Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
49


__ADS_3

Di kaki gunung, Shen Zhu menurunkan gadis itu dan mendudukkannya di rerumputan sementara ia duduk bersila di belakangnya untuk menyalurkan manna penyembuh dari telapak tangannya ke punggung gadis itu.


Gadis itu terbatuk dan memuntahkan segumpal darah berwarna gelap. Lalu kembali terkulai.


Tak bisa begini terus, pikir Shen Zhu semakin panik mengingat waktunya semakin habis.


Tak puas dengan cara penyembuhan yang lambat, Shen Zhu akhirnya mengeluarkan pedangnya lagi dan menikam dadanya sendiri.


Darah memancar dari lukanya dan pada saat yang sama, asap gelap menembus keluar dari tubuh gadis itu melalui pori-pori kulitnya yang secara perlahan terhisap ke dalam luka Shen Zhu.


Sensasi rasa panas menyengat Shen Zhu dan menyesakkan dadanya.


Tiba-tiba saja tubuhnya berkeredap dan berkedut-kedut seperti akan memudar.


Celaka! pikirnya. Waktunya sudah hampir habis!


Detik berikutnya, ledakan cahaya membuncah dari tubuhnya.


SLASH!


Bersamaan dengan itu, formasi sihir di Bukit Perjanjian meledak. Shen Zhu menghilang dari formasi.


"Apa yang terjadi?" pekik Bao Yu. "Apa dia terjebak di dimensi lain?"


"Aku tidak percaya!" Singa berkepala manusia itu menjejakkan kakinya lagi dan mengaum sekali lagi.


Formasi sihir kembali terbentuk dan tubuh Shen Zhu berkeredap muncul dalam bentuk gambar transparan.


Di dimensi lain, Shen Zhu jatuh tersungkur dengan kondisi luka belum menutup sepenuhnya. Proses pemulihan gadis itu terhambat dan Shen Zhu terpaksa mengulanginya dari awal.


Ia menikam dadanya sekali lagi dan mencengkeram kedua bahu gadis itu seraya mengerang kesakitan ketika energi gelap dari tubuh gadis itu mulai terhisap ke dalam tubuhnya.


Rasa panas dan dingin bercampur perih merajam dirinya seperti disengat aliran listrik berkekuatan tinggi.


Tubuh keduanya bergetar dan lama kelamaan keduanya menegang dan tersentak-sentak.


Shen Zhu berteriak nyaring ketika seluruh tubuhnya serasa meledak. Lalu terlempar hingga punggungnya membentur dinding tebing di sisi lain.


Ia melihat gadis itu menghela bangkit tubuhnya dan melompat ke arahnya dengan sebelah tangan terulur dalam teriakan bisu.


Penglihatan Shen Zhu mulai timbul tenggelam bersama kesadarannya.


Sekelebat ia melihat gadis itu jatuh terpuruk sementara tubuhnya sendiri kembali berkeredap dan mulai memudar.


"Maaf," desisnya tanpa daya. Lalu semuanya menjadi gelap.


"Shen Zhu!"

__ADS_1


Ia mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Shen Zhu! Kembali!"


Sesuatu yang lembut mengusap dahinya seperti bulu. Shen Zhu mencoba membuka matanya dan mendapati dirinya masih terjebak di dimensi lain. Seekor kucing menyundulnya dan menggosok-gosokkan kepalanya di dahi Shen Zhu.


Tak lama kemudian, semburat cahaya emas berpendar di sekelilingnya.


Bercak-bercak keemasan itu perlahan mulai berubah menjadi putih, lalu abu-abu.


"Shen Zhu!"


Seraut wajah buram membungkuk di atas kepalanya.


"Bangunlah!"


Seraut wajah lainnya muncul.


Shen Zhu mengerjap dan tersentak. Lalu menarik duduk tubuhnya dan mengedar pandang.


"Sudah kuduga kau tak mudah mati!" wajah cemas gurunya muncul.


Lalu wajah tetua suci.


Gerbang Tanah Perjanjian Darah bertengger di belakang mereka.


Paling tidak dia akan segera pulih, katanya dalam hati.


Sayang sekali aku gagal mendapatkan tunggangan! kenangnya getir.


Tiba-tiba sesuatu menggelitik punggungnya dan menancap di bahunya seperti cakar.


Bao Yu dan tetua suci terpekik bersamaan dengan ekspresi syok.


Shen Zhu menyentakkan kepalanya ke samping dan mendapati seekor kucing kecil berbulu hitam bertengger di bahunya.


Shen Zhu mengerutkan keningnya dan berpikir keras. Mencoba mengingat-ingat.


Bayang-bayang peristiwa ketika kucing kecil itu berusaha membangunkannya dengan menggosok-gosokkan kepala di dahinya melintas dalam benaknya.


Celaka! batin Shen Zhu frustrasi.


