
"Sekte Bao tidak menerima tamu!" teriak seorang penjaga di pintu gerbang.
Shen Zhu berjalan pelan meniti tangga, mengenakan jubah gelap bertudung yang menutupi sebagian wajahnya.
Kedua penjaga gerbang itu menyilangkan tombak mereka untuk menghadang.
Tapi Shen Zhu tidak berhenti. Tetap berjalan ke arah gerbang itu dan menerobos penjagaan begitu saja seakan para penjaga itu hanya berupa sosok tembus pandang.
"Gawat!" para penjaga itu terpekik.
"Orang asing telah menerobos gerbang!" teriak penjaga lain yang berada di bagian dalam gerbang.
Dua pengawal berbaju besi melesat keluar dari dua sisi bangunan dan mendarat di depan Shen Zhu seraya menodongkan tombaknya masing-masing. "Siapa yang berani mengacau?" hardik salah satu dari mereka. "Cari mati!"
Shen Zhu tetap berjalan di sepanjang jalan masuk yang dipagari tanaman mulai dari pintu gerbang hingga ke pekarangan, memeluk kucingnya sambil mengusap-usap kepala kucing itu dengan tenang.
Kedua pengawal itu mengayunkan tombak mereka, satunya mengincar kaki Shen Zhu, satunya lagi mengincar perut Shen Zhu.
Tapi kedua serangan itu melewatinya begitu saja seperti tiupan angin.
Jubah dan rambut Shen Zhu melecut ke belakang sementara langkahnya sudah melewati penjagaan lagi.
Suasana di pekarangan berubah gaduh.
Para pengawal berlarian ke arah Shen Zhu dan menyerangnya serempak. Tapi usaha mereka juga sia-sia seperti upaya menjaring angin.
"Apa dia manusia?" para penjaga mulai panik.
"Serahkan saja padaku!" seorang anak laki-laki berusia sekitar enam atau tujuh tahun melesat dari balkon lantai atas dan menerjang ke arah Shen Zhu seraya mengayunkan pedangnya.
Shen Zhu memicingkan matanya dengan waspada dan memundurkan sedikit wajahnya untuk menghindari sabetan pedang anak kecil itu.
Bocah Tengik dari mana? pikirnya terkejut.
Bersamaan dengan itu, anak kecil itu terbang memutar di udara dan mendaratkan tendangan mengincar dada Shen Zhu.
Mau tak mau Shen Zhu menepiskan tendangan itu dengan pergelangan tangannya.
Sosok mungil itu memantul lagi dan terbang berputar-putar mengitarinya seperti gangsing.
Leher, kemudian jantung! Shen Zhu membatin takjub. Setiap serangannya mengincar titik-titik mematikan. Sangat luar biasa untuk ukuran seorang anak kecil.
Shen Zhu mengayunkan sebelah tangannya untuk menguji refleks anak laki-laki itu. Lebih dari dugaannya, anak laki-laki itu bahkan bisa membendung gerakan Shen Zhu.
__ADS_1
Shen Zhu tersenyum miring. Sorot matanya berkilat-kilat penuh semangat. Lalu memutuskan untuk mengujinya.
Anak laki-laki itu menyapukan tendangan memutar di lantai sementara tangannya mengayunkan pedangnya ke samping, tangan lainnya mendorong perut Shen Zhu dengan tenaga dalam yang disalurkan melalui telapak tangannya.
Shen Zhu membendungnya dengan tenaga dalam yang didorong keluar melalui perutnya.
SLAAAASSSH!
Benturan energi itu meledakan cahaya terang benderang.
Para pengawal di sekeliling mereka tersapu ke belakang hingga radius beberapa meter.
Shen Zhu tertunduk menatap wajah anak laki-laki itu dengan alis bertautan. Anak siapa ini? ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Anak laki-laki itu juga sedang mendongak menatap wajahnya dengan alis bertautan. Wajahnya terlihat seperti anak perempuan. Seperti Shen Zhu ketika masih kanak-kanak.
"Kenapa kau mirip denganku?" Shen Zhu melengak tak percaya.
"Siapa yang mirip denganmu?" geram anak laki-laki itu seraya menyentakkan telapak tangannya, mendorong perut Shen Zhu sekali lagi tanpa menyentuh.
Shen Zhu terkekeh tipis, sambil tetap membentengi diri dengan manna pelindung di bagian perutnya. "Benar juga," godanya. "Kau hanya gadis kecil!"
"Aku bukan gadis kecil!" sembur anak laki-laki itu seraya melambungkan tubuhnya dan memutar di udara, mengayunkan pedangnya ke leher Shen Zhu.
