
Malam sudah semakin larut ketika mereka melanjutkan perjalanan semakin jauh ke dalam hutan. Tujuan mereka berikutnya adalah Gurun Salju Abadi, letaknya di bagian utara Hutan Perburuan. Itu adalah tempat yang paling mungkin untuk mendapatkan monster elemen es.
Jialin sudah mulai menggigil ketika mereka sudah mendekati Gurun Salju Abadi.
Lalu mereka memutuskan untuk beristirahat dan membuat perapian. Lim Hua dan lainnya mengumpulkan kayu bakar, sementara Tianba hanya berdiam diri.
Bahkan Tiao ikut mengumpulkan kayu bakar bersama murid-murid Asrama Tujuh. Demi aku, dia sampai mengarahkan semua orang ke sini, pikirnya. Paling tidak aku harus memandang Shen Zhu.
Setelah mereka berhasil mengumpulkan kayu bakar dan membuat perapian, Shen Zhu menginstruksikan supaya mereka membuat manna pelindung secara bergantian.
"Kita akan membaginya menjadi dua kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari lima orang," instruksi Shen Zhu. "Empat orang membuat manna pelindung, satu orang lainnya akan berjaga. Kelompok kedua akan beristirahat dan memulihkan diri, untuk kemudian bergiliran dengan kelompok pertama."
"Baik!"
Semua orang setuju kecuali Tianba. "Siapa yang menjadikanmu sebagai pemimpin di sini?" protesnya.
Semua orang mengerling padanya dengan tatapan risih.
"Jangan lupa dia tidak membutuhkan semua ini!" sanggah Tiao dengan ekspresi datar. "Dia tak harus repot-repot berburu monster untuk mendapatkan kristal. Kitalah yang membutuhkan kristal."
Tianba langsung terdiam. Tidak disangka Tiao justru membelanya, katanya dalam hati. Aku bertindak secara diam-diam juga demi kebaikannya. Benar-benar tak tahu diri!
Ia mengerling ke arah Jialin dan mendapati gadis itu juga hanya bergeming.
Bahkan Jiangwu mengabaikannya sejak ia tenggelam dan Shen Zhu menyelamatkannya.
Bocah Tengik ini benar-benar pandai mencari muka! geram Tianba dalam hatinya.
"Kalian tak harus ambil bagian kalau tak mau," tukas Shen Zhu.
"Aku akan membantu!" Jiangwu mengajukan diri.
"Aku juga!" timpal Jialin setengah menggumam. Tidak berani mengangkat wajah.
Tianba menelan ludah dan menggeram dalam hatinya. Ia menggertakkan gigi dan mengepalkan kedua tangannya. Sialan! geramnya dalam hati.
Demi harga dirinya yang setinggi langit, Tianba berbalik dan menjauh dari rombongan.
Semua orang hanya menatap punggungnya dengan raut wajah tak berdaya.
"Baiklah," Shen Zhu memutuskan. "Kak Jialin dan Kak Wu beristirahat lebih dulu."
Jialin tak bereaksi. Masih merasa canggung dengan situasinya.
__ADS_1
Shen Zhu menoleh ke arah Tiao, "Kak Tiao, kau juga. Beristirahatlah!"
"Tidak perlu!" Tiao menggeleng. "Kaulah yang harus beristirahat lebih banyak. Kau sudah membantu kami seharian."
"Benar!" timpal Lim Hua. "Beristirahatlah, Adik!"
"Kak Hua, hutan ini lumayan seram," tukas Shen Zhu beralasan. Diam-diam matanya melirik ke arah Tianba dengan sorot mengejek. "Aku takut bermimpi buruk!"
"Kalau begitu kami akan berjaga seperti biasa!" dengus Lim Hua.
Shen Zhu terkekeh sambil mengusap bagian belakang kepalanya. "Baiklah," katanya pura-pura menyerah. "Kalau begitu aku tak akan segan lagi!"
"Aku akan berjaga lebih dulu!" Jiangwu menawarkan diri.
"Adik Wu!" Tiao menginterupsi. "Kau habis tenggelam," ia mengingatkan. "Beristirahatlah!"
"Tenggelam?" Lim Hua dan yang lainnya melengak.
"Ahahaha!" Juagwu tertawa gelisah sambil mengusap bagian belakang kepalanya. "Bukan apa-apa!" tukasnya cepat-cepat. "Aku saja yang terlalu lemah!"
Terlalu lemah? pikir Lim Hua takjub. Sejak kapan murid Asrama Satu Putra mengaku dirinya lemah?
Lim Hua melirik teman-temannya sesama murid Asrama Tujuh. Wajah mereka juga sama herannya. Lalu secara serentak mereka mengerling ke arah Shen Zhu.
