
Kelopak mata Shen Zhu yang berbulu tebal dan lentik itu bergetar, lalu membuka perlahan.
"Adik!" Seruan kakak-kakak seperguruannya membuat Shen Zhu mengerjap dan terbelalak. Tatapannya yang bingung menyapu ruangan.
Keenam teman sekamarnya serentak menghambur ke tempat tidur Shen Zhu dan berkerumun di sekelilingnya.
"Adik! Akhirnya kau bangun!" Murid yang paling tua meraup kedua bahu Shen Zhu. Kemudian mendudukkannya.
"Aku akan segera memberitahu Guru," kata murid lainnya dengan bersemangat.
"Hmh!" Yang lain-lainnya mengangguk bersamaan, tak kalah bersemangat.
Sejurus kemudian, anak itu sudah menghambur keluar kamar.
Shen Zhu masih terlihat kebingungan.
"Adik, kau sudah tidur selama beberapa hari," kata murid yang paling tua. "Mau mencoba bubur masakanku?"
"Bubur?" Shen Zhu mengerjap dan terbelalak, "Mau, mau!" jawabnya sedikit terlalu antusias.
Murid yang paling tua itu menanggapinya dengan wajah semringah. "Aku akan segera kembali," katanya bersemangat. Lalu ia juga menghambur keluar dan kembali lagi membawa nampan berisi semangkuk bubur yang masih mengepul. "Adik, buburnya sudah datang!" serunya dengan riang.
"Cepat sekali!" gumam Shen Zhu terkejut.
Ia bahkan belum sempat menyapa kakak-kakak seperguruannya yang lain.
"Kau baru membuatnya?" tanya Shen Zhu.
Murid yang paling tua itu tertawa kikuk sambil mengusap bagian belakang kepalanya dengan tangannya yang bebas. "Aku tak tahu kapan kau akan sadar," katanya. "Jadi aku memasaknya setiap jam!"
Benar-benar berniat! batin Shen Zhu merasa tersentuh.
Murid yang paling tua itu bernama Lim Hua. Usianya sekarang dua puluh lima tahun. Pemuda itu meletakkan nampan yang di bawanya ke meja dekat kepala tempat tidur Shen Zhu, mengangkat mangkuk buburnya, menyendoknya dan meniupinya. "Makanlah," katanya seraya menyodorkan sendok bubur itu ke arah Shen Zhu. "Sudah tak panas!"
__ADS_1
"Ah—" Shen Zhu tergagap-gagap. Tiba-tiba merasa canggung dengan perlakuan kakak seperguruannya padahal biasanya dia begitu manja. "Kakak! Aku sudah tak apa-apa. Letakkan saja di meja makan, aku akan makan di sana."
Kakak-kakak seperguruannya yang lain berebut untuk menuntun Shen Zhu ke ruang makan dan mendudukkannya di depan meja rendah lesehan dan kembali mengerumuninya dengan wajah gembira.
Shen Zhu mulai menyesap sesendok bubur dan berdecak kagum, "Ternyata begitu enak," pujinya. "Bubur putih ditambah daun bawang, daging cincang dan irisan jahe yang tepat… dibandingkan dengan sayuran dari pegunungan, masakan seperti ini sungguh bisa membuat orang menangis!"
"Syukurlah kalau kau suka!" Lim Hua tersenyum hangat memandanginya dengan pipi bersandar pada kepalan tangan, dan sebelah siku bertopang pada permukaan meja.
"Suka!" sahut Shen Zhu dengan mulut penuh. "Suka sekali!"
Salah satu kakak seperguruannya yang lain segera menyiapkan segelas air hangat untuk Shen Zhu minum.
"Adik masih butuh hal lain?" Kakak seperguruannya yang lain lagi menawarkan.
"Ah—haha! Tidak, tidak! Tidak perlu. Semuanya sudah cukup. Aku sudah tak apa-apa, sungguh!" Shen Zhu tertawa gelisah menanggapi perlakuan mereka. Benar-benar perhatian, katanya dalam hati. Tapi kenapa aku merasa perlakuan ini sudah tak pantas lagi?
"Adik, bagaimana perasaanmu?" tanya Lim Hua setelah Shen Zhu menghabiskan makanannya.
Shen Zhu tiba-tiba tercenung. "Perasaanku…" ia menggantung kalimatnya. Baru sadar perasaannya di luar kebiasaan. Tubuhnya terasa ringan dan bugar, terasa jauh lebih bertenaga. Ia bisa merasakan energi dari dalam tubuhnya melimpah ruah. Pikirannya juga terasa segar. Dan yang paling penting dia merasa sudah tak pantas lagi diperlakukan seperti anak-anak.
