Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
132


__ADS_3

"Kau benar-benar gegabah!" gerutu Kaisar Qingyun, kakak ipar Hua Ze.


"Aku hanya tak tahan saja," Hua Ze berkilah.


Long Hua Ze memang masih terlalu muda, mentalnya belum cukup untuk memimpin suatu negara, terutama negara besar seperti Jiangnan.


Setiap tindakannya selalu mendatangkan pro dan kontra. Setiap keputusannya selalu dipandang gegabah.


Tapi tanpa tindakan memulai, bukankah sebuah situasi takkan ada akhirnya?


Long Hua Ze mungkin terlalu gegabah. Sekarang dia tak hanya membongkar kedoknya di depan kakeknya, tapi juga menyebabkan sejumlah pihak tak lagi memihaknya. Tapi dia mempelopori pecahnya revolusi.


Sebagian besar rakyat kecil mendukungnya meski tidak berdaya.


Tapi apa bagusnya dukungan rakyat kecil?


Itulah yang dipertanyakan Kaisar Qingyun ketika Hua Ze berdalih bahwa keputusannya tidak semata-mata mengikuti ego.


Shen Zhu sudah bersama mereka ketika mereka terus berdebat.


Kaisar Qingyun mengundangnya secara pribadi untuk membahas permasalahan Hua Ze secara kekeluargaan.


Sekarang mereka berhimpun di sekeliling meja teh di sebuah taman terpencil di negeri Qingyun.


Taman itu merupakan tempat favorit Kaisar Qingyun ketika butuh menyendiri. Tempat yang tepat untuk bicara dari hati ke hati.


Dan sampai sejauh ini, Shen Zhu belum membuka suara.


Tapi ketika pertanyaan itu muncul, "Apa bagusnya dukungan rakyat kecil?" Shen Zhu langsung angkat bicara.


"Ada satu hal yang bisa mengubah suara rakyat menjadi energi besar," katanya menginterupsi.


Dan seketika, Hua Ze dan kakak iparnya langsung berhenti berdebat. Keduanya menoleh pada Shen Zhu dengan ketertarikan baru.


"Apa itu?" tanya keduanya hampir bersamaan.


"Pilar Dewa," jawab Shen Zhu.


Mata kedua kaisar itu bersinar penuh harapan.


"Tapi hal itu membutuhkan pengorbananmu," Shen Zhu menoleh pada Hua Ze.


"Aku?" Hua Ze menunjuk cuping hidungnya sendiri. "Bukankah aku sudah cukup berkorban?"


"Ada sesuatu yang ingin kuambil darimu," Shen Zhu berterus terang. "Dan itu sangat berharga."


"Apakah lebih berharga dari wajah tampanku?" sela Hua Ze.


"Tergantung mana yang paling berharga menurutmu!" tukas Shen Zhu.

__ADS_1


"Katakan!" potong Hua Ze tak sabar.


"Pusaka Dewa Petaka," Shen Zhu menjawab singkat.


Hua Ze spontan memicingkan matanya. "Pusaka Dewa Petaka?" tanyanya tak mengerti.


"Kipas Belati yang ada di tanganmu!" jelas Shen Zhu.


Hua Ze langsung terdiam.


"Dewa Petaka menyegel mahkotanya dalam tujuh pusaka," tutur Shen Zhu menjelaskan. "Salah satunya disegel dalam senjatamu."


"Ternyata begitu," gumam Hua Ze.


Kakak iparnya menatap mereka dalam diam seakan coba membaca apakah Shen Zhu bisa dipercaya.


"Untuk bisa mendirikan kembali Pilar Dewa, tujuh pusaka harus terkumpul!" Shen Zhu menambahkan.


"Aku sama sekali tak keberatan memberikan senjata pusaka ini padamu," kata Hua Ze sembari mengacungkan kipas yang selalu dibawanya ke mana-mana. "Tapi Dewa Petaka sudah lama dikecam karena dianggap dewa kesesatan. Dari mana datangnya suara rakyat?"


"Dekret Kaisar!" jawab Shen Zhu penuh arti.


Kedua kaisar di depannya serentak mengerjap.


"Kenapa?" tanya Shen Zhu. "Bahkan kalian tidak percaya padaku?" sindirnya. "Kalau begitu lupakan!"


Shen Zhu menerimanya dan menepuk lembut bahu Hua Ze.


Hua Ze kembali ke tempat duduknya.


Kakak iparnya masih bergeming dengan raut wajah tak yakin.


Shen Zhu meliriknya dengan sorot menuntut.


