
Shen Zhu menghela bangkit tubuhnya dan mengedar pandang.
Lalu secara perlahan orang banyak mulai mendekat dengan tertatih-tatih, menyeret langkah sambil membekap luka mereka, berkerumun di bawah hujan debu di antara reruntuhan bangunan yang porak-poranda, beberapa dari mereka membungkuk pada Shen Zhu sebagai ungkapan terima kasih, dibalas anggukan singkat dan senyuman sedih.
Beberapa dari mereka berjalan terpincang-pincang sambil bergelayut di bahu temannya. Melewati tubuh-tubuh mati yang berserak di antara timbunan reruntuhan, sebagian tersapu ke tepi benteng seperti bangkai binatang, sebagian mengambang di air kolam dengan wajah terbenam seperti boneka.
Mereka semua terbaring, bergelimpangan dalam kubangan darah, jubah kusut, hanfu basah terkena darah. Kulit lengan tersayat di sana-sini.
"Pertama kalinya bertarung melawan iblis secara langsung sudah menemukan lawan yang sulit dihadapi," kata Tetua Yun sambil menepuk sebelah bahu Shen Zhu. "Bagaimana keadaanmu?" ia bertanya.
"Untuk sementara tak akan mati," jawab Shen Zhu dengan ekspresi datar. Lagi pula ini bukan pertama kali bagiku, ia menambahkan dalam hatinya.
Xie Ma mengerjap dan terkesiap. Terkejut oleh perubahan adiknya. Sejak kapan dia mulai berani bicara sembarangan? pikirnya.
Raut wajah Shen Zhu terlihat dingin. Begitu tenang dan tampak tidak takut apa pun. Sangat arogan. Sangat berbeda dengan dirinya beberapa hari lalu.
Apa dia benar-benar adikku? Xie Ma membatin takjub. Ke mana perginya Si Kucing Penakut yang suka berkoar?
Sang ketua menatap Shen Zhu dari beranda, mengangguk samar dengan isyarat terima kasih, dibalas anggukan samar yang sama. Di belakangnya, anak-anak dan istrinya mendongakkan hidung mereka dengan raut wajah kencang.
Shen Zhu membungkuk pada para tetua dan guru-guru, kemudian berpamitan. Lalu menuntun kakaknya ke Asrama Tujuh bersama guru mereka dan kakak-kakak seperguruannya.
Orang-orang membungkuk padanya ketika mereka lewat.
Shen Zhu menanggapinya dengan anggukan singkat, tidak tergoda untuk menanggapi serius segala bentuk pujian.
Setelah mereka sampai di Asrama Tujuh, Bao Yu mengarahkan tamu mereka ke wisma tamu bersama Shen Zhu, sementara semua orang memulihkan diri.
"Kerja bagus!" puji Bao Yu setelah mereka duduk di seputar meja rendah lesehan di ruang tamu, ia menepuk pundak Shen Zhu dan tersenyum tipis. "Namun…" ia menurunkan tangannya dari bahu Shen Zhu dan menautkan jemari di atas meja. Lalu tercenung menggantung kalimatnya sesaat dan mendesah sebelum akhirnya menambahkan, "Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Segel Dewa-mu sudah keluar. Nyawamu mungkin terancam. Orang-orang akan mengincar pusakamu."
"Pusaka?" Shen Zhu mengerutkan keningnya. Begitu juga dengan kakaknya. "Pusaka apa?"
"Pusaka yang kau gunakan saat memunculkan Proyeksi Dewa Petaka, seharusnya Segel Dewa Petaka!" sela Jyang Yue mengambil alih penjelasan.
Xie Ma tiba-tiba terdiam dengan dahi berkerut-kerut, seperti coba mengingat-ingat sesuatu yang sangat penting.
Segel Dewa Petaka? pikirnya. Di mana aku pernah mendengarnya?
__ADS_1
"Segel Dewa Petaka adalah atribut serangan tunggal terkuat yang bisa melakukan pembantaian terhadap darah dewa iblis," jelas Jyang Yue. "Pusaka lain Dewa Petaka di samping pedang yang kau miliki!"
"Pusaka lain?" Shen Zhu mengerutkan keningnya. "Aku tak punya pusaka lain!"
"Apa?" Bao Yu dan Jyang Yue terpekik bersamaan.
"Mustahil!" desis Jyang Yue tidak percaya. "Lalu bagaimana caramu membuat proyeksi dewa?"
"Sebenarnya…" Shen Zhu menjawab ragu, kemudian menatap gurunya. "Aku memanggil roh pedang dengan mantra yang Guru ajarkan."
"Aku ingat sekarang!" Xie Ma tiba-tiba beranjak berdiri, menyentakkan semua orang. "Segel Dewa Petaka adalah pusaka terakhir yang dibawa Ayah!" desisnya sambil menoleh pada Shen Zhu dengan mata dan mulut membulat.
"Apa?" Seisi ruangan kembali terpekik.
Bao Yu dan Jyang Yue serentak mengerjap dan bertukar pandang.
