
Bisa-bisanya dia diberkati Monster Dewa Penjaga Harta Karun, batin Tetua Suci Penjaga Tanah Perjanjian Darah.
Pria tua berusia ratusan tahun itu melayang dalam gelembung sihir transparan, jauh di atas permukaan sungai untuk mengecek keadaan Shen Zhu, sementara Bao Yu menunggu dengan gelisah di depan gerbang.
Itu adalah monster dewa ranah surgawi tingkat tinggi, pikir tetua suci. Jika dia sampai diberi petunjuk, kelak bisa menjadi Ksatria Andalan Aliansi.
Setelah memastikan Shen Zhu baik-baik saja, tetua suci itu kembali ke pintu gerbang, sementara Shen Zhu masih berbincang-bincang dengan singa berkepala manusia yang disebut-sebut sebagai Monster Dewa Penjaga Harta Karun itu.
"Meski Tuan masih muda, monster-monster di sini tak layak menjadi tunggangan Tuan," singa berkepala manusia itu memberitahu. "Elemen di dalam tubuh Tuan berada di atas semua ksatria."
"Aku tidak mengerti," gumam Shen Zhu sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
"Hanya monster yang memiliki elemen yang sama dengan Tuan yang bisa menjadi rekan Tuan," jelas singa berkepala manusia itu.
"Kau memiliki elemen yang sama denganku," tukas Shen Zhu. "Aku bisa merasakannya."
"Benar!" jawab singa itu bernada santun.
"Kalau begitu…" Shen Zhu mendongak menatap singa itu dengan raut wajah memelas. "Maukah kau menjadi rekanku?" tanyanya bernada kekanak-kanakan.
"Aku ingin menyetujuinya," tolak singa itu dengan halus. "Tapi aku tak bisa menipumu. Karena berdasarkan bakatku… aku tidak memenuhi syarat untuk melayani Dewa Petaka. Lagi pula aku hanya penjaga harta karun!"
"Dan apa artinya itu?" tanya Shen Zhu lagi, masih dengan ekspresi polos seorang bocah tengik.
"Aku tak bisa meninggalkan Bukit Perjanjian," jelas singa itu sambil mengangguk ke arah bukit yang menjadi pijakan kakinya. "Menjaga harta karun adalah takdirku."
"Aku mengerti," gumam Shen Zhu bernada kecewa. "Lalu… apa kau tahu di mana rekan monsterku berada?"
Singa itu mendesah berat dan menggeleng. "Aku tak yakin," katanya. "Keberadaan monster yang sangat kuat seperti itu tak mungkin berada di tempat semacam ini. Sepertinya… kali ini Tuan sia-sia datang ke sini."
Shen Zhu tertunduk lemas dengan ekspresi muram. Lalu berbalik dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya.
"Tunggu," tiba-tiba singa itu menghentikannya. "Di Bukit Perjanjian ini… ada portal teleportasi."
Shen Zhu spontan berbalik penuh semangat. "Portal teleportasi?"
__ADS_1
"Namun…" singa itu mendadak terlihat ragu. "Spesies dan kekuatan dari monster yang dipanggil dari formasi teleportasi sulit dipastikan. Menjalankan formasi juga berisiko sangat besar."
"Meski hanya ada setitik harapan, meski jika itu sehalus bulu dandelion, aku bersedia mencoba!" tekad Shen Zhu. Lalu melejit ke arah bukit itu dan mendarat di sisi singa berkepala manusia itu.
"Baiklah, karena Tuan begitu berani. Aku akan melindungi Tuan!" Singa itu menjejakkan satu kakinya dan mengaum.
Bukit itu bergetar dan berdentum-dentum. Angin kencang berpusar bersama cahaya berwarna emas di sekeliling singa itu. Sebuah lingkaran sihir tercipta di bawah kakinya.
"Tuan harus kembali sebelum kekuatan spiritualku habis," singa berkepala manusia itu memperingatkan Shen Zhu. "Kalau tidak, Tuan bisa terjebak selamanya di dimensi lain."
"Aku mengerti!" Shen Zhu melangkah ke tengah lingkaran bercahaya emas itu, kemudian duduk bersila dalam posisi lotus dan memejamkan mata.
"Segera ada banyak aura monster yang muncul di dalam persepsi Tuan," singa itu memberitahu. "Harus menemukan yang paling mendekati aura Tuan!"
Singa itu mendongakkan kepalanya dan kembali mengaum. Lebih keras dari sebelumnya. Lebih menggelegar seperti guntur. Semburat cahaya terang berwarna emas membuncah seperti ledakan big-bang.
