Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
18


__ADS_3

Bao Hu baru saja terlelap ketika suara gemeresak kering terdengar dari suatu sudut.


Krsk. Krsk. Krrrsk.


Bao Hu tersentak dan menarik duduk tubuhnya, kemudian menyimak dengan waspada.


Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.


Dari mana asal suara aneh itu?


Langit gelap di atas kepalanya. Bao Hu melongok ke malam yang gelap


Puing-puing bangunan hanya berupa bayang-bayang tinggi dan hitam, berlatar belakang langit berawan. Tak ada yang bergerak.


Ada sesuatu yang menimbulkan bunyi itu.


Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.


Bao Hu melayangkan pandang ke bukit. Gelap total. Tidak ada secercah cahaya pun dari puncak bukit.


Tak ada bulan. Tak ada bintang. Tak ada angin.


Krsk. Krsk. Krrrsk.


Bao Hu berbalik dan mengikuti suara itu ke arah sumur. Suara itu semakin keras ketika ia mendekati tepi sumur.


"Shen Zhu!" panggil Bao Hu.


Hening.


Lalu perlahan-lahan cahaya merah memancar keluar dari lubang, Bao Hu melihat jemari tangan mulai merangkak keluar. Lalu tangan lainnya. Menyusul kepalanya.


Bukan Shen Zhu! Bao Hu menyadari.


Sosok itu tidak berambut, bahkan tidak memiliki kulit kepala. Tidak memiliki wajah. Hanya tengkorak.


Tengkorak hitam dengan selubung lidah-lidah api berwarna merah.


Iblis Tengkorak!


Berbeda dengan aura manusia, warna aura iblis mewakili usia kultivasinya. Dan merah darah artinya kultivasinya sudah mencapai sembilan ratus ribu tahun.


Sial! pekik Bao Hu dalam hatinya.


Ia melompat mundur dan spontan memasang kuda-kuda.


Shen Zhu mungkin sudah mati! Bao Hu menyimpulkan.


Ia tahu persis iblis ratusan ribu tahun tak mudah dikalahkan. Ia bahkan tak yakin bisa menghadapinya. Kekuatan iblis ratusan ribu tahun setara dengan kekuatan Ksatria Level Kaisar Tingkat Tinggi.


Selain itu, ia tahu persis iblis tengkorak tak pernah datang sendiri. Mereka selalu bergerombol. Paling sedikit puluhan jerangkong.


Bao Hu mungkin sudah mencapai ranah galaksi. Tapi puluhan iblis ratusan ribu tahun, jika kekuatannya digabungkan setara dengan Ranah Galaksi Tingkat Atas. Bao Hu baru mencapai Ranah Galaksi Tingkat Menengah. Dan aku sungguh celaka! katanya dalam hati.

__ADS_1


Dan sebelum ia sempat bereaksi, tengkorak iblis itu sudah sepenuhnya keluar dari lubang dan merangkak cepat ke arahnya dengan menyeret rantai membara yang mengikat pergelangan kakinya dan mengikat pergelangan kaki tengkorak lainnya dan mengikat pergelangan kaki tengkorak yang lainnya lagi. Demikian seterusnya rantai itu ternyata terhubung secara paralel dengan tengkorak-tengkorak lainnya yang tidak sedikit.


Habislah sekarang! ratap Bao Hu dalam hatinya.


Tapi paling tidak Bao Hu sekarang sudah tahu yang usianya sudah ratusan ribu tahun bukan tengkorak-tengkorak itu, tapi rantainya. Satu-satunya cara untuk melemahkan kekuatan mereka adalah dengan memutus untaian rantai yang menghubungkan mereka satu sama lain.


Tapi itu tak mudah!


Dan sebelum Bao Hu sempat menarik keluar pedangnya dari cincin penyimpanan, lengan kering salah satu tengkorak berhasil merenggut pergelangan kaki Bao Hu dan menariknya hingga ia jatuh terjengkang dan terseret ke arah gerombolan tengkorak itu.


Sengatan rasa panas membakar kaki Bao Hu. Ia berhasil menarik keluar pedangnya dari cincin penyimpanan dan menebas lengan tengkorak itu.


GRAAAKKK!


Pergelangan tangan tengkorak itu terputus, tapi jemari keringnya masih mencengkeram pergelangan kaki Bao Hu.


Bao Hu menarik bangkit tubuhnya dan menjejakkan kakinya di permukaan tanah.


GLAAAAAARRR!


Ledakan cahaya berbentuk lingkaran berpendar dari telapak kakinya dan menyapu barikade tengkorak itu.


Cengkeraman di pergelangan kakinya serentak terlepas. Jemari tengkorak itu remuk berkeping-keping.


Bao Hu memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Melawan gerombolan iblis tengkorak itu tidak ada bedanya dengan mencari mati, pikirnya.


Tapi sebelum mencapai pintu gerbang, sesosok iblis lainnya menghadang Bao Hu.


Bentuk iblis itu seperti manusia, tapi berbulu seperti kera dan bertanduk seperti banteng. Bulunya hitam mengkilat. Dan sepasang tanduknya menyala seperti obor dengan lidah-lidah api berwarna merah darah.


