Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
73


__ADS_3

Babak Final Ujian Ksatria…


"Pertama-tama, selamat kepada kalian yang sudah lolos ke peringkat tujuh puluh teratas!" Seorang pria berpakaian ksatria lengkap dengan helm tertutup berdiri di balkon lantai atas.


Mungkin salah satu petinggi Aliansi! pikir semua orang. Mungkin juga Ksatria Terkuat yang legendaris.


Aura yang ditebarkannya sangat mendominasi!


"Artinya… kalian telah resmi menjadi anggota Aliansi Ksatria," pria itu melanjutkan. "Aku mewakili Divisi Pemburu Iblis, mengucapkan selamat bergabung!"


Para peserta di lantai arena serempak memberi hormat tentara.


Divisi Pemburu Iblis? pikir Shen Zhu. Dia jelas seorang legenda! Ia menyimpulkan. Entah kenapa rasanya aura ini sedikit familier?


"Sekarang saatnya pembagian tim!" Pria itu memberitahu. "Kalian akan dibagi menjadi tujuh tim dengan diundi. Kalian akan dikirim ke tujuh arena untuk mengikuti pertandingan dan mengumpulkan poin. Masing-masing tim terdiri dari sepuluh orang, dan masing-masing orang akan bertanding satu lawan satu dengan anggota tim. Yang menang mendapat dua poin, yang kalah nol. Jika hasilnya seri, masing-masing pihak mendapat satu poin!"


Para peserta menyimak dengan sikap tubuh siaga khas ksatria. Tubuh tegak, dada membusung dengan kedua tangan terlipat di belakang.


"Tujuh puluh peserta akan diurutkan berdasarkan jumlah poin," pria itu melanjutkan penjelasannya. "Tujuh teratas akan masuk ke babak berikutnya. Sekarang mulai mengundi!"


Para peserta mulai waspada.


"Tak peduli bagaimana caranya, yang menangkap manna berwarna sama akan membentuk satu tim!" Pria itu memperingatkan. Kemudian menyentakkan jemari tangannya membentuk cakar, dan mengayunkannya ke depan.


Bola-bola cahaya berwarna-warni sebesar buah apel bertebaran di atas kepala para peserta.


"Satu orang satu manna, tekan dan pecahkan akan dianggap terpilih!" Pria itu menginstruksikan. "Waktu pengundian sepuluh menit!"


Para peserta serempak melejit dan berebut di sana-sini untuk menangkap manna itu. Beberapa dari mereka bahkan saling baku-hantam untuk mendapatkan warna tertentu.


Shen Zhu masih bergeming mengawasi bola-bola cahaya itu dengan penuh perhitungan.


Begitu juga dengan kakaknya, Jyang Ryu dan beberapa peserta lainnya yang memiliki kepribadian tenang.

__ADS_1


"Ingatlah!" Pria di balkon tadi memperingatkan sekali lagi. "Divisi Pemburu Iblis tak hanya membutuhkan kekuatan," katanya. "Tapi juga kejelian dan strategi dalam meraih keuntungan dan menghindari kerugian. Lewat pengundian, bisa memahami lawan terlebih dulu, agar kelak bisa membentuk tim yang lebih cocok."


Jialin sudah hampir melesat ketika Tiao tiba-tiba merenggut lengan hanfunya dan menahannya.


Jialin menyentakkan kepalanya ke samping dan melotot tak sabar. Tapi Tiao menunjuk ke arah Shen Zhu dengan isyarat halus melalui ekor matanya.


Jialin baru mengerti.


Ia mengerling ke arah Shen Zhu. Kemudian menunggu.


Dan ketika pemuda itu akhirnya mengulurkan sebelah tangannya dan menangkap manna berwarna biru, Jialin dan Tiao baru melesat ke tengah kerumunan dan menangkap manna berwarna lain.


Beberapa peserta menyadari siasat mereka dan mengikuti caranya.


"HINDARI WARNA BIRU!" beberapa peserta berteriak dari udara.


"Apa?" Long Yueyan spontan kelabakan. Manna yang didapatkannya hasil membeli dari peserta lain. Dan itu berwarna biru.


Pada saat bersamaan, Xie Ma menyadarinya. Berbekal kekhawatirannya mengenai kematian adiknya, Xie Ma bertekad untuk mencegah Jyang Ryu menjadi lawan Shen Zhu mengingat pria itu bersenjata tombak.


Dia tak boleh melawan Adik! pikirnya sambil melesat ke arah Jyang Ryu, kemudian menyapukan tendangan memutar di udara dan menendang pergelangan tangan pemuda itu.


SLAAAASSSH!


