
"Ini adalah sihir pertahanan tertinggi ranah galaksi," cebik Yueyan seraya tersenyum miring. "Kita lihat apakah tinjumu bisa menembusnya kali ini?"
Sekeliling arena menggumam rendah dengan ekspresi mencela.
Alkemis Nomor Lima Puluh tergelak. "Ternyata hanya sihir pertahanan," cemoohnya. "Kalau begitu… tinjuku tak akan kalah," katanya sambil mengusap-usap tinjunya dengan telapak tangan, kemudian membungkuk dan menyeringai, kembali memasang kuda-kuda. "Aku akan menghancurkanmu hingga berkeping-keping!" geramnya sambil menerjang ke arah Yueyan.
"Ini adalah pertarungan Penyihir melawan Alkemis!" Sejumlah peserta wanita mulai berkasak-kusuk. "Tapi malah Alkemis yang menyerang dan Penyihir yang bertahan!"
Lebih anehnya, sampai sekarang Penyihir itu tak pernah menggunakan sihir serangan! Shen Zhu menambahkan dalam hati. Juara Satu Babak Penyisihan Aliran Sihir ini ternyata tak beres, pikirnya.
BUM!
BUM!
BUM!
Alkemis itu menerjang dan mengayun-ayunkan tinjunya di sana-sini, berpindah-pindah tempat seraya memukul-mukul dinding transparan yang tercipta di tepi tiga lapis lingkaran yang mengelilingi Yueyan dengan pukulan brutal yang bertubi-tubi.
"Tidak kena! Tidak kena!" Yueyan menari-nari seperti orang gila di dalam sihir pertahanannya.
Kaisar mengusap wajahnya dengan tampang frustrasi.
Ketua Aliansi melirik Kaisar melalui sudut matanya.
Alkemis Nomor Lima Puluh itu akhirnya mendarat dengan terengah-engah.
"Bagaimana?" seloroh Yueyan dengan sikap mencemooh. "Sudah tak sanggup lagi, kan?"
Alkemis itu mengepalkan tangannya dan menggeram penuh tekad, kemudian menghimpun tenaga dalamnya ke telapak tangan, "Tunggu sampai kekuatan spiritualmu habis dan kau akan tamat," gertaknya sambil menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah membentuk jurus-jurus spiritual.
"Ingin menunggu sampai kekuatan spiritualku habis?" ejek Yueyan. "Benar-benar bermimpi di siang bolong!"
Detik berikutnya, Yueyan menjentikkan jarinya yang memakai cincin penyimpanan. Satu per satu botol-botol obat bermunculan hingga berderet rapat dan terbang berputar-putar membentuk lingkaran yang mengelilinginya.
__ADS_1
"Kau lihat itu?" katanya seraya tersenyum licik. "Setiap pil di dalam botol-botol ini bisa memulihkan seratus poin kekuatan spiritual. Bagaimana kau akan mengalahkanku?"
"Tenyata kau memang Rubah Licik Bermulut Besar!" dengus Alkemis Nomor Lima Puluh.
Segumpal api berwarna biru tercipta dari tangan Alkemis Nomor Lima Puluh, mengambang di udara di depan wajahnya seperti obor.
Itulah keahlian seorang Alkemis, menciptakan api dan mengatur suhunya untuk menyalakan tungku yang biasa digunakan untuk mengolah dan memurnikan obat. Dalam takaran tertentu, suhu api yang dikendalikan oleh alkemis bisa setara dengan api surgawi. Bisa melelehkan sihir pertahanan dengan elemen logam seperti milik Yueyan.
Tapi sebelum Alkemis itu melontarkan serangan, pemandu acara sekaligus wasit itu mengendap turun ke tengah-tengah arena dan menyela mereka, "Pertarungan berakhir!" katanya dengan suara yang menggelegar. "Alkemis Nomor Lima Puluh menang!"
Arena meledak oleh tepuk tangan para penonton yang mendukung Alkemis Nomor Lima Puluh.
Yueyan terpekik dengan mata dan mulut membulat. Kemudian menerjang ke arah pemandu acara itu seraya melenyapkan sihirnya. "Tunggu dulu! Bagaimana bisa dia yang menang?" protesnya dengan gaya merajuk. "Apa kau tak lihat dia bahkan tak bisa menghancurkan sihir pertahananku?"
Pemandu acara itu mengetatkan rahangnya dan menggeram, "Kau yang Alkemis, atau dia?" hardiknya sambil menunjuk ke arah Alkemis Nomor Lima Puluh dengan tangan terentang lurus ke samping saking kesalnya. "Sebenarnya siapa yang harus menyerang, dan siapa yang harus bertahan?"