Zainan, si dewa petaka itu benar-benar memberinya pelatihan yang ketat selama berhari-hari. Lalu Lim Hua bilang dia sudah tidur selama beberapa hari.
Simulasi itu ternyata menstimulasi kultivasinya.
Shen Zhu meletakkan sendok buburnya, kemudian tertunduk dan membolak-balik telapak tangannya, mengamati dirinya sendiri. Ia mencoba memusatkan tenaga dalamnya ke tulang punggungnya. Lalu tubuhnya bersinar terang, memancarkan cahaya berwarna merah darah.
"Whoa—kau sudah menerobos!" Kakak-kakak seperguruannya berseru takjub.
Sebelumnya, Shen Zhu tidak pernah berhasil mengubah energi spiritual menjadi aura seperti itu. Selain Bao Yu, belum pernah ada yang melihat aura Shen Zhu.
Bersamaan dengan itu, Bao Yu muncul di ambang pintu dan tersenyum samar. "Sudah kuduga kau memiliki elemen api!" gumamnya bernada bangga.
"Guru!" Shen Zhu tersentak dan menghambur ke arah lelaki itu, kemudian membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya.
__ADS_1
"Tidur begitu lama, ternyata tak sia-sia," kelakar Bao Yu tanpa tertawa. Hanya seulas senyuman tipis.
"Shen Zhu harus berterima kasih pada Guru!" ungkap Shen Zhu dengan tulus.
"Anak bodoh!" Bao Yu terkekeh sambil menepuk bahu Shen Zhu. "Aku merundungmu, mengatai dirimu tak berguna dan ingin membunuhmu," katanya. "Apa kau sedang menyindirku?"
"Shen Zhu tidak berani!" Shen Zhu kembali membungkuk.
"Sudahlah!" Bao Yu memegangi kedua bahu Shen Zhu dan menegakkannya. "Yang penting kau sudah naik tingkat. Saat Ujian Ksatria, kuharap kau bisa ikut berpartisipasi!"
"Ujian Ksatria?" Seisi ruangan terperangah.
"Benar," kata Bao Yu sembari melangkah pelan ke meja makan. Kemudian duduk bersila di depan kepala meja dan mengisyaratkan supaya murid-muridnya duduk. "Ujian Ksatria ini diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali," ia menjelaskan setelah semua orang duduk. "Setiap sekte hanya diberi sepuluh kuota untuk mengirim murid. Jadi untuk memperebutkan kuota ini, kalian semua harus berkompetisi. Tapi hanya murid dengan level dua puluh satu ke atas yang boleh mengikuti kompetisi. Sepuluh pemenang akan dikirim untuk ujian ksatria."
Murid-muridnya mengerang bersamaan.
Shen Zhu tercenung dengan dahi berkerut-kerut. Aku tak sabar untuk mengetahui berapa level kekuatan spiritualku sekarang, katanya dalam hati.
Bao Yu meliriknya dan tersenyum samar, "Hari ini, perguruan akan mengadakan uji kekuatan spiritual," katanya seolah bisa membaca pikiran Shen Zhu. "Kalian semua bersiaplah!"
Murid-muridnya membungkuk serentak dengan antusias. Kemudian bergegas ke kamar mereka untuk berganti pakaian bersih.
Shen Zhu masih bertahan di tempat duduknya. Terlihat sedikit bimbang.
Bao Yu mengamatinya dengan mata terpicing.
Seolah bisa merasakan tatapan gurunya, Shen Zhu mengerjap dan membungkuk ke arah gurunya dengan kedua tangan tertaut di depan wajah. Lalu beranjak dan bergegas menyusul kakak-kakak seperguruannya ke kamar mereka.
Melihat Shen Zhu memasuki ruangan, salah satu murid senior yang sudah selesai berganti pakaian menghampiri Shen Zhu. "Adik, kau sudah tidur selama beberapa hari. Aku akan siapkan air panas untuk kau membersihkan diri. Kau pasti merasa tak nyaman."
"Tidak!" tolak Shen Zhu. "Biar kulakukan sendiri. Aku sudah tak apa-apa. Sungguh!"
"Sudahlah!" Kakak seperguruannya bersikeras. Lalu bergegas ke arah dapur. Tak lama kemudian, dia sudah kembali lagi dengan sebaskom air hangat dan sehelai handuk kecil.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Shen Zhu memungut pedangnya di meja dekat kepala tempat tidur. Lalu tercengang. Ia mengamati pedangnya dan menimang-nimang pedang itu dengan dahi berkerut-kerut.
Kakak-kakak seperguruannya melirik Shen Zhu dan bertukar pandang dengan yang lain seraya tersenyum tipis. Merasa familier dengan ekspresi Shen Zhu.