Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
78


__ADS_3

BUM!


BUM!


DUAAAAARRRR!


Arena menggelegar dan berdebum-debum. Hampir seperti kapal rusak.


Kedua peserta itu sama brutalnya meski berbeda gender.


Yang laki-laki tak pandang bulu, yang perempuan tak ingin kalah.


"Nomor Lima Puluh! Kuakui kau sangat hebat!" teriak Qianxi sambil menyeruak ke arah peserta nomor lima puluh dan mengayunkan tinjunya.


BUM!


Tinju mereka saling beradu satu sama lain. Lalu keduanya sama-sama terpental.


"Setelah aku menjadi juara pertama, aku akan lebih dulu mencarimu untuk menjadi anggotaku!" lanjut Qianxi seraya memasang kuda-kuda lagi.


"Sayangnya…" peserta nomor lima puluh memukulkan tinjunya ke telapak tangan dan membungkuk dalam sikap kuda-kuda. "Aku juga mengincar posisi juara pertama!" katanya sambil menerjang ke arah Qianxi dengan berlari.


BAG!


BUG!


BAG!


BUG!


Keduanya kembali saling baku hantam.


"Kalau begitu kerahkan seluruh tenagamu!" hardik Qianxi penuh tekad. Kemudian memantulkan tubuhnya ke udara dan menukik seraya menghujamkan tinjunya ke arah lawan.


BUM!


Lagi-lagi peserta nomor lima puluh menangkisnya dengan tinjunya hingga tinju mereka saling beradu, saling mendorong dan akhirnya sama-sama terpental.


"Pertarungan ini terlihat seperti duel goliat!" komentar penonton dengan bersemangat.


"Apa dia perempuan?" komentar penonton wanita.


BUM!


BUM!


DUAAAAARRRR!


Aula kembali berguncang.


Pukulan Qianxi meleset lagi dan menghujam lantai hingga meledak.


"Benar-benar kuat!" komentar para pejabat di bangku kehormatan.


"Pria yang menikahinya benar-benar akan sial," gumam seorang peserta pria dengan raut wajah ngeri.


"Apa kau sejenis kucing pengecut?" teriak Qianxi tak sabar. "Kenapa terus-terusan menghindar?"


"Kenapa bukan kura-kura?" Xiao Mao menggerutu di dalam kepala Shen Zhu.


Shen Zhu menahan senyumnya.


Jialin spontan mengerling dan memicingkan mata. Apa tidak salah? pikirnya. Adik tersenyum! Lalu menatap Qianxi dengan alis bertautan. Apa bagusnya seorang gadis brutal? geramnya dalam hati.

__ADS_1


"Gadis kecil…" geram peserta nomor lima puluh. "Mulutmu besar juga!"


Sedetik kemudian, alkemis itu sudah melesat ke arah Qianxi seraya menghujamkan tinjunya.


Qianxi menangkisnya dengan tendangan.


GRAAKK!


Peserta nomor lima puluh terdorong sedikit ke belakang dengan tumit sepatu terseret di lantai.


Qianxi mendengus dan menyeringai. "Apa kau belum makan?" cemoohnya.


Alkemis itu menghentakkan kakinya dan menerjang sekali lagi, memantulkan tubuhnya ke udara, kemudian mengayunkan kakinya dalam posisi split di udara dan menghujamkan tumit sepatunya di bahu Qianxi.


BUG!


Qianxi jatuh berlutut. Kemudian memukulkan tinjunya ke lantai.


DUAAAAARRRR!


Lantai arena kembali meledak.


Detik berikutnya, Qianxi melejit ke arah lawannya. Berlari cepat dengan kedua tangan terkepal, satu di sisi wajahnya, satunya di depan dada.


"Nomor Dua itu…" Bao Yu berbisik pada Shen Zhu. "Tinjunya sangat dominan. Auranya menunjukkan seakan pernah bertempur di medan perang."


Shen Zhu melirik gurunya dengan mata terpicing.


"Dia murid baru di aliran tinju," Bao Yuwen menyela mereka.


Shen Zhu dan Bao Yu spontan menoleh ke arah wanita itu.


Wanita itu menatap lurus ke arena sembari bersedekap. "Energi pelatihannya belum mencapai ranah galaksi. Tapi kalau beradu kekuatan, sekte pedang sedikit lebih lemah. Karena sistem pelatihan aliran senjata menekankan keseimbangan sementara aliran tinju menekankan serangan."


"Selain itu," Bao Yuwen menambahkan, "Kecepatan dan pertahanan Nomor Dua jauh di atas rata-rata. Satu-satunya kelemahannya hanya kekuatan spiritual. Namun perlindungannya pada hal itu juga sangat baik."


"Ternyata kebiasaan bergosip ada gunanya juga," seloroh Bao Yu.


Bao Yuwen mendengus dan mendelik sebal.


"Namun…" Bao Yu menatap arena dan mengerutkan keningnya. "Yang lebih anehnya lagi, Nomor Dua belum mengeluarkan senjata selama turnamen. Kemungkinan besar… itu adalah jurus andalannya!"


