baru setengah abad.
Orang-orang yang berpantang dan mengasingkan diri seperti ini biasa disebut tetua suci karena tidak terlibat urusan duniawi lagi.
Lebih dari tiga puluh tahun Bao Fu mengasingkan diri dan hanya akan turun untuk urusan terkait hukum langit. Berlatih secara rahasia di kuil di puncak gunung. Dan selama itu, ia tak bisa lagi menerobos tingkat.
Itu adalah rahasianya!
Saudara-saudaranya sesama tetua suci saja tak tahu rahasianya.
Anak ini… tak mungkin tahu rahasiaku, kan? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Kelihatannya, usianya saja bahkan belum genap dua puluh tahun!
Tidak benar! batin Bao Fu. Kalau aku hanya menganggapnya bocah, aku yang akan sial.
Jika dia benar-benar mengetahui rahasiaku dan membocorkannya, reputasiku sebagai tetua suci akan berakhir sampai di sini.
Mungkin sebaiknya kuikuti saja kemauannya. Bocah Tengik ini tampaknya tak sederhana!
Bao Fu menarik kristal itu ke dalam genggamannya, kemudian melipat kedua tangannya ke belakang dan berdeham. Lalu berbalik ke arah Shen Zhu. "Anak Muda, aku mengerti ketulusanmu," katanya dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
Yang benar saja! Shen Zhu tertawa dalam hatinya. Aku tak hanya tak tulus, tapi juga sedang mengancammu secara halus. Kau mengerti ketulusanku yang mana?
"Sekarang katakan," lanjut Bao Fu. "Apa yang bisa kulakukan untuk membalas ketulusanmu?" ia menawarkan.
Shen Zhu membungkuk ke arah tetua suci itu dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya, "Tetua Suci," tuturnya dengan sopan. "Kalau aku meminta imbalan, bukankah itu berarti aku tak tulus?"
Wah! batin Bao Fu. Bocah Tengik ini ternyata lumayan licin!
Jianyin mengetatkan rahangnya. Bicara begitu berbelit-belit, sebenarnya apa yang ingin dikatakannya? pikirnya mulai tak tenang.
"Aku tahu waktu Tetua Suci sangat berharga," tutur Shen Zhu. "Selagi Tetua Suci berada di sini, aku ingin sekalian menanyakan satu hal."
__ADS_1
"Ternyata hanya ingin bertanya?" tanya Bao Fu tak yakin. Sungguh salah besar sudah menilaimu terlalu tinggi! katanya dalam hati.
"Seperti kita tahu," Shen Zhu mulai melancarkan spekulasinya. "Sicarii adalah kelompok pembunuh bayaran paling terkenal di lima negara utara kita."
Seisi ruangan mendadak hening ketika ia memulai. Menyimak penuturannya dengan dahi berkerut-kerut. Berpikir keras. Mencoba menebak-nebak ke mana arah pembicaraannya.
"Sicarii dianggap sebagai salah satu unit pembunuhan terorganisasi yang paling awal dari jubah dan belati, mendahului assassin dan ninja," Shen Zhu melanjutkan. "Rata-rata mereka membawa sicae---belati kecil yang diselipkan di balik jubah mereka. Pada pertemuan publik, mereka menggunakan belati itu untuk menyerang dan membunuh target, kemudian berbaur dengan kerumunan setelah aksinya untuk menghindari deteksi. Namun… organisasi ini sangat rahasia. Tidak ada yang tahu markas mereka!"
Seisi ruangan menggumam pelan. Beberapa tetua saling berbisik satu sama lain.
Jianyin mengerjap dan menelan ludah. Apa tepatnya yang ingin dia katakan? pikirnya makin tak tenang.
"Untuk dapat terhubung dengan mereka…" Shen Zhu melanjutkan sambil melirik sekilas ke arah Jianyin dan tersenyum samar. "Seseorang harus memakai aroma khusus pada tubuhnya."
"Aroma khusus?" Seisi ruangan terperangah.
Tetua suci melipat kedua tangannya di depan dada dan mengusap dagu dengan buku jarinya.
"Aroma mistik yang diharamkan sebagai wewangian," jelas Shen Zhu.
Mata Jianyin spontan membulat.
Wajah Jianyin sekarang memucat.
"Aku tahu," desis Bao Fu.
"Minyak Mistik Belati!" timpal tetua suci lainnya.