Manna itu terlempar dari genggaman Ryu.


Jyang Ryu spontan melontarkan energi cahaya berbentuk bola kristal ke arah Xie Ma, lalu memutar tubuhnya dalam gerakan salto, untuk kemudian menukik dan melesat cepat mengejar manna biru itu.


Xie Ma terlempar ke sisi arena hingga punggungnya membentur dinding pembatas, namun pada saat bersamaan, ia juga melontarkan selubung kepalanya yang terbuat dari kain panjang seperti selendang dan menyergap pergelangan kaki Jyang Ryu, kemudian menyentakkannya untuk menarik pemuda itu menjauh dari manna biru tadi.


Di sisi lain, sejumlah peserta berebut untuk menghindari manna berwarna biru itu.


Di sisi lainnya lagi, Sang Putra Mahkota, Long Hua Ze hanya berpangku tangan, mengipasi diri sambil menunggu peluang, atau lebih tepatnya mengincar sasaran empuk untuk dijerat. Bagi pria tampan berkelas yang tidak suka berkeringat seperti dirinya, lebih baik membayar mahal daripada harus berebut dengan rakyat jelata, supaya tidak terlihat jelek seperti mereka.

__ADS_1


"Woy! Siapa yang paling hebat di sini?" Tjia Qianxi, Si Gadis Maskulin, Peserta Jalur Juara aliran tinju berteriak dari tengah kerumunan peserta lain yang baku-hantam di sana-sini sambil memukul-mukulkan tinjunya ke telapak tangan.. "Aku tak tahu harus merebut warna yang mana?" Gayanya seperti penjual barang obralan di pasar tradisional.


"Tentu saja Nomor Tujuh-tujuh!" teriak Hua Ze sambil cengengesan dan menutupi mulutnya dengan kipas, kemudian berpura-pura melihat ke arah lain sembari bersiul-siul.


Shen Zhu mengerling ke arahnya seraya berbalik dan menyisi.


"Baiklah!" Qianxi memukulkan tinjunya lagi ke telapak tangannya sendiri. "Harus merebut warna biru! Menantang yang terkuat!" tekadnya sambil menerjang ke tengah kerumunan dan meninju siapa saja yang menghalanginya dengan cara membabi-buta.


Ketika ia hampir berhasil menangkap manna biru, seseorang tiba-tiba melesat dan menendang manna itu menjauh.


Rupanya peserta berpakaian ninja dengan dua katana bersilangan di punggungnya. Shi Tan, Peserta Jalur Juara aliran zen.


Qianxi menggeram dan menerjang ke arah Shi Tan dan mulai saling baku-hantam untuk memperebutkan manna berwarna biru.


Tak jauh dari tempat mereka, Jyu Jieru, Pemuda Tampan Berkepala Botak, Peserta Jalur Juara aliran tao juga sedang berjibaku dan saling baku-hantam dengan Alkemis brutal berotot yang tidak masuk akal.


Di atas kepala mereka, beberapa peserta dengan tunggangan bersayap memanfaatkan tunggangannya untuk meraup lebih banyak manna yang berterbangan di sana-sini.


"Ambil saja sebanyak-banyaknya!" teriak salah satu dari mereka sembari tersenyum licik. "Yang tidak kebagian harus membayar mahal!"


Elementalis berpakaian minim bernuansa bunga teratai, tak mau kalah. Untuk menyaingi kecepatan para tunggangan bersayap, ia menggunakan sapu terbang.


Beda lagi dengan Gouw Anio, Si Pemanggil Cilik yang cinta mati dengan warna pink. Tidak peduli siapa yang akan menjadi lawannya, asal dia mendapatkan manna berwarna pink, yang lainnya tidak penting.


"Xiao Meimei!" Elementalis bernuansa daun teratai menghampirinya dengan menunggangi sapu terbangnya, "Aku berhasil merebut dua bola," katanya seraya mengulurkan tangannya yang menggenggam dua manna berwarna hijau. "Kubagi satu untukmu. Bertarunglah denganku di babak final!"


"Warna hijau?" Anio mencebik dengan wajah tak suka. "Jelek sekali!"


"Memang apa pentingnya?" Elementalis Nomor Dua-satu itu menaikkan sebelah alisnya. "Yang penting kita bisa bertarung!" tukasnya. "Untuk apa mempedulikan jelek atau tidak?"


"Tapi aku suka merah muda!" tolak Anio dengan gaya merajuk kekanak-kanakannya yang khas.


"Haish!" Elementalis Nomor Dua-satu mengerang dan memutar-mutar bola matanya.

__ADS_1


__ADS_2