
"Kakak!" Xiao Mao menggamit sebelah lengan Shen Zhu dengan gaya kekanak-kanakan. "Meskipun kau sudah menjadi Master Spiritual terkuat di dunia manusia… kau tetap tak boleh gegabah. Bagaimanapun Aliansi Ksatria sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup umat manusia."
Mereka baru keluar dari gerbang Tanah Perjanjian Darah dan berjalan pelan menuruni tangga batu menuju jalan setapak di kaki bukit.
"Kau tahu? Guru Yu mengorbankan dirinya untuk mencegahmu menyerang para petinggi aliansi itu karena alasan ini," Xiao Mao memberitahu.
Shen Zhu mengerling sekilas pada Xiao Mao, kemudian tertunduk menatap undakan batu yang ditapakinya dengan ekspresi muram. Rasa bersalah yang bersarang di relung jiwanya menyelinap keluar melalui sela-sela hatinya yang mulai siuman.
"Jadi… kali ini semuanya perlu diperhitungkan," bujuk Xiao Mao. "Lagi pula kau baru saja siuman. Kau masih perlu berlatih untuk memulihkan diri."
Shen Zhu mengerling ke arah Xiao Mao sekali lagi dan memaksakan senyum. "Aku mengerti," katanya. "Kalau begitu… saatnya pulang ke Sekte Bao!" Ia memutuskan.
"Tunggu!" Xiao Mao menahan bahu Shen Zhu ketika pria itu hampir melejit ke udara.
Shen Zhu mengerang dan memutar-mutar bola matanya. "Apa lagi?" Tubuhnya miring ke samping akibat tarikan Xiao Mao.
"Ilmu meringankan tubuh dan teleportasi bisa menguras banyak energi spiritual," bujuk Xiao Mao sembari menggelayut manja di lengan Shen Zhu. "Kita berjalan kaki saja," rengeknya. "Selain menghemat energi spiritual, berjalan kaki juga bisa melancarkan peredaran darah, membantu pemulihan, meningkatkan kekuatan otot—"
"Baiklah, baiklah!" potong Shen Zhu tak sabar.
"Lagipula," Xiao Mao menambahkan dengan ekspresi riang dan bersemangat seorang gadis kecil. "Berjalan kaki bisa menyamarkan aura dewa! Bagaimanapun kau sudah hampir menjadi dewa, auramu bisa menekan seperempat wilayah manusia. Kau tidak mau klan manusia terserak akibat kegegabahanmu, kan?"
"Aku sudah mengerti," bisik Shen Zhu seraya tersenyum kesal.
Xiao Mao tersenyum lebar menampakkan keceriaan seorang anak kecil.
"Sekarang jauhkan wajahmu!" bisik Shen Zhu lagi bernada lembut dan tajam. Tubuhnya masih condong ke arah Xiao Mao dengan cuping hidung mereka hampir bersentuhan.
Xiao Mao membeku dengan mata terbelalak dan mulut terkatup. Kedua tangannya masih menggelayut di bahu Shen Zhu.
"Wajahmu mengganggu pernapasanku," Shen Zhu menambahkan.
Xiao Mao menarik kedua tangannya cepat-cepat hingga Shen Zhu hampir terjengkang ke belakang.
"Kau—" Shen Zhu menggeram tertahan dan menghela napas berat. Kemudian meluruskan tubuhnya dan bergegas menuruni tangga dengan raut wajah ketus.
Xiao Mao menjejerinya seraya menggembungkan pipinya dan melipat kedua tangannya ke belakang.
Setelah mereka menyusuri jalan setapak yang mengarah ke desa terdekat, Xiao Mao melirik Shen Zhu diam-diam dengan ekspresi takut-takut yang kekanak-kanakan.
__ADS_1
Shen Zhu menyadarinya dan hampir meledak tertawa.
Shen Zhu baru saja mengulurkan sebelah tangannya, hendak mengusap kepala Xiao Mao seraya menahan senyum, ketika tiba-tiba terdengar keributan.
Suara-suara!
Suara-suara itu terdengar semakin keras, terbawa angin.
Suara-suara gaduh yang tidak berirama.
Tangan Shen Zhu membeku menggapai udara kosong, senyumnya seketika lenyap. Ia memasang telinga dengan waspada, terpaku dalam gelapnya hutan, seakan mendadak berubah jadi batu.
Xiao Mao mengedar pandang ke sekeliling. Memeriksa setiap sudut hutan dengan teliti. Kedua matanya menyala hijau dalam gelapnya hutan.
