
Perjalanan dilanjutkan hingga memakan waktu tujuh hari.
Begitu mereka sampai di gunung bekas kuil penyembahan Dewa Zainan, mereka mendapati gunung itu sudah terbelah menjadi dua bagian.
Sebuah jembatan dengan pagar pelindung dari rantai kapal besar membentang di atas ngarai sebagai penghubung kedua belahan gunung.
"Jembatan ini tak ada sebelumnya," pria yang rumahnya terbakar memberitahu. "Mungkinkah…" ia tertegun sesaat sebelum menyimpulkan, "Sudah ada klan kita yang kembali!"
"Atau klan lain," pria tua yang hidup sebatang kara di desa sebelumnya menimpali.
Shen Zhu memandang ke seberang ngarai dengan mata terpicing.
Hutan di seberang sana terlihat tertata dan jelas sekali ada kehidupan di belahan gunung Zainan itu. Kehidupan yang tampaknya sangat misterius.
Selintas aroma familier menyusup ke dalam penciuman Shen Zhu. Ia mengerutkan keningnya dan berpikir keras. Mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah mencium aroma itu.
"Penyembahan Dewa Petaka sudah lama terlupakan," gumam pria tua itu dengan ekspresi muram. "Bahkan ketika Ketua Hanzou masih memimpin klan kita. Orang-orang sudah tidak memuja Dewa Petaka lagi karena dianggap sebagai aliran hitam."
Shen Zhu mengerling ke arah pria tua itu. "Itukah sebabnya klan kita dihancurkan?"
"Benar," jawab pria tua itu bernada getir.
"Aku berniat mendirikan kembali kuil Zainan," kata Shen Zhu. "Apa kalian kecewa?"
Para penduduk itu mengerjap dengan gelisah.
Shen Zhu mendesah pendek dan tertunduk mengusap kepala kucingnya. "Salahku tidak memberitahukan kalian," sesalnya.
"Tidak!" sergah para pria hampir bersamaan. "Tentu saja kami tidak kecewa," kata mereka cepat-cepat.
"Hanya saja…" para pria itu menggumam ragu dan saling bertukar pandang.
"Pusaka Liu sudah tak ada pada kami," potong pria yang rumahnya terbakar berterus terang.
"Benar!" pria lainnya menimpali dengan takut-takut.
"Kalau begitu jangan khawatir," kata Shen menenangkan mereka. "Aku tahu sedikit tentang kebenaran dan keberadaan pusaka-pusaka itu."
"Benarkah?" para penduduk menggumam penuh harap.
"Dulu aku tidak mengerti kenapa ayahku begitu terobsesi pada barang-barang pusaka," kenang Shen Zhu dengan raut wajah muram. "Dia hampir tak pernah ada di rumah demi memburu barang-barang rongsokan, kemudian mengumpulkannya di ruang bawah tanah rumah kami."
Para penduduk di belakangnya saling melirik dengan ekspresi getir.
"Aku hampir membenci ayahku karena pekerjaannya," Shen Zhu tertunduk dan tersenyum sedih. "Memiliki ilmu begitu tinggi, tapi hanya digunakan untuk kepuasan batinnya. Dia bahkan tak mau bergabung dengan Aliansi Ksatria untuk melindungi umat manusia. Dia juga melarangku untuk menjadi seorang ksatria. Dia menyembunyikan semua kitab supaya aku dan kakakku tidak mempelajarinya."
__ADS_1
Para penduduk menggumam bersamaan.
"Ketua bukan orang yang seperti itu," tukas salah satu pria.
"Aku bahkan tak tahu kalau dia ketua sekte," sergah Shen Zhu. "Sampai aku bertemu kalian!" ia menambahkan.
Para penduduk mengerjap dan membeku.
"Ketika aku berusia sepuluh tahun, desa kami dihancurkan," cerita Shen Zhu. "Dan aku tidak tahu siapa pelakunya."
Para penduduk menahan napas.
"Kakakku menjadi gila dan terus menggumam… iblis, iblis, iblis," Shen Zhu tersenyum getir. "Kami dibawa ke Markas Besar Aliansi Ksatria dan diadopsi secara terpisah oleh dua klan. Di sanalah aku mulai belajar ilmu beladiri spiritual dan teknik pedang. Lalu mendaftar di Ujian Ksatria."
Para penduduk kembali bertukar pandang.
"Aliansi telah menyiapkan sepuluh pusaka langka untuk sepuluh juara teratas," lanjut Shen Zhu. "Sepuluh pusaka itu…" Shen Zhu terdiam dan menelan ludah. Lalu melirik ke belakang melewati sudut matanya. "Adalah pusaka Liu," ia menambahkan dengan suara tercekat.
