Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
77


__ADS_3

Hari ketiga Babak Final Ujian Ksatria…


Setelah berhadapan dengan Peserta Jalur Juara dari aliran zen, kini saatnya Shen Zhu berhadapan dengan Peserta Jalur Juara dari aliran tao.


Meski berakar dari peradaban yang sama, kedua aliran ini menghasilkan buah yang berbeda.


Aliran zen menerapkan metode, sementara aliran tao menerapkan filsafat dan keyakinan.


Aliran zen mengandalkan elemen, aliran tao mengandalkan mantra.


Kelebihan Sekte Tao adalah menghadirkan proyeksi dewa! pikir Shen Zhu.


Kata-kata gurunya melintas dalam benaknya.


"Saat Ujian Ksatria nanti… apa pun yang terjadi, jangan pernah gunakan segel dewamu!"


Lalu perkataan Jyang Yue.


"Pusaka yang kau gunakan saat memunculkan Proyeksi Dewa Petaka, seharusnya Segel Dewa Petaka!"


"Nyawamu mungkin terancam. Orang-orang akan mengincar pusakamu."


Dengan apa aku akan melawannya jika dia menggunakan proyeksi dewa? Shen Zhu mencoba berpikir keras, sementara langkahnya sudah mencapai lantai arena.


Pemuda tampan berkepala botak sudah menunggu setenang batu karang.


Benar-benar seperti patung Buddha! pikir Shen Zhu.


"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara memberikan aba-aba.


Jyu Jieru, peserta jalur juara dari aliran tao itu menarik satu kakinya ke belakang dengan gerakan pelan dan luwes. Kemudian memejamkan matanya. Mulutnya mulai komat-kamit. Satu tangannya di depan dada dengan jemari mencuat ke atas, sementara tangan lainnya menggulir untaian manik-manik O-Juzu.


Shen Zhu menarik keluar pedang imitasinya dan seketika hempasan angin kencang membuncah ke seluruh arena.


Para penonton menyilangkan lengan mereka di depan wajah.


Jieru tetap bergeming seperti patung Buddha. Jubahnya berkibar-kibar terkena hempasan angin yang disebabkan aksi pencabutan pedang Shen Zhu yang paling dramatis.


Tubuh Jieru mulai memancarkan cahaya berwarna emas, kemudian secara perlahan cahaya yang menyelubungi tubuhnya berpendar. Semakin lama semakin terang. Lalu membentuk lingkaran formasi sihir di punggungnya.


Tubuh pemuda tampan berkepala botak itu sekarang mulai melayang dari permukaan lantai, lalu secara perlahan, pemuda itu menaikkan sebelah kakinya dan menopangkannya di lutut kaki lainnya.


Cincin penyimpanan Shen Zhu tiba-tiba bereaksi. Semburat cahaya berwarna emas mengalir keluar dari permatanya, kemudian menjalar ke pergelangan tangan dan melilit ke seluruh tubuhnya membentuk rantai emas dari untaian kata dan huruf-huruf.


Para penonton terkesiap bersamaan.


Ketua Sekte aliran Tao mengerutkan dahi.

__ADS_1


Apa yang terjadi? pikir Shen Zhu. Merasa familier dengan fenomena itu.


Bayang-bayang peristiwa ketika ia diuji di ruang pusaka sekte tao berkelebat dalam benaknya.


Manual-manual itu… Shen Zhu terpekik dalam hatinya.


Tumpukan manual di ruang warisan yang katanya dia sendiri yang mengumpulkannya!


Mungkinkah manual itu milik sekte tao? Shen Zhu bertanya-tanya dalam hatinya.


Lalu ketika sebuah proyeksi tercipta di belakang Jieru, proyeksi yang sama juga tercipta di belakang Shen Zhu.


Para penonton terpekik bersamaan.


Jieru membuka matanya dan mengerutkan dahi. Bagaimana bisa? pikirnya terkejut. Lalu menutup matanya lagi dan membacakan mantra yang lain.


Rantai emas dari untaian kata dan huruf-huruf yang melilit tubuh Shen Zhu kembali bergulir seiring putaran manik-manik O-Juzu di tangan Jieru.


Lalu proyeksi baru muncul di punggung Jieru.


Begitu juga di punggung Shen Zhu.


Tidak salah lagi! pikir Shen Zhu kalang kabut. Manual itu berasal dari ruang pusaka mereka!


Ketua sekte aliran tao spontan memucat.


"Kenapa anak itu bisa meniru semua keterampilan tao?"


Gawat! Shen Zhu meratap dalam hatinya.


