Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
120


__ADS_3

Ketua Aliansi melangkah keluar dan menutup pintu. Tapi tidak ke mana-mana. Tetap berdiri di sana seraya bersedekap.


Di balik pintu, Xiao Mao sudah memulai meditasinya dengan perasaan waswas. Ia menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Lalu mencoba untuk berkonsentrasi.


Beberapa saat kemudian, lantai di bawahnya berpendar memunculkan lingkaran cahaya emas dengan simbol-simbol misterius yang tak bisa diterjemahkan.


Lalu cahaya terang benderang mulai meledak membentuk tabung transparan berwarna emas.


Sebuah kitab gulung melayang turun dari langit, kemudian terbuka seperti selendang sutra bersulam emas.


Tulisan yang tertera di atas kitab itu berbunyi: Shen Lieren, dinobatkan sebagai Dewa Pemburu.


Lalu kitab itu menguap seperti terbakar, berubah menjadi serpihan debu berwarna emas, kemudian berpusar dan menggumpal.


Sebuah bola kristal bercahaya tercipta di tengah pusaran.


Detik berikutnya…


GRAAAAAKKKK!


Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka.


Ketua Aliansi melesat ke tengah ruangan, menyapukan tendangan memutar yang membuat Xiao Mao terlempar dari tempat duduknya.


DUAAAAARRRR!


Xiao Mao terpental dengan punggung membentur dinding batu. Lalu jatuh terpuruk dengan darah membuncah dari mulutnya.


Dua orang ksatria menerjang ke arahnya dan menyergapnya dengan belenggu baja, lalu menyeretnya keluar ruangan dan mengurungnya di dalam ruang tahanan.


Pintu ruangan rahasia sang ketua berderak menutup.


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" Lolongan membahana itu berasal dari ruang bawah tanah istana kerajaan Liuwang di Benua Jingling.


Shen Zhu sedang berusaha mencabut Tongkat Kaisar Dewa dengan tubuh gemetar.


DUAAAAARRRR!


Untuk kesekian kalinya, Shen Zhu terpental dari altar, lalu jatuh terkapar di lantai. Ia menghela bangkit tubuhnya dan memaksa dirinya untuk bermeditasi lagi.


Beberapa jam kemudian, ia bangkit kembali.


Kakeknya menyentuh pundaknya dengan tekanan lembut. "Tak perlu memaksakan diri," ia menasihati.


Shen Zhu mengedikkan bahunya.


"Xiao Zhu!" Kaisar meninggikan suaranya. "Tubuhmu bisa meledak!" hardiknya memperingatkan.


Shen Zhu tidak peduli. Dengan mata menyala merah darah, dengan kelopak menyemburkan lidah-lidah api, pria itu melangkah ke arah altar dengan ekspresi geram. Rune perjanjian darah di dahinya menyala berdenyut-denyut. Membuat amarah dalam dirinya menggelegak.


Ia tak tahu apa tepatnya yang terjadi pada Xiao Mao. Tapi ia bisa merasakan gadis itu dalam bahaya. Aku harus segera menyelesaikan ujian ini, dan menyelamatkan Xiao Mao! tekadnya dalam hati.


Tapi emosinya menjadi tidak stabil dan berisiko sesat.


Kakeknya berusaha mati-matian untuk menghentikan ujian itu.


Tapi Shen Zhu tidak menggubrisnya.


Bumi berguncang di sebelah timur Benua Xuang. Awan bergolak di atas daratan itu. Langit bergemuruh menunjukkan fenomena gaib yang mengerikan.

__ADS_1


Negeri Jiangnan mendadak gempar.


"Apa yang terjadi?" Bao Yu menegang di ruang tunggu.


Para kaisar bertukar pandang dengan tatapan ngeri.


Rimba Ilahi mendadak tidak stabil.


Tanah Perjanjian Darah mendadak bergejolak. Monster-monster spiritual berubah gusar.


Singa berkepala manusia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian membeku di puncak Bukit Perjanjian. Lalu mengaum dengan kepala mendongak ke langit.


Di Benua Jingling, Shen Zhu kembali berjuang mencabut Tongkat Kaisar. Tongkat itu akhirnya tercabut beberapa inci. Benua itu bergetar dan bergemuruh.


Langit dan lautan seakan berperang. Benturan energi besar-besaran menyebabkan dunia seolah akan kiamat.


Pekik-jerit ketakutan rakyat jelata menggema di mana-mana.


Shen Zhu mengetatkan cengkeramannya, berusaha menghimpun seluruh kekuatannya, kemudian meraung seraya menarik Tongkat Kaisar itu lebih kuat lagi.


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!"


Langit di atas kepalanya menggelegar.


Tongkat itu tercabut sedikit lagi.


Halilintar menyambar di sana-sini, mendera Shen Zhu bertubi-tubi. Tubuhnya berguncang dan jatuh berlutut berkali-kali. Tapi ia berusaha untuk tidak melepas cengkeramannya.


Kakeknya berjalan mondar-mandir dengan gusar.


Darah merembes dari lubang hidung dan sudut bibir Shen Zhu. Tubuhnya tertekuk semakin dalam seolah ditekan benda raksasa yang tidak terlihat.


