Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
7


__ADS_3

"Tuan, apakah ada sesuatu yang terjadi pada pusaka keluarga Liu?" tanya Bao Yu tiba-tiba, terus terang seperti biasa, suaranya terdengar sinis.


Sang ketua menatapnya dengan tajam. "Kusarankan sebaiknya kau mengingat posisimu, Guru Yu."


Bao Yu menatap ketua itu dengan ketakjuban yang terkendali, sedikit terpukul dengan penghinaannya. Dan yang terpenting, ia baru saja diancam akan kehilangan posisinya di aliansi.


"Aku akan memberitahumu jika semua barang-barang pusaka sudah diuji oleh ahlinya," kata sang ketua dengan suara keras saat ia berbalik dan berjalan menuju tangga.


"Tuan?" Bao Yu mengambil satu langkah menuju sang ketua.


"Apa lagi?" Sang penguasa arogan itu berteriak, berhenti sejenak untuk memelototi Bao Yu.


Seisi ruangan tiba-tiba bergetar dan bergemuruh. Angin kencang terhempas dari pijakan kaki ketua aliansi.


Shen Zhu terpental hingga jatuh berlutut, kemudian tersungkur.


Bao Yu merasa bimbang, terguncang oleh kejadian yang tidak disangka-sangka ini. Tertekan oleh aura intimidasi yang menyergap seluruh ruangan.


Hati-hati.


Ia tidak berani mendesak keberuntungannya atas satu-satunya hal yang baru saja keluar dari mulut pria itu yang ia yakini sebagai ancaman tadi. "Terima kasih atas waktunya…" Akhirnya, hanya kata-kata itu yang mampu ia ucapkan.


Kata-katanya yang patuh dan nada suaranya yang terdengar meyakinkan tampaknya sedikit menenangkan sang ketua, mungkin juga mengurangi kekhawatirannya mengenai keganasan seorang ahli teori yang berniat membuat masalah.


"Anak manis!" Sang ketua bergumam sinis.


Bao Yu tertunduk muram, tersengat oleh pernyataan yang ia anggap sebagai penghinaan lagi.


Dari apa yang ia tangkap, penguasa arogan ini tidak menganggapnya secara serius.


Baiklah. Kita lihat saja nanti. Dengan tatapan yang sangat tenang, Bao Yu mengangguk ringan dengan kemarahan yang hampir tidak kentara.


Sang ketua berbalik dengan ekspresi dingin, lalu bergegas meninggalkan aula.


Beberapa saat kemudian, si pengawal muncul kembali dan menunjukkan jalan keluar pada Bao Yu.


Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Bao Yu bertanya-tanya dalam hatinya sambil menarik Shen Zhu berdiri dan menuntunnya berjalan dengan langkah lebih lambat---merenung.


Jelas ada sesuatu yang salah, tapi apa?


Apakah ada masalah yang menyangkut pusaka itu?

__ADS_1


Ketika mereka mencapai pekarangan yang luas dan megah itu, mereka melihat seorang wanita berpakaian serba hitam lengkap dengan jubah bertudung dan cadar hitam transparan, sedang bergegas di jalan masuk dari gerbang menuju pekarangan yang diapit taman bersama seorang gadis remaja yang tampak linglung.


Shen Zhu mengerjap dan terkesiap. Lalu menghambur ke arah gadis remaja itu sembari berteriak, "Kakak!"


Bao Yu dan perempuan berpakaian misterius tersentak menatap Shen Zhu dan gadis remaja itu bergantian. Lalu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, keduanya saling bertukar pandang.


Shen Zhu sudah menghambur dan memeluk kakak perempuannya.


Perempuan berpakaian misterius itu berhenti, sementara Bao Yu menghampiri mereka seraya memelankan langkahnya.


"Guru Jyang!" sapa Bao Yu sambil menautkan kedua tangannya di depan wajah dan mengangguk sedikit ke arah wanita itu.


"Guru Yu!" Wanita itu balas menyapanya dengan hormat yang sama.


Lalu keduanya menoleh ke arah kakak-beradik yatim-piatu itu dengan raut wajah prihatin.


Liu Xie Ma masih bergeming dengan tatapan kosong, tapi tidak menjerit dan meronta-ronta seperti sebelumnya. Ia mendongak menatap wajah adiknya yang berada beberapa inci di atas kepalanya dengan kebingungan. "Kau…"


"Shen Zhu!" potong Shen Zhu sambil menunjuk cuping hidungnya sendiri. "Adikmu!"


"Adik?" Xie Ma masih terlihat kebingungan. "Kau sudah mati!" desisnya bernada gelisah. "Semua orang mati!"


"Tidak, tidak!" Shen Zhu kembali merangkul bahu kakaknya. "Aku masih hidup."


Shen Zhu menarik wajahnya lagi dan meraup wajah kakaknya dengan kedua tangan, menghadapkan wajah kakaknya ke wajahnya. "Lihat aku," katanya bersemangat. "Aku baik-baik saja!"


