
"Kenapa dia suka sekali membunuh dirinya?" Xie Ma berteriak panik seraya menghambur ke arah Shen Zhu dan meraup bahu pemuda itu, kemudian membaringkan kepala Shen Zhu di pangkuannya.
Asap gelap mengepul dari tubuh Xiao Mao, kemudian terhisap ke dalam luka Shen Zhu. Tubuh Xiao Mao perlahan-lahan melebur menjadi serpihan debu berwarna emas, kemudian menciut menyisakan sosok kucing kecil yang meringkuk tanpa daya.
"Apa yang terjadi?" pekik Bao Yu semakin panik. "Kenapa Xiao Mao berubah bentuk?"
"Kolam petaka hanya bisa mengembalikan kehidupannya," jelas anak laki-laki berusia sebelas tahun yang menjadi Pilar Dewa Petaka. "Tapi tidak bisa mengembalikan kedewaannya. Kultivasinya selama ribuan tahun telah direnggut oleh Long Qiuyun. Sekarang Xiao Mao hanya peri kucing biasa."
Seisi ruangan melemas mendengar penuturannya.
"Situasi sedang mendesak," erang Liu Tang. "Dan satu-satunya orang yang kita harapkan malah terpuruk!"
"Jangan khawatir," Jingwei menenangkan Liu Tang. "Ada satu tempat dengan perbedaan waktu terbalik dengan Dunia Atas. Dunia Bawah. Satu hari di dunia manusia, seribu hari di Dunia Bawah. Aku akan membawa mereka ke sana!"
Semua orang menatap Jingwei dengan sorot berharap.
Jingwei tersenyum dan mengangguk. Lalu duduk bersila di lantai.
Xie Ma membaringkan Shen Zhu di depan anak laki-laki itu, kemudian menaruh Xiao Mao di pelukan Shen Zhu.
Jingwei mulai berkonsentrasi membacakan mantra dan membuat formasi besar untuk membuka gerbang teleportasi. Lalu cahaya berwarna emas transparan berbentuk tabung meledak di sekelilingnya. Tubuh Shen Zhu menghilang bersama Jingwei.
Beberapa detik kemudian, sosok Shen Zhu muncul kembali dalam tabung cahaya itu dalam posisi membungkuk. Sepasang sayap berwarna gelap merentang di punggungnya. Seuntai rantai gelap melilit di bahunya seperti selendang. Sebelah kakinya terlipat ke belakang dengan bertumpu pada lututnya, kaki lainnya terlipat di depan dada dengan bertumpu pada telapak kaki. Sebelah tangannya menggenggam tongkat sabit malaikat maut, tangan lainnya mencakar permukaan lantai.
Itu adalah perwujudan dari angkaramurka.
Dan Shen Zhu akan terus berubah-ubah bentuk sesuai emosinya.
"Seluruh petaka yang kita terima… akan kubalas berlipat ganda!" Shen Zhu mendesis tajam seraya mengepalkan tangannya dan mengetatkan cengkeraman pada tongkat sabitnya.
Suaranya terdengar seperti desau air bah di kejauhan.
Seluruh tempat bergetar dan bergemuruh akibat aura kemarahannya.
Ia mengangkat wajahnya. Sepasang matanya menyemburkan lidah-lidah api berwarna merah darah. Sayapnya mengepak-ngepak dalam gerak lambat seperti di dalam air. Rambut dan jubahnya melecut-lecut di sekeliling tubuhnya.
Asap gelap berpusar meliputnya, menggantikan tabung cahaya berwarna emas. Membuat sosoknya terlihat seperti hanya ilusi.
Ia menarik bangkit tubuhnya dan berbalik menghadap ke arah kerumunan.
Seisi ruangan serentak berlutut.
Beberapa saat kemudian, Shen Zhu sudah melesat keluar gerbang, menyeruak membelah gelapnya malam dengan menunggangi seekor kuda berwarna hitam, dikawal para Sicarii yang terbang berpencar di kedua sisi, menyatu dengan kegelapan.
Jubah gelapnya berkibar-kibar seperti kabut asap, untaian rantai yang melilit di bahunya melecut di belakangnya seperti selendang. Sebuah guci menggelantung di ikat pinggangnya.
__ADS_1
Pasukan gabungan dari keempat sekte menyusul di belakangnya juga dengan menunggangi kuda.
Tak sampai satu dupa, Shen Zhu sudah berada di depan gerbang Markas Besar Aliansi Ksatria.
Pasukan gabungan yang dibawanya menyebar di luar benteng, bersembunyi di tiap-tiap gang pemukiman warga sipil.
"Bebaskan semua tawanan!" perintah Shen Zhu pada kelompok Sicarii.
Kelompok Sicarii itu serentak berpencar, melompati pagar dinding tinggi menjulang, kemudian mendarat di atap-atap bangunan.
