
Hari kedua Putaran Ketiga Ujian Ksatria…
"Ksatria Nomor Tujuh-tujuh melawan Elementalis Nomor Tujuh!" Pemandu acara mengumumkan.
"Apa?" Anio terpekik ngeri.
Shen Zhu mengerling ke deretan bangku Peserta Jalur Juara.
Gadis Pemanggil itu membekap mulutnya dengan jemari tangan.
"Akhirnya," gumam Kaisar. "Dua peserta termuda!"
"Tak tahu kejutan apa lagi yang akan diberikan kedua peserta ini," komentar Ketua Aliansi. "Keduanya sama-sama tak terduga."
"Untuk kedua peserta, dipersilahkan memasuki arena!" kata pemandu acara.
Anio melayang dengan payungnya, kemudian mendarat ringan di lantai arena.
Shen Zhu berpindah tempat dengan teleportasi, tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Anio dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya.
Gadis Pemanggil itu terkesiap dan beringsut selangkah ke belakang.
Shen Zhu menatapnya dengan ekspresi datar.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara memberikan aba-aba.
Gadis Pemanggil itu tak ingin membuang waktu, tidak bermain-main dulu seperti biasanya. Serta-merta ia merentangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dan melepaskan payungnya.
Payung itu melayang dan berputar ke belakang seperti gangsing.
Lalu dengan gerakan lentur dan ringan, Gadis Pemanggil itu melompat dan bersalto, kemudian mendarat di atas payungnya.
Shen Zhu masih bergeming.
"Kakak Tampan!" seru Gadis Pemanggil dengan nada kekanak-kanakannya yang khas. Namun suaranya menggema seperti di puncak tebing. Suara terlatih seorang master spiritual tingkat tinggi. "Lihatlah jurusku," katanya masih bernada kekanak-kanakan. Kemudian menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan dada.
Shen Zhu mendongak mengawasi gadis itu dengan waspada.
Arena mulai bergemuruh dan bergetar.
"Roh adalah sumber segala sesuatu, semua makhluk memilikinya," desis Gadis Pemanggil seraya memejamkan matanya dan menggerak-gerakkan kedua tangannya dalam tarian ringan dan pelan. Suaranya terdengar seperti desau angin. "Roh adalah langit dan bumi. Meliputi semua penjuru!"
Waktu terbaik untuk mengalahkan Elementalis adalah sebelum mereka berhasil memanggil, pikir Shen Zhu. Tapi rata-rata mereka memiliki teknik pertahanan yang sangat kuat. Tes saja dulu reaksinya! katanya dalam hati. Kemudian melontarkan sejumlah jarum cahaya dari sela-sela jarinya.
SLAAAASSSH!
BEG!
__ADS_1
Shen Zhu mengerjap dan terkesiap. Teknik pertahanan macam apa ini? pikirnya takjub. Serangannya terasa seperti terjebak dalam ruang hampa. Tidak berfungsi sama sekali.
Pemanggil Kecil ini kelihatannya saja polos, pikir Shen Zhu. Tak disangka keterampilannya lumayan rumit!
"Roh adalah jembatan hati," lanjut Gadis Pemanggil itu masih dalam bisikan tajam yang membahana. "Menemani seumur hidup!"
BLAAAAAARRRR!
Semburat cahaya ungu meledak di depan Anio, di antara kedua telapak tangannya yang berhadapan di depan dada.
Elemen api! Shen Zhu menyimpulkan.
Detik berikutnya, cahaya itu berpusar dan menggumpal, lalu memadat menciptakan sebuah bola kristal yang terang benderang.
Tidak ada cara lain! Pikir Shen Zhu seraya menyentakkan jemari tangannya membentuk cakar, menyalurkan manna elemen ke telapak tangannya. Hanya elemen kristal yang bisa melawan energi api, katanya dalam hati.
Elemen kristal adalah tingkat tertinggi dari elemen batu. Setiap elemen memiliki tingkatan dengan warna aura yang berbeda-beda. Masing-masing warna mewakili tingkatan kekuatannya.
Sama halnya seperti elemen api yang memiliki tiga warna aura, merah biru dan ungu, di mana merah adalah yang tertinggi, elemen batu juga terdiri dari tiga warna aura dengan tiga tingkatan. Hitam, abu-abu dan putih transparan. Putih adalah yang tertinggi.
Berbeda dengan putih terang dan hitam pekat.
Putih terang adalah elemen cahaya, sementara hitam pekat merupakan campuran dari semua elemen.
Sudah kuduga dia memiliki semua elemen! Peserta Jalur Juara dari aliran zen menggumam dalam hatinya.
Shen Zhu melontarkan bola cahaya yang tercipta dari elemen kristal di telapak tangannya ke arah Anio.
Bersamaan dengan itu…
"DENGAN ROHKU AKU MEMANGGIL NAMAMU!" teriakan Anio melengking tinggi hingga terdengar seperti menembus langit.
