
Hari pertama Putaran Kedua Ujian Ksatria…
"Tujuh puluh peserta telah terpilih untuk putaran kedua," pemandu acara mengumumkan. "Selanjutnya adalah pertarungan antar aliran. Setiap peserta akan melawan enam aliran lain. Diharapkan semua peserta mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya untuk memperebutkan peringkat atas. Satu orang dari masing-masing aliran dengan poin terendah akan dieliminasi."
Para peserta berdiri tegak dengan tangan terkepal. Menatap arena dengan penuh tekad.
"Ronde pertama!" Pemandu acara menunjuk layar di dinding bagian atas bangunan. "Ahli senjata nomor tujuh-enam melawan elementalis nomor dua-satu!"
Arena menggelegar oleh tepuk tangan meriah.
Jialin menarik napas panjang dan membungkuk pada bibinya yang juga gurunya.
"Adik! Semangat!" Lim Hua menyemangati seraya mengepalkan tangan di sisi wajahnya, diikuti Jiangwu dan yang lainnya.
Bao Yu dan Tiao mengangguk singkat menyemangatinya.
Shen Zhu diam saja. Hanya menatap dengan raut wajah datar. Bisa dibilang ekspresi polos.
Jialin mendesah dan menggeleng samar. Apa yang kuharapkan? pikirnya sambil berbalik dan bergegas turun ke arena. Dia benar-benar tak peka! rutuknya dalam hati.
Saatnya bagi Jialin untuk mengetahui: Apa hebatnya Seorang Pemanggil?
Seorang gadis berpakaian nyentrik sudah menunggu di tengah arena dengan tongkat emas setinggi pelipis berkepala ukiran bunga teratai. Gadis itu mengenakan gaun pendek bermotif daun teratai dengan armor bunga teratai.
Kenapa semua Gadis Pemanggil berpakaian konyol? pikir Jialin mencemooh. Lalu berhenti di tengah arena, berhadap-hadapan dengan lawannya. Lalu keduanya bertukar hormat tentara.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara menginstruksikan.
Kedua peserta itu serempak memasang kuda-kuda.
Sementara si Gadis Pemanggil mulai berkomat-kamit membacakan mantra pemanggil arwah, Jialin menghunus pedang di depan wajahnya, dengan satu tangan sementara tangan lainnya bergerak-gerak di sisi pedangnya membentuk tarian kecil khas master spiritual. Tak lama kemudian, tubuhnya menyala mengeluarkan lidah-lidah api. Dahinya berkeredap dan seekor merak berwarna merah dengan paruh, sayap dan ekor berwarna jingga melesat keluar di puncak kepalanya.
Lingkaran formasi sihir berwarna biru tercipta di belakang punggung si Gadis Pemanggil disertai gemuruh besar seperti ombak. Sejurus kemudian, lingkaran sihir itu berubah menjadi lubang besar yang memuntahkan air.
Seekor naga menggeliat keluar dari gejolak air itu dan menerjang ke arah Jialin yang belum cukup siap.
BLAAAAARRRRR!
Jialin tersapu dalam jeritan nyaring sementara tubuhnya terhempas ke belakang terseret arus air yang menyerupai badai tsunami.
Burung Phoenix-nya mendengking dalam terjangan naga air.
"Elementalis nomor dua-satu menang dengan perolehan sepuluh poin!" Pemandu acara mengumumkan.
__ADS_1
Arena meledak oleh tepuk tangan dan sorakan semangat para gadis pemanggil.
Sial! geram Jialin dalam hatinya. Dua hari yang lalu dia meremehkan Seorang Pemanggil. Hari ini dia dikalahkan oleh Seorang Pemanggil dalam satu serangan.
Dunia ksatria dipenuhi kemungkinan yang tak terduga.
"Selanjutnya! Seniman beladiri nomor lima puluh melawan ahli senjata nomor tujuh-tujuh!"
Arena melengking oleh pekik-jerit para gadis yang mendukung Shen Zhu.
"Whoa—" Tiao menoleh pada Shen Zhu dengan mata terbelalak. "Baru tampil satu kali sudah mendapatkan begitu banyak penggemar. Benar-benar membuat iri," katanya setengah terkekeh.
Jialin mendelik sebal ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu melangkah turun ke arena dan setengah dari penonton wanita menjerit histeris sambil berjingkrak-jingkrak.
Lawannya membeku dengan gelisah dan berkeringat. Dia memiliki elemen api surgawi! pikirnya ngeri.
Dikatakan api surgawi membakar apa pun yang menyentuhnya. Elemen es, logam dan kayu tak bisa menyentuhnya.
