Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
37


__ADS_3

"Liu Shen Zhu!" Seorang tetua suci membuka suara. "Apa kau mengenal pria ini?" tanyanya pada Shen Zhu sambil melayangkan sebelah tangannya ke arah pengawal yang diapit dua algojo.


Shen Zhu membungkuk sambil menautkan kedua tangannya di depan wajah, "Tidak, Tetua," jawabnya dengan sopan. "Tapi aku ingat pria ini mengawal kami saat kami berangkat ke Hutan Perburuan."


"Kenapa dia bisa berada di sini lebih dulu?" tanya tetua lainnya. "Katakan apa yang terjadi di perjalanan!"


"Kami diserang sekelompok pembunuh bayaran," jawab Shen Zhu.


"Pembunuh bayaran?" Tetua pertama menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana kau tahu kalau mereka pembunuh bayaran?"


Shen Zhu membungkuk lagi, "Mohon maaf, Tetua. Apa yang Anda tahu tentang Sicarii?" ia balas bertanya.


"Pembunuh bayaran!" jawab tetua itu dengan suara tercekat.


"Benar," timpal Shen Zhu. "Sicarii tidak merampok!"


"Kau punya bukti kalau mereka kelompok Sicarii?" tanya Jianyin bernada sengit.


"Barang bukti seharusnya sudah di tangan kalian," jawab Shen Zhu.


Seisi ruangan serentak bergeming.


Shen Zhu mengerling ke arah pengawal yang diapit algojo itu.


"Aku sudah memberikan barang buktinya saat kembali," jelas pengawal itu.


"Baiklah!" Bao Hu menginterupsi. "Aku yang menerimanya!" Ia mengaku. Kemudian mengeluarkan belati dari cincin penyimpanannya, dan melayangkannya ke arah barisan tetua.


Para tetua itu menelitinya secara bergiliran. Lalu kembali menatap Shen Zhu.


"Jadi, kalian diserang kelompok Sicarii, dan pria ini melarikan diri?" tanya tetua suci yang baru turun gunung sambil menunjuk pengawal itu.


Akhirnya sampai pada intinya! batin Shen Zhu mulai waspada. "Dia cidera parah," cerita Shen Zhu, kemudian menjelaskan kondisi terakhir pengawal itu sebelum dia memintanya untuk kembali ke perguruan dan melaporkan insiden itu. "Aku memintanya kembali ke perguruan setelah semuanya beres."


"Beres?" Tetua suci mengulang perkataan Shen Zhu dalam bentuk pertanyaan.


"Kami berhasil membereskan mereka semua," jawab Shen Zhu.


"Jadi dia benar-benar sekarat dan sembuh seketika?" tanya tetua suci kedua.

__ADS_1


"Bisa dikatakan, dialah satu-satunya yang masih hidup dan bisa disembuhkan!" Shen Zhu menimpali.


"Bagaimana kau menyembuhkannya?" selidik tetua lainnya.


"Saya membawa obat khusus untuk cidera parah," Shen Zhu menjawab dengan sopan.


"Tidak benar!" sergah Jianyin. "Pengawal itu mengatakan kau melukai tanganmu sendiri untuk menyembuhkannya!"


Shen Zhu tersenyum tipis, lalu membungkuk sekali lagi, "Benar, Nyonya. Aku memang melukai tanganku sendiri," jelasnya. "Tapi bukan untuk menyembuhkan lukanya. Hanya untuk menguji apakah obatnya benar-benar bekerja. Obat khusus ini belum teruji."


"Dari mana sebenarnya kau mendapatkan obat khusus itu?" tanya tetua lainnya lagi.


Shen Zhu membungkuk ke arah Bao Hu, "Ketua," tanyanya dengan sopan. "Masih ingat saat aku masuk ke Kolam Petaka?"


"Hmh!" Bao Hu menjawab singkat.


"Sewaktu aku turun ke kolam petaka itu, sebetulnya aku terjatuh hingga cidera parah. Tapi aku tergelincir ke dalam kolam dan pulih dengan cepat. Setidaknya itulah yang aku yakini. Jadi, aku mengambil airnya," cerita Shen Zhu sedikit dibumbui.


Memang benar, ketika ia jatuh ia cidera parah. Tapi bukan karena jatuh. Melainkan karena terkena serangan balik dari pedangnya. Dan benar dia sembuh dalam waktu cepat, tapi bukan karena berendam di kolam darah. Melainkan karena pada tubuhnya tertanam Segel Dewa.


