Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
96


__ADS_3

"Kau—" Shen Zhu tergagap sesaat sebelum akhirnya dapat menyimpulkan, "Ksatria Pilar Dewa?"


Ksatria Pilar Dewa adalah pemuja tertinggi dewa tertentu. Bisa dikatakan imam, hakim, pendeta atau biksu suci dengan separuh kekuatan dewa. Orang terpilih yang menjadi penghubung antara dewa dengan manusia seperti Dewa Monster Penjaga Harta Karun. Memutuskan hukum atau tata cara pemujaan sesuai petunjuk dewa terkait. Sebut saja wakil dewa atau malaikat.


Sama halnya seperti anak laki-laki berusia sebelas tahun yang ditakdirkan untuk menjadi Ksatria Pengawal Shen Zhu, kelak akan disebut Ksatria Pilar Dewa. Ksatria Pengawal hanyalah istilah sementara sampai tuannya menjadi dewa. Seperti gelar tingkat kekuatan spiritual.


Singkatnya, Liu Tang juga dulunya adalah Ksatria Pengawal Zainan.


"Satu hal lagi," kata Liu Tang, kemudian menunjuk kedua sisi dinding di kiri-kanan altar. "Lihat itu!" katanya.


Shen Zhu mengikuti arah pandangnya.


Sekitar dua belas kartu berukuran raksasa dari batu kuno dengan gambar timbul berderet di sepanjang dinding altar. Sepuluh di antaranya menyala berwarna emas.


Bentuk kesepuluh lukisan yang menyala itu adalah sepuluh pusaka yang menjadi hadiah juara sepuluh teratas, sepuluh tahun yang lalu.


"Kau mencuri semuanya?" Shen Zhu memekik tertahan, bisa dibilang setengah berbisik.


"Lebih tepatnya merebut kembali milik kita dengan cara curang!" sanggah Liu Tang.


Shen Zhu tersenyum samar dan menggeleng-geleng. "Pantas saja aku menjadi buronan!"


"Memangnya bisa diminta dengan cara baik-baik?" Liu Tang berkilah.


Shen Zhu akhirnya menatap pamannya dengan penuh rasa hormat.


"Sisanya adalah tugasmu!" kata Liu Tang lagi sambil mengerling ke arah dua lukisan yang belum menyala.


Lukisan belum menyala artinya pusakanya belum kembali.


Shen Zhu melangkah perlahan menghampiri lukisan yang belum menyala itu, mempelajarinya dengan teliti, mencoba merekam setiap detailnya dalam kepalanya.


"Temukan tiga pusaka itu!" Liu Tang menandaskan.


"Tiga?" Shen Zhu spontan memelototi pamannya.


"Apa kau tak tahu bahwa mahkota dewa petaka disegel dalam tujuh pusaka?" Liu Tang balas memelototinya.


"Ah—" Shen Zhu tergagap dan memaksakan senyum. "Benar," katanya seraya memperbaiki ekspresi wajahnya yang sedikit konyol. "Pusaka yang itu!"


Liu Tang tersenyum di balik selubung wajahnya. "Dua pusaka itu sudah tidak berada di Markas Besar Aliansi," ia memberitahu sambil menunjuk dua lukisan yang belum menyala.

__ADS_1


Shen Zhu melirik pamannya melalui sudut matanya.


"Satu di antaranya belum sampai ke tangan ayahmu," tutur Liu Tang. "Satu lagi tak pernah sampai ke Markas Besar Aliansi Ksatria."


"Dengan kata lain…" Shen Zhu membeliak sebal. "Yang dimaksud dengan 'sisanya adalah tugasmu' adalah bagian tersulit?"


"Kau kira mudah menjadi dewa?" sindir Liu Tang.


Shen Zhu langsung terdiam dengan raut wajah kesal. Memangnya aku mau menjadi dewa? gerutunya dalam hati.


"Baiklah," kata Liu Tang kemudian. "Apa rencanamu selanjutnya?"


"Pertama, aku ingin Paman menyiapkan ritual perjanjian darah," Shen Zhu menatap ke dalam mata pamannya.


"Aku mengerti," tanggap Liu Tang.


"Setelah itu aku akan kembali ke Sekte Bao, dan selama aku pergi… pastikan dia mendapat pelatihan yang cukup."


Yang dimaksud dia adalah calon pewaris Liu Tang. Anak laki-laki berusia sebelas tahun yang akan menjadi Ksatria Pilar Dewa mendatang.


"Tentu," Liu Tang meyakinkan Shen Zhu.


"Selebihnya… aku ingin mendengar gagasan Paman!" Shen Zhu menandaskan.


Shen Zhu tersenyum tipis dan mengekor di belakang pamannya.


