
"Jadi, Sekte Bao mengadakan perjamuan rahasia yang hanya mengundang Sekte Majusi?" Seorang tetua salah satu sekte yang tidak tergabung dalam Aliansi Ksatria menyela di tengah-tengah kemeriahan. "Sayang sekali kami tidak diundang!"
"Para tetua sudah salah paham," Tiao menyambut para tetua itu dengan sopan seraya membungkuk dan menautkan kedua tangannya di depan wajah, memberikan salam soja. "Sebetulnya ini bukan perjamuan rahasia. Hanya perjamuan keluarga!"
Para tamu itu mendengus. Tidak mau terima penjelasan Tiao.
"Pernikahan memang cara termanis untuk menjalin kerjasama!" sindir salah satu tamu yang tidak diundang itu.
"Sudah datang jauh-jauh, silahkan bergabung!" Bao Yu mengambil alih penyambutan tamu yang tidak diundang itu.
"Baik!" salah satu tetua yang tidak diundang itu menanggapi dengan sinis. "Kalau begitu kami tak segan lagi!" Pria itu mengerling ke arah rekannya dan dalam sekejap perjamuan itu berubah menjadi pertempuran.
Para tamu yang tak diundang itu membawa banyak pasukan berseragam ninja dengan penutup wajah, mengacaukan seluruh tempat dengan membabi-buta. Menghancurkan dekorasi dan menggulingkan meja-meja.
Jyang Ryu dan Bao Yu berusaha menenangkan mereka dengan perkataan sopan tapi tidak digubris.
Pertarungan pun tak terelakkan.
Pekik jerit para wanita menggemuruh seperti angin ribut.
Ledakan suara logam yang berbenturan, bercampur aduk dengan suara-suara berdebuk ribut dan hardikan kasar yang mengintimidasi.
Shen Zhu dan Xiao Mao membeku di tengah ruangan di depan tangga singgasana, sementara kakak-kakak seperguruan Shen Zhu menghadang para perusuh di depan mereka.
Bao Yu dan Jyang Ryu berkerumun di depan pintu masuk dikelilingi para pengawal dari kedua sekte, sementara Jyang Yue dan Xie Ma mengawasi dari podium bersama putri Jyang Ryu yang baru berusia tiga tahun.
Putra Bao Yu menggeliat-geliut dalam cengkeraman para pengasuh, memberontak dan berteriak-teriak minta dilepaskan.
"Lindungi Nyonya Besar!" Juang Ryu berteriak pada para pengawalnya. "Amankan mereka!"
Jialin melompat ke podium dan menarik kedua Nyonya Besar itu dan menariknya menuju pintu lain.
Para pengawal mengelilingi mereka dan berusaha membuka jalan.
"Tianjin!" Jyang Yue meneriaki putranya yang terus memberontak. Para pengasuh menarik anak laki-laki itu ke arah ibunya dikawal sejumlah guru dan murid-murid terbaik.
Para perusuh menerjang di sana-sini seperti kawanan kelelawar. Para murid berjibaku memerangi mereka bersama para pengawal.
Shen Zhu mengerling ke arah Xiao Mao dibalas anggukan singkat. Sejurus kemudian, gadis itu sudah melejit dan memantul-mantul di sana-sini mengayunkan cakarnya mencabik-cabik para perusuh yang dilewatinya.
__ADS_1
Jialin melirik sekilas ke arah gadis itu. Cepat dan sadis! pikirnya. Seperti mata-mata yang sudah terlatih.
Bao Yu dan Jyang Ryu masih berdiam diri. Mengawasi para tetua yang juga mengawasi mereka dengan hanya berdiam diri di ambang pintu.
Shen Zhu membeku tanpa ekspresi. Meneliti seluruh tempat melalui sudut matanya. Mencoba memperhitungkan kapan tepatnya ia harus bertindak supaya tidak melukai orang sendiri.
Tapi dilihat bagaimanapun pola serangan itu memang dirancang untuk mencegah serangan massal. Para perusuh itu berpencar dan menyelinap di setiap sudut yang tidak terjangkau tanpa melewati orang Sekte Bao.
Itu adalah metode cerdas untuk menekan para pemilik kekuatan spiritual di ranah galaksi ke atas. Orang-orang dengan aura yang bisa menjangkau radius ratusan meter. Orang-orang seperti ini bisa melukai orang sendiri jika melakukannya dalam keadaan bercampur seperti ini.