"Aku bukan tidak percaya padamu," Kaisar Qingyun berkilah. "Aku hanya tak yakin nurani rakyat akan berbalik setelah beberapa generasi memegang teguh keyakinan bahwa Dewa Petaka adalah kesesatan. Dekret Kaisar akan dihujat!"


Shen Zhu tersenyum samar. "Kau tak harus mengenakan pakaian lama untuk mempertahankan jati dirimu," katanya dipenuhi arti.


"Aku mengerti," gumam Kaisar Qingyun akhirnya. "Jadi nama apa yang ingin kau gunakan sebagai identitas baru dewa petaka?"


"Kaisar Langit," jawab Shen Zhu dalam bisikan tipis.


Kedua kaisar di depannya serentak tercengang.


Keesokan harinya…


Shen Zhu kembali ke Liuwang.


Dekret Kaisar sudah tersebar di Qingyun dan di Jiangnan.

__ADS_1


"Tautkan segel Kaisar Langit, dapatkan pertolongan Langit!"


Sejumlah penunggang kuda tercepat dikerahkan untuk menyebar simbol Kaisar Langit.


Huruf kanji sederhana berbentuk kuil.


Mudah diingat…


Mudah ditiru…


Semuanya berjalan sesuai instruksi Shen Zhu.


Dalam satu hari, simbol itu sudah tersebar di masyarakat.


Kekaisaran Qingyun dan Kekaisaran Jiangnan bahkan membuat stempel khusus dengan simbol tersebut.


Di sebuah balai pengobatan di pinggiran kota, seorang tabib yang menangani pasien dengan penyakit aneh, menuliskan simbol ini di atas selembar kertas mantra dan membakarnya, kemudian mencampurkannya ke dalam larutan obat.


Awalnya hanya coba-coba.


Hanya menguji kebenaran.


Siapa sangka pasiennya mendadak pulih dan sembuh seketika.


Tabib itu serentak tersungkur di lantai sambil menangis. Mengais pengampunan Kaisar Langit karena telah berani mencobai dewa.


Sejak saat itu, tabib itu menggunakan simbol Kaisar Langit sebagai resep utama pengobatannya.


Di sebuah sekte kecil, di desa terpencil…


Seorang anak laki-laki bertubuh lemah yang tidak pernah naik tingkat, menorehkan simbol Kaisar Langit dengan menggunakan darahnya saking putus asa setelah berkali-kali mencoba berlatih tapi selalu berakhir batuk darah.


Anak itu tidak sadarkan diri selama tiga hari.


Ketika ia sadarkan diri, kekuatan spiritualnya sudah menerobos tingkat terakhir ranah bumi. Ksatria Tingkat Sembilan. Atau level kekuatan spiritual sembilan puluh.


Di sebuah emper toko, dua gelandang yatim-piatu duduk bergelung di dekat tempat sampah. Salah satu dari mereka memungut selebaran berisi simbol Kaisar Langit yang berserak di jalan-jalan, kemudian meniru tulisan itu di tanah untuk sekadar menghilangkan bosan.


Tak lama kemudian, seorang janda bangsawan melintas di depan mereka, mengintip dari jendela kereta dan melihat simbol itu menyala berwarna emas di permukaan tanah. Lalu ia memerintahkan kusirnya menghentikan kereta, menyuruh dua pengawal untuk menaikkan kedua yatim-piatu itu ke dalam kereta dan memberikan mereka makan. Kemudian membawanya pulang untuk diadopsi.


Demikian pada akhirnya, simbol Kaisar Langit berhasil mencetak mitos baru di dua negara. Kemudian sampai di meja Ketua Aliansi.


Bersamaan dengan itu, langit terkuak di atas Laut Elemen. Semburat cahaya emas memancar seperti tabung transparan. Selaksa makhluk mungil seperti bayi berjubah putih dengan sepasang sayap meluncur turun dari khayangan, terbang berputar dan menari-nari, menebarkan serbuk cahaya berwarna emas seperti peri-peri kecil.


Semua makhluk di Benua Jingling tercengang takjub.


Sebuah gulungan raksasa terbuka dari puncak langit hingga ke permukaan air, disertai suara gemuruh yang menyatakan, "Liu Shen Zhu, generasi ketujuh Dewa Zainan, diangkat menjadi Kaisar Langit. Kaisar Dewa Yang Maha Tinggi. Pemimpin tujuh dunia!"


Tidak ada pil dewa yang melayang turun untuk diserap karena kedewaan Shen Zhu bukanlah pencapaian. Tapi takdir dari suatu garis keturunan. Takdir yang telah ditentukan. Anugerah sekaligus kutukan.

__ADS_1


__ADS_2