Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
79


__ADS_3

"Sekarang bagaimana kau akan menghadapinya?" Shen Zhu mendesis di antara suara gemuruh dan gelombang cahaya. Suaranya terdengar seperti desau air bah di kejauhan.


Jarum-jarum itu meluncur seperti hujan, namun setiap jarum menyemburkan energi cahaya berbetuk kubah transparan menurut warna masing-masing. Lebih terlihat seperti ubur-ubur yang menyeruak bergerombol di terumbu karang. Atau hujan meteor.


Qianxi tetap memasang badan, tidak menghindar sama sekali. "Lebih cepat lagi!" hardiknya sambil menerjang hujan proyektil itu, berlari kencang sambil mengayun-ayunkan tinjunya menghalau semua serangan.


"Gadis ini seperti pegas!" komentar Kaisar.


"Menghadapi serangan sengit yang seperti ini sangat merugikan kalau hanya bertahan!" geram Qianxi tanpa mengurangi kecepatan tinjunya.


Dia benar-benar tidak melakukan pertahanan sama sekali, pikir Shen Zhu. "Baiklah," katanya seraya mengacungkan pedangnya lagi di atas kepala, kemudian menyalurkan elemen petir ke ujung pedangnya. Tali kilat menyembur seperti sinar laser hingga setinggi sepuluh meter.


Arena kembali berguncang dan bergemuruh, lebih badai dari sebelumnya.


"Tekanan yang sangat kuat!" pekik pemandu acara.


Para ksatria menambahkan personel untuk memperkuat tabir pelindung.


"Sungguh kekuatan yang sangat mengerikan," gumam seorang juri.


"Aura ini…" Kaisar menelan ludah. "Jangan-jangan…" ia menggantung kalimatnya dan membiarkannya menguap begitu saja.


"Kau juga tidak menghindari tebasan ini?" gertak Shen Zhu.


Arena berguncang semakin hebat. Angin kencang menekan seluruh tempat.


Qianxi menyeringai dan membungkuk dalam sikap kuda-kuda, kemudian memukulkan tinjunya lagi ke telapak tangan. "Percuma saja," dengusnya mencemooh. "Serangan menggelitik seperti ini hanya akan berubah menjadi keberuntunganku!"


Dalam situasi yang berpotensi fatal, bisa-bisanya dia tidak menghindar! Shen Zhu tak habis pikir. Tetap menyerang dan membabi-buta.


Dengan ragu, Shen Zhu mengayunkan pedangnya ke arah Qianxi.


DUAAAAARRRR!


Halilintar menggelegar di ujung pedangnya.


Lantai arena meledak seperti ditabrak planet lain.


Para ksatria terpental.


Qianxi terlempar ke belakang hingga membentur dinding. Dinding itu meledak dan Qianxi jatuh berlutut dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya yang melengkung hampir tersungkur. Ia terbatuk dan memuntahkan segumpal darah. Lalu menghela bangkit tubuhnya dan terhuyung. "Lebih kuat lagi!" hardiknya seraya menyentakkan kedua tangannya dan mengepal lagi.


Apa yang terjadi? pikir Shen Zhu. Jelas-jelas sudah terluka, tapi dia malah semakin kuat!


"Apakah gadis ini gila?" pekik seorang juri. "Benar-benar bertarung dengan mempertaruhkan nyawa!'

__ADS_1


"Aku sudah mengerahkan seluruh kekuatanku," tukas Shen Zhu.


"Aku tak yakin kau sudah mengerahkan seluruhnya!' Qianxi terkekeh sinis. "Sudahlah," katanya memprovokasi. "Jangan mengalah lagi. Keluarkan semua jurusmu yang paling kuat!"


"Nomor Dua—" Shen Zhu mengerjap dan tergagap. "Kalau terus bertarung seperti ini… nyawamu akan terancam."


"Apa yang kau katakan?" Qianxi melotot tak sabar. "Kalau ini adalah medan perang, kau harus memanfaatkan kesempatan untuk membunuhku, bukan malah berbelas kasih!"


Bertempur secara mati-matian? pikir Shen Zhu sambil mencebik dan menggeleng-geleng.


"Jika persepsimu terhadap pertarungan begitu kekanak-kanakan, di medan perang hanya akan tertinggal jasadmu!" teriak Qianxi sambil menghujamkan tinjunya ke lantai.


DUAAAAARRRR!


Lantai arena meledak lagi. Kali ini disertai gemuruh yang misterius dengan aura penuh tekanan.


Shen Zhu mengerutkan keningnya. Mungkinkah… ini jurus terakhir yang tidak pernah dikeluarkannya selama ini? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Lantai berguncang semakin kencang.