Minyak Mistik Belati adalah media perawatan benda-benda pusaka sekte belati aliran hitam. Dibuat dari esensi tumbuhan penghisap darah. Bisa mengubah pusaka menjadi senjata mematikan.
Namun, sesuai dengan namanya, Minyak Mistik Belati hanya digunakan untuk merawat belati. Tidak disarankan untuk dipakai sebagai wewangian.
Dianggap menentang langit karena sifatnya yang haus darah.
Para Sicarii menggunakan metode ini sebagai media komunikasi dengan klien mereka.
Ketika seseorang memakai aroma ini pada tubuhnya, maka secara otomatis Sicarii akan menganggap orang tersebut sebagai klien mereka dan mendatanginya secara khusus untuk negosiasi. Jika aroma digunakan tanpa sengaja, maka mereka takkan segan-segan untuk membunuh orang tersebut untuk mencegah kesaksian.
"Yang menjadi pertanyaanku adalah…" Shen Zhu melirik sekali lagi ke arah Jianyin dan tersenyum miring, "Jika aroma itu ditemukan di sini, apa yang harus dilakukan?"
"Menentang langit tetaplah menentang langit!" sergah Bao Fu. "Tak peduli siapa yang melakukannya, jika hal itu sampai terjadi di sini, jangan salahkan aku bertindak kejam. Menentang langit, harus ditindak menurut hukum langit!"
__ADS_1
Shen Zhu tersenyum puas.
"Namun…" tetua suci lainnya menginterupsi. "Karena itu aroma terlarang, tak banyak orang menggunakannya. Seperti apa aromanya saja, kami bahkan tidak mengetahuinya. Bagaimana kita bisa membuktikan aroma terlarang itu ada di sini?"
Giliran Jianyin sekarang yang tersenyum puas.
Shen Zhu membungkuk sekali lagi, "Sicae itu berasal dari sekte belati aliran hitam," Shen Zhu menunjuk belati kecil di tangan salah satu tetua suci dengan ibu jarinya. "Sudah bisa dipastikan perawatannya menggunakan Minyak Mistik Belati. Meski hanya sedikit, pasti masih menyisakan sedikit aromanya."
"Sangat masuk akal!" para tetua suci itu menanggapi dengan antusias. Lalu secara bergantian mulai menghirup aroma belati itu.
Jianyin menelan ludah dan tergagap. Seluruh warna kembali terkuras dari wajahnya. Sebulir keringat menggelinding di pelipisnya.
Bao Yu mengepalkan sebelah tangannya di depan mulutnya. Menyembunyikan senyuman geli. Bocah Tengik ini ternyata sudah berubah menjadi iblis, batinnya.
Bao Hu menatap para tetua suci itu dengan mata terpicing. Menunggu keputusan.
"Aroma ini—" Bao Fu terperangah. Lalu menoleh ke arah saudara-saudaranya. "Apa kalian tak merasa aroma ini sejak tadi sudah bercokol di ruangan ini?"
"Kalian memegangi belati itu sejak tadi!" Jianyin menyela mereka. "Tentu saja menciumnya sejak tadi."
"Benar juga," gumam tetua lainnya.
"Kalau begitu, berikan belati itu pada orang lain yang paling jauh dari keberadaannya!" usul Bao Yu. "Tanyakan pada mereka apakah mereka mencium aroma yang sama sebelumnya!"
Jianyin spontan menoleh pada Bao Yu, melontarkan tatapan tajam.
"Gagasan bagus!" komentar para tetua.
Bao Fu mengalihkan pandangannya ke seberang ruangan dan melayangkan belati itu ke barisan para guru.
Para guru itu mengendus belati itu secara bergiliran, tidak terkecuali Bao Yu.
Ternyata benar! pikir Bao Yu. Aroma ini memang sudah bercokol dalam ruangan ini sejak tadi.
"Ini sudah tercium sedari tadi," guru-guru lain menggumam bergantian. Bersahut-sahutan.
Dan ketika tiba giliran ketua, pria itu pun tersentak. Tidak benar! pekiknya dalam hati. Merasa familier dengan aroma itu.
Bao Fu menggebrak pagar balkon dengan tangan terkepal. "Periksa semua orang!" perintahnya dengan suara yang menggelegar.
Celaka! Jianyin menegang dan terhuyung. Lututnya mendadak goyah. Seluruh tubuhnya terasa limbung,
__ADS_1