
Kemunculan monster di tengah masyarakat adalah masalah besar yang tak bisa diabaikan Aliansi Ksatria, terutama dalam radius beberapa ribu meter.
Tanggapan pihak Aliansi takkan lebih lambat dari satu jam sementara Liu Hanzou masih bisa mengendalikan monster bersama beberapa penduduk lainnya yang cukup berani dengan keahlian dan pengalaman berburu.
Seharusnya situasi itu masih berada di bawah kendali!
"Siapa sangka sejumlah Ksatria tiba-tiba menyerang warga sipil dan mengepung ayahmu," cerita Liu Tang bernada getir. "Sementara aku harus melawan monster sendirian."
Shen Zhu tercenung dengan raut wajah muram, menyimak dengan ekspresi tak kalah getir. Mencoba membayangkan situasinya.
"Dengan kata lain… ayahku tidak terbunuh oleh monster, tapi di tangan Ksatria?" Shen Zhu mencoba memastikan.
"Benar," jawab Liu Tang bernada masam.
"Ini jelas penyergapan," kata Shen Zhu. "Bagian yang tidak aku mengerti adalah… bagaimana mereka mengetahui rencana Ayah?"
"Pertanyaan bagus!" sahut Liu Tang.
Shen Zhu mendesah pendek dan tertunduk.
"Sekarang kau sudah tahu, metode rumit ayahmu bahkan bisa dianalisa," gumam Liu Tang bernada frustrasi. "Selama aku terikat dengan Aliansi Ksatria, ayahmu bekerja seorang diri. Dan kami tidak pernah membicarakan tentang rencana kami kecuali membangun kembali Pilar Dewa Petaka. Tidak pernah membahas taktik. Berusaha saling memahami dengan isyarat. Tapi tetap saja ketahuan. Bisa kau bayangkan sehebat apa Aliansi Ksatria?"
"Apa maksudnya bekerja seorang diri?" tanya Shen Zhu.
"Menjadi pembunuh bayaran sebagai pekerjaan sampingan juga adalah cara untuk menemukan pusaka dewa di samping melelang pusaka. Sebagian memang demi uang, tapi yang terutama tetap saja demi Pusaka Dewa Petaka," tutur Liu Tang. "Kemungkinan salah satu klien kecewa dan menyelidiki perihal pusaka yang tidak pernah didapatkan setelah membunuh korban."
"Tunggu sebentar," sela Shen Zhu. "Maksud Paman… klien terakhirnya mengincar Pusaka Dewa Petaka dan menyewa jasa pembunuh bayaran tapi tidak mendapatkannya?"
"Benar," jawab Liu Tang. "Ayahmu selalu memberikan pusaka yang diinginkan klien setelah menghabisi korbannya kecuali Pusaka Dewa Petaka. Kemungkinan dia beralasan bahwa pusaka yang diinginkan klien tidak ditemukan. Klien akan mengerti. Tapi jika itu terjadi lebih dari sekali, seseorang akan curiga bahwa setiap berurusan dengan Pusaka Dewa Petaka, pembunuh bayaran selalu gagal. Bukankah hal ini sudah lebih dari cukup untuk memancing kecurigaan pihak Aliansi. Begitu bicara soal Pusaka Dewa Petaka, nama ayahmu akan muncul pertama dalam daftar tersangka."
"Memang akan berbeda jika dilakukan secara berkelompok," gumam Shen Zhu sambil mengerutkan dahi.
"Kau mewarisi kecerdasan ayahmu, tampaknya aku sudah boleh tenang sekarang!" puji Liu Tang sembari mendesah lega. "Pembicaraan tentang pembunuh bayaran dengan metode menentang langit ini sudah menjadi semacam rahasia umum di kalangan para bangsawan. Dan kau tahu persis sebagian besar bangsawan adalah para penggosip. Kalau tidak, bagaimana mereka tahu caranya berurusan dengan pembunuh bayaran paling misterius dengan metode khusus?"
"Dengan kata lain, para bangsawan adalah pion Aliansi Ksatria," Shen Zhu menyimpulkan.
"Lebih tepatnya sumber informasi," Liu Tang menimpali. "Jadi…" ia mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam mata Shen Zhu. "Apakah kau masih ingin menggunakan metode Sicarii?"
__ADS_1
"Bagaimana Ayah memulainya?" tanya Shen Zhu.
"Tentu saja dari pion yang sama," jawab Liu Tang. "Menyebarkan rumor di kalangan bangsawan."
"Dimulai dari tempat pelelangan?" tanya Shen Zhu seraya tersenyum miring.
"Sungguh tepat!" Liu Tang balas menyeringai.
Menjual wewangian di pelelangan adalah langkah awal Liu Hanzou memulai karirnya sebagai pembunuh bayaran, lalu menyebar dari mulut ke mulut sebagai rahasia umum.