Jieru membuka matanya lagi dan terkesiap. Anak ini aneh! batinnya. Lalu kembali memejamkan matanya. Aku tak percaya, katanya dalam hati. Dia tak mungkin bisa meniru semuanya, kan?


Shen Zhu tetap bergeming. Berdiri dengan kaki terbuka lebar. Sebelah tangannya menggenggam pedang, sementara tangan lainnya menggenggam sarung pedang. Sekujur tubuhnya dililit rantai emas dari untaian huruf dan kata-kata. Membuat sosoknya terlihat seperti proyeksi dewa itu sendiri.


Wasit dan para juri berkerut-kerut kebingungan.


Bagaimana menilai pertarungan ini? pikir mereka.


"Apakah mereka sudah mulai atau belum?" mereka bertanya-tanya satu sama lain tanpa satu pun bisa menjawab.


Jyang Ryu menutup wajahnya dengan telapak tangan dan mengintip ke arah Shen Zhu melalui celah antara jari tengah dan telunjuknya. Matanya bersinar keemasan. Apa ini? pikirnya. Ia melihat rantai emas dari untaian kata dan huruf-huruf yang melilit tubuh Shen Zhu dengan dahi berkerut-kerut. Aku belum pernah melihat yang seperti ini!


Ketua sekte tao menatap Shen Zhu dengan mata terpicing. Ia juga bisa melihat rangkaian mantra yang melilit sekujur tubuh Shen Zhu. Ini mustahil! pikirnya. Bagaimana bisa dia memiliki manual dalam aliran darahnya? Apa latar belakang anak ini?


Bao Yu mengawasi arena tak kalah bingung. Kenapa dia hanya berdiam diri?


Jieru menggerakkan telapak tangan dan jemarinya, menautkan ibu jari dan jari tengahnya membentuk huruf O.

__ADS_1


Proyeksi Buddha tercipta di belakangnya.


Pada saat yang sama, proyeksi yang sama juga tercipta lagi di punggung Shen Zhu.


"Apa?" para penonton memekik tertahan.


Jieru membuka matanya dan menelan ludah. Bahkan Tapak Buddha? batinnya tak habis pikir. Itu adalah teknik terakhir yang dia miliki.


Tidak bisa! tekadnya. Meski ia bisa meniru semuanya, belum tentu teknik serangannya sama. Lalu ia menjentikkan jarinya dan seketika proyeksi yang sangat legendaris yang lebih dikenal dengan nama Tapak Buddha itu menggeliat keluar lingkaran dan menerjang ke arah Shen Zhu.


Tapi proyeksi di belakang Shen Zhu bergerak bersamaan seperti bayangan pada cermin.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" para tetua akhirnya bersuara.


"Kenapa aku merasa proyeksi di belakang Nomor Tujuh-tujuh itu seperti cermin dari Nomor Dua?"


"Benar! Aku juga merasa begitu!"


Ketua sekte tao beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke tepi balkon, kemudian mengangkat sebelah tangannya. "Wasit!"


Seluruh arena mendadak hening.


"Kami mengaku kalah!" kata ketua sekte tao.


"Apa?" semua orang terperangah.


Jieru menatap gurunya dengan alis bertautan.


Tapi gurunya menggeleng samar, mengisyaratkan untuk menyerah.


Wasit tergagap-gagap kebingungan. Ia menatap Jieru dan gurunya bergantian.


Jieru mendesah berat dan menyerah. "Aku mengaku kalah!" katanya seraya mendarat di lantai dan membungkuk ke arah Shen Zhu dengan hormat tentara.


"Begitu saja?" para peserta menggumam bersamaan. Lalu menatap Shen Zhu dan Jieru bergantian.


Shen Zhu masih bergeming tak kalah bingung.


Sebenarnya apa yang terjadi? Bao Yu bertanya-tanya dalam hatinya.


Shen Zhu menyarungkan kembali pedangnya dan berbalik. Dahinya berkerut-kerut sepanjang ia berjalan.


"Berikutnya!" Pemandu acara melanjutkan. "Prajurit Nomor Dua melawan Alkemis Nomor Lima Puluh!"


Aula meledak oleh tepuk tangan spektakuler.


"Akhirnya bertemu lawan seimbang!" teriak para peserta di bangku penonton seraya terbahak-bahak.

__ADS_1


Prajurit Nomor Dua adalah Tjia Qianxi, si gadis maskulin, Peserta Jalur Juara aliran tinju. Dan Alkemis Nomor Lima Puluh adalah Si Tuan Alkemis yang agak tampan, Alkemis brutal berotot yang tak masuk akal.


__ADS_2