Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
124


__ADS_3

Sekte Liu menjadi semakin ramai setelah misi penyelamatan.


Kepadatan penduduk sudah mencapai batas kapasitas. Pondok-pondok kecil yang dibangun satu bulan sekali sudah tak cukup untuk menampung semua keluarga.


"Segel Garis Keturunan sudah menipis," Liu Tang memberitahu Shen Zhu. "Cepat atau lambat, Gunung Zainan akan terdeteksi keberadaannya."


"Lakukan sensus," usul Shen Zhu. "Aku akan memindahkan semua sekte ke Benua Jingling. Tempat ini akan menjadi markas pasukan militer kita."


"Baiklah," kata Liu Tang sambil beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan mengumpulkan para ketua sekte untuk membicarakannya."


Shen Zhu mengangguk singkat.


Tak lama kemudian, Bao Yu muncul di aula singgasana ketua bersama Jyang Ryu.


Shen Zhu turun dari podium dan menghampiri mereka, menuntun keduanya ke meja teh di deretan tempat duduk anggota.


"Tidak apa-apa," tolak Jyang Ryu dengan sungkan. "Duduklah di tempatmu!"


"Di mana Guru duduk, di situ tempat dudukku," tukas Shen Zhu seraya menatap gurunya dengan penuh hormat.


"Kau adalah ketua sekte," Bao Yu menggamit sebelah lengan Shen Zhu dan menuntunnya ke arah podium. "Lagi pula kau sudah menjadi dewa."


"Namun kau tetap guruku," Shen Zhu berkilah dan memaksa gurunya untuk duduk bersama.


"Bicara omong kosong apa?" sergah Bao Yu seraya mendorong Shen Zhu ke arah podium. "Kita di sini untuk rapat."


Bersamaan dengan itu, Liu Tang memasuki aula bersama para tetua dari keempat sekte. Bao Hu juga berada di antara mereka diapit Tiao dan Jialin.


Shen Zhu terpaksa naik podium dan mengutarakan rencananya. "Untuk transportasi, tampaknya kita akan membutuhkan bantuan Kaisar," katanya.


"Itu terlalu berisiko," tukas Jyang Ryu. "Pihak Aliansi akan mengetahuinya. Aku tak yakin Kaisar akan memberikan bantuan. Situasi kekaisaran juga tidak berdaya."


"Semuanya tergantung negosiasi," tukas Shen Zhu dengan raut wajah datar. "Jadikan pesta rakyat sebagai alasan!"


Seisi ruangan langsung terdiam. Mencoba mencerna perkataan Shen Zhu.


"Tidak lama lagi perayaan tahun baru," Shen Zhu menjelaskan. "Para pendatang banyak yang pulang kampung."


.


.

__ADS_1


.


Istana Barat…


Hua Ze duduk terpuruk di kursi singgasananya. Tak tahu apa yang harus dilakukan.


Kelahiran dewa baru menuai kekacauan di belahan benua Xuang.


Hati kecilnya masih berharap negerinya bisa terbebas dari kendali Aliansi Ksatria, tapi tidak berharap rakyatnya terlibat situasi perang. Terutama menjadi musuh kakeknya.


Dua kekaisaran tidak berdaya melawan tiga kekaisaran di bawah naungan lima Pilar Dewa, ditambah satu dewa dengan ambisi tiada batas.


Sampai sejauh ini Aliansi Ksatria memang belum menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka mengetahui rencana pemberontakan Kekaisaran Jiangnan dan Kekaisaran Qingyun.


Tapi bukan berarti kakeknya belum mencurigainya.


Hua Ze tahu persis sifat kakeknya.


Tenang tidak berarti aman!


Kemunculan seorang pengawal abadi kerajaan mengusik lamunan Hua Ze.


"Seorang utusan ingin menyampaikan pesan!" Pengawal itu melaporkan seraya membungkuk dengan hormat tentara.


"Kekaisaran Liuwang... Benua Jingling!" jawab pengawal itu terbata-bata.


"Utusan dari Negeri Ziran?" Hua Ze tersentak dan memicingkan matanya.


Keberadaan Benua Jingling merupakan mitos yang tidak bisa dibuktikan. Semacam legenda yang kebenarannya perlu diragukan.


Dalam lingkup sekte tertentu, hal tabu mungkin bisa berubah menjadi sebuah keyakinan. Tapi dalam lingkup kekaisaran, mitos tidak berlaku.


