Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
52


__ADS_3

"Adik—" Lim Hua memekik tertahan seraya mengulurkan sebelah tangannya menggapai udara kosong ketika Shen Zhu melesat cepat melewatinya.


Kedua tangan Shen Zhu juga terulur ke depan menggapai udara kosong.


Kucing kecilnya melesat cepat di depannya.


"Adik…" giliran Tiao sekarang yang tergagap-gagap ketika sekali lagi Shen Zhu melintas di depan mereka. Tangannya juga terulur menggapai udara kosong.


Kucing kecil itu sekarang melompat ke atas pohon.


Semua orang memandangi kedua pengacau itu sambil mengerang.


"Shen Zhu! Xiao Mao!" tegur Bao Yu dengan bujukan lembut yang membuat semua guru dan para tetua serentak memutar bola matanya. "Sudah mau berangkat," katanya mengingatkan. "Jangan bermain lagi!"


"Apa tidak menunggu Ketua?" teriak Shen Zhu sambil melompat-lompat di bawah pohon dengan kedua tangan terulur ke atas, mencoba meraih kucingnya yang bertengger di dahan pohon itu sambil menggoyang-goyangkan ekornya.


"Tidak," jawab Bao Yu.


Bao Hu masih mengurung diri sampai sekarang. Kecuali pelayan, tak ada yang diizinkan masuk untuk menemuinya. Bahkan para tetua. Jadi, mereka memutuskan untuk berangkat tanpa ketua.


"Sudah terlambat," kata Bao Yu semakin lembut. "Tak perlu menunggu lagi."


"Benar-benar lembek!" guru Jialin menggerutu. Ia menyentakkan sebelah tangannya ke samping dan seketika sebuah cambuk muncul dalam genggamannya.


Semua orang terpekik bersamaan.


"Bocah Tengik!" hardiknya sambil melontarkan cambuknya ke arah Shen Zhu. "Mau ikut atau tidak?" geramnya tak sabar.


SLAAAASSSH!


GREB!


Cambuk itu menyergap pinggang Shen Zhu dan merenggutnya.


"IYAAAAAAAK!" Shen Zhu menjawab dalam teriakan melengking yang baru berhenti ketika ia mendarat.


BRUK!


Shen Zhu jatuh terduduk di depan guru Jialin sembari mengernyit dan mengusap-usap pinggulnya.


Jialin terkikik sambil membekap mulutnya.


Murid-murid Bao Yu tertawa terbahak-bahak.


"Yuwen'er… jangan terlalu kejam!" suara familer itu membuat semua orang tersentak dan menoleh ke belakang.


"Ketua!" semua orang berseru serempak, lalu membungkuk, sedikit terlalu antusias.


Bao Hu akhirnya muncul dan tampak begitu siap, ia berhenti di pelataran sambil melipat kedua tangannya ke belakang, lalu mengedar pandang. "Kenapa begitu terburu-buru?" kelakarnya pada Bao Yu sambil tersenyum tipis. "Apa sudah tak menganggapku?"


Bao Yu hanya membungkuk memberikan salam soja sambil mengulum senyumnya.

__ADS_1


Para tetua dan guru-guru tersenyum lega.


"Berdandan begitu lama hanya begini saja?" gerutu guru Jialin sambil mendelik dan bersedekap.


Guru Jialin adalah adik bungsu Bao Hu dan Bao Yu. Bibi kecil Tiao dan Jialin. Namanya Bao Yuwen.


Bao Hu masih terlihat sedikit pucat dan tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Tapi garis wajahnya terkesan jauh lebih lembut. "Sudah! Sudah!" Ia mengibas-ngibaskan tangannya sambil melangkah menuju barisan kereta. "Bukankah kita sudah terlambat?"


Semua orang bergegas dengan antusias.


Para peserta itu berangkat dengan kereta kuda bersama ketua, Tetua Yun, Bao Yu, Bao Yuwen dan guru Asrama Satu Putra, dalam pengawalan paling ekslusif yang mereka miliki.


Murid-murid yang tidak berangkat berderet di sepanjang jalan keluar sampai ke pintu gerbang untuk mengantar kepergian mereka sambil berseru-seru dan mengacung-acungkan tinju mereka untuk menyemangati para peserta.


Guru-guru membungkuk ke arah kereta ketua dengan kedua tangan tertaut di depan wajah.


Para tetua berderet di belakang iring-iringan kereta kuda itu di pelataran aula singgasana ketua dengan kedua tangan terlipat ke belakang, memandangi iring-iringan itu dengan dada membusung.


Begitu pintu gerbang dibuka…


SLAAAASSSH!


SLAAAASSSH!


Sejumlah Sicarii menerjang ke arah mereka dalam gerakan memutar di udara sambil melontarkan sejumlah belati dari sela-sela jemari mereka.