Bao Hu memasang kuda-kuda dan menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan dada sambil menggerak-gerakkan juga pedangnya, membentuk jurus-jurus khas beladiri spiritual. Lalu melesat ke udara dan menukik ke arah iblis bertanduk itu sambil menghujamkan pedangnya.


SLAAAASSSH!


Semburat cahaya biru berbentuk kubah melesat dari sabetan pedangnya dan menyeruak ke arah iblis itu.


DUAAAAARRRR!


Iblis itu berhasil menangkisnya dengan kedua tangan bersilangan di depan wajah.


Dan sebelum Bao Hu melontarkan serangan kedua, iblis itu sudah melontarkan serangan balasan.


WUSSSHHHH!


Segumpal bola api berbentuk seperti komet melesat ke arah Bao Hu.


Bao Hu melambungkan tubuhnya, bersalto di udara dan berhasil menghindari serangan itu.


DUAAAAARRRR!


Bola api itu meledak di dinding batu salah satu bangunan dan meremukkannya.


Bao Hu merentangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan posisi masih melayang di udara. Lalu menggerak-gerakkan pedang dan jemari tangannya sekali lagi mempersiapkan teknik kedua. Formasi lingkaran sihir berbentuk cakram berpola simbol-simbol astrologi tercipta di belakang punggungnya, lalu bersinar semakin terang dan ukurannya membengkak puluhan kali lipat dari ukuran tubuhnya.

__ADS_1


Dan ketika Bao Hu mengayunkan pedangnya ke depan, lingkaran sihir di belakangnya itu melesatkan kilatan halilintar ke arah iblis bertanduk banteng itu.


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!


Iblis bertanduk banteng itu terseret ke belakang hingga membungkuk dengan perut tertekuk, tapi tak sampai jatuh.


Bersamaan dengan itu, gerombolan tengkorak juga sudah merangkak di bawah kaki Bao Hu.


Sial! geram Bao Hu mulai tak sabar. Lalu dengan cepat ia menyiapkan teknik ketiga.


Iblis tengkorak memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang atau berdiri. Tapi lidah-lidah api yang menyelubungi seluruh kerangka tubuhnya bisa menyembur hingga ke awan seperti gunung meletus kalau mereka berhimpun membentuk lingkaran.


Jadi, sebelum mereka melakukannya, Bao Hu sudah terlebih dulu bertindak membuat persiapan.


Ia melipat kedua kakinya di depan tubuhnya dalam posisi duduk bersila di udara.


Sebuah lingkaran formasi sihir tercipta di bawah tubuhnya sebagai lantai.


Dan sesuai perkiraannya, gerombolan iblis tengkorak itu perlahan mulai berhimpun membentuk lingkaran. Lalu sebuah formasi lingkaran sihir berwarna merah tercipta di tengah-tengah mereka yang secara bertahap mulai memancarkan cahaya ke atas dari setiap garis lingkaran dan pola-pola misterius hingga membentuk tabung transparan yang semakin lama semakin memanjang ke atas.


Celakanya, ukuran lingkaran sihir mereka lebih besar dari lingkaran sihir Bao Hu, hingga hampir menelan lingkaran sihir Bao Hu dan mengurungnya.


Bao Hu mengerahkan seluruh kekuatan spiritualnya untuk memperlebar lingkaran formasi sihirnya untuk menangkis serangan itu.


Melihat Bao Hu memaksakan diri, iblis bertanduk banteng itu serentak menyeringai. Lalu melolong sambil mendongakkan kepalanya ke langit seperti serigala. Kemudian menepuk-nepuk dada dengan kedua tangannya seperti kingkong. Dan dalam sekejap ukuran tubuhnya membengkak sepuluh kali lipat.


GROAAAAAAARRR!


Iblis raksasa itu mengayunkan sebelah tangannya ke arah Bao Hu, dan seketika tubuh Bao Hu tersapu hingga terpental jauh ke belakang. Udara berdesir tajam di wajahnya. Isi perutnya seolah terlontar sampai ke tenggorokan. Paru-parunya kosong.


Lalu ia membentur lantai.


Terhempas keras.


BUUUUM!


Rasa panas merayap naik di tulang belakang sampai ke tengkuk. Pandangannya yang berkunang-kunang menyilaukannya. Ia mendengar suara dering keras di gendang telinganya.


Lalu merasakan lantai batu dingin di bawahnya. Ia merasakan retakan dinding tajam berpasir menekan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang di dada.


Rasa kebas di sekujur tubuhnya berangsur-angsur meninggalkannya, digantikan tusukan rasa sakit yang spesifik. Tulang rusuknya berdenyut-denyut. Siku tangannya terasa perih di bawah lengan hanfunya.


Seberapa jauhkah ia terlempar?


Tiga puluh meter?


Lima puluh meter?


Lima ratus?


Tidak! Lima ratus meter pasti akan membunuhnya. Tapi lima puluh meter adalah perkiraan yang bagus. Rasanya seperti selamanya---cukup lama baginya untuk berpikir ia akan mati.

__ADS_1


Tapi aku masih hidup, katanya dalam hati.


__ADS_2