"Apa?" para penduduk terpekik bersamaan.
Shen Zhu kembali tertunduk dan tersenyum getir.
Di belakangnya, para penduduk mulai berspekulasi tentang pusaka itu dengan nada gelisah.
Shen Zhu mendesah dan mengangkat wajahnya, memandang ke seberang dengan tatapan hampa. Lalu melompat turun dari kudanya.
"Aku akan menemani Tuan Muda!" pemuda bertubuh kekar yang bukan klan Liu menawarkan diri.
Shen Zhu menoleh padanya dan mengangguk.
"Aku juga!" Pemuda lainnya mengikuti.
"Tidak perlu!" tukas Shen Zhu. "Cukup berdua saja. Yang lainnya tetap berjaga di sini."
"Aku mengerti!" Pemuda tadi membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya.
"Lindungi anak-anak dan wanita!" pesan Shen Zhu seraya bergegas.
Mencapai pertengahan jembatan itu, sejumlah belati tiba-tiba melesat ke arah Shen Zhu dan pemuda kekar itu dari sudut-sudut tersembunyi.
SLASH!
SLASH!
"Awas!" Shen Zhu memperingatkan seraya mengulurkan tangannya ke samping untuk menahan langkah pemuda yang mendampinginya.
__ADS_1
Xiao Mao melesat dari pangkuannya dan terbang meliuk di depan mereka seraya mengayunkan cakarnya. Semburat cahaya berbentuk sabit terlontar dari ayunan cakarnya, kemudian menyapu semua belati yang menyerampang ke arah mereka.
"Sicarii!" teriak Shen Zhu bernada jengkel. Akhirnya ingat di mana ia pernah mencium aroma familier tadi.
Ia mengatupkan matanya dan menggerak-gerakkan kedua telapak tangan dan jemarinya di depan wajah, menempelkan telunjuk dan jari tengah di antara kedua alisnya dan mengaktifkan penglihatan supernya.
Kedua matanya terbuka, lidah-lidah api merebak di pelupuk matanya yang menyala-nyala.
Bersamaan dengan itu, Xiao Mao sudah berlari cepat di atas rantai besar yang menjadi pagar pembatas jembatan dan melesat ke arah bukit.
Shen Zhu memindai area sekitar di ujung jembatan dan menemukan sedikitnya sepuluh pria berpakaian ninja bersembunyi di balik semak dan bebatuan.
Shen Zhu menyentil udara kosong dan cahaya tajam seperti laser melesat dari ujung jarinya ke arah bukit.
DUAAAAARRRR!
Sebongkah batu berbentuk runcing di lereng gunung meledak dan seorang pria terlempar dari balik batu itu.
Sedetik kemudian, tiga pria melesat keluar dari persembunyiannya dan menerjang ke arah jembatan.
Pemuda di belakang Shen Zhu serentak menerjang ke arah mereka seraya mengayunkan pedangnya.
Tapi sejumlah belati sudah melesat lebih cepat ke arah pemuda itu.
Pemuda itu berhasil menangkis sejumlah belati dengan pedangnya.
Sisanya dihalau Shen Zhu dengan jarum elemen yang dilontarkan melalui sela-sela jarinya.
Di sisi lain bukit, semak-semak dan pepohonan bergetar dan berdebum-debum. Xiao Mao sedang saling baku hantam dengan salah satu ninja di balik semak-semak dan mengacaubalaukan hutan.
Shen Zhu mengayunkan sebelah tangannya melontarkan energi cahaya berbentuk sabit, menghalau ketiga ninja yang hampir mendarat di jembatan. Ketiga ninja itu terlempar ke lereng gunung dengan perut tertekuk dan punggung membentur dinding tebing.
Dua ninja lainnya melesat keluar menggantikan mereka.
Shen Zhu mengibaskan ujung jubahnya dan seketika angin kencang menyapu para penyerang itu.
Pemuda di belakangnya tergagap dan kebingungan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Setiap serangan berhasil dihalau dalam satu gerakan.
Shen Zhu melompat ke ujung jembatan dengan gerakan salto, sementara pemuda di belakangnya mengikuti dengan berlari.
Sesampainya di ujung jembatan, tujuh pria melesat keluar dari sudut lain dan mendarat berjejer menghadang Shen Zhu.
"Berhenti!" Seorang pria lagi melesat keluar dari tempat tersembunyi, kemudian mendarat di belakang ketujuh ninja yang menghadang Shen Zhu.
Para ninja itu spontan menarik diri.
__ADS_1
Shen Zhu spontan mengerutkan keningnya.