"Itu Kucing Petaka!" Tetua suci memberitahu.


"Kucing Petaka?" pekik Bao Yu bernada jengkel. Kekhawatirannya telah berubah menjadi kekecewaan. Lebih sakit lagi mengingat kondisi Shen Zhu yang kembali dalam keadaan sekarat. "Berkorban sebesar ini hanya mendapatkan sampah pembawa sial ini?" hardiknya dengan suara menggelegar.


Shen Zhu berlutut di depan gurunya.

__ADS_1


Dengan geram, Bao Yu menyentakkan kipas yang menggantung di pergelangan tangannya.


"Guru—tunggu!" Shen Zhu spontan menangkis kipas Bao Yu dengan pedangnya yang secara otomatis keluar mengikuti naluri bertahan hidup.


"Masa depanmu tak bisa dihambat oleh sampah pembawa sial ini!" geram Bao Yu bernada cemas bercampur kecewa. "Jika kelak kau menjadi seorang ksatria ranah galaksi tingkat tinggi, kekuatanmu cukup untuk menaklukkan seekor naga raksasa!" Bao Yu mengayunkan kipasnya lagi.


Dan sekali lagi, Shen Zhu berhasil menangkisnya. "Aku sudah menjelajahi seluruh hutan di dua tempat yang berbeda," ia berkilah. "Tapi tidak satu pun monster yang bersedia menjadi rekanku. Dewa Penjaga Harta Karun bilang, harus menemukan yang paling mendekati. Namun… pada saat terakhir, aku kehilangan kesadaranku. Dialah yang membangunkanku. Berkat dia aku kembali sadarkan diri. Kalau tidak, aku mungkin akan terjebak selamanya di dimensi lain."


Seperti gadis itu, pikirnya pahit. "Bisa dikatakan... dia telah menyelamatkan hidupku. Dia layak menjadi rekanku," katanya tak berdaya.


"Kau—" Bao Yu mengetatkan rahangnya dan menggertakkan gigi.


Tetua suci penjaga gerbang itu menyentuh sebelah bahu Bao Yu dan menenangkannya.


Sebenarnya Bao Yu sama sekali tak marah pada Shen Zhu. Tapi lebih kepada dirinya sendiri. Lebih kepada sedih dibanding marah. Padahal aku sudah tahu di bawah dua puluh tahun tak mungkin mendapatkan pengakuan monster, sesalnya dalam hati.


Bahunya bergetar karena sedih. Dia tak sanggup membayangkan Shen Zhu menjadi bahan cemoohan lagi.


Shen Zhu tersungkur di dekat kaki gurunya. Kucing kecil itu mengkerut di sisi bahunya dengan gemetar.


Bao Yu akhirnya tak tega melihat keduanya. Dewa Petaka… Kucing Petaka… Semoga menjadi berkat! batinnya tak berdaya. Lalu membungkuk dan merenggut kedua bahu Shen Zhu, kemudian menghela pemuda itu berdiri.


Kucing kecil itu spontan melompat dan bersembunyi di belakang tumit sepatu armor Shen Zhu.


Bao Yu mendesah pelan dan berjongkok. Kemudian mengulurkan sebelah tangannya ke arah kucing itu.


Kucing itu mengeong lemah sambil mendongak menatap ke dalam mata Bao Yu dengan sorot memelas. Lalu mendekat dan menggosokkan kepalanya ke telapak tangan lelaki itu.


Bao Yu tersenyum sedih dan mengangkat kucing itu, lalu menaruhnya di pangkuan Shen Zhu. "Aku sungguh mengkhawatirkanku," katanya pada Shen Zhu.


"Guru," Shen Zhu menggumam dengan ekspresi haru. "Terima kasih untuk tidak menyerah terhadapku."


"Bicara omong kosong apa?" Bao Yu melotot dan mengeplak kepala Shen Zhu. "Berterima kasihlah pada Tetua Suci karena sudah mengizinkanmu masuk," katanya. Lalu membungkuk ke arah tetua suci itu dengan hormat tentara, diikuti Shen Zhu di belakangnya.


"Terima kasih, Tetua Suci!" ungkap Shen Zhu.


"Bagaimanapun, kucing kecil itu diambil dari dunia dewa," jelas tetua suci itu. "Mustahil tidak berguna!"


Benar, batin Bao Yu menyadari. Sejak kapan aku memandang remeh sesuatu?


"Tapi---Tetua Suci!" Shen Zhu membungkuk sekali lagi. "Bolehkah aku merepotkanmu lagi?"


"Kau—" Bao Yu tergagap.


"Katakan!" potong tetua suci itu.


"Aku melepaskan seseorang di dimensi lain," ungkap Shen Zhu. "Tak tahu apakah itu akan berguna. Tapi…"

__ADS_1


"Seseorang?" Tetua Suci mengerutkan dahi.


__ADS_2