Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
56


__ADS_3

"Berikutnya, putaran pertama adalah pertarungan antar aliran untuk memilih sepuluh besar di tiap aliran!" Pemandu acara mengumumkan. "Namun sebelum memulai pertarungan, para peserta harus mengingat peraturan ini: selama kompetisi, dilarang keras melukai lawan dengan sengaja. Jika seseorang tewas dalam pertarungan, lawannya akan dieliminasi. Dan sekte mereka akan bertanggung jawab!"


Para peserta menghela napas dan mengerling ke deretan bangku para pemimpin sekte.


"Semoga setiap peserta mendapat prestasi baik!" Pemandu acara menyemangati. "Diharapkan semuanya bersiap-siap. Ronde pertama adalah pertarungan antar aliran senjata. Sekte Pedang melawan Sekte Tombak Dan Perisai. Peserta akan dipilih dengan diundi. Inilah gambarnya!" Pemandu acara itu menunjuk dua layar besar yang terpampang di kiri-kanannya di bagian atas dinding bangunan.


Layar itu dibuat oleh ahli sihir pemantau di Markas Besar Aliansi Ksatria. Disebut layar sihir pemantau.


Semua data peserta dari dua sekte aliran senjata tertera di layar itu. Sekte Pedang di sisi kanan, Sekte Tombak Dan Perisai di sisi kiri. Lalu secara otomatis data itu bergerak secara acak dan berhenti serentak.


Data Shen Zhu muncul di baris teratas.


"Adik! Kau tampil pertama!" pekik Tiao sambil menunjuk layar.


"Ksatria nomor enam puluh melawan ksatria nomor tujuh tujuh!" Pemandu acara mengumumkan. "Untuk kedua peserta diharapkan untuk segera memasuki arena!"


Shen Zhu beranjak dari tempat duduknya, lalu membungkuk ke arah Bao Yu dengan hormat tentara.


"Sekte Pedang melawan Sekte Tombak dan Perisai…" seorang peserta bergumam di deretan belakang kelompok Sekte Majus. "Kira-kira siapa yang akan menjadi pemenang pertama kali?"


"Tombak!" Xie Ma terhenyak dengan wajah pucat. Ia membekap mulutnya dengan telapak tangan.


Jyang Yue menyentuh bahu gadis itu untuk menenangkannya.


"Usia mereka terpaut sepuluh tahun," komentar peserta lain di belakang mereka. "Kurasa ksatria nomor tujuh tujuh itu hanya bisa mengandalkan rekan monsternya!"


"Kuharap dia punya tunggangan yang bagus!" timpal peserta yang lainnya.


Shen Zhu melangkah ke tengah arena seraya menggenggam sebilah pedang lengkap dengan sarungnya.


Bao Hu mengamati pedang itu dengan mata terpicing. Bukan Pedang Petaka! ia menyadari.


Itukah maksudnya ada sesuatu yang ingin dibeli? pikir Bao Yu di bangku penonton.


"Kenapa Adik membawa pedang lain?" bisik Tiao dengan dahi berkerut-kerut. "Apa dia malu karena pedang tuanya sudah karatan?"


"Tidak benar!" tukas Lim Hua balas berbisik. "Pedangnya sudah pulih dari sebelum kompetisi perguruan."


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sela Bao Yu. "Baru putaran awal. Kurasa dia hanya tak ingin mengeluarkan pusaka terlalu awal."

__ADS_1


"Masuk akal!" gumam Tiao sambil mengusap dagu dengan buku jarinya. "Pusaka dewa termasuk pusaka langka. Dari semua peserta, kurasa hanya peserta Jalur Juara yang memungkinkan memiliki pusaka dewa!"


Di tempat duduk ekslusif khusus peserta Jalur Juara, Jyang Ryu, dari Sekte Majus tiba-tiba mengerutkan keningnya. Ia menutup matanya dengan jemari, dan mengintip melalui sela-sela jari tengah dan telunjuknya dengan sebelah mata. Mata di sela-sela jarinya itu menyala berwarna emas ketika ia coba memindai Shen Zhu. Ranah galaksi? batinnya tak yakin. Apa visiku gagal?


Baru lima belas tahun! pikirnya. Tak mungkin sudah mencapai ranah galaksi!


Ia menggulirkan pandangannya ke arah peserta dari Sekte Tombak dan Perisai. Visinya menunjukkan pemuda itu berusia dua puluh lima tahun. Kekuatannya sudah mencapai level Jendral Perang Tingkat Menengah.


Visiku ternyata tidak gagal! Ryu menyimpulkan. Lalu kembali memindai Shen Zhu. Hasilnya tidak berubah. Menarik! pikirnya bersemangat. Lalu tersenyum samar. Kuharap aku punya kesempatan untuk bertarung dengannya. Jangan mengecewakanku, Nomor Tujuh Tujuh. Aku menunggumu di putaran ketiga dan babak final!


