Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
90


__ADS_3

"Whoa—dia lumayan tampan!" seru salah satu pria berbadan kekar dengan ekspresi mencemooh. "Tapi sayangnya bodoh!"


Kelima pria berotot itu kembali terbahak-bahak.


"Hanya Ksatria Tingkat Tiga," kata pria kekar yang lainnya seraya menarik sebelah kakinya ke belakang dan menekuk lututnya dalam sikap kuda-kuda. "Biar aku saja yang menghabisinya!"


Shen Zhu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring.


Pria tadi menerjang ke arah Shen Zhu seraya menghujamkan tombaknya.


Shen Zhu menyentil ujung tombaknya dan seketika semburat cahaya merah darah melesat dari ujung jarinya seperti sinar laser.


Tombak pemburu itu seketika remuk menjadi serpihan debu dan pria berbadan kekar itu terlempar ke belakang dengan perut tertekuk tertikam cahaya tajam yang seperti laser tadi.


BLAAAASSSH!


Semua orang terpekik bersamaan.


Empat pria berotot lainnya tergagap dengan ekspresi syok. "Bukan Ksatria Tingkat Tiga!" teriak mereka sembari lari kocar-kacir dan berpencaran.


"Apa aku mengizinkan kalian pergi?" geram Shen Zhu seraya mengangkat sebelah tangannya dan menggerakkan jemarinya di sisi wajah.


Keempat pria kekar itu berlari di tempat dengan telapak kaki mengambang beberapa inci dari permukaan tanah. Tubuh mereka terlilit kabut gelap seperti sulur yang berpangkal pada jemari Shen Zhu seperti boneka benang.


Para penduduk memekik tertahan seraya membekap mulut mereka dengan ketakutan.


Teriakan keempat pria berbadan kekar itu membahana seperti raungan kelompok singa.


Shen Zhu mengepalkan tangannya dan seketika keempat pria itu meledak seperti guci yang diremukkan.


DUAAAAARRRR!


Para penduduk menahan napas dan membeku dengan wajah pucat.


Ketiga orang yang berlutut di depan Shen Zhu tersungkur dengan wajah menyentuh tanah.


Shen Zhu menurunkan tangannya dan kembali mengusap-usap kepala kucing kecilnya seraya mengedar pandang.


Para penduduk beringsut menjauh tapi tidak satu pun berani beranjak dari tempatnya.


"Kalian yang membakar rumahnya?" tanya Shen Zhu sambil tertunduk menatap kucingnya.


Para penduduk serentak terhenyak dan gemetar.


"Tak ada yang menjawab?" geram Shen Zhu sambil mengangkat wajahnya.


Para penduduk serentak berlutut dan memohon ampun. "Ini adalah peraturan. Kami sungguh tidak berdaya."


"Peraturan," ulang Shen Zhu dalam gumaman dingin sambil tertunduk menatap tiga pemilik rumah yang masih bersimpuh di bawah kakinya.


"Lima orang tadi adalah utusan hakim desa," pria yang tersungkur di bawah kakinya mengambil alih jawaban. "Dikirim ke sini untuk menangkap putra kami."

__ADS_1


Shen Zhu spontan mengalihkan pandangannya ke arah anak laki-laki berusia sebelas tahun di samping pria itu.


Anak laki-laki itu mengangkat wajahnya menatap Shen Zhu. Sorot matanya tidak memperlihatkan ketakutan.


"Dia dirasuki iblis!" teriak seorang ibu seraya menudingkan telunjuk ke arah anak laki-laki itu.


Beberapa wanita serentak menyergap kedua lengan wanita itu dan menahannya di sana-sini.


"Dia membunuh putraku!" jerit wanita tadi sambil menangis.


Kalau begitu aku salah membela orang, batin Shen Zhu merasa konyol.


"Aku tidak membunuhnya," tukas anak laki-laki itu seraya menatap Shen Zhu dengan ekspresi tenang.


Shen Zhu menatap ke dalam mata anak itu untuk mencari jawaban.


Anak laki-laki itu akhirnya tertunduk, bukan karena takut. Tapi karena tersengat rasa hormat. "Beberapa anak merundungku sampai aku pingsan. Lalu ketika aku sadarkan diri, dia sudah tergeletak dalam keadaan tak bernyawa."


"Bangunlah!" perintah Shen Zhu pada anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu mengangkat wajahnya dan menatap Shen Zhu dengan tak yakin.


"Ya, kau!" Shen Zhu menegaskan. "Bangunlah!"


Anak laki-laki itu menghela bangkit tubuhnya dan mendekat ke arah Shen Zhu.


Tiba-tiba Shen Zhu merenggut lehernya dan mencekiknya.


Kedua orang tua anak laki-laki itu menghambur ke arah Shen Zhu dan tersuruk memeluk kakinya memohon-mohon. "Lepaskan putra kami, Dewa!"