Shen Zhu menyentil mata pedangnya. Benar-benar mirip, pikirnya.
Shen Zhu mengedikkan bahunya sedikit dan tendangan anak laki-laki itu menembus udara kosong.
Anak laki-laki itu kemudian mendarat di lantai dengan posisi kaki masih terentang.
Shen Zhu tertunduk dan menelengkan kepalanya sedikit seraya tersenyum miring. Menarik! katanya dalam hati.
Anak laki-laki itu segera melompat berdiri dengan hanya mengandalkan hentakan kedua telapak tangannya yang bertumpu pada permukaan lantai.
Shen Zhu membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah anak laki-laki itu sembari menyeringai, "Xiao Meimei," godanya sekali lagi. "Di mana ibumu?"
Anak laki-laki itu spontan menarik pedangnya yang tergolek di lantai dengan telekinesis. "Ingin bertemu ibuku? Langkahi dulu mayatku!" tantangnya sambil mengetatkan rahang dan mengepalkan tangannya.
"Mayat?" Suara seorang wanita menyela mereka. "Siapa yang mengizinkanmu menjadi mayat?"
Shen Zhu dan anak laki-laki itu spontan menoleh ke sumber suara.
Seorang wanita dengan gaun dan tatanan rambut elegan melayang ringan ke arah mereka.
__ADS_1
"Nyonya Besar!" para pengawal serempak berlutut ke arah wanita itu.
Nyonya Besar? Shen Zhu mengerjap dan memicingkan matanya. Merasa familier dengan wajah Nyonya Besar itu.
"Guru Jyang?" Shen Zhu memekik tertahan.
Wanita itu balas memicingkan matanya. "Apa aku mengenalmu?"
Shen Zhu tersenyum tipis dan membungkuk seraya menautkan kedua tangannya di depan wajah. "Lama tidak bertemu," katanya dengan sopan.
"Kau—" yang disebut Nyonya Besar itu tergagap dengan dahi berkerut-kerut. Lalu menatap kucing kecil berbulu hitam di pangkuan Shen Zhu. "Xiao Zhu!" pekiknya sambil mencengkram kedua bahu Shen Zhu.
Anak laki-laki di depan Shen Zhu mendongak dengan mata dan mulut membulat.
"Beritahu Ketua, Shen Zhu sudah kembali!" perintah Jyang Yue pada para pengawal.
"Baik!" para pengawal itu membungkuk serempak dan menghambur ke gedung utama.
Shen Zhu menurunkan penutup kepalanya dan menatap Jyang Yue dengan sorot penasaran. "Anda… menikah dengan Ketua?" tanyanya sedikit sangsi.
"Benar," jawab Juang Yue dengan tenang. "Ini putra kami!" Ia memperkenalkan seraya merangkul bahu anak laki-laki yang mirip anak perempuan itu. "Namanya Tianjin. Tianjin, beri salam pada Kakak Zhu!"
"Aku tidak mau!" Anak laki-laki itu memalingkan wajahnya seraya bersedekap dan mendongakkan hidungnya.
Shen Zhu mengerjap dan tersenyum kikuk. Bukan karena sikap penolakan Tianjin. Tapi karena kenyataan mengenai Jyang Yue.
"Jangan berpikir terlalu banyak," Jyang Yue menepuk bahu Shen Zhu. "Ayo! Kita temui Ketua dulu. Dia sangat merindukanmu."
Shen Zhu mengangguk dan memaksakan senyum.
Tianjin memutar tubuhnya sambil mendengus, lalu bergegas mendahului mereka.
Jyang Yue tersenyum pada Shen Zhu dan menepuk-nepuk lembut lengan pemuda itu untuk menenangkannya. "Tianjin masih kecil," katanya menasihati. "Jangan ambil hati perkataannya."
"Tidak! Tentu saja tidak!" sergah Shen Zhu cepat-cepat. Bukan itu yang menggangu pikiranku, katanya dalam hati. Tapi riwayat kelahirannya!
Mencapai pekarangan aula singgasana ketua, seseorang menyeruak keluar dan menghambur ke arah Shen Zhu diikuti dua pria lainnya.
Para pengawal serempak berlutut pada mereka. "Ketua!"
"Shen Zhu!" Suara ketua itu tidak terdengar seperti Bao Hu.
Shen Zhu menghentikan langkahnya dan membeku. Mengerjap dan terpaku menatap pria berparas cantik yang menghampirinya. Kemudian memeluknya. "Guru—" desisnya sedikit tercekat.
__ADS_1
Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.
"Ketua?" desisnya sekali lagi.