"Sekte ini sebenarnya dibangun kembali oleh ayahmu," cerita Liu Tang setelah mereka berada di depan meja teh.


Dua orang ninja melayani mereka.


"Segel garis keturunan itu juga dibuat oleh ayahmu," Liu Tang menambahkan.


"Lalu… terkait metode yang menentang langit, ritual pemanggilan dengan aroma terlarang, itu juga ide ayahku?" tanya Shen Zhu.


"Satu-satunya metode yang menentang langit adalah memberontak terhadap dewa," sanggah Liu Tang.


"Memang ide ayahku!" Shen Zhu menyimpulkan seraya mendesah pendek. "Sebenarnya aku tidak peduli dengan ritual yang menentang langit," ia menambahkan. "Hanya merasa bersalah telah menjebak seseorang dengan alasan ini. Siapa sangka metode ayahku hampir membunuhku?"


"Lalu apa kau juga merasa bersalah telah menghabisi klanmu sendiri?" sindir Liu Tang.


"Lalu apa kau tidak menyesal telah menargetkanku?" balas Shen Zhu. "Bagaimana memperhitungkannya?"

__ADS_1


"Sejujurnya aku tidak terlalu menyesal," jawab Liu Tang tanpa beban sedikit pun. "Jika kau memang ditakdirkan untuk menjadi dewa, kau tak mungkin mati dengan mudah. Lagi pula aku mencium keberadaan pusaka dewa!"


"Kau—" Shen Zhu mengetatkan rahangnya.


"Anak Muda!" sela Liu Tang, memotong perkataan Shen Zhu. "Klanmu sedang berjuang membebaskan benua dari perbudakan. Pikirmu kenapa Pilar Dewa Petaka dihancurkan? Hanya dengan cara seperti itu kami bisa mencari tahu di mana keberadaan pusaka. Tak banyak orang mau ambil risiko menentang langit kecuali untuk pusaka dewa."


Shen Zhu mengerjap menatap pamannya di seberang.


Pria itu akhirnya menurunkan selubung wajahnya untuk menyesap tehnya.


Sekelebat bayangan peristiwa melintas dalam ingatan Shen Zhu. "Kau…"


"Benar," lagi-lagi Liu Tang memotong perkataan Shen Zhu. "Aku yang membawa kalian ke Markas Besar Aliansi!"


"Kalau begitu, kau tahu apa yang terjadi pada desa kami?" tuntut Shen Zhu dalam bisikan tajam.


"Ayahmu yang melepas monster untuk memancingku datang," jelas Liu Tang.


"Apa?" Shen Zhu melengak tak yakin.


"Aku pemimpin pasukan pemburu iblis," Liu Tang mengingatkan. "Hanya dengan cara itu aku bisa menemui ayahmu untuk membawa pergi pusaka yang telah dikumpulkan."


"Kenapa bukan Ayah sendiri yang membawanya?" Shen Zhu tak habis pikir.


"Reputasinya mendahuluinya," tukas Liu Tang penuh makna.


"Aku tidak mengerti!" Shen Zhu mengaku.


"Ayahmu sangat terkenal," jelas Liu Tang berterus terang. "Ke mana pun dia pergi selalu menjadi sorotan. Mengumpulkan pusaka ke tempat asalnya bukankah akan mengundang kecurigaan?"


"Dengan kata lain, Ayah sengaja tinggal di desa yang paling dekat dengan Markas Besar Aliansi Ksatria untuk pencitraan?" tanya Shen Zhu. "Memilih tempat paling mencolok dengan mengumpulkan pusaka secara terang-terangan untuk menunjukkan ketulusannya pada Aliansi. Menyelundupkan pusaka klan di antara pusaka lainnya untuk membingungkan investasi?"


"Akhirnya kau mulai terdengar seperti dia," Liu Tang menanggapi.


Shen Zhu terkekeh tipis sambil tertunduk mengusap kepala Xiao Mao.


"Seorang mantan ketua dari sekte besar terobsesi mengumpulkan pusaka setelah sektenya dihancurkan, bukankah itu terdengar seperti perilaku gangguan mental?" Liu Tang menambahkan.


"Bisa kubayangkan situasinya!" Shen Zhu menimpali.


"Pada saat itu, aku belum naik jabatan," kenang Liu Tang. "Aku hampir tak pernah meninggalkan kota pangkalan kecuali untuk menumpas monster."

__ADS_1


"Aku mengerti," sahut Shen Zhu.


Tindakan Liu Hanzou mungkin sedikit gegabah melepas monster di tengah masyarakat. Tapi semuanya sudah diperhitungkan sejak awal. Dia sengaja memilih tempat tinggal yang paling dekat dengan Markas Besar Aliansi Ksatria juga karena alasan ini, untuk melancarkan rencananya.


__ADS_2