Hua Ze membeku dalam waktu lama. Mencoba menimang-nimang apakah ia harus menanggapi pembual ini untuk mendatangkan lelucon bagi kekaisarannya, atau mengabaikannya untuk menjaga citra.


Tapi lalu penasihatnya memohon izin untuk bicara.


"Katakan!" kata Hua Ze.


"Dua dewa terlahir dari klan manusia," tutur penasihat itu dipenuhi makna. "Itu tak pernah terjadi selama seratus tahun. Tapi legenda Benua Jingling baru berlalu puluhan tahun."


"Aku tak suka teka-teki," sergah Hua Ze tak sabar.

__ADS_1


"Menurutku tidak ada yang mustahil di dunia ini!" Penasihat itu menjawab singkat.


"Tapi siapa yang tahu di mana Benua Jingling!" tukas Hua Ze. "Negeri Ziran tak ada dalam peta dunia!"


"Maka orang ini harus menunjukkannya!" sanggah penasihatnya.


"Baiklah!" Hua Ze memutuskan. "Bawa kemari utusan itu!" perintahnya pada pengawal tadi.


Pengawal itu membungkuk dan berlalu dari ruangan. Lalu kembali bersama seorang pria berpakaian serba putih dengan ikat kepala dari perak. Pelindung bahu dan pelindung tangannya bermotif unik yang tidak pernah ditemukan di kerajaan mana pun di Benua Xuang.


Aura yang ditebarkan pria itu mengandung energi spiritual alamiah seperti peri.


Benar-benar berbeda! pikir Hua Ze sedikit takjub.


Pria itu kemudian menyerahkan surat gulung yang juga bermotif unik yang tidak pernah ditemukan di dunia manusia. Seperti potongan dahan pohon yang kulitnya terkelupas. Tulisan di dalamnya menggunakan tinta emas yang harganya selangit di Jiangnan. Kecuali untuk keperluan ekslusif, tinta semacam itu tak pernah digunakan sembarangan.


Lagi pula surat gulung itu juga dilengkapi cap resmi kekaisaran.


Terlepas dari benar atau tidaknya utusan itu dari Benua Jingling, siapa pun yang mengirimnya jelas bukan orang yang sederhana.


Hua Ze menarik bagian yang terlihat seperti kulit kayu terkelupas itu dan menemukan selembar kertas rami menggulung di dalam batang kayu cokelat mengkilap itu.


Pesan di dalamnya berisi tawaran kerjasama antar kekaisaran. Kapal pesiar ditukar satu legiun tentara.


Satu legiun tentara berjumlah sekitar lima ribu hingga enam ribu orang yang terbagi dalam sepuluh kelompok.


Memang harga yang layak untuk ditukar dengan sebuah kapal pesiar mengingat krisis militer yang tengah dihadapinya.


Tapi dari mana mereka tahu aku sedang membutuhkan pasukan tentara? pikir Hua Ze. Lalu tercenung dengan dahi berkerut-kerut. Mencoba menebak-nebak apakah pesan itu bukan jebakan kakeknya yang maha licik.


Hua Ze mempelajari pesan itu sekali lagi.


Terkait perayaan tahun baru yang akan datang, terutama mengingat situasi genting akhir-akhir ini, rakyat Liuwang yang menjadi pendatang di seluruh wilayah Kekaisaran Jiangnan akan dijemput pulang. Untuk bisa membawa lebih banyak orang, kami membutuhkan sebuah kapal dengan kapasitas besar. Sebagai pertukaran, kami akan mengirim satu legiun tentara gabungan Ninja Prajurit dan kelompok Master Spiritual.


"Liuwang bukan negara makmur yang menghasilkan logam mulia," tutur utusan bangsa peri itu dengan santun. "Namun kaisar kami sangat mencintai rakyat."


"Mencintai rakyat?" sergah Hua Ze menginterupsi. "Ribuan tentara bukan rakyat?"


"Tentara kami adalah binatang spiritual yang telah menerobos kultivasi sempurna," jawab utusan itu. "Mereka semua adalah mutan. Bisa dikatakan kami hanya menjual ternak."


Mata Hua Ze langsung membulat. Mutan? pikirnya dengan ketertarikan baru. Binatang spiritual yang berevolusi menjadi manusia adalah tentara terkuat!

__ADS_1


Satu legiun tentara mutan setara dengan pasukan dewa. Dan mereka hanya menganggap itu seperti menjual ternak?


Hua Ze tersenyum samar. Entah aku sedang beruntung atau sedang diperdaya menuju jurang maut, katanya dalam hati. Tawaran ini terlalu menggiurkan!


__ADS_2