Shen Zhu mengangkat anak laki-laki itu dengan sebelah tangan.


Anak laki-laki itu meronta-ronta dengan kedua tangan mencengkeram pergelangan tangan Shen Zhu, mencoba melepaskan cekikannya.


Shen Zhu tetap tidak melepaskannya hingga anak laki-laki itu tersentak dan terkulai.


Tak lama kemudian anak laki-laki itu menggeram dan membuka matanya. Kedua matanya menyala merah menyemburkan lidah-lidah api. Sekujur tubuhnya mengeluarkan asap gelap seperti sulur.


Shen Zhu tersenyum miring.


Kedua orang tua anak laki-laki itu mendongak dan terperangah.


Semua orang beringsut mundur dengan tubuh gemetar.


Anak ini ternyata benar-benar dirasuki iblis! pikir kedua orangtuanya.


Shen Zhu melemparkan anak laki-laki itu ke udara.


Anak laki-laki itu meraung-raung seperti singa yang kesakitan, tubuhnya menggeliat-geliut di udara dalam cengkeraman kabut seperti nyamuk yang terjerat di jaring laba-laba.


Shen Zhu memperhatikan setiap detail fenomena itu dengan seksama. Kucing kecilnya juga mendongak di pangkuannya dengan tatapan fokus.

__ADS_1


"Tidak salah lagi," gumam Shen Zhu. "Anak ini mewarisi pusaka dewa dalam tubuhnya." Ia menyimpulkan.


"Apa—" kedua orang tua anak laki-laki itu tergagap-gagap.


"Mustahil!" Para penduduk menggumam bersamaan seperti lebah yang sedang gelisah.


"Jelas-jelas dia dirasuki iblis!" gerutu ibu yang mengaku anaknya dibunuh oleh anak laki-laki itu.


Shen Zhu tertunduk menatap kedua orang tua anak laki-laki yang memeluk kedua kakinya di kiri-kanan. "Apa kalian bermarga Liu?" tanya Shen Zhu dengan ekspresi datar.


Pasangan suami-istri itu serentak mendongak dengan terkejut. "Bagaimana kau tahu?"


"Bangunlah!" perintah Shen Zhu alih-alih menjawab.


Pasangan suami-istri itu terlihat ragu. Tapi lalu menghela bangkit tubuhnya dan saling bertukar pandang.


"Kalian mengenal Liu Hanzou?" tanya Shen Zhu sambil mendongak lagi mengawasi anak laki-laki yang mulai mengguncang seluruh tempat dengan geramannya yang membahana. Angin kencang mulai berputar di sekelilingnya.


"Siapa yang tidak mengenal Liu Hanzou?" gumam sang suami. "Dia adalah ketua sekte sebelum kuil kami dihancurkan."


"Kuil?" Shen Zhu menoleh ke arah laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan itu dengan dahi berkerut-kerut. "Dihancurkan?"


"Itu sudah berlalu puluhan tahun," jawab pria itu. "Aku baru seusia putraku ketika sekte kami dihancurkan. Sejak saat itu klan kami terpencar-pencar."


Shen Zhu mengepalkan sebelah tangannya di sisi tubuhnya. Tangan lainnya mendekap Xiao Mao dengan gemetar. Jadi benar Sekte Liu dulunya adalah Pilar Dewa? pikirnya getir.


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" teriakan terakhir anak laki-laki itu tersaput ledakan cahaya dan gelegar halilintar.


DUAAAAARRRR!


Seluruh desa berguncang dan berkeretak.


Sebuah tiang cahaya berwarna emas tercipta dari ledakan tubuh anak laki-laki itu hingga menembus langit.


"Pilar dewa!" seru Xiao Mao melalui kepala Shen Zhu. "Dia akan menjadi ksatria pengawalmu!" ia memberitahu.


Shen Zhu mendongak dan menelan ludah.


Detik berikutnya, anak laki-laki itu melemas dan meluncur jatuh.


Shen Zhu spontan melesat dan menangkapnya, kemudian membaringkannya dengan hati-hati.


Pasangan suami-istri itu menghambur ke arah mereka dengan tergopoh-gopoh.


Para penduduk saling melirik dengan tatapan bingung.


Shen Zhu berdiri perlahan dan mengedar pandang, menatap satu per satu wajah-wajah penduduk itu dengan sorot intimidasi. "Kalian," geramnya. "Perbaiki rumahnya sekarang juga!"


"Apa?" Para penduduk itu tergagap-gagap. "Mustahil memperbaiki rumah dalam sehari!" protes mereka.


"Aha?" geram Shen Zhu sekali lagi. "Jadi kalian tahu membangun rumah tak bisa dilakukan dalam sehari? Lalu kenapa masih menghancurkannya dalam hitungan detik?"

__ADS_1


Para penduduk langsung terdiam.


__ADS_2