Bao Yu dan Tetua Suci Penjaga Tanah Perjanjian Darah itu tersentak di depan gerbang.
Semburat cahaya berwarna emas memancar seperti laser menembus langit.
"Ini adalah tekanan spiritual dari monster dewa!" pekik Bao Yu menimpali.
"Monster Dewa Penjaga Harta Karun menjalankan formasi besar!" teriak tetua suci sambil melesat ke arah gerbang diikuti Bao Yu di belakangnya. "Menjalankan formasi besar bisa menguras banyak energi spiritual."
Bersamaan dengan itu, Shen Zhu sudah jatuh terkulai dan tubuhnya melayang di atas formasi sihir itu seperti sedang tenggelam di dalam air. Rambutnya yang diikat sebagian di puncak kepala melecut ke atas seperti ditiup dari bawah. Hanfu dan jubah armornya berkibar-kibar bersama sebagian rambutnya yang tergerai di punggung dan bahunya.
Bao Yu dan tetua suci akhirnya sampai di Bukit Perjanjian itu dan mendarat di kiri-kanan singa berkepala manusia itu.
Kesadaran Shen Zhu sudah menembus dimensi lain, di mana sebuah hutan yang sama terbentang lebih besar dan lebih memukau lagi.
Monster di sana lebih beragam dan berkelompok-kelompok. Setiap jenis memiliki kawanan sendiri-sendiri.
Namun lagi-lagi semuanya tersentak dan berpencaran ketika Shen Zhu mencoba mendekatinya.
Shen Zhu melesat cepat mengikuti instingnya menuju puncak gunung yang memancarkan tiang cahaya berwarna merah darah.
__ADS_1
Di sana ada aura yang sangat mendekati, pikirnya. Lalu mendarat di puncak gunung itu dan terperosok ke dalam lubang.
Terkejut dengan hal tidak terduga itu, Shen Zhu berteriak nyaring dengan kedua tangan dan kaki mengais-ngais udara kosong. Teriakannya baru berakhir ketika tubuhnya mendarat di lantai batu di dasar lubang.
Sepasang monster gorgon berdiri tegak di atas kepalanya dengan masing-masing memegang tombak yang disilangkan satu sama lain.
Monster gorgon adalah monster dengan bentuk tubuh seperti manusia namun berbulu dan berkepala binatang. Kedua monster gorgon itu berkepala harimau.
Kedua-duanya berbulu kuning kecoklatan dengan bintik-bintik hitam. Kedua-duanya memakai baju jirah perak lengkap dengan pelindung kepala dan perisai.
Shen Zhu menarik bangkit tubuhnya dan menatap kedua gorgon itu. Lalu bertanya cepat-cepat dengan napas terengah-engah. "Siapa di antara kalian yang memanggilku?"
Kedua gorgon itu tak bereaksi.
Shen Zhu terperangah melihat monster gorgon lainnya sedang duduk bersila di mulut gua. Kepalanya juga seperti harimau. Namun berbulu putih. Gorgon itu mengenakan jubah ungu dan mahkota.
Kaisar Gorgon! Shen Zhu menyimpulkan. Lalu bergegas menghampirinya. "Aku tak punya banyak waktu," katanya. "Maukah kau menjadi rekanku?"
Kaisar Gorgon itu juga tak bereaksi.
Shen Zhu menghampirinya. Pada saat itulah ia melihat seseorang terikat di dalam gua di belakang Kaisar Gorgon tadi.
Shen Zhu melangkah mundur selangkah dan menelan ludah.
Seorang gadis, berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat berlapis armor berbahan logam sewarna. Kedua tangannya terentang di kiri-kanan dalam belenggu rantai besi yang sudah menghitam. Kepalanya tertunduk dan tubuhnya terkulai lemas.
Shen Zhu mengedar pandang dengan mata terpicing dan menyadari semua gorgon di dalam lubang itu sudah mati.
Satu-satunya aura kehidupan yang masih terpancar berasal dari gadis itu.
Diakah yang memanggilku? Shen Zhu mengerang kecewa dalam hatinya.
Waktunya tak banyak lagi! pikirnya mulai gamang. Tapi lalu tak tega untuk mengabaikannya.
Tanpa pikir panjang, ia pun mengeluarkan pedangnya dan menebas rantai yang membelenggu kedua tangan gadis itu dan menangkap tubuhnya, lalu terbang melesat ke atas lubang sambil membopong gadis asing itu.
__ADS_1