"Xiao Zhu!" Tiba-tiba Xie Ma terpekik seolah baru menyadari bahwa adiknya ada di situ, seakan-akan anak laki-laki itu baru saja muncul entah dari mana dan mendarat di depan matanya secara tiba-tiba.


Shen Zhu tersenyum sedih dan kembali menyusupkan wajahnya di bahu Xie Ma.


Tubuh gadis remaja itu mulai bergetar, "Xiao Zhu," isak-tangisnya terdengar lirih.


"Aku mau pulang," ratap Shen Zhu tak bisa lagi menahan diri.


"Anak bodoh," bisik Xie Ma sambil menepuk-nepuk lembut kepala Shen Zhu. "Kita tak bisa pulang sekarang. Mungkin nanti."


Shen Zhu menatap kakaknya dengan alis tertaut.


"Semuanya tergantung padamu," Xie Ma menambahkan. "Kau harus menjadi kuat untuk membangun kembali sekte Liu. Sekte Liu-mu sendiri."


"Hmh!" Shen Zhu mengangguk penuh tekad.

__ADS_1


Dan untuk pertama kalinya sejak kehancuran desa mereka, Xie Ma akhirnya mengembangkan senyum. Kemudian mengusap sebulir air mata di pipi Shen Zhu dengan buku jarinya. "Apa kau takut?" godanya sambil memaksakan senyum. "Adik?"


Shen Zhu balas tersenyum. "Tidak," jawabnya sambil menyeka kedua pipinya.


Bao Yu dan Jyang Yue kembali bertukar pandang, lalu menyisi ke bangku taman, mencoba memberi waktu untuk kedua kakak-beradik itu melepas rindu.


"Apa Guru Yu di sini untuk rapat?" tanya Jyang Yue berbasa-basi.


"Tidak," jawab Bao Yu. "Apa Guru Jyang datang untuk rapat?" ia balas bertanya.


"Tidak," balas Jyang Yue. "Tentu saja tidak! Perguruan kami tidak mendapat undangan rapat. Aku mendengarnya dari pengawal," jelasnya sambil mengerling ke arah gerbang.


Senyum penuh pemahaman Bao Yu melebar.


"Sejujurnya…" Jyang Yue menggantung kalimatnya dan tertunduk. "Aku hanya ingin memastikan apakah… pusaka keluarga Liu…"


"Guru Jyang juga sedang menyelidikinya?" potong Bao Yu.


Jyang Yue spontan mengerjap dan menatap Bao Yu dengan mata terpicing. "Guru Yu juga?" Ia balas bertanya.


Semangat Bao Yu seketika bangkit, ia menatap Jyang Yue dengan mata berbinar-binar. Penuh harap. "Guru Jyang," katanya sedikit terlalu antusias. "Maukah kau membagikan sedikit yang kau ketahui tentang kakak-beradik Liu itu denganku? Aku sudah hampir putus asa," katanya terus terang. Lalu memelankan suaranya seraya membungkuk dan menudungi mulutnya dengan sebelah tangan, "Dan asal kau tahu, aku baru saja meminta izin untuk memeriksa pusaka keluarga Liu, tapi Ketua tidak mengizinkannya."


"Kau juga datang untuk memeriksa pusaka Liu?" Jyang Yue terperangah.


Bao Yu mendesah pendek, "Aku menduga ada sesuatu yang sangat misterius yang terus menggangu Liu Shen Zhu yang mungkin berasal dari pusaka keluarganya," jelasnya dalam gumaman pelan.


"Guru Yu memang tidak keliru," aku Jyang Yue. "Aku sudah menggali sebagian ingatan Liu Xie Ma dan menemukan banyak hal menarik. Bahkan sebelum anak laki-laki itu melewati semua ujian. Keluarga mereka tidak sederhana. Aku tahu sedikit mengenai Liu Hanzou."


"Liu Hanzou?" Bao Yu mengerutkan keningnya. Merasa familier dengan nama itu. Lalu terpekik. "Orang itu…"


"Benar!" sahut Jyang Yue. "Si Penggali Kubur."


Si Penggali Kubur adalah salah satu sosok yang paling ditakuti di dunia bela diri spiritual.


Siapa sangka dia mati dengan cara seperti ini?


Menggali kuburnya sendiri!


"Tidak mungkin dia mati semudah itu, kan?" desis Bao Yu tak yakin.


"Aku juga tak ingin percaya," tukas Jyang Yue. "Tapi itulah yang kudapatkan setelah menggali ingatan Liu Xie Ma. Pusaka terakhir yang dibawanya membawa petaka."

__ADS_1


"Maksudmu…" Bao Yu kembali mengerutkan dahi. "Kehancuran desa itu juga ada hubungannya dengan pusaka Liu?"


Jyang Yue tersenyum samar di balik cadarnya, kemudian menatap Bao Yu, "Menurutmu?" tanyanya penuh arti.


__ADS_2