
"Dibawa ke mana semua barang temuan seperti pusaka dan barang-barang berharga lainnya?" tanya Bao Yu pada seorang komandan lapangan.
"Semuanya telah dievakuasi ke Markas Besar Aliansi Ksatria," jawab komandan itu dengan hormat tentara.
"Terima kasih," ungkap Bao Yu sambil mengangguk sopan. Kemudian buru-buru menarik Shen Zhu keluar desa yang sudah menjadi area pemakaman itu dan membawanya terbang melesat menuju ibukota.
Ia memiliki banyak hal yang harus dilakukan, tak sabar ingin segera pergi menemui sang ketua aliansi.
Ia berharap hari ini sang ketua yang angkuh itu bersedia menemuinya dan memberinya izin untuk memeriksa barang-barang pusaka keluarga Liu, meski ia tahu itu tak mudah.
Bao Yu masih sibuk memikirkan kemungkinan aura gelap yang menghambat kekuatan spiritual Shen Zhu berasal dari salah satu pusaka keluarganya ketika ia akhirnya sampai di Markas Besar Aliansi Ksatria Pemburu Iblis, sebuah bangunan paling megah di ibukota dengan tinggi enam lantai, dengan tidak kurang dari empat puluh anjungan jendela.
Ia mendarat di jalan raya dan berjalan melewati gerbang besi warna hitam, menaiki beberapa tangga depan, dan mengetuk pintu berkepala qilin yang terbuat dari tembaga.
Shen Zhu mengekor di belakangnya tanpa bicara.
Ketika pintunya terbuka, Bao Yu memperlihatkan pelat keanggotaannya kepada seorang pengawal bertubuh tinggi besar dengan armor dan helm baja tertutup yang membawa tombak dan perisai glamor yang hanya dimiliki para petinggi, kemudian memperkenalkan dirinya dengan ramah dan singkat. "Dapatkah kau sampaikan pada ketua bahwa aku datang untuk urusan kritis?"
Pengawal itu memeriksa pelat keanggotaannya, kemudian memperhatikan Bao Yu dan Shen Zhu bergantian. "Anda di sini untuk rapat?"
"Rapat?" Bao Yu menatapnya dengan terkejut. "Tidak."
"Oh! Baiklah. Maafkan saya." Pengawal itu mendadak sedikit kikuk, kemudian berdeham. "Mohon maafkan kekeliruan saya, Tuan Muda!"
"Tidak masalah," kata Bao Yu. "Aku yakin Tuan Ketua mau bertemu denganku. Katakan saja dari Sekte Baohu. Baru kemarin perguruan kami mengadopsi seorang anak laki-laki atas keputusannya. Dan sekarang kami menghadapi sedikit masalah." Ia menambahkan. Ia tidak terbiasa menjelaskan dirinya kepada seorang pengawal.
Tapi kemudian pengawal itu berlalu dan mengatakan pada Bao Yu bahwa ada rapat yang sedang berlangsung di dalam, memperingatkan ada sesuatu yang sedang terjadi.
Bao Yu berusaha sebaik mungkin mengambil hati pengawal itu untuk mendapatkan kepercayaannya. Bagaimanapun pengawal itu memiliki kuasa untuk menghalanginya bertemu ketua.
"Baiklah, Tuan Muda. Masuklah. Saya akan memberitahu ketua bahwa Anda datang."
"Terima kasih," ungkap Bao Yu hati-hati, sambil mengawasi si pengawal. Lalu melirik pengawal lainnya.
Pengawal itu terlihat sedikit gugup, pikir Bao Yu. Ia menggenggam pergelangan tangan Shen Zhu dan menuntunnya saat ia melangkah masuk mengikuti si pengawal melewati pintu lainnya yang dijaga tak kalah ketat yang hanya bisa dilewati seseorang dengan pelat khusus aliansi ksatria.
__ADS_1
Pengawal itu mengarahkan Bao Yu ke aula besar yang didominasi warna cokelat dengan lantai papan cokelat mengkilap menuju serambi yang mewah.
Sampai di sana, Bao Yu diminta untuk menunggu.
Sesuatu yang aneh sedang terjadi di sini, pikir Bao Yu dengan perasaan waspada yang sudah tak asing. Perasaan yang sering ia alami sebelum terjadi penyergapan di medan pertempuran.
Jadi, Markas Besar sedang mengadakan rapat rahasia di ruangan pribadi Ketua?
Sayang sekali ia tidak diundang!