Seketika kata-kata Jyang Yue terlintas di benak Bao Yu.
"Pusaka terakhirnya membawa petaka!"
"Maksudmu—" Shen Zhu mendongak menatap kakaknya dan tergagap-gagap. "Guci abu kremasi itu…"
"Tapi…" Shen Zhu menggantung kalimatnya dan tercenung.
"Semua pusaka keluargamu ditimbun di Markas Besar Aliansi Ksatria…" Bao Yu menginterupsi. "Bagaimana kau mendapatkannya?"
"Tidak semua," sergah Shen Zhu dalam gumaman pelan. "Kalau yang dimaksud dengan Segel Dewa Petaka adalah guci jelek itu… aku sudah memecahkannya!"
Xie Ma mendesah kasar dan memutar-mutar bola matanya. "Sudah kuduga kau akan menghancurkan barang!" gerutunya.
Shen Zhu terkekeh gelisah sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Tak heran banyak iblis yang lepas!" gumam Bao Yu dengan raut wajah lelah.
"Apa?" Shen Zhu dan Xie Ma tersentak bersamaan.
"Iblis tengkorak ratusan ribu tahun, Raja Jin yang menyerang Ketua, Raja Vampir yang mengontrol ratusan ribu kelelawar…" Bao Yu menelan ludah. Lalu menatap ke dalam mata Shen Zhu dengan alis tertaut. "Semua itu adalah tawanan Dewa Petaka ratusan tahun yang lalu!"
__ADS_1
Seisi ruangan tercengang dengan mata dan mulut membulat.
"Kalau begitu…" Shen Zhu tiba-tiba teringat sesuatu. "Rantai itu!" katanya. "Rantai neraka berusia sembilan ratus tahun itu milik dewa petaka?"
"Tunggu dulu!" Xie Ma tiba-tiba tersentak dan menatap ke arah Shen Zhu. "Kalau begitu…" ia memekik tertahan. "Iblis yang menyerang desa kita…" tiba-tiba ia menjerit sambil membekap wajahnya dengan kedua tangan.
"Tenanglah!" Shen Zhu menarik Xie Ma ke dalam dekapannya.
"Tidak!" Xie Ma memberontak dan melompat menjauhinya. "Kau penyebabnya!" jeritnya sambil menudingkan telunjuk ke arah Shen Zhu. "Kau yang membunuh orang tua kita! Kau yang membunuh semua orang!"
"Xie Ma!" Jyang Yue segera menyergap gadis itu dan mendekapnya. "Ini bukan salahnya!"
Tapi Xie Ma semakin tidak stabil. "Sekarang aku tahu kenapa aku takut padamu?" jeritnya tak terkendali.
Shen Zhu menelan ludah dan tergagap menatap kakaknya.
Xie Ma meronta-ronta sambil terus menjerit-jerit. Kondisi kejiwaannya memburuk dalam sekejap. Semakin lama semakin buruk. Keadaannya sekarang sudah menjadi seperti lima tahun lalu.
Pada akhirnya Jyang Yue memohon diri dan melarikan Xie Ma ke perguruan mereka. "Untuk sementara jangan menemuinya dulu," pesannya pada Shen Zhu sebelum pergi.
Shen Zhu bergeming dalam kebisuan, memandang nanar udara kosong di mana Jyang Yue lenyap bersama kakaknya.
Bao Yu turut bergeming sambil mengerutkan keningnya, lalu mengusap dagu dengan buku jarinya. Tiba-tiba saja semuanya terasa masuk akal baginya.
Pusaka terakhir yang membawa petaka, aura gelap di tubuh Shen Zhu, semua kotoran yang dihisapnya, semua elemen dan pusaka-pusaka yang menolaknya…
Dia tak pernah ditolak! Bao Yu menyadari. Dialah yang menolaknya. Karena tidak satu pun layak untuknya.
"Shen Zhu," Bao Yu menepuk sebelah bahu Shen Zhu. "Kau bilang… secara tidak sengaja, kau telah menghancurkan Segel Dewa Petaka?"
Shen Zhu menoleh dan mengangguk.
"Namun…" Bao Yu mengerutkan keningnya. "Kau bisa membuat Proyeksi Dewa Petaka dengan mantra pemanggil roh pedang. Menurutku…" ia menggantung kalimatnya dan tergagap dalam waktu yang lama, sementara Shen Zhu menunggu. "Kemungkinan besar… segel itu sekarang tertanam dalam tubuhmu!" Bao Yu menyimpulkan.
"Apa?" Shen Zhu spontan terperangah.
"Dengan kata lain…" Bao Yu melanjutkan. Dahinya masih berkerut-kerut, ia menoleh ke arah Shen Zhu dan memicingkan matanya, "Tubuhmu adalah segel itu sendiri---kau adalah Pusaka Dewa Petaka!"
__ADS_1
"Aku—" Shen Zhu tergagap memandangi kedua tangannya, "Pusaka Dewa Petaka?"