
"Enam ribu tahun yang lalu, para iblis datang membuat kekacauan. Dan dunia yang semula damai diliputi bencana yang tak berujung," ketua aliansi membuka pidatonya. "Mereka keluar dari jurang maut, dan dunia jatuh ke dalam kegelapan abadi."
Arena dicekam keheningan khidmat.
Para pemimpin sekte berderet di kiri-kanan ketua aliansi bersama para kaisar di balkon lantai dua. Para tetua berderet di belakang mereka bersama para pejabat kehormatan di tingkat kedua dan ketiga.
Para guru berderet di bangku penonton paling depan bersama para peserta. Bangku penonton di belakang mereka terisi penuh.
Para ksatria elit global berderet di tiap sudut dengan armor memukau, lengkap dengan tombak dan helm baja tertutup.
Xie Ma memucat memandangi mereka. Sebulir keringat menggelinding di pelipisnya.
Potongan-potongan gambar dalam mimpinya berkelebat dalam benaknya.
Tombak…
Tangan-tangan…
Penuh corak....
Penuh warna....
Xie Ma memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan jemari tangan.
Jyang Yue mengerling ke arah Xie Ma melalui sudut matanya dengan raut wajah cemas. "Ada apa?" bisiknya sambil merenggut pergelangan tangan gadis itu.
Xie Ma menelan ludah dan menggeleng cepat-cepat.
"Enam ribu tahun perlawanan manusia, tidak ada bedanya dengan upaya semut untuk menggoyang pohon," ketua aliansi melanjutkan. "Manusia seperti semut!"
Semua orang menarik napas bersamaan.
"Aliansi Ksatria Pemburu Iblis adalah harapan terakhir umat manusia," lanjut Ketua. "Perang ini telah berlangsung ribuan tahun. Dan sekarang, perbatasan dunia mereka dan manusia dipenuhi genangan darah. Tapi kenapa kita tidak menyerah? Kenapa kita harus bertarung? Untuk apa kita menjadi ksatria?"
Para peserta merespon dengan suara lantang sambil mengepal menyilangkan sebelah tangan di depan dada.
"Untuk melindungi umat manusia! Melindungi kebaikan! Melindungi sekte! Mengabdikan diri pada aliansi!"
"Benar!" sahut Ketua. "Apa yang akan terjadi pada keluarga kita jika kita gagal menghentikan mereka?"
Sekeliling arena kembali hening.
"Oleh karena itu," Ketua melanjutkan, "Kita tak boleh menyusut lagi. Ujian Ksatria ini digelar untuk menggalang ksatria terbaik yang akan membasmi klan iblis. Untuk berjuang melawan kejahatan. Untuk menjaga benua kita."
Para peserta mengepalkan tangannya serempak dan membusungkan dada penuh tekad.
"Selama beberapa ribu tahun terakhir, iblis-iblis ini tak bisa lagi menghancurkan kita," tutur Ketua lagi. "Di masa depan mereka juga masih tak bisa. Kami sangat percaya, manusia pada akhirnya akan menang. Dan kalian," ia menatap semua peserta. "Adalah kunci kemenangan kita! Beberapa dari kalian akan bergabung dengan Aliansi Ksatria Pemburu Iblis."
Para peserta mengangkat wajah mereka.
__ADS_1
"Aliansi Ksatria Pemburu Iblis tak hanya akan menjadi sesuatu di pikiran kalian," Ketua menasihati. "Ini berarti darah, keringat dan air mata. Ini adalah kemuliaan tertinggi bagi umat manusia. Jadi, mari kita keluar untuk bertarung! Apakah kalian siap?"
"Kapan pun!" Para peserta menjawab serempak.
"Dengan ini, aku nyatakan Ujian Ksatria resmi dibuka!" tandas Ketua.
Arena meledak oleh tepuk tangan spektakuler.
Para ksatria pengawal turut menyemarakkan dengan mengetukkan tombak mereka.
Xie Ma tersentak dan terhuyung. Adegan mengerikan dalam mimpinya, di mana Shen Zhu terlempar ke udara dengan perut menekuk tertikam tombak, seakan melekat dalam benaknya.
Jyang Yue segera menangkap bahunya. Bahu gadis itu bergetar dalam rengkuhannya. Dengan penasaran, ia mengikuti arah pandang Xie Ma dan mengerutkan dahi. Sebenarnya apa yang dia lihat? Ia bertanya-tanya dalam hatinya seraya mengawasi barisan pengawal yang membuat Xie Ma terguncang.
Para pengawal itu terlihat tenang.
Jyang Yue melayangkan pandang ke seberang ruangan dan mendapati Shen Zhu tengah mengawasi mereka.
Sang ketua kembali ke tempatnya. Semua orang kembali duduk.
Beberapa saat kemudian, seorang wasit dengan jubah armor memukau melangkah ke tengah arena. "Selamat datang di Arena Ujian Ksatria! Hari ini kita akan memulai babak pertama," ia mengumumkan. "Seratus empat puluh dua orang terdaftar, dan tujuh di antaranya adalah Peserta Jalur Juara dari ketujuh aliran."
Arena kembali menggelegar oleh tepuk tangan dan seruan semangat.
"Peserta Jalur Juara ini tidak akan bertarung di dua putaran pertama," wasit itu memberitahu. "Berikut tujuh peserta jalur juara ini!"