Ketika si pengawal pergi untuk memberitahu ketua atas kedatangan tamu yang tidak diundang itu, Bao Yu memperhatikan serambi yang mewah itu dengan perasaan curiga yang tiba-tiba muncul. Kemudian ia menyadari sebuah suara yang terdengar marah dari lantai atas.
"Lancang!" teriak seseorang.
Alis Bao Yu terangkat saat mendengar beberapa suara yang bercampur yang tidak dapat ia pahami. Si pengawal pasti sudah masuk ke dalam ruangan tempat para pejabat aliansi dan para tetua sedang rapat, karena perdebatan di antara mereka seketika terhenti. Mereka terdengar sangat tak nyaman.
Bao Yu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Shen Zhu dan melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya, berusaha untuk terlihat tidak peduli.
Sementara itu, di lantai atas…
"Apa?" Seisi ruangan memekik tertahan.
"Bukan Bao Hu?" Sang ketua menautkan alisnya.
"Bukan, Tuan!" jawab pengawal itu tanpa berani mengangkat wajah..
"Seorang bawahan saja berani mengganggu," gerutu ketua aliansi.
"Tapi pelatnya kelas satu," pengawal itu berkilah dengan sopan.
Seisi ruangan serentak menahan napas, lalu menggumam seperti lebah yang sedang gelisah.
Beberapa menit telah berlalu. Bao Yu memperhitungkan ruangan di sekitarnya dengan waspada, serta sangat berharap si pengawal kembali dan mengatakan padanya bahwa sang ketua tidak sedang berada di tempat.
Tapi saat pintu ruang tunggu terbuka, justru ketua itu sendiri yang melangkah turun menemui Bao Yu, wajahnya merah dan terlihat sedikit kesal.
__ADS_1
Bao Yu memutar tubuhnya menghadap ke arah tangga saat pria paruh baya itu mendekat.
"Anak muda, apa yang membawamu kemari? Aku tak punya banyak waktu."
"Terima kasih sudah mau menemuiku." Bao Yu membungkuk hormat, namun tetap mengawasi ketua aliansi itu dengan waspada. Seketika ia menyadari bahwa bertanya mengenai rapat yang terjadi di lantai atas tidak akan membawanya ke mana pun. "Saya hanya ingin tahu, apakah barang-barang temuan dari desa yang dihancurkan seperti pusaka dan barang-barang berharga lainnya sudah dibawa ke sini," tutur Bao Yu hati-hati.
"Apa yang memberimu keberanian untuk menanyakan hal ini?" bentak ketua itu agak mengejutkan Bao Yu—dan terutama Shen Zhu, dengan tabiatnya yang mudah meledak.
"Ada satu keluarga yang pewarisnya masih hidup, apa Anda lupa?" Bao Yu mengangguk ke arah Shen Zhu.
Sang ketua mengikuti lirikan matanya dan mendesah kasar. "Tentu saja aku tak lupa," katanya berkilah. "Tapi kalian juga tak boleh lupa, perguruan kalian bukan satu-satunya yang mengadopsi ahli waris."
"Sebetulnya saya datang bukan untuk meminta hak waris keluarga Liu," tukas Bao Yu tak ingin berbasa-basi. "Hanya ingin memastikan apakah pusaka keluarga ini sudah sampai di sini karena saya memerlukannya untuk penelitian."
"Penelitian?" sang ketua memicingkan matanya sembari bersedekap.
Bao Yu memperlihatkan lencananya.
Ternyata si ahli teori! katanya dalam hati. Pantas saja memiliki pelat kelas satu. "Aku mengerti," katanya hati-hati. "Tapi… ada proses runut yang harus dijalankan. Kalau aku jadi kau, jujur saja, aku akan mengantisipasi adanya penundaan."
"Penundaan?" Bao Yu menaikkan sebelah alisnya. "Apa ada masalah?"
"Aku bukan pesulap yang bisa menarik kelinci dari topinya dalam sekejap! Tentu saja tidak ada masalah. Hanya saja hal ini membutuhkan waktu."
"Berapa lama?"
"Berbulan-bulan! Bertahun-tahun… sulit dipastikan!"
"Bertahun-tahun?" ulang Bao Yu terkejut. "Aku mengerti…"
Tapi, sesungguhnya Bao Yu tidak mengerti apa pun.
Ia tidak bisa membayangkan situasi macam apa yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memeriksa pusaka tak bertuan.
Pada akhirnya, Bao Yu tidak mendapatkan penjelasan yang masuk akal. Tiba-tiba saja ia merasa muak. Mulutnya mengering. Entah kenapa ia mendapat kesan seolah-olah ketua itu mencoba menutupi sesuatu.
__ADS_1
Ada sesuatu yang benar-benar salah!