"Ingat!" Pemandu acara memperingatkan. "Tidak boleh melukai lawan dengan sengaja. Peserta yang mengakui kekalahan atau tidak memiliki kemampuan tempur yang kalah!"


Kedua peserta di tengah arena itu membungkuk dengan hormat tentara.


"Ronde pertama pertarungan putaran pertama… mulai!" Pemandu acara menginstruksikan.


Peserta dari Sekte Tombak Dan Perisai mengepalkan tangannya dengan penuh tekad. Ini putaran pertama, katanya dalam hati. Aku harus memenangkannya!


Sementara lawannya sudah bersiap-siap dan memasang kuda-kuda, Shen Zhu masih bergeming dengan kedua tangan terlipat di belakang.


Tubuh lawannya sudah menyala biru muda. Tombak dan perisai sudah berada di posisi siap menyerang. Sebuah lingkaran sihir tercipta di belakang punggungnya. Sejurus kemudian, seekor binatang spiritual melesat keluar dari balik punggungnya dan mendarat di depan Shen Zhu.


"Kuda Kutub Kaisar!" pekik beberapa peserta bernada takjub. "Elemen esnya bisa memperlambat kecepatan lawan."


"Dia sangat memungkinkan untuk memenangkan pertarungan!" komentar peserta di belakang rombongan Sekte Majus bernada yakin.


Xie Ma menelan ludah dan mengerjap.


Shen Zhu masih bergeming.


Sekeliling arena mengerutkan dahi.


"Nomor Tujuh Tujuh!" Pemandu acara menegur Shen Zhu. "Kau tidak memanggil tungganganmu?"


Shen Zhu menggeleng.


"Apa dia tak punya tunggangan?" gumam seorang pejabat. "Dalam duel ksatria, tanpa rekan monster sama saja dengan cacat mutasi saat berkultivasi!"


"Kalau begitu hasilnya sudah bisa dipastikan!" timpal pejabat lainnya.

__ADS_1


Peserta dari Sekte Tombak dan Perisai menatap Shen Zhu dengan dahi berkerut-kerut. Kenapa dia hanya berdiam diri saja? pikirnya kebingungan.


Shen Zhu mengayunkan sebelah tangannya mempersilahkan.


"Sebenarnya dia ini idiot sombong atau genius sejati?" gumam Shi Tan, peserta Jalur Juara dari aliran Tao.


Long Hua Ze terkekeh seraya menyandarkan punggungnya dan melipat sebelah kakinya di atas kaki lainnya. "Hanya seorang pecundang tanpa tunggangan!" dengusnya sambil mengayunkan kipasnya dengan sikap mencemooh.


Peserta nomor enam puluh itu mendesah pendek dan menggeleng-geleng, lalu melompat ke atas kudanya yang berbulu putih dengan surai dan ekor kristal berwarna biru transparan, begitu juga dengan kakinya. Setiap pijakan kakinya meninggalkan kristal salju.


"HIAAAAAAAT!" Peserta nomor enam puluh itu memacu kudanya secepat kilat seraya mengayunkan tombaknya ke arah Shen Zhu dalam jarak tiga meter. Semburat cahaya putih kebiruan berpendar dari kibasan tombaknya.


Xie Ma membeku dan menahan napas.


Shen Zhu mengayunkan sebelah tangannya ke samping, dan seketika cahaya putih kebiruan yang dilontarkan peserta nomor enam puluh itu menguap menjadi butiran air. Lalu ia mengepalkan tangannya, dan seketika arena meledak oleh cahaya merah terang benderang bersama gelegar halilintar dan hempasan angin kencang yang menggemuruh. Lalu seluruh tempat hanya terlihat putih.


Sekeliling arena tersapu dalam kebutaan dan kebisuan.


Dan ketika cahaya putih terang itu meredup, peserta nomor enam puluh sudah terhempas dengan punggung membentur dinding pembatas.


Semua orang tercengang dengan mata dan mulut membulat.


"Elemen api surgawi!" pekik para tetua.


"Pantas saja dia begitu tenang," komentar seorang pejabat.


"Meski begitu, bukankah ini berlebihan?" sergah pejabat lainnya. "Dia bahkan tidak menghunus pedangnya!"


"Menang dalam sekali serang tanpa menyentuh!" gumam beberapa orang lainnya dengan ekspresi syok.


"Sebenarnya berapa level kekuatannya?" tanya salah satu ketua sekte dengan tercengang.


Bao Hu hanya mengerling sekilas sambil tersenyum samar.


"Tunggu dulu!" Ketua Sekte Aliran zen memekik tertahan, lalu menoleh ke arah Bao Hu. "Anak itu—"


"Benar!" sahut Bao Hu bernada sinis. "Anak lemah yang ditolak di laut elemen!"


Para pejabat dan ketua sekte lainnya terkesiap. Bahkan ketua aliansi.

__ADS_1


__ADS_2