Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
85


__ADS_3

Lantai arena bergetar dan bergemeretak. Hawa dingin sekaligus panas menyergap bersama gemuruh angin yang mendadak berpusar di sekeliling Shen Zhu.


Pemuda itu tertunduk dengan bahu gemetar. Kedua matanya menyala menyemburkan lidah-lidah api berwarna merah darah, begitu juga dengan tubuhnya.


Semua orang bergeming dalam keterkejutan yang tak terkira.


Sebenarnya apa yang terjadi? Orang banyak bertanya-tanya dalam hatinya.


"Adik—" Tiao tergagap dan tertunduk menatap Shen Zhu dengan dahi berkerut-kerut.


Bao Yu, Bao Yuwen dan murid-murid mereka terperangah di bangku penonton. Bao Hu membeku di bangku ketua.


Para kaisar dan Ketua Aliansi menatap Shen Zhu dengan mata terpicing.


"Nomor Tujuh-tujuh," Ketua menegur Shen Zhu. "Apa kau baik-baik saja?"


Shen Zhu tetap bergeming sementara semua orang semakin gelisah.


Gedung arena bergetar semakin hebat.


Xie Ma membeku dan mendongak menatap deretan pusaka yang melayang di depan semua peserta.


Para peserta menoleh ke sana kemari dengan kebingungan.


"Adik!" Jyang Ryu berjongkok dan mengguncang kedua bahu Xie Ma. "Sadarlah!"


Di sisi lain, Tiao juga berusaha mendekati Shen Zhu. Tapi ketika kakinya menapaki lantai di sekeliling Shen Zhu, pemuda itu tiba-tiba terlempar.


Bao Hu terpekik di tempat duduknya. Bao Yu dan Bao Yuwen hampir melejit ke arena.


Sejumlah ksatria serentak melesat ke lantai arena. Satu orang menangkap Tiao, beberapa menghampiri Shen Zhu.


Xie Ma terpekik melihat tombak para ksatria itu dengan ngeri.


Jyang Ryu terpaksa membopongnya dan melarikan gadis itu ke bangku penonton. Guru-guru mereka serempak mengerubunginya.


Suasana berubah gaduh.


Terutama ketika para ksatria berusaha mendekati Shen Zhu. Mereka juga terlempar setelah mencapai lantai di sekeliling Shen Zhu.


Para peserta serentak menyisi dengan ngeri.


Mata semua orang sekarang terpaku pada lantai di sekeliling Shen Zhu.


Lantai itu sudah dikepung kobaran api. Dari atas terlihat lingkaran formasi sihir tercipta di bawah telapak tangan Shen Zhu yang bertumpu pada permukaan lantai.


"Lancang..." geram Shen Zhu seraya menarik bangkit tubuhnya dengan ekspresi dingin yang lebih mirip orang kerasukan. Kedua tangannya terkepal sementara kepalanya masih tertunduk. Suaranya terdengar seperti debur ombak.


Semua orang mengerutkan keningnya.


Siapa yang dia bicarakan? pikir mereka.


Lalu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, Shen Zhu mengangkat wajahnya, melontarkan tatapan tajam ke arah Ketua Aliansi.


Seketika semua orang mengikuti arah pandangnya dengan terkejut.


Dua ksatria pengawal serempak menyilangkan tombak di depan Ketua Aliansi untuk membentenginya.


"Kau bicara padaku?" Ketua aliansi balas menggeram.


Shen Zhu mengetatkan rahang dan kepalan tangannya.


"Dia kerasukan!" pekik seorang pejabat.


Shen Zhu terkekeh sinis, "Aku?" desisnya. Suaranya menggema ke seluruh tempat hingga bisa didengar oleh semua orang. "Kerasukan?"


Para petinggi yang terhormat itu terkesiap dengan ekspresi gusar.


"Kalian yang kerasukan!" desis Shen Zhu seraya menatap barisan para petinggi aliansi dengan ekspresi dingin. Namun kedua matanya semakin membara. "Kalian dirasuki keserakahan… kecurangan… tipu daya…"


Para peserta serempak membekap mulut mereka dengan ngeri.


"Kau menghujat aliansi!" hardik salah satu petinggi.

__ADS_1


Ketua mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk diam ketika petinggi itu hampir melompat dari balkon. "Ksatria Nomor Tujuh-tujuh, perhatikan cintramu sebagai ksatria. Aku tak tahu apa yang membuatmu kehilangan kendali. Tapi apa kau sudah melupakan sepuluh prinsip ksatria?"


Para ksatria di lantai arena berdiri dengan sikap siaga.


Lantai arena mulai retak dan serpihan bebatuan melayang naik di sekeliling Shen Zhu.


Para peserta diarahkan untuk meninggalkan lantai arena digantikan sejumlah ksatria.


Jyang Ryu mengawasi arena dengan waspada sementara tangannya merangkul bahu Xie Ma yang gemetaran. Gadis itu tersengal-sengal tak dapat bicara, tatapannya menyapu sekeliling dengan gelisah. Jyang Yue berusaha menenangkannya di sisi lain dengan mengusap-usap punggung gadis itu.


"Hah!" Shen Zhu terkekeh sekali lagi. "Sepuluh prinsip ksatria?" dengusnya bernada sinis.


"Kau melupakannya?" tuding Ketua. "Baiklah. Kalian beritahukan padanya!"