Sungguh cerdik! puji Shen Zhu dalam hatinya. "Namun…" ia tercenung sesaat sebelum mengatakan, "Aku tak memiliki penciuman sebagus ayahku," ia mengaku.
"Dengan kata lain, kau akan melanjutkan metode Sicarii?" Liu Tang menyimpulkan.
"Benar," jawab Shen Zhu. "Lebih tepatnya menjadi sainganmu!"
"Apa—" Liu Tang tergagap dan melengak.
"Bukankah sudah cukup jelas, meski ayahku sudah terbunuh, metode Sicarii tetap diteruskan?" tanya Shen Zhu. "Bukti Pusaka Dewa Petaka di rumah keluarga Liu tak terbantahkan, sementara metode pemanggilan Sicarii masih berjalan. Hal ini hanya membuktikan bahwa klan Liu masih mencari Pusaka Dewa Petaka."
"Hanya perlu menunggu pusaka terakhir dewa petaka muncul dan Sicarii akan terbukti berasal dari klan Liu," tukas Shen Zhu.
"Aku sudah menyiapkan rencana dengan sedikit risiko," sanggah Liu Tang.
"Membunuh klien sebagai alibi?" terka Shen Zhu.
"Ya," jawab Liu Tang bernada muram.
"Bahkan aku bisa menebak," ejek Shen Zhu. "Kau sendiri yang bilang seperti apa hebatnya Aliansi Ksatria!"
Liu Tang langsung terdiam.
"Kemungkinan mereka sudah menyiapkan perangkap," kata Shen Zhu.
"Jadi apa rencanamu?" Liu Tang akhirnya menyerah.
"Menjadi biro jasa baru dengan harga lebih murah, dan kau akan mengacaukannya," bisik Shen Zhu seraya membungkuk mencondongkan tubuhnya ke seberang meja.
__ADS_1
"Aku mengerti," Liu Tang menanggapi seraya tersenyum miring.
Yang dimaksud Shen Zhu adalah jika suatu saat ia berurusan dengan klien dengan target Pusaka Dewa Petaka, Sicarii akan merampasnya. Dengan begitu, perhatian Aliansi Ksatria akan tetap terfokus pada Sicarii dan Shen Zhu bisa tetap bergerak dengan leluasa.
Keesokan harinya…
Shen Zhu dan pamannya kembali ke kuil bersama anak laki-laki berusia sebelas tahun yang akan menjadi Ksatria Pengawal Shen Zhu untuk melakukan ritual perjanjian darah.
Sebut saja… Jingwei.
Ritual perjanjian darah itu dilakukan di atas altar di tengah lingkaran formasi sihir yang tercipta di lantai.
Pedang Dewa Petaka ditancapkan di tengah-tengah.
Jingwei berlutut di lantai menghadap ke arah Shen Zhu dengan sebelah tangan menggenggam gagang pedang itu setelah terlebih dulu dilukai hingga berdarah.
Shen Zhu berdiri merunduk di atas pedang itu dengan kedua tangan tertangkup di ujung gagang pedang itu juga dengan luka di telapak tangannya. Darahnya merembes dan menjalar ke telapak tangan Jingwei hingga darah mereka saling terhubung satu sama lain.
Semburat cahaya terang berwarna emas membuncah dari penyatuan darah mereka. Asap gelap menyembur keluar dari luka di telapak tangan mereka seperti sulur yang menjalar ke seluruh tubuh mereka seperti tanaman rambat yang saling melilit satu sama lain.
Tubuh Jingwei mulai bergetar.
Tak lama kemudian, celah di lantai di mana pedang itu tertancap meledak menyemburkan cahaya disertai gelegar halilintar yang membuat seluruh tempat berguncang.
Shen Zhu dan Jingwei terlontar ke udara dengan masing-masing tubuh masih terlilit sulur gelap yang saling terhubung. Sulur gelap itu mulai menyala merah.
Jingwei berteriak nyalang ketika tubuhnya tersengat rasa panas yang disalurkan dari sulur yang telah menyala. Tubuh mungilnya seakan meledak hingga menebarkan kobaran api berwarna merah darah.
Tubuhnya menegang dan tersentak-sentak seakan tengah meregang nyawa. Lalu terkulai setelah lolongan panjang terakhirnya yang membahana.
Ritual perjanjian darah itu berakhir. Shen Zhu telah membagi separuh kekuatannya pada Jingwei.
Anak laki-laki itu sekarang sudah mencapai Ranah Surgawi Tingkat Satu.
Ksatria Pengawal termuda di dunia telah lahir!
Anak laki-laki itu tidak sadarkan diri selama tujuh hari. Dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai Biksu Suci di Kuil Zainan.
__ADS_1