Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
30


__ADS_3

"Adik, kau memiliki elemen api. Bagaimana bisa kau membuat manna senjata?" tanya Tiao ketika mereka melanjutkan perjalanan menyusuri tepian danau.


"Meski elemen api, bentuk energi yang dihasilkan tak kalah beragam dengan elemen padat," jelas Shen Zhu. "Suhu api relatif tinggi. Memiliki cahaya dan bentuk yang fleksibel mengikuti arah angin."


Tiao mengerutkan keningnya.


"Api bisa memercik," Shen Zhu mengulurkan tangannya ke depan dan mengepalkan jemarinya dengan sentakan keras, energi cahaya meledak dari setiap sela-sela jarinya dan menebarkan taburan cahaya berbentuk kristal salju bercorak Pelat Stellar---piring bintang berdaun enam dengan pusat heksagonal. Namun tetap berwarna merah.


Tiao terkesiap menatap taburan kristal salju yang diciptakan Shen Zhu. Dia yang memiliki elemen es saja tak bisa melakukannya. Ia mengulurkan tangannya ke arah taburan kristal salju berwarna merah darah itu dan seketika energi cahaya itu mendesis padam dan menguap seperti bara api terkena percikan salju. Pada saat yang sama, ia juga merasakan telapak tangannya tersengat api. Ia buru-buru menarik tangannya dan menepiskan kristal salju elemen api itu dengan sedikit panik.


"Api juga bisa menjalar!" Shen Zhu melanjutkan sambil melontarkan api berbentuk ular dari telapak tangannya ke tanah, yang kemudian menyelusup ke dalam tumpukan daun kering dan membakarnya.


Tiao melontarkan energi cahaya berbentuk bola kristal dari telapak tangannya ke arah kobaran api itu dan seketika api itu berdesis padam.


"Api juga bisa menyengat!" Shen Zhu menambahkan sambil melontarkan jarum api dari telunjuk dan jari tengahnya. "Bentuk yang kau lihat hanya ilusi dari cahaya," jelas Shen Zhu sambil menarik kembali energi spiritualnya dan menurunkan kedua tangannya. "Apa yang kau rasakan adalah suhu. Cahaya diatur oleh gerakan. Suhu diatur oleh tekanan."


"Aku mengerti," sahut Tiao bersemangat. Wajah dinginnya mulai mencair. "Namun…" Tiao tiba-tiba menghentikan langkahnya dan tercenung. Lalu menoleh pada Shen Zhu dengan mata terpicing. "Kau baru saja membocorkan teknik rahasiamu. Apa tak takut aku mencuri teknikmu?"


"Hanya trik kecil!" tukas Shen Zhu seraya mengibaskan tangannya sekilas, "Bukan apa-apa!" katanya tanpa beban sedikit pun.


"Hanya trik kecil?" Tiao melengak. Bukan apa-apa katanya? katanya dalam hati. Apa tidak apa-apa kalau aku menirunya?


Shen Zhu tiba-tiba mengerjap dan membeku. Matanya terpicing waspada.


Tiao serentak mengerutkan dahi. "Apa yang salah?" tanyanya curiga.


"Aura dewa iblis," Shen Zhu memberitahu.


"Apa?" Tiao tergagap-gagap. "Kau bisa mendeteksi aura iblis?"


Shen Zhu tetap bergeming. Sorot matanya berkilat-kilat.


Tiao akhirnya memasang kuda-kuda dengan waspada.


Tak lama kemudian, tanah di bawah mereka bergetar dan air danau bergeluguk seperti mendidih.


"Menjauh dari danau!" teriak Shen Zhu memperingatkan.


Tiao serentak melejit menjauhi danau.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, air danau meledak dan sesuatu mencuat keluar dari air. Sesosok monster raksasa tinggi menjulang.


Shen Zhu dan Tiao terperangah dengan kepala mendongak mengikuti gerakan mahkluk yang baru keluar itu.


"Naga apa—" desis Tiao terbata-bata.


"Naga Bulan Darah," Shen Zhu memberitahu sambil menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan dada dengan sikap kuda-kuda. "Sang Ratu Surga!"


"Ratu Surga?" Tiao mendongak menatap kepala naga itu dengan mata dan mulut membulat. "Kenapa ada di Dunia Bawah?"


"Kultivasinya belum sempurna," jawab Shen Zhu sambil melejit melambungkan dirinya ke udara dan melayang diam, mencoba membaca situasi.


Naga Bulan Darah adalah salah satu monster yang sangat langka. Kristalnya sangat berharga. Nilainya setara dengan mahkota dewa iblis.


"Hampir sempurna!" Shen Zhu menambahkan sambil mengeluarkan cincinnya dan mengubahnya menjadi pedang.