Para pejabat kehormatan, para peserta dan para ksatria serempak berdiri tegak seraya mengepalkan sebelah tangan mereka di dada dalam hormat tentara, kemudian berteriak lantang, "Jujur!"


TRANG!


Suara nyaring seperti benturan pedang tiba-tiba menggema ke seluruh tempat. Lingkaran di bawah kaki Shen Zhu melebar dan bertambah satu pola lingkaran.


"Rendah hati!" lanjut semua orang dengan kepala tegak. Belum menyadari apa yang terjadi.


TRAAAAANG!


Suara berdentang lagi. Satu lingkaran bertambah di sekeliling Shen Zhu, membuat formasi sihir bertambah lebar.


Para ksatria yang berdiri di lantai arena terperangah.


"Berbelas kasih!" teriak semua orang lagi.


TRAAAAANG!


Lingkaran di lantai semakin lebar.


Para ksatria di lantai arena beringsut ke belakang.


"Kesetaraan!"


TRAAAAANG!


"Pengorbanan!"


TRAAAAANG!


Bao Yu menelan ludah.


"Heroik!"


TRAAAAANG!


Para penonton menahan napas.


"Kehormatan!"


TRAAAAANG!


"Kegigihan!"


TRAAAAANG!


"Kebijaksanaan!"


TRAAAAANG!


"Kebajikan!"


TRAAAAANG!


"Keadilan!"


TRAAAAANG!


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" para ksatria terlempar dari arena.

__ADS_1


Api berkobar-kobar di lantai arena. Sosok Shen Zhu terlihat membara seperti raja neraka. Sepuluh rantai memburai ke sekeliling arena dengan berpangkal pada kedua tangannya, lima di tangan kiri, lima lainnya di tangan kanan. Masing-masing rantai tertaut pada sabit yang tertancap pada dinding pembatas.


"Mengendalikan iblis untuk membantai rakyat…" Shen Zhu menggeram dengan suara yang tidak dikenali lagi. "Di mana belas kasihanmu?"


GRAAAAAAKKK!


Satu sabit tercabut dari dinding.


Para penonton terpekik dan terperangah.


"Merampas pusaka rakyat, di mana kebajikanmu?" Lanjut Shen Zhu dengan suara serak dan dalam yang mendirikan bulu kuduk.


GRAAAKKKK!


Sabit kedua terlepas.


Semua orang menelan ludah.


"Menjadikan pusaka rampasan sebagai penghargaan sebuah prestasi," Shen Zhu melanjutkan. "Di mana kejujuranmu?"


GRAAAAAAKKKK!


Rantai ketiga tercabut.


Para kaisar menoleh serentak ke arah Ketua Aliansi.


Ketua aliansi menggertakkan giginya dan mengepalkan tangan.


Para pejabat aliansi serentak memucat.


"Pusaka rampasan?" gumam para peserta.


"Pusaka Liu!" desis Xie Ma, akhirnya bersuara, namun tercekat di tenggorokan.


Para penonton di sekitarnya menoleh pada Xie Ma.


"Iblis itu—" Xie Ma tergagap-gagap sambil mengedar pandang dengan ekspresi ngeri yang tidak terkendali seakan sedang melihat hantu tengah mengepungnya. "Aku ingat iblis itu…"


"Shhhh! Ssshhh!" Jyang Ryu mengusap-usap punggung gadis itu dan mengetatkan rangkulannya.


"Iblis itu… membawa tombak," desis Xie Ma seraya jatuh terpuruk di lantai.


Jyang Ryu dan Jyang Yue serempak meraupnya.


Para penonton mengerjap dan menoleh ke arah Xie Ma dan ke arah lantai arena, kemudian menatap barisan para petinggi aliansi dengan kebingungan.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Para peserta menatap Xie Ma dengan tatapan tak yakin namun terlihat syok.


Arena sudah terlihat seperti perapian sekarang. Bergemuruh dan berkeretak sementara seluruh tempat di sekelilingnya kian berguncang.


Tak lama kemudian…


DUAAAAARRRR!


Semua sabit tercabut dari dinding dan meledakan arena.


Shen Zhu melayang ke atas dengan tubuh yang berkobar-kobar. Rambut dan jubahnya memburai dan melecut-lecut di sekeliling tubuhnya bersama untaian rantai bermata sabit. Sabit-sabit itu melayang seperti capit kepiting yang siap menyergap siapa saja yang coba mendekat.


Ia melayang diam di tengah-tengah dengan posisi menghadap ke arah ketua aliansi dan para petinggi. "Katakan padaku," katanya dengan suara yang bergemuruh. "Apa arti kemuliaan ksatria?"


Para ksatria serempak menerjang ke arah Shen Zhu dari berbagai sudut.


Xie Ma membeku dengan mata dan mulut membulat. Mencoba berteriak namun suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya menatap ngeri tombak-tombak para ksatria. Sebelah tangannya terulur ke arah Shen Zhu.


Tapi lalu para ksatria itu hanya membeku dalam radius lima meter di sekeliling Shen Zhu seperti pajangan gantung.


Shen mengulurkan tangannya yang mengenakan gelang baja hitam dengan untaian rantai menyala berkepala sabit. Tapi tidak mengayunkan sabitnya. Ia mengulurkan tangannya ke depan dan mengepal.


DUAAAAARRRR!


Para ksatria yang membeku di sekelilingnya meledak bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2