Para ksatria kembali memasang tabir pelindung. Kali ini dibuat berlapis-lapis.


Pria berbaju besi dengan helm baja tertutup yang mengaku perwakilan dari Divisi Pemburu Iblis sampai turun tangan.


Lubang yang tercipta dari hantaman tinju Qianxi mengeluarkan asap gelap yang kemudian berpusar menyelubungi dirinya. Tinjunya masih menancap di lantai. Ekspresi wajahnya berubah datar dan dingin. Ekor matanya menyemburkan asap gelap. Bola matanya berubah gelap, iris matanya menyala merah.


Tak lama kemudian, sesuatu menyembul dari lantai. Seperti pilar emas seukuran batang pohon kelapa. Pilar itu merangkak naik hingga setinggi pilar gedung arena. Di bawahnya seperti kubah. Lalu tiang itu mulai miring dan jatuh terguling.


Semua terpekik dan terperangah.


Sebuah gada raksasa tergolek di lantai arena.


"Pusaka Dewa Perang!" pekik para tetua hampir bersamaan.


"Ternyata gadis ini juga pewaris pusaka dewa!" gumam Bao Yu di bangku penonton.


Shen Zhu menjulurkan pedangnya ke atas dan dengan cepat menyalurkan energi gelap pekat berbentuk asap yang dalam sekejap menyembur ke ujung pedangnya dan terus memanjang membentuk pedang raksasa bermata dua berbentuk sirip ikan.


Arena bergoyang-goyang seperti akan tertumpah.


Para penonton menahan napas dengan wajah memucat. Mata mereka tidak berkedip menatap pedang raksasa Shen Zhu.


"Ini hanya turnamen," seorang pejabat menggumam dengan gelisah. "Apa harus sampai ke tahap ini?"


Jyang Ryu memindai pedang Shen Zhu dengan Mata Ganda-nya yang berwarna emas, mengintip melalui sela-sela jari tengah dan telunjuknya. Lagi? batinnya tak habis pikir. Lagi-lagi dia mengeluarkan keterampilan dewa yang misterius. Dan lagi-lagi Jyang Ryu tak bisa melihat identitas dewa yang melatarbelakanginya.

__ADS_1


Qianxi menjulurkan sebelah tangannya ke samping dengan jemari membentuk cakar. Telapak tangannya menyemburkan cahaya berkilat-kilat seperti petir.


Arena bergemuruh dan bergemeretak.


Gada raksasa itu bergetar dan terangkat perlahan.


Qianxi menarik bangkit tubuhnya dan gada itu ikut terangkat.


Shen Zhu menarik napas dalam-dalam dan memasang kuda-kuda, menggenggam pedangnya dengan kedua tangan di sisi wajahnya.


Sedetik kemudian, arena berdentum-dentum seakan bumi akan meledak.


Para penonton membeku dengan ngeri.


Pertarungan berlangsung sengit dengan energi seratus kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Tempo pertarungan meningkat drastis.


Tabir pelindung mulai retak, dan para tetua akhirnya turun untuk memperkuat pertahanan.


"Hanya dua remaja yang bahkan belum genap dua puluh tahun," gerutu seorang pejabat. "Tapi sampai menurunkan begitu banyak orang untuk meredamnya."


"Ini bukan sekadar pertarungan antara sesama remaja," tukas pejabat lainnya. "Tapi juga pertarungan antara sesama peserta terkuat!"


Bukan hanya yang terkuat! Bao Hu menambahkan dalam hatinya. Tapi duel antara sesama pewaris pusaka dewa!


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!


Arena benar-benar dilanda prahara.


Tak lama kemudian, semburat cahaya terang benderang membuncah bersama ledakan mahadahsyat. Seperti letusan dua gunung sekaligus.


Arena hanya terlihat putih dalam waktu yang lama.


Dan ketika cahaya mulai meredup, lantai arena terlihat seperti sisa gunung yang telah terkoyak.


Pedang Shen Zhu tergolek dalam keadaan patah.


Qianxi terpuruk dalam lubang yang terlihat seperti danau kering. Gada raksasanya teronggok di sisi arena, beberapa meter dari tempatnya.


Shen Zhu berdiri menunduk di tepi lubang di mana Qianxi bertekuk lutut.


"Pertarungan berakhir!" Pemandu acara mengumumkan dengan suara tercekat. "Nomor Tujuh-tujuh menang!"


Para penonton mengerjap sesaat, sebelum akhirnya bersorak dan bertepuk tangan. Beberapa melompat sambil mengacung-acungkan tinju ke udara.

__ADS_1


Untuk kedua kalinya, Shen Zhu meninggalkan arena dengan raut wajah muram. Tapi kali bukan karena lawannya mengecewakan.


__ADS_2