Tapi aliran tinju mengandalkan pertarungan jarak dekat. Dan rata-rata mereka memiliki elemen logam.
Tiba-tiba saja peserta nomor lima puluh itu berlutut dan tertunduk, "Aku mengaku kalah!" katanya.
"Apa?" Para hadirin terpekik bersamaan.
Arena kembali meledak oleh teriakan histeris para gadis.
Ghow Anio, si Gadis Pemanggil mungil berpakaian serba pink berjingkrak dan menari-nari di tempat duduk eksklusifnya seperti orang gila.
Long Hua Ze menjegal kaki gadis itu sembari menggertakkan giginya.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!" Gadis itu menjerit dan jatuh terjerembab di tempat duduknya.
Peserta Jalur Juara lainnya serentak menoleh pada mereka sambil terkekeh tipis dan menggeleng-geleng.
"Selanjutnya, Ahli Senjata Nomor Tujuh-tujuh akan melawan peserta dari aliran tao!" Pemandu acara melanjutkan. "Langsung saja kita acak!" Ia menunjuk lagi ke arah layar.
Data kesepuluh peserta dari aliran tao bergerak secara acak dan berhenti.
"Peserta nomor sembilan-sembilan!" panggil pemandu acara, "Dipersilahkan memasuki arena!"
Seorang pemuda berkepala botak berpakaian khas biksu lengkap dengan tongkat dan kalung manik-manik melangkah ke tengah arena dengan tenang. Lalu membungkuk dengan sebelah tangan mencuat di depan dada.
__ADS_1
Shen Zhu balas membungkuk dengan hormat tentara.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara memberi aba-aba.
Peserta dari aliran tao itu menjejakkan sebelah kakinya ke lantai dan seketika lingkaran sihir tercipta di lantai.
Shen Zhu menarik sebelah kakinya ke belakang dan mengulurkan sebelah tangannya, menggenggam pedang yang bukan senjata pusakanya dalam posisi vertikal dan tidak mengeluarkannya.
Para hadirin mengerutkan dahi.
Dia memang cukup luar biasa di penampilan pertamanya! pikir beberapa orang tetua. Tapi keberuntungan tak pernah datang dua kali.
"Benar-benar arogan!" beberapa orang mengumpat secara terang-terangan.
Shen Zhu tetap bergeming dengan raut wajah datar, sementara formasi sihir di permukaan lantai kian melebar hingga hampir mencapai pijakan kakinya.
Shen Zhu menurunkan tangannya sedikit dan lingkaran sihir di permukaan lantai itu berkeretak seperti kaca ditikam besi.
KRAAAAAKK!
DUAAAAARRRR!
Arena meledak oleh gelegar halilintar dan badai cahaya.
Lingkaran sihir di permukaan lantai itu pecah berkeping-keping dan simbol-simbol misterius beterbangan seperti serpihan kaca.
Peserta dari aliran tao terhuyung ke belakang seraya membungkuk menekuk perutnya.
Para hadirin terkesiap bersamaan.
"Lagi?" para tetua sekte terpekik dengan ekspresi syok.
"Lagi-lagi dia berhasil mengalahkan lawan tanpa menyentuh!" seru seorang peserta. "Apa dia manusia?"
"Ilmu iblis apa yang kau gunakan?" gumam peserta dari aliran tao. Lalu kembali memasang kuda-kuda. "Aku tak percaya aku tak bisa mengalahkanmu!" geramnya penuh tekad. Lalu menjejakkan sebelah kakinya ke lantai sekali lagi, kemudian melejit ke udara dengan sikap kuda-kuda. Telapak tangan dan jemarinya bergerak-gerak dengan cepat sementara mulutnya komat-kamit membacakan mantra.
Tak lama kemudian, lingkaran formasi sihir khas perguruan mereka muncul di belakang punggungnya sebagai latar belakang.
Seekor kambing makara melesat keluar dari balik punggung peserta itu dan berlari menyeruak ke arah Shen Zhu dengan kepala tertunduk, bersiap untuk menanduk.
Shen Zhu memutar jemari di sisi tubuhnya dan menjentikkan jarinya, menyentil udara kosong. Sebutir bola cahaya berwarna merah darah seukuran kelereng terlontar keluar dan meledak di atas kepala kambing itu.
Peserta nomor sembilan-sembilan itu terkekeh setengah mencebik. "Ingin menggunakan teknik yang sama pada putaran kedua?" ejeknya. "Sayangnya elemen api neraka sekalipun tak bisa membakar batu!"
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, kambingnya terlontar dan jatuh terjerembab dengan posisi tubuh meringkuk di lantai.
"Apa—" peserta itu tersentak dan tergagap.