Shen Zhu mengerjap dan tertegun.


Keesokan harinya…


Shen Zhu dihadapkan dengan Qianxi.


"Bocah!" Qianxi memanggilnya sembari menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk meregangkan otot-ototnya. "Aku sudah bertarung sengit untuk mendapatkan manna biru," katanya. Lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya. "Jangan mengecewakanku!"


Kalau begitu aku akan mendesakmu sampai kau mengeluarkan senjata yang kau rahasiakan selama ini, kata Shen Zhu dalam hati. Kemudian mencabut pedangnya.


SLAAAASSSH!


Sekeliling arena terhempas oleh angin kencang.


Qianxi tersenyum antusias, "Bagus!" katanya seraya memukulkan tinjunya ke telapak tangan, lalu membungkuk memasang kuda-kuda.


"Pertarungan di—"


WUUUSSSH!


Belum selesai pemandu acara memberikan aba-aba, Qianxi sudah melesat ke arah Shen Zhu.

__ADS_1


Shen Zhu tersenyum miring dan mengayunkan pedangnya ke depan. Semburat cahaya berbentuk sabit melesat ke arah Qianxi.


Qianxi tidak menghindar, tetap berlari menyeruak menerjang serangan itu.


DUAAAAARRRR!


Energi cahaya itu meledak ketika Qianxi menerobos dan terus berlari.


Wah! Shen Zhu membatin takjub. Nyalinya lebih besar dari mulutnya. Lalu dengan cepat, ia menjejakkan kakinya dan melambungkan tubuhnya ke udara. Kemudian memutar tubuhnya seraya mengayunkan pedangnya.


GLAAAAAARR!


Angin kencang menyentakkan seluruh arena.


Para ksatria spontan mengayunkan perisai di depan wajah mereka dan melontarkan manna pelindung secara serentak dari delapan penjuru. Sebuah tabir transparan berbentuk tabung tercipta di sekeliling lantai arena, menjadi dinding pemisah antara tempat pertempuran dan tempat penonton.


Shen Zhu dan Qianxi mengerling sekilas ke arah tabir itu dan semakin bersemangat.


Shen Zhu menukik tajam ke arah Qianxi seraya menghujamkan pedangnya.


Tapi lagi-lagi Qianxi tak coba menghindar. Dengan kepalan tangan penuh tekad, ia menerjang serangan itu dengan tinjunya.


DUAAAAARRRR!


Arena tersapu dalam gelegar halilintar. Cahaya membuncah seperti fenomena big-bang.


Shen Zhu mendarat dan kembali memasang kuda-kuda. "Baiklah," katanya dalam geraman penuh tekad. "Kita lihat apakah kali ini kau benar-benar takkan menghindar?"


SLAAAASSSH!


Shen Zhu menjulurkan pedangnya ke atas dan kobaran api menyembur melewati ujung pedangnya hingga setinggi sepuluh meter seperti tiang cahaya.


Arena kembali berguncang dan bergemuruh di bawah tekanan aura itu.


Tapi Qianxi tidak terlihat gentar, tetap menunggu dalam sikap kuda-kuda.


Dan ketika Shen Zhu benar-benar mengayunkan pedangnya, Qianxi menangkap pedang cahaya itu dengan kedua tangannya. Lututnya tertekuk, dan tumit sepatunya terseret di lantai.


Shen Zhu menekannya semakin dalam.


Tubuh Qianxi mulai bergetar, tapi tetap bertahan. Ia mengetatkan cengkeramannya pada materi panas padat itu dan bertekad untuk mengoyaknya.


Tak lama kemudian…


DUAAAAARRRR!


Elemen padat api itu juga berhasil diremukan.


"Lumayan juga!" puji Shen Zhu sembari menyeringai.


Qianxi jatuh berlutut dan terengah-engah. "Lebih kuat lagi!" teriaknya seraya memukulkan tinjunya ke lantai.


BUUUMM!


Lagi-lagi lantai arena meledak dan remuk berkepingan.


Qianxi menarik bangkit tubuhnya dan mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya penuh tekad. Darah menetes dari sela-sela jemarinya. Tapi auranya bertambah kuat.


"Gadis ini benar-benar mengerikan!" komentar para pejabat. "Semakin parah dia terluka, semakin kuat energi yang dibangkitkan!"


Shen Zhu melambungkan tubuhnya sekali lagi, kemudian melayang diam di udara. Ia memegangi pedang di depan wajah dengan satu tangan, tangan lainnya bergerak-gerak di sisi pedang itu, membentuk jurus-jurus dengan jemarinya.


Sebuah lingkaran sihir tercipta di pangkal pedangnya seperti penahan batang, lalu muncul enam lingkaran lainnya dengan warna berbeda-beda, berderet berlapis-lapis hingga ke ujung pedangnya seperti gelang.

__ADS_1


Sejurus kemudian, Shen Zhu menghujamkan pedangnya menembus udara kosong, lalu secara serentak tujuh lapis lingkaran sihir itu terlontar dari ujung pedangnya ke arah Qianxi dalam bentuk ribuan jarum transparan berwarna-warni.


__ADS_2