Shen Zhu menghentikan kudanya tepat di depan gerbang, mengangkat kedua tangannya di depan dada, menaruh ujung seruling di mulutnya dan mulai meniupnya.
Markas Besar Aliansi Ksatria dilanda angin ribut, diliputi kabut gelap misterius yang membuat seluruh tempat terlihat hampa seperti keputusasaan.
Irama lembut menusuk mengalun seperti angin. Sulur-sulur kabut berwarna hitam mengalir keluar dari ujung seruling itu seperti gambar partitur. Menebar ke seluruh tempat dan merambat ke berbagai sudut bangunan.
Waktu melambat perlahan dan berhenti.
Setiap gerakan seakan terkunci. Semua orang membeku seolah mendadak jadi batu.
Para Sicarii menyelinap dengan cepat ke ruang-ruang tahanan.
Waktu mereka sangat terbatas. Shen Zhu sudah memperingatkan mereka sebelum berangkat. Sihir pembekuan hanya bertahan selama beberapa menit.
"Yang terpenting adalah membawa keluar semua tawanan," katanya. "Selebihnya tergantung pada kemampuan masing-masing!"
Pertempuran pun terjadi setelah sesaat para tawanan menghambur keluar gedung tahanan.
"Para pemberontak melarikan diri!" Teriak salah satu penjaga. Dan seketika para ksatria menghambur ke arah teras.
Suasana berubah gaduh.
TRAAAAANG!
TRAAAAANG!
Suara-suara logam berbenturan membahana di pekarangan gedung tahanan di antara suara-suara berdebuk ribut dan hardikan-hardikan kasar para penjaga.
Kelompok dewa pemburu yang baru keluar gedung tahanan menerjang bersamaan ke arah para penjaga yang menghadang di teras.
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Sejumlah belati melesat dalam kegelapan dari berbagai arah.
__ADS_1
Para ksatria serentak waspada. Kemudian melejit ke atap-atap bangunan.
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
Ledakan energi spiritual membuncah di beberapa titik, menyemburkan kilatan cahaya dan kepulan asap tebal.
Shi Tan menerjang ke udara seraya mengayunkan kedua pedangnya dalam gerakan silang yang menyemburkan kilatan cahaya berbentuk sabit yang bersilangan.
BUUUUM!
Sejumlah ksatria terpental. Ksatria lainnya menerjang menggantikan mereka.
Qianxi menyeruak cepat di tengah-tengah kepungan bersama alkemis tampan berkepala botak. Menyerampang dengan brutal hanya dengan mengandalkan tinju mereka.
"Ayo berlomba!" tantang Qianxi.
"Siapa takut?" Li Qinfeng menanggapinya dengan antusias.
"Belum saatnya!" sergah seorang ninja menyela mereka, kemudian menghalau keduanya dengan telapak tangannya dan melempar mereka ke dua arah yang berlawanan.
Li Qinfeng jatuh terjengkang dengan terhenyak. Dadanya serasa meledak. Seekor kuda mendekat padanya. Seseorang melompat turun dari kuda itu dan menariknya berdiri.
Qianxi mendarat dengan keras membentur dinding salah satu bangunan di luar benteng. Lalu seseorang menghampirinya dan menaikkan gadis itu ke atas kuda.
"Pasukan bantuan?" Qianxi mendesis seraya memicingkan matanya. Orang yang menyelamatkannya adalah Jialin.
Gadis itu mengangguk seraya tersenyum. "Dewa Zhu yang mengirim kami!" katanya seraya melayangkan sebelah tangannya ke arah kudanya, mempersilahkan Qianxi untuk naik bersama.
Dua orang Sicarii melesat ke arah Jyu Jieru, si pemilik jurus Tapak Buddha yang melegenda, menggamit lengan pria itu di kiri-kanannya dan melarikannya keluar benteng.
Gouw Anio, si pemanggil kecil yang tak bisa mengendalikan monster yang dipanggilnya melayang ke atap dan memasang kuda-kuda, mencoba melakukan ritual pemanggilan di antara berondongan anak panah yang dilontarkan para ksatria.
GRAAAAAAKKK!
Seuntai rantai gelap menyergap pinggangnya dan melemparnya keluar benteng.
Jeritan gadis itu melengking nyaring dan berakhir ketika sepasang tangan menangkapnya dan mendaratkannya di atas panggung seekor kuda. Kemudian melarikannya.
Anio terpekik dan menoleh ke belakang untuk melihat wajah orang yang melarikannya. "Tuan Muda Bao!"
"Bukan aku," tukas Tiao. "Dewa Zhu yang menyelamatkanmu," katanya.
"Shen Zhu?" Anio mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya," jawab Tiao seraya mempercepat laju kudanya. "Dia sudah kembali!"