Lim Hua tersenyum samar. Dasar Bocah Tengik! batinnya geli.
Pada akhirnya, Lim Hua dan Tiao berjaga lebih dulu bersama Tan Liu dan Lian Ze, sementara Shen Zhu, Jialin, Jiangwu dan dua lainnya memulihkan diri.
Setidaknya itulah yang mereka yakini.
Sebenarnya tidak begitu dengan Shen Zhu.
Ketika mereka duduk bersila dalam posisi lotus, sebagian memulihkan diri, sebagian menggabungkan kekuatan spiritual untuk membangun manna pelindung, sementara tiga lainnya berjaga atau berbaring untuk beristirahat, Shen Zhu diam-diam mengaktifkan kemampuan rahasianya untuk memantau situasi.
Kemampuan visi!
Itu adalah salah satu kemampuan Shen Zhu yang tidak diketahui semua orang. Bahkan gurunya.
Bagaimanapun Shen Zhu dan Xie Ma terlahir dari darah yang sama. Meski berbeda sifat, bakat mereka tidak jauh berbeda. Bakat visi itu diwarisi dari ayah mereka.
Kemampuan visi atau lebih dikenal dengan istilah penglihatan super, terbagi dalam tiga ranah dengan dua tingkatan. Ranah masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan dua tingkat realis dan surealis.
Berbeda dengan jangkauan kekuatan spiritual atau ranah, jangkauan visi ditentukan oleh bakat bawaan lahir. Tidak seperti ranah kekuatan spiritual, ranah visi bukan tingkatan.
__ADS_1
Liu Hanzou terlahir dengan bakat visi di ranah masa lalu, dengan tingkat surealis. Itulah sebabnya ia menjadi ahli pusaka.
Keahlian visi di ranah masa lalu dengan tingkat surealis bisa melihat sejarah dari suatu benda. Tingkat terendah atau tingkat realis bahkan bisa menilai usia benda yang dilihatnya. Itu sudah seperti kita melihat seseorang dan kita sudah tahu berapa usianya.
Berbeda dengan Xie Ma, meski mewarisi bakat visi dari ayahnya, ranah Xie Ma berada di masa depan. Hanya saja tingkat kekuatannya baru mencapai realis. Ranah masa depan dengan tingkat realis sudah bisa melihat masa depan, tapi tak bisa menebak kapan tepatnya. Setelah mencapai tingkat surealis, kemampuan visi baru bisa menembus masa depan secara mendetail.
Dan Shen Zhu, terlahir dengan bakat visi di ranah masa kini. Tapi karena level kekuatan spiritualnya sudah mencapai ranah galaksi, tingkat kekuatan visinya sudah mencapai tingkat surealis. Itulah sebabnya ia juga bisa mendeteksi aura iblis.
Itu sama seperti Jyang Yue!
Bedanya, Jyang Yue terlahir dengan bakat visi dengan ranah ganda. Masa lalu dan masa kini. Itulah sebabnya ia bisa menggali ingatan seseorang.
Kemampuan visi di ranah masa kini dengan tingkat surealis bisa menembus dinding dan menerobos jarak. Tergantung seberapa tinggi level kekuatan spiritual yang dimiliki orang terkait. Semakin tinggi kekuatan spiritualnya, semakin jauh jangkauan penglihatannya. Tingkat realis saja sudah bisa melihat warna elemen dan warna aura.
Singkatnya, jangkauan tingkat realis hanya bisa melihat apa yang ada di depan mata, sementara tingkat surealis bisa menjangkau lebih jauh, melampaui jarak dan menembus semua penghalang.
Selebihnya, tergantung pada kecerdasan masing-masing individu.
Pada akhirnya, semua kekuatan super tidak berguna tanpa dukungan pengetahuan dan pengalaman, di samping juga latihan dan keinginan.
Jiwa, raga dan roh, adalah satu kesatuan yang tidak bisa dibeda-bedakan.
Kekuatan super sejati adalah kemampuan untuk menjaga ketiga hal ini tetap seimbang.
Xie Ma kehilangan kewarasannya karena mengabaikan visi jasmani—raga.
Shen Zhu pernah tidak bertumbuh karena mengabaikan kekuatan roh.
Dan semua orang tak waras karena mengabaikan panggilan jiwa.
Setiap talenta adalah panggilan jiwa. Dan setiap orang memiliki talenta yang berbeda-beda, sesuai dengan panggilan jiwanya.
Jadi…
Bakat apa yang kita punya?
Bakat kita adalah kekuatan super kita.
Apa yang tidak kita miliki bukan bagian kita. Tidak perlu berpikir untuk memilikinya.
Masih ingat apa kata paman Spiderman?
"Seiring kekuatan besar, datang tanggung jawab yang besar!"
__ADS_1