Satu sambaran petir mematikan satu indera. Mula-mula indera perasa yang membuat tubuhnya terasa kebas, lalu ia kehilangan indera penciumannya setelah sambaran petir kedua, sambaran ketiga membuat Shen Zhu kehilangan indera penglihatan, lalu pendengaran dan akhirnya kehilangan kesadarannya.


Cengkeraman Shen Zhu mulai melemah. Tubuhnya mulai terpuruk. Tapi tongkat di tangannya mulai miring.


Satu hentakan lagi, tongkat itu sudah tercabut.


"Xiao Zhu! Bangun!" Kakeknya meneriakinya dari tengah ruangan. Tidak bisa mendekat karena kekuatan spiritualnya tak cukup.


Sementara itu di Jiangnan…


Fenomena alam yang menggemparkan membuat semua orang gusar.


Ujian Ksatria tiba-tiba dihentikan.


Para kaisar digiring pulang.


Markas Besar Aliansi Ksatria dilanda gempa beruntun yang tidak ada habisnya.


Lantai area tiba-tiba berkeredap. Sebuah lingkaran sihir berwarna emas membuncah membentuk tabung transparan berwarna emas yang menembus langit.


DUAAAAARRRR!


Dentuman mahadahsyat mengguncang seluruh Jiangnan.


Gedung arena meledak menyemburkan bongkahan bebatuan dan semburan cahaya emas.


Semua orang di seluruh benua melihat dunia mendadak terang benderang.

__ADS_1


Ketua Aliansi melayang naik dari pusat ledakan dengan pakaian dewa.


Semua orang menjadi histeris. Semua orang tersungkur di tanah dengan gentar.


Pada saat yang sama, simbol di dahi Shen Zhu berdenyut-denyut.


Shen Zhu disergap ilusi mengerikan di mana ia melihat kehancuran di seluruh benua. Peperangan, penindasan, pekik-jerit rakyat jelata, ratapan para budak yang terikat sambung-menyambung dalam satu rantai.


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" Shen Zhu terbangun dalam lolongan memilukan yang membuat kakeknya gemetar tanpa daya.


"Bangun!" Kaisar meneriakinya.


"SELAMATKAN NYAWA KAMI!" ratapan semua orang bergemuruh dalam kepala Shen Zhu.


Tubuh Shen Zhu bergetar semakin hebat. Satu tangannya terlepas dan lututnya terseret di lantai, hampir terlempar.


Setengah kesadarannya membuat Shen Zhu melihat batang emas Tongkat Kaisar yang menyala terang. Lalu ia mulai ingat apa yang sedang dilakukannya.


Ia mengayunkan tangannya yang terlepas dengan susah payah, mencoba meraih kembali batang tongkat itu. Tapi tangannya seolah didorong angin kencang.


Shen Zhu menggapai-gapai udara kosong. Tekanan yang ditebarkan tongkat itu semakin kuat.


Shen Zhu memaksa dirinya untuk sadar sepenuhnya, kemudian mengumpulkan segenap energi yang tersisa dalam tubuhnya yang mulai berdenyut-denyut menuntut meditasi.


Tidak sekarang! tekadnya dalam hati.


Ia mencoba memusatkan konsentrasinya dan menenangkan diri. Hanya tinggal sedikit lagi, batinnya menyemangati diri. Jika aku melepaskannya sekarang, kesempatan berikutnya akan semakin sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.


Pada saat itu, Xiao Mao mungkin sudah tidak tertolong.


"Xiao Mao…" bisiknya terengah-engah. "Tunggu aku!" geramnya sambil mendorong tangannya sekuat tenaga, lalu berhasil meraih tongkat itu.


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!


Halilintar menyambar lagi.


Tubuh Shen Zhu terlempar ke belakang, tapi kedua tangannya masih menggenggam batang Tongkat Kaisar itu.


Kedua kakinya sudah mengambang dari permukaan lantai. Tubuhnya terentang ke belakang seperti sedang terbang.


Shen Zhu memusatkan konsentrasinya untuk mengeluarkan rantai petaka dari dalam tubuhnya.


Tapi angin kencang menghempas semakin dahsyat, membuat tubuhnya terayun-ayun ke sana-kemari.


Rantai petaka menjalar keluar dari pergelangan tangannya.


Shen Zhu menyentakkan ototnya dan seketika ratai itu berderak memanjang dan melilit tubuhnya, ujungnya melecut dan melilit batang Tongkat Kaisar, lalu perlahan-lahan mulai menarik tubuh Shen Zhu mendekat ke arah tongkat kaisar itu dan akhirnya mendarat dengan kedua lututnya.


Shen Zhu mengetatkan rantai itu untuk merapatkan posisi tubuhnya dengan tongkat, lalu menghela bangkit tubuhnya dengan susah payah.


Setelah ia bisa berdiri, ia melepaskan rantai itu dan menarik tongkatnya dengan sisa tenaganya.


DUAAAAARRRR!


Lantai di bawah kakinya meledak menyemburkan cahaya emas bercampur angin kencang dan badai cahaya.


Tongkat itu akhirnya tercabut.

__ADS_1


Shen Zhu mengacungkan tongkat itu di atas kepalanya, mahkota rambut di puncak kepalanya berkeredap dan berubah warna menjadi warna emas.


__ADS_2