Suara-suara gaduh yang tidak berirama itu… ternyata tak datang dari dekat-dekat sini. Angin menerbangkannya dari desa di ujung jalan setapak di depan mereka.
"Bakar iblis itu!"
"Bakar iblis itu!"
Suara-suara hardikan itu menggema di antara suara-suara gaduh lainnya. Terdengar suara berkeretak dan meretih.
Asap gelap membumbung tinggi bersama percikan api yang menebarkan bau amis terbakar.
Shen Zhu memejamkan matanya dan menautkan kedua alisnya seraya menempelkan ujung telunjuk dan jari tengahnya di antara kedua alisnya. Lalu membuka matanya. Kedua matanya menyala merah. Kelopak mata dan ekor matanya menyemburkan lidah-lidah api.
Potongan gambar hitam-putih berkeredap dalam penglihatannya seakan ia sedang terbang melesat membelah hutan gelap melewati deretan pepohonan. Orang banyak berseliweran di ujung hutan dalam bentuk siluet dengan latar belakang kobaran api.
Tiga sosok kabur berwarna hitam terpuruk di tengah-tengah kepungan di antara todongan senjata tajam.
Bukan iblis bakar! pikir Shen Zhu. "Xiao Mao!" katanya cepat-cepat sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arah Xiao Mao. "Berubah!"
Xiao Mao melompat dari tempatnya dalam bentuk siluet seekor puma, kemudian mendarat di dada Shen Zhu sebagai kucing kecil.
Bersamaan dengan itu, Shen Zhu melesat ke arah desa dengan kecepatan komet.
BLAAAASSSH!
Angin kencang menghempas seluruh desa hingga radius ratusan meter ketika Shen Zhu mendarat di atap sebuah rumah.
__ADS_1
Orang-orang terlempar di sana-sini. Pekik-jerit ketakutan membahana ke dinding-dinding tebing.
Tiga sosok gelap yang bertekuk lutut di tengah-tengah kerumunan yang dilihatnya dari kejauhan tadi mendongak serentak ke arah Shen Zhu dengan gemetar. Kemudian tersungkur, "Dewa!"
Semua orang tersentak dan mengikuti arah pandang mereka.
Tiga orang itu terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun.
Lima orang pria berbadan kekar berbaju zirah khas pemburu monster spiritual menodongkan tombak ke arah mereka.
Shen Zhu tertunduk meneliti seluruh tempat di bawah kakinya sambil mengusap-usap kepala kucing kecilnya. Ia menutupi kepalanya dengan tudung jubahnya yang berwarna gelap.
Semua orang mendongak menatapnya dengan tercengang. Beberapa menggeliat-geliut berusaha menarik bangkit tubuhnya di sana-sini.
Sebuah rumah terbakar dan sudah setengah padam akibat hempasan angin kencang yang disebabkan aura Shen Zhu.
Shen Zhu mengayunkan sebelah tangannya dengan jemari merekah, dan seketika sisa api itu padam sepenuhnya.
Semua orang terhenyak dan terkesiap menatap rumah itu, kemudian tergagap menatap Shen Zhu.
Lima pria berbadan kekar itu memicingkan matanya dengan raut wajah tak senang.
Shen Zhu melayang turun dan mendarat di tengah-tengah mereka di depan tiga orang yang bertekuk lutut itu. Sepertinya merekalah pemilik rumah yang dibakar itu.
Lima pria itu beringsut selangkah ke belakang dengan sikap waspada.
Tiba-tiba salah satu dari mereka tergelak.
Semua orang serentak menoleh pada pria itu dengan dahi berkerut-kerut.
"Fuih!" pria itu berdecih. "Bocah Tengik dari mana?" dengusnya bernada mencemooh. "Mengagetkan saja. Kukira dewa dari mana. Ternyata hanya Ksatria Tingkat Tiga!"
"Apa?" Orang-orang serentak menggumam.
"Ksatria Tingkat Tiga saja berani berlagak!" cemooh pria kekar lainnya. "Konyol!"
Pasangan suami-istri yang berlutut di bawahnya bertukar pandang dengan dahi berkerut-kerut.
Semua orang menatap Shen Zhu dengan alis tertaut.
__ADS_1
Shen Zhu tetap bergeming tanpa selera. Tangannya mengusap-usap kepala kucing kecilnya dengan gerakan lembut dan tenang. "Katakan, kalian ingin mati dengan cara seperti apa?" tanyanya tanpa beban sedikit pun.
Kelima pria kekar itu serentak terbahak-bahak.