DUAAAAARRRR!
Arena membuncah oleh gelegar halilintar dan ledakan cahaya.
Shen Zhu tersapu ke belakang dengan telapak kaki terseret di permukaan lantai hingga kedua lututnya tertekuk. Tapi tak sampai jatuh atau terjengkang.
Para penonton menegang tanpa suara. Semua menahan napas. Semua membeku dengan mata dan mulut membulat.
Aura yang sangat kuat! batin Shen Zhu terkejut. Lalu dengan cepat kembali memasang kuda-kuda.
Lantai arena kian berguncang dan bergemuruh.
Sebuah gerbang menyembul keluar dari lantai. Bentuknya sangat berbeda dari yang biasanya. Bukan gerbang batu kuno, tapi gerbang emas berbentuk sepasang sayap.
Para ketua dan tetua sekte terpekik bersamaan. Para juri dan wasit terkesiap. Ketua Aliansi dan para petinggi lainnya terperangah.
__ADS_1
"Ini adalah gerbang Rimba Ilahi!" seru salah satu tetua.
Shen Zhu mengerjap dan menegang. Monster yang dipanggil dari Rimba Ilahi semuanya adalah monster dewa. Dan aku sungguh celaka! pikirnya.
"Pemanggil ini masih sangat kecil!" gumam seorang pejabat. "Bagaimana bisa dia memiliki Gerbang Rimba Ilahi? Keterampilan ini hanya bisa digunakan oleh Ranah Surgawi!"
Ketua Sekte aliran elementalis mendadak gugup. Ia mengusap wajahnya diam-diam, kemudian memalingkan wajahnya sambil menutup mata. Semoga tidak ada kesalahan kali ini, harapnya dalam hati. Jangan mempermalukan sekte! Jangan mempermalukan sekte!
Tanpa pikir panjang, Shen Zhu akhirnya mengaktifkan rune perjanjian darah untuk memanggil kucing kecilnya.
Tapi pada waktu bersamaan, seekor kucing kecil lainnya melompat keluar dari gerbang itu dengan cara yang konyol.
Dan seketika semua orang menggumam bersamaan.
Ukuran dan warna bulu kucing itu sama persis dengan kucing kecil milik Shen Zhu.
"ADA APA DENGAN KUCING KECIL ITU?" para penonton berteriak dengan sikap mencela.
"Hah?" Anio tersentak dan terbelalak. Kemudian tertunduk menatap lantai arena dengan mata dan mulut membulat. Lalu menggerung dan mengepalkan kedua tangannya sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti gadis kecil yang akan menangis. "Pemanggilan gagal lagi," rengeknya. "Kenapa belakangan ini nasibku buruk sekali?"
Para pejabat mengerang bersamaan. "Ternyata hanya kucing kecil!"
"Ada apa dengan Gerbang Rimba Ilahinya?" Kaisar mengerutkan dahi seraya mengusap-usap dagunya. "Apakah Gerbang Rimba Ilahinya palsu?"
Ketua sekte elementalis mengusap wajahnya dengan frustrasi.
Shen Zhu mendongak menatap Anio dan menelan ludah. Tak tahu apa yang harus dilakukan.
Gadis Pemanggil itu melayang turun dan mendarat di dekat kucing kecil yang keluar dari Gerbang Rimba Ilahi dengan ekspresi hampir menangis. Ia mendesah dan melemas. Lalu berjongkok dan meraup kucing kecil berbulu hitam itu dengan kedua tangannya. Kemudian mengangkatnya dan mengusap-usap kepalanya. Raut wajahnya berubah dengan cepat. "Imutnyaaaaa…"
Shen Zhu mengerjap dan meluruskan tubuhnya. Memandangi kucing kecil di pangkuan Anio dengan raut wajah prihatin.
"Wasit!" Anio mendongak ke lantai atas. "Aku mengalah saja," katanya dengan ekspresi tak berdaya seorang anak kecil. Lalu berjalan ke arah Shen Zhu. "Kakak Tampan, ambilah!" katanya seraya menaruh kucing kecil itu di telapak tangan Shen Zhu. "Kau menang. Hadiah ini untukmu!"
Shen Zhu tergagap dan tersenyum kikuk. Tapi sebelum ia sempat bereaksi, Gadis Pemanggil itu sudah berlalu meninggalkan arena.
"Ksatria Nomor Tujuh-tujuh menang!" Pemandu acara mengumumkan.
Aula meledak oleh tepuk tangan meriah.
Bersamaan dengan itu, simbol di dahi Shen Zhu berkeredap menyala.
Xiao Mao melesat keluar dan menerjang kucing kecil di tangan Shen Zhu.
Kucing kecil yang baru keluar dari Gerbang Rimba Ilahi itu terpental hingga puluhan meter.
DUAAAAARRRR!
__ADS_1
Arena menggelegar oleh ledakan cahaya terang benderang.