Alkemis Nomor Lima Puluh itu berdesis menahan tawa sambil membekap mulutnya dengan kepalan tangan. "Bagaimana?" ejeknya menirukan gaya bicara Yueyan. "Bingung, kan? Aku yang alkemis dan kau tak bisa mengalahkanku dalam sepuluh menit, jadi kau kalah!"
"Ini sudah sepuluh menit!" Wasit itu menandaskan sambil melotot pada Yueyan. Lalu berbalik dan melayang kembali ke tempatnya dengan raut wajah kesal. "Dasar orang-orang aneh!" gerutunya tak sabar.
Giliran Alkemis itu sekarang yang menari-nari seperti orang gila. "Sihir tak punya mata! Sihir tak punya mata!" ejeknya sambil menghambur keluar arena.
"Haisssh!" Yueyan menghentak-hentakkan kakinya di lantai arena seperti anak kecil yang sedang merajuk. Lalu berbalik meninggalkan arena sambil mengumpat-ngumpat.
"Berikutnya!" Pemandu acara mengumumkan. "Peramal Nomor Satu melawan Ksatria Tombak dan Perisai Nomor Empat Belas!"
Arena kembali meledak oleh tepuk tangan spektakuler.
Shen Zhu mengerling ke bangku Peserta Jalur Juara. Ini dia! pikirnya bersemangat. Akhirnya aku akan melihat penampilan Majusi ini.
Jyang Ryu balas mengerling ke arah Shen Zhu melalui sudut matanya. Lalu melesat ke lantai arena dan mendarat di atas tunggangannya yang muncul secara tiba-tiba.
Tunggangannya adalah seekor leviatan, monster laut berbentuk naga berkaki empat berkepala tujuh dengan cangkang sekeras batu gunung. Hampir mirip kadal raksasa di zaman purba atau dinosaurus.
__ADS_1
Sebatang tongkat emas trisula sudah tergenggam pada tangannya.
Dewa laut! Shen Zhu menyimpulkan.
Lawannya muncul dengan tombak dan perisai baja hitam di atas tunggangan seekor gajah yang berukuran lima kali lipat lebih besar dari gajah biasa, taringnya yang mencuat dan melengkung ke atas berwarna emas. Sebuah mahkota bertahtakan permata mirah delima bertengger di puncak kepalanya.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara menginstruksikan.
Lalu dengan cepat gajah raksasa itu menyeruak ke tengah arena sementara Ksatria di atasnya sudah membungkuk di balik perisai dengan tombak terhunus.
Jyang Ryu mengayunkan tongkatnya dan seketika semburan air menerjang ke arah lawannya seperti sepasang naga raksasa yang dalam sekejap sudah menggulung lawan dan tunggangannya.
Ksatria Tombak dan Perisai itu tersapu ke tepi arena dan terdampar seperti habis dilanda badai tsunami. Tombak dan perisainya terlempar dari tangannya. Tunggangannya yang berukuran raksasa tumbang dan terjerembab dalam posisi meringkuk.
Shen Zhu tercengang dengan tatapan ngeri dan takjub. Dia benar-benar kuat, pikirnya. Apa yang akan kulakukan kalau aku menjadi lawannya?
Peserta itu menghela bangkit tubuhnya dan menarik kembali senjata dan perisainya dengan telekinesis, lalu menerjang sekali lagi ke arah Jyang Ryu.
Jyang Ryu melompat turun dari tunggangannya dengan gerakan salto, kemudian mendarat seraya mengayunkan tongkatnya ke samping.
Semburan air menerjang lagi ke arah peserta dari aliran senjata tombak dan perisai seperti gelombang tsunami.
Peserta itu terkesiap dan membeku ketika tumit sepatunya menginjak belalai gajahnya tanpa sengaja, lalu tergelincir dan terjengkang ke belakang.
Jyang Ryu mengerjap dan mengerutkan keningnya. Lalu berpindah tempat dalam sekejap.
Sekarang, tahu-tahu, ia sudah berdiri di depan terjangan air yang dilontarkannya sendiri dengan kedua tangan terentang di sisi tubuhnya untuk membentengi lawannya.
Sedetik kemudian, air itu menerjang dirinya dan berputar-putar membentuk pusaran yang melilitnya. Kemudian terserap sepenuhnya ke dalam tubuhnya dan menghilang tanpa sisa.
Para penonton terperangah bersamaan. Beberapa menahan napas dan membekap mulutnya dengan jemari tangan. Semua mata terbelalak.
Ksatria tombak dan perisai itu mengerjap dan terkesiap. Lalu menelan ludah dengan susah payah, "Terima kasih," ungkapnya dengan suara tercekat, antara bingung dan takluk.
__ADS_1
Shen Zhu memandangi punggung Jyang Ryu dengan tatapan kagum.