Salah satu kelebihan Segel Dewa adalah penyembuhan super.


Bagian cerita yang dibumbui adalah bahwa ia pulih dengan cepat setelah tergelincir ke dalam kolam.


Botol itu sebetulnya berisi darahnya sendiri.


Ia melayangkan botol itu ke arah para tetua dan sekali lagi para tetua itu berebut untuk menelitinya.


Bao Yu mengerling diam-diam ke arah Shen Zhu. Dasar Bocah Tengik! batinnya merasa tergelitik. Apa dia benar-benar masih Liu Shen Zhu yang aku kenal?


Salah satu tetua menyayat telapak tangannya sendiri dengan belati kecil yang tadi mereka teliti, kemudian mengoleskan darah Shen Zhu pada lukanya. Tak lama kemudian, luka itu menutup dan pulih seketika.


Seisi ruangan terbelalak menyaksikannya.


Otak serakah Jianyin spontan bereaksi. Bocah Tengik ini ternyata punya banyak rahasia! pikirnya. Lalu secara diam-diam ia melirik ke arah cincin penyimpanan Shen Zhu melalui sudut matanya dengan isi kepala mulai dipenuhi siasat jahat.


"Baiklah!" Tetua suci menginterupsi. "Bebaskan pengawal itu!" titahnya tanpa basa-basi.


Kedua algojo di lantai aula segera membungkuk ke arah ketua dan para tetua, kemudian meninggalkan aula.

__ADS_1


Pengawal itu mengangguk pada Shen Zhu penuh terima kasih.


Shen Zhu menanggapinya dengan anggukan singkat.


Jianyin menatap Shen Zhu dengan raut wajah kencang. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Kemudian mengerling ke arah Bao Yu dengan sorot menyelidik.


Bao Yu memasang wajah datar dan tidak mencurigakan.


Selama sidang berlangsung dia tetap berdiam diri dengan sikap netral, pikir Jianyin. Dia bahkan tidak membuka mulutnya untuk membela murid kesayangannya. Keparat ini benar-benar licin!


"Pembicaraan ini sampai di sini saja!" gerutu Tetua Suci. "Benar-benar membuang waktuku!"


Seisi ruangan membungkuk ke arah tetua itu dengan ekspresi tegang. Bahkan ketua.


Jianyin memucat ketika tetua itu melontarkan tatapan tajam padanya. Bocah Tengik ini harus membayar kekalahanku! batinnya geram.


"Mohon maaf, Tetua!" Shen Zhu menginterupsi. Ia membungkuk ke arah tetua suci itu.


Tetua suci itu mengerutkan keningnya. "Ada yang ingin kau katakan?"


"Karena Tetua Suci sudah terlanjur turun gunung, aku tak ingin waktu Tetua Suci yang berharga menjadi sia-sia," kata Shen Zhu dipenuhi modus terselubung. Ia mengeluarkan kristal yang didapatkannya dari monster Naga Bulan Darah, kemudian melayangkannya ke arah tetua suci itu dengan dorongan halus aura yang sangat sopan.


"Kristal Naga Bulan Darah?" Seisi ruangan terperangah.


Mata Jianyin spontan membulat. Sial! erangnya dalam hati. Bocah Tengik ini ternyata benar-benar punya banyak barang bagus dalam cincin penyimpanannya!


Tetua suci itu menatap Shen Zhu dengan curiga. "Kau baru pertama kali bertemu denganku," katanya penuh selidik. "Dari mana kau tahu aku memiliki elemen ganda?"


"Belakangan ini… aku sering berlatih di kaki gunung tempat Tetua Suci bermeditasi," kata Shen Zhu berpura-pura gugup. "Aku sering melihat aura ganda di puncak gunung!"


Seisi ruangan serentak menggumam mendengar jawaban Shen Zhu.


"Saat kami menemukan Naga Bulan Darah, aku melihat auranya sama persis. Jadi… aku sengaja menyimpannya untuk Tetua Suci," tutur Shen Zhu.


Para tetua serentak bertukar pandang.


Jianyin menggertakkan giginya. Isi dadanya bergemuruh, isi kepalanya serasa terbakar. Bocah Tengik ini benar-benar pandai mencari muka! batinnya tak tahan lagi.


"Kultivasinya sudah mencapai sembilan ratus ribu tahun," Shen Zhu menambahkan. "Kuharap… ini sepadan dengan waktu Tetua."

__ADS_1


Seisi ruangan serentak menahan napas.


Sembilan ratus ribu tahun? pikir semua orang.


__ADS_2