
Gunung di sisi lain Hutan Perburuan berdentum dan bergemuruh. Semburat cahaya terang berkeredap dan berpendar-pendar seperti kilat yang sambar-menyambar.
Itu bukan pertanda gunung meletus!
Tapi benturan energi besar-besaran sedang terjadi.
GROAAAAAAARRR!
Auman nyaring binatang menggaung seperti terompet perang.
Lim Hua dan Lian Ze menghunus pedang mereka masing-masing sambil berdiri saling membelakangi dengan sikap kuda-kuda.
Seekor monster setinggi lima kaki bertengger di puncak tebing di atas kepala mereka, menggeram sambil melengkungkan punggungnya, bersiap untuk menerkam.
Di sisi lainnya, seekor monster sebesar gajah siap menerjang dengan tanduknya.
Monster di tebing itu dikenal dengan Singa Kaisar. Tubuhnya seperti singa, namun bersayap seperti elang. Bulunya seperti jarum, sementara sayapnya seperti pedang. Di puncak kepalanya, terdapat mahkota dengan permata biru. Itulah sebabnya binatang itu disebut Singa Kaisar. Namun sesuai dengan namanya, level kekuatannya juga sudah mencapai level kaisar.
Monster satunya disebut Badak Panglima. Level kekuatannya setara dengan Ksatria Pengawal Tingkat Tinggi. Tubuhnya sekeras batu gunung. Tanduknya menyala seperti bara.
Satunya level tujuh puluh, satunya lagi level lima puluh. Meski jika Lim Hua dan Lian Ze menggabungkan kekuatan mereka, belum tentu bisa mengalahkan salah satunya mengingat pertahanan Badak Panglima itu sekeras batu gunung. Selain itu, kedua-duanya memiliki elemen yang berlawanan dengan Lim Hua maupun Lian Ze.
"Nyawa kita benar-benar sudah di ujung tanduk," gumam Lian Ze sambil mendongak menatap badak sebesar gajah di depan matanya.
"Nyawaku di ujung kuku," timpal Lim Hua sambil menatap ngeri cakar Singa Kaisar yang tampak seperti pisau.
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Lian Ze.
"Sudah terlambat untuk menghindar," jawab Lim Hua. "Selama kita masih bernyawa, lawan sekuat tenaga!" teriaknya sambil menerjang ke arah Singa Kaisar.
"HIAAAAAAAT!" Lian Ze melesat cepat ke arah Badak Panglima yang sudah menyeruak ke arah mereka.
TRAAAAANG!
TRAAAAANG!
Pedang Lim Hua nyaris terlempar ketika Singa Kaisar itu merentangkan sayapnya. Lim Hua melompat mundur, nyaris terkena sabetan sayapnya.
Singa Kaisar itu melesat dan terbang menukik ke arah Lim Hua.
DUAAAAARRRR!
Semburat cahaya terang berbentuk kubah tiba-tiba melesat ke arah Singa Kaisar itu dan membentengi Lim Hua.
Lim Hua tersentak dan terperangah.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara seseorang berteriak, "Kami datang, Kakak!"
SLASH!
SLASH!
__ADS_1
Tiga orang pemuda melesat ke arah mereka. Tan Liu, Zhen Juan dan Zhang Junda.
"Ah, syukurlah!" Lian Ze mendesah lega. "Kalian datang tepat waktu!"
Lalu dalam waktu singkat, ledakan pertempuran pun mulai meningkat.
TRAAAAANG!
TRAAAAANG!
DUAAAAARRRR!
Kedua monster itu terlihat semakin bersemangat.
Singa Kaisar terbang berputar-putar di atas kepala mereka, sementara sang badak menjejakkan satu kakinya seolah menantang.
BUUUUMMM!
Tanah berguncang ketika badak raksasa itu menghentakkan kakinya.
Kelima pemuda itu menerjang serentak, secara spontan terbagi menjadi dua kelompok tanpa aba-aba.
Tan Liu membantu Lian Ze melawan Badak Panglima, sementara dua lainnya membantu Lim Hua menangkal terjangan sayap dan cakar Singa Kaisar.
Sampai sejauh ini, mereka belum berhasil mendaratkan serangan selain menangkis dan menghindari serangan sang Singa Kaisar, sementara dua lainnya selalu terpelanting setiap kali coba menebas kulit sang badak.
"Benar-benar lawan yang tangguh!" gumam Lian Ze terengah-engah.
"Benar," timpal Tan Liu setengah menggeram. "Tapi tak cocok untuk Kak Hua!" ia menambahkan sambil melompat sekali lagi ke arah badak raksasa itu.