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!


Semua orang berteriak seperti orang gila, membuat dunia seakan kiamat.


Para penumpang kereta serentak melompat keluar dan melesat ke pintu gerbang.


TRANG!


TRAAAAANG!


BUUUMMM!


DUAAAAARRRR!


Suara-suara ledakan menggema di mana-mana.


Shen Zhu dan Lim Hua merangsek ke tengah-tengah barisan para pengawal berkuda dan bergabung dengan mereka.


Tiao dan murid-murid Bao Yu yang lain berderet di sekitar kereta Jialin untuk membentenginya.


Para tetua beterbangan meninggalkan pelataran dan melayang di ketinggian untuk memantau situasi.


Para guru melesat ke pagar benteng untuk memblokir serangan udara.

__ADS_1


Bao Hu melangkah keluar dan berdiri di beranda kereta kudanya. Para pengawal terbaik serentak membentenginya. Bao Yu dan adik perempuan mereka melayang turun dan mendarat di kiri-kanannya.


Seorang pria paruh baya berjubah gelap dengan tudung kepala mengendap turun dari udara, kemudian melayang diam di atas gerbang. "Serahkan pembunuh anak buahku, maka yang lain tak diperhitungkan!" katanya dengan suara yang menggelar.


"Ranah surgawi!" para pengawal terpekik bersamaan.


Shen Zhu spontan mengerling mengikuti arah pandang para pengawal itu dan menautkan alis. Jadi begitu kalau sudah mencapai ranah surgawi? pikirnya takjub. Suara saja seperti guntur!


"Pembunuh?" Bao Yu maju selangkah sambil melipat kedua tangannya ke belakang dan membusungkan dadanya. "Kau sebut kami pembunuh? Lalu kalian disebut apa?"


"Cantik…" gumam pimpinan Sicarii itu dengan sikap mencela. "Biarkan pria bicara dengan pria!"


"Kau—" Bao Yu menggeram sambil menyentakkan kipasnya.


SLAAAASSSH!


Angin kencang membuncah hingga radius puluhan meter dan menerpa pria di atas gerbang itu hingga jubah dan rambutnya melecut-lecut.


"Kucing kecil punya cakar?" ejek pimpinan Sicarii itu sekali lagi.


Shen Zhu mengepalkan tangannya dan menggeram, "Berani menghina guruku?"


Semua mata serentak mengerling ke arah Shen Zhu, sementara pertempuran di sekeliling mereka berlangsung semakin sengit.


"CARI MATI!" teriak Shen Zhu dengan suara tak kalah menggelegar. Lalu terbang melesat ke arah pimpinan Sicarii itu dengan kecepatan komet sambil mengayunkan tinjunya.


Semua orang terpekik melihat reaksinya.


"Pacar kecil Nyonya Bao?" cemooh pemimpin Sicarii itu seraya tersenyum miring. Lalu menepis serangan Shen Zhu dengan sekali dorong.


Shen Zhu terlempar ke belakang hingga puluhan meter.


Bao Yu tersentak dengan sebelah tangan terulur menggapai udara kosong.


"ADIIIIIK!" Murid-murid Bao Yu berteriak bersamaan. Lalu menerjang serempak ke arah pemimpin Sicarii itu sambil melontarkan energi cahaya.


Tapi lagi-lagi pemimpin Sicarii itu berhasil menepiskan serangan dalam sekali hentak.


"HIAAAAAAAT!" Shen Zhu menghunus pedangnya dan menerjang sekali lagi seraya berteriak lantang.


Pimpinan Sicarii itu hanya memutar tubuhnya sedikit dan Shen Zhu tergelincir menebas udara kosong dan kembali terlempar.


Aku tak percaya aku tak bisa mengalahkannya! batinnya penuh tekad.


Bao Yu hampir melejit ke arah pimpinan Sicarii itu, tapi Bao Hu dengan cepat merenggut bahunya dan menahannya. "Jangan terburu-buru," katanya memperingatkan sambil menunjuk pimpinan Sicarii itu dengan ekor matanya. "Pemimpin mereka tak mungkin satu. Yang perlu diwaspadai adalah orang-orang yang lebih kuat di belakangnya."


Bao Yu langsung terdiam.


Di sisi lain, para tetua dan guru-guru bertarung sengit di udara melawan para pembunuh peringkat atas. Rata-rata mereka sudah mencapai ranah galaksi tingkat tinggi.


Di pekarangan, murid-murid junior sudah dikepung pasukan Sicarii prajurit dengan rata-rata kekuatan spiritual tak lebih rendah dari guru-guru muda di perguruan mereka.

__ADS_1


Jialin menyerampang di tengah-tengah kepungan para Sicarii prajurit itu untuk melindungi murid-murid junior.


__ADS_2