"Dan apa artinya itu?" tanya Tiao tak mengerti.


Naga Bulan Darah bisa berkembang sampai jutaan tahun. Setiap tahunnya bisa tumbuh satu sentimeter. Dan naga di depan mereka mendekati seratus meter, kultivasinya sudah melewati sembilan ratus tahun.


"Hampir menjadi dewa iblis!" Shen Zhu menjawab singkat sambil melesat ke arah naga itu.


"Itukah sebabnya kau merasakan aura dewa iblis?" Tiao ikut melesat menyusul Shen Zhu.


Api menyembur dari mulut sang naga seperti gunung meletus.


Shen Zhu dan Tiao berkelit ke dua arah yang berlawanan, kemudian menerjang serempak seraya melontarkan energi cahaya berbentuk kubah berlainan warna.


Dua elemen berlawanan itu sedikit mengejutkan sang naga. Tapi tidak melukainya. Dengan raungan yang menggelegar, naga itu menyemburkan air dari mulutnya.


Shen Zhu dan Tiao terlempar cukup jauh.


"Elemen ganda!" pekik Tiao terengah-engah, lalu menarik bangkit tubuhnya dengan bertumpu pada pedangnya.


Shen Zhu sudah melompat berdiri dan memasang kuda-kuda lagi. Sudut bibirnya membentuk senyuman miring. Matanya berkilat-kilat penuh semangat.


"Monster ini bukan tandingan kita," gumam Tiao sambil membungkuk menekuk perutnya. Lalu terbatuk-batuk.


"Saatnya melatih ketangguhan!" Shen Zhu menyemangati. Lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dengan telapak tangan saling menekan, mengeluarkan semburan api berbentuk pedang setinggi sepuluh meter.

__ADS_1


Tiao mendongak dan terperangah. Elemen api bisa seperti itu? pikirnya takjub.


Dan dalam satu kerjapan mata, pedang api itu sudah menghujam leher sang naga.


Naga itu tersapu dalam raungan nyaring yang memekakkan. Lehernya terkoyak dan seketika tubuhnya menggeliat seperti badai.


Bumi di sekelilingnya berguncang sekali lagi. Air danau kembali bergejolak.


Tidak berhenti sampai di situ, Shen Zhu melontarkan lagi energi cahaya berbentuk silang, kemudian terbang melesat sambil mengangkat pedangnya di depan wajah dengan kedua tangan, kemudian menancapkannya tepat di puncak kepala naga itu.


Naga itu kembali meraung. Suaranya seperti gagak pemakan bangkai. Tubuhnya melecut-lecut menyapu sekeliling hingga radius ratusan meter.


Tiao terlontar sekali lagi hingga jatuh terjerembab dengan punggung membentur dinding tebing.


Shen Zhu juga terlempar hingga puluhan meter di udara, tapi tak sampai jatuh.


Danau itu sekarang terlihat seperti sisa gunung meletus yang masih memuntahkan lahar.


Dengan cepat, Shen Zhu kembali menerjang ke arah pusaran badai itu sambil melontarkan sesuatu yang lain dari cincin penyimpanannya.


Tiao terpekik dengan mata dan mulut membulat. Tanpa sadar menahan napas.


GRAAAAAKKK!


Seuntai rantai berwarna hitam melesat ke arah naga itu seperti sambaran petir, dan seketika leher sang naga terbelenggu.


Bersamaan dengan itu, Shen Zhu melesat ke arah naga itu sambil melontarkan energi cahaya berbentuk kubah dari telapak tangannya yang lain.


DUAAAAARRRR!


Ledakan cahaya bercampur air dan asap membuncah seperti letusan gunung.


Naga itu kembali meraung dan menggeliat. Tapi mulai terhuyung dan terseok-seok.


Shen Zhu terbang melesat berputar-putar mengitari kepala naga itu sambil melilitkan rantai neraka yang didapatkannya dari iblis tengkorak yang berhasil ditumpasnya di reruntuhan kuno leluhur Sekte Bao. Kemudian mengetatkan ikatannya dengan sentakkan keras. Lalu mengeluarkan pedangnya dan menyeringai.


Tiao mengerjap dan menelan ludah. Kepalanya masih mendongak menatap pertarungan itu tanpa berkedip. Ilmu iblis apa sebenarnya yang dia gunakan? batinnya tak habis pikir.


Tak lama kemudian, naga itu tersentak dan jatuh terkulai. Terpuruk dengan meninggalkan bunyi berdebum yang menggetarkan seluruh tempat.

__ADS_1


BRUUUUSSSHHH!


Air danau membuncah keluar seperti gelombang tsunami.


__ADS_2