BUUUUMMMM!
Badak itu kembali menjejakkan kakinya dan seketika semua orang di sekelilingnya tersapu oleh terjangan badai cahaya berbentuk lingkaran di bawah kakinya.
"Elemen Singa Kaisar ini cocok denganku," teriak Zhen Juan di sisi lain sambil melejit menghindari kibasan sayap sang singa. "Tapi sayangnya aku sudah mendapatkan kristal yang lebih cocok!"
BLAAAASHHH!
Zhen Juan mengayunkan pedangnya dengan sentakan keras dan seketika energi cahaya berbentuk sabit melesat dari ujung pedangnya.
DUAAAAARRRR!
Energi cahaya itu membentur dinding tebing, sementara sang singa sudah melejit dan terbang menukik ke arah Lim Hua.
"Awas!" teriakan seseorang menyentakkan mereka.
Ledakan cahaya berwarna merah membuncah menyapu Singa Kaisar itu.
DUAAAAARRRR!
Kelima pemuda itu terkesiap bersamaan.
__ADS_1
Empat pemuda dan seorang gadis melayang turun dari balik tebing.
Salah satu dari mereka melayang ke atas kepala Badak Panglima itu dan seketika sebuah lingkaran sihir tercipta di bawah kakinya dan mengendap turun perlahan menggencet badak raksasa itu hingga tiarap, bersamaan dengan itu ia mengibaskan pedangnya ke samping, melontarkan energi cahaya berbentuk sabit ke arah Singa Kaisar itu.
DUAAAAARRRR!
Singa Kaisar itu terpental membentur dinding tebing.
"Adik!" Kelima murid Asrama Tujuh itu berseru gembira.
"Memang di saat penting seperti ini, tetap harus mengandalkanku!" seloroh Shen Zhu sambil mendongakkan hidungnya dengan sikap sok angkuh.
"Kau tokoh utamanya!" tukas Lim Hua setengah mendengus.
"Kalau begitu minggirlah!" sergah Shen Zhu semakin sok angkuh. "Tokoh utama harus beraksi!"
Kakak-kakak seperguruannya serentak melejit ke udara sembari menggerutu.
Sedetik kemudian…
DUAAAAARRRR!
Badak raksasa di bawah lingkaran sihir itu meledak menyemburkan api bercampur bebatuan.
Detik berikutnya, sebongkah kristal berwarna kuning transparan sebesar buah pir bercorak tulisan kuno berwarna perak melayang naik dari tumpukan bebatuan.
Shen Zhu menarik kristal itu dengan menggunakan telekinesis, kemudian mengulurkan tangannya ke depan. Semburat cahaya terang berwarna merah seperti laser memancar keluar dari telapak tangannya menembus mahkota di kepala Singa Kaisar.
Beberapa saat kemudian, sebongkah kristal berwarna biru transparan bercorak tulisan kuno berwarna emas melayang keluar dari mahkota itu.
Semua orang terperangah menatap kedua kristal itu dengan campuran rasa takjub dan tergiur. Itu adalah kristal berharga menurut mereka, tapi tidak berguna untuk Shen Zhu.
Pada siapa dia akan memberikannya? pikir beberapa orang serakah.
Tapi keputusan Shen Zhu kemudian membuat Jialin melengak.
"Kak Tiao, kau saja yang menyimpannya!" Shen Zhu melayangkan kedua kristal itu pada Tiao menggunakan telekinesis.
Tiao mengulurkan tangannya dan menarik kedua kristal itu ke dalam cincin penyimpanannya dengan tenaga dalam.
Jialin bertukar pandang dengan Tianba. Lalu mengerling ke arah kakaknya.
Tiao tetap memasang wajah datar, sementara murid-murid Asrama Tujuh tampak tidak terganggu mendengar keputusan Shen Zhu.
Mereka bekerja sama sebagai satu tim, pikir Jialin. Benar-benar patuh pada perintah Ayah!
Mereka tidak tampak keberatan berbagi hasil. Pasti sudah mendapatkan banyak kristal!
Sementara aku… Jialin mengerling ke arah Tianba sekali lagi. Benar-benar payah! batinnya getir.
Tianba mengerjap dan menelan ludah. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Merasa tersengat oleh tatapan Jialin. Shen Zhu… geramnya dalam hati. Tunggu saja!
__ADS_1
Perburuan itu akhirnya dilanjutkan bersama-sama meski Jialin terus memasang wajah cemberut. Tak peduli bagaimana caranya, aku juga harus mendapatkan kristalku, tekadnya dalam hati. Kecuali Shen Zhu, yang lain tampaknya tak bisa diandalkan.