Namun selama para pemilik kekuatan spiritual tinggi menahan diri mereka untuk menyerang, anggota Sekte Bao dengan kekuatan spiritual menengah ke bawah sudah banyak yang terluka dan bergelimpangan. Beberapa sudah tergolek tanpa sadarkan diri. Mungkin juga sudah tewas.
Para perusuh masih menerjang di sana-sini dengan cara berpencar.
Para tetua tidak berdaya, kecuali turut bertarung satu lawan satu, mengandalkan teknik bela diri dengan menekan kekuatan spiritual.
Rombongan Nyonya Besar sudah berhasil membuka pintu lain untuk mengamankan anak-anak mereka. Tapi di luar dugaan, para perusuh juga ternyata sudah mengepung mereka di luar pintu.
"Ini jelas penyergapan!" gerutu Jyang Yue. "Mereka mengepung kita dari berbagai arah!"
"Aku ingin bertarung!" teriak Tianjin tak mau menyerah. Masih terus memberontak dalam cengkeraman para pengasuh.
"Nyonya—" para pengasuh berusaha memprotes.
"Lepaskan pria kecil itu!" hardik Jyang Yue.
Sedetik kemudian, Tianjin sudah melejit ke tengah koridor seraya menghunus pedangnya. Lalu mulai memantul-mantul dan menyerampang ke sana-kemari seraya mengayun-ayunkan pedangnya.
Jialin melesat ke arah anak laki-laki itu untuk mendampinginya.
Jyang Yue tetap bertahan di sisi Xie Ma yang menggendong putrinya. Para pengasuh dan para pengawal mengelilingi mereka untuk membentenginya.
"Kita sudah dikepung!" teriak salah satu pengawal ke dalam aula singgasana.
Shen Zhu spontan melejit ke arah pintu lain di mana kakaknya baru saja keluar. Tapi gerakannya menimbulkan ledakan energi yang membuat semua orang yang dilewatinya tersapu hingga radius ratusan meter.
Suasana mendadak gempar. Semua mata menoleh ke arahnya.
Shen Zhu mengernyit dan berhenti di ambang pintu. Lalu tersenyum kikuk ke arah Jyang Yue. "Maaf," desisnya terbata-bata.
__ADS_1
Para tetua yang membawa gerombolan perusuh itu menatap Shen Zhu dengan mata terpicing.
Jyang Ryu dan Bao Yu bertukar pandang dengan gelisah.
"Apa kau tak bisa membedakan?" Xie Ma memelototinya.
"Auraku tak punya mata," gumam Shen Zhu dengan raut wajah bersalah.
Jyang Yue dan Xie Ma mengerang bersamaan.
Shen Zhu mengusap bagian belakang kepalanya sambil cengengesan. Lalu memeriksa koridor yang telah dikepung musuh. "Paling tidak di sini aku cukup berguna," katanya bernada membujuk.
Sebelum para perusuh itu dapat berpencar, Shen Zhu menyentil udara kosong.
Semburat cahaya seperti laser melesat dari ujung jarinya dan menembus tubuh para perusuh secara serentak.
Sekitar dua puluh orang tertembus secara paralel dalam sekali serang.
"Kalau aku jadi kau, lebih baik tinggal di kuil dan mengasingkan diri," gumam Xie Ma bernada ngeri. Matanya tidak berkedip melihat para penyerang yang terlempar bersamaan dalam satu tusukan energi cahaya berbentuk jarum yang tidak berujung. "Apa kau masih manusia?" tanyanya kemudian sambil menoleh ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu menanggapinya dengan seringai kikuk.
Di sisi lain koridor, Tianjin dan Jialin memantul-mantul dalam kepungan.
Shen Zhu mengawasi mereka dengan cemas. Mungkin sebaiknya aku keluar sendiri, pikirnya. Lalu menyelinap ke sisi lain koridor yang tidak terlalu banyak orang.
"Tunggu—" Xie Ma mengulurkan sebelah tangannya ke arah Shen Zhu untuk menghentikannya, tapi hanya menggapai udara kosong. "Cepat sekali!" gumamnya.
"Kekuatannya terlalu mengerikan kalau dia tetap berada di tengah kerumunan," kata Jyang Yue.
"Benar juga," gumam Xie Ma tak berdaya. "Mungkin tidak seharusnya dia berada di dunia manusia."
Detik berikutnya…
DUAAAARRR!
Ujung koridor di mana Shen Zhu menghilang tiba-tiba meledak hingga meruntuhkan sejumlah pilar dan kubah bangunan.
"Haish!" Xie Ma mengerang seraya menepuk dahi.
__ADS_1