"Long Hua Ze dari aliran pakar senjata!" Pemandu acara sekaligus wasit itu mengumumkan.
Kemudian derap kaki kuat dengan irama teratur dari tumit sepatu armor yang beradu dengan lantai batu kuno terdengar dari luar pintu, memberikan kesan pertama pada seluruh hadirin bahwa si peserta jalur juara memang sesuai harapan.
Pria itu melangkah ke tengah arena.
Dan setengah dari para peserta itu merasa seperti… mendapat peringatan.
Beberapa orang sebenarnya terkesiap.
Sosok ksatria yang gagah itu mengenakan hanfu sutra putih berlapis jubah armor hitam bercorak tembaga. Liontin batu giok berjumbai elegan di ikat pinggangnya yang berwarna hitam. Rambutnya yang hitam mengkilat selurus penggaris tergerai sebagian di bahunya yang lebar dan melecut lembut di pinggang rampingnya, sebagian rambut itu diikat kencang di puncak kepalanya dalam gaya hun dan dihiasi ji berbahan perak, menjadikan sosok itu terlihat seperti muncul dari mimpi sebagai khayalan setiap gadis.
Merasa familier?
Ya!
Pria itu…
Pria tampan berkelas di gerbang Markas Besar Aliansi Ksatria.
Benar-benar juara!
Peserta Jalur Juara yang kedua adalah saingannya.
__ADS_1
"Jyang Ryu! Dari aliran sihir!" Pemandu acara memperkenalkan.
Arena berdengung oleh gumaman takjub para gadis yang tergila-gila pada Jyang Ryu. "Ketampanan penyihir memang dipenuhi daya sihir!"
Wah! Long Hua Ze mengerling ke arah Jyang Ryu melalui sudut matanya. Dia langsung merebut perhatian! pikirnya merasa sedikit kesal. Biar aku terlihat keren juga, lah! batinnya sambil mengayunkan kipas yang menjuntai terikat dari pergelangan tangannya. Lalu memasang wajah elegan yang paling mempesona versi dirinya.
"Dari aliran zen, ada Jyu Jieru!" Pemandu acara melanjutkan.
Seorang pemuda berkepala botak berpakaian khas biksu melangkah ke tengah arena, lengkap dengan O-Juzu---untaian manik-manik untuk sembahyang dan tongkat timah dengan cincin logam di atasnya.
Kenapa si botak ini juga begitu tampan? batin Long Hua Ze merasa semakin tergeser.
"Dari aliran tao, ada Shi Tan!"
Seorang pemuda lain melangkah masuk dengan pakaian seperti ninja, lengkap dengan penutup wajah dan kepala. Dua katana terselip bersilangan di punggungnya.
"Dari aliran seniman bela diri, ada Tjia Qianxi!"
Seorang gadis berpakaian serba ketat berlapis armor tanpa jubah dan tanpa senjata memasuki arena dengan langkah-langkah berat seperti pria. Gerak-geriknya juga seperti pria. Rambutnya diikat kencang di puncak kepalanya hingga terkesan seolah wajahnya ikut mengencang bersama ikat rambutnya.
Semua mata membulat menatap gadis itu, memberikan pandangan antara bingung dan kagum.
Long Hua Ze melirik gadis itu sambil bersedekap dan mengusap dagu dengan buku jarinya. Bahkan perempuan begitu tampan! batinnya tak habis pikir.
"Dari aliran alkemis, ada Tjia Xiawu!"
Seorang gadis lainnya memasuki arena, dan seketika seisi aula terkesiap.
Wajah gadis itu sama persis dengan gadis yang pertama, namun cara berpakaian dan gerak-geriknya bertolak belakang. Gadis kedua sangat anggun dan feminin.
"Mereka kembar!" pekik beberapa orang.
Long Hua Ze menyentakkan kepalanya ke samping, menatap kedua gadis itu bergantian dengan dahi berkerut-kerut. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Kembar macam apa bisa bertolak belakang seperti ini? pikirnya.
"Terakhir ada Gouw Anio dari aliran elementalis!"
Seorang gadis mungil bergaun mungil khas negara asing bernuansa pink lengkap dengan payung manis yang juga berwarna pink memasuki arena dengan gaya kekanak-kanakan. Melonjak-lonjak sembari cekikikan seperti sedang bermain. Rambutnya yang sedikit ikal berwarna kecoklatan dikuncir dua dengan pita berbentuk kuping kelinci berwarna—apa lagi kalau bukan—pink.
Long Hua Ze mengerjap dan terbelalak, lalu tertunduk ketika gadis itu mengambil tempat di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan ujung gaunnya yang hanya sebatas paha.
Long Hua Ze membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu, kemudian berbisik sambil menutupi mulutnya dengan kipas. "Xiao meimei, apa yang kau lakukan di sini? Ini bukan taman bermain!"
JLEB!
Gadis mungil itu menanggapinya dengan menjejakkan tumit sepatunya yang runcing di punggung sepatu armor Hua Ze.
"Aaaargh!" Hua Ze mengerang sambil melompat-lompat memegangi sebelah kakinya dengan kalang kabut.
Semua mata spontan mengerling ke arah pemuda itu.
__ADS_1