Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
83


__ADS_3

GROAAAAAAARRR!


Arena menggelora dan berdentum-dentum, di samping berkilat-kilat dan berpendar.


"Ini baru permulaan saja," kata Jyang Ryu bernada datar. "Kau sudah kalang kabut."


"Biasa-biasa saja!" tukas Shen Zhu seraya menyentakkan kedua tangannya ke depan. "Aku menyebutnya…"


DUAAAAARRRR!


Semburat cahaya berwarna-warni seperti pelangi berbentuk sabit membuncah dan meledakan semua sosok ilusi kedua belas zodiak.


"Pemanasan!" Shen Zhu menandaskan.


SLAAAASSSH!


Debu cahaya bertebaran dari arena seperti badai salju.


Para penonton terpekik bersamaan.


Ketika kepulan debu cahaya berwarna-warni itu mulai menipis dan mengendap turun, semua kartu sudah menghilang.


Shen Zhu memutar-mutar semua pedangnya dengan kedua tangan dan ketika menurunkannya di satu tangan, pedang itu sudah kembali seperti semula. Kembali menjadi satu pedang dan tanpa rantai.


Jyang Ryu tersenyum miring dan mendarat di lantai. "Hanya sedikit lebih gesit," katanya mencemooh. "Tak tahu sudah menghabiskan waktu berapa lama, atau seberapa kerasnya kau berlatih, jika kemampuanmu hanya sampai di sini, kau tidak memenuhi kualifikasi untuk menjadi pewaris pusaka dewa."


"Kau begitu terburu-buru ingin dihajar?" dengus Shen Zhu balas mencemooh.


"Tunjukkan jurus andalanmu!" tantang Jyang Ryu sambil mengayunkan tombaknya ke samping.


BLAAAAAARRRR!


Lantai arena kembali menjadi lautan yang menggelora.


Shen Zhu tersenyum miring dan menarik satu kakinya ke belakang, kemudian membungkuk dan menekuk lututnya dalam sikap kuda-kuda. Satu tangannya terentang ke samping menghunus pedang.


Lautan di lantai berubah menjadi darah.


Para penonton serentak terpekik.


"Kolam Petaka!" gumam salah satu tetua.


Bao Hu tertawa dalam hatinya. Sedikit mirip denganku, batinnya. Aku juga pernah meremehkannya!


Jyang Ryu menjentikkan jarinya. Lautan darah di lantai bergeluguk dan berpusar. "Kau memiliki banyak anugerah bakat yang sangat langka," katanya dengan raut wajah tetap datar. "Begitu banyak hingga kau tak bisa fokus. Menjadikanmu tak ahli dalam keterampilan mana pun. Sedangkan aku, hanya terfokus pada akar permasalahan. Dengan begitu, aku bisa memanfaatkan segala situasi."


Jyang Ryu menggerakkan jemarinya di sisi wajah, dan seketika seekor naga berwarna merah darah menggeliat keluar dari pusaran air.


GROAAAAAAARRR!


Shen Zhu terkekeh tipis dan melejit ke arah naga itu sambil mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


BLAAAASSSH!


Semburat cahaya putih kebiruan berbentuk sabit menerjang mata naga raksasa itu.


Ryu tiba-tiba terhuyung dan mengedikkan kepalanya seperti coba menyingkirkan sesuatu dari matanya. Dia sudah tahu! batinnya sedikit panik.


Detik berikutnya, sosok ilusi naga menjadi tidak stabil dan dalam sekejap berubah menjadi patung es.


Shen Zhu mendarat di puncak kepala naga itu, kemudian tertunduk menatap Ryu seraya tersenyum miring. "Ternyata Mata Ganda-mu adalah tubuh utamamu," dengusnya. "Pantas saja hanya bergeming!" Lalu melesat dan terbang menukik ke arah Jyang Yue sambil menghujamkan pedangnya.


Jyang Ryu menghujamkan tombaknya ke atas untuk menahan pedang Shen Zhu.


Dua buah kubah cahaya berbeda warna meledak dari ujung senjata mereka masing-masing. Kedua senjata itu bertautan dan saling mendorong satu sama lain.


DUAAAAARRRR!


Ledakan kembali membuncah.


Gedung arena kembali berguncang dan bergoyang-goyang. Suara gemuruh mendominasi seluruh ruangan.


Patung naga meledak dan Shen Zhu terlempar ke udara. Ia menjejakkan kakinya ke dinding kemudian memantulkan dirinya ke tengah arena dan menerjang lagi ke arah Ryu seraya melontarkan rantai dari telapak tangannya.


Ryu berhasil menyergap rantainya dan menyentakkannya, tapi bersamaan dengan itu, Shen Zhu mengayunkan pedangnya.


TRAAAAANG!


Ryu berhasil menangkisnya dengan tombaknya, tapi lagi-lagi Shen Zhu sudah menyiapkan rencana cadangan.


Ryu balas melemparkannya.


Lalu keduanya terhempas membentur dinding.


DUAAAAARRRR!


Dinding arena yang telah dilapisi ranah pelindung tetap meledak.


Para penonton terperanjat.


Kedua peserta itu mendarat bersamaan dengan napas terengah-engah. Lalu kembali memasang kuda-kuda.


Ryu kembali mengetukkan tombaknya di lantai, dan lagi-lagi lantai itu berubah menjadi lautan.


Shen Zhu melompat keluar dari air kemudian menjejakkan sebelah kakinya di permukaan air dan dalam sekejap lautan itu berubah menjadi es.


Jyang Ryu tersenyum miring. "Kau kira itu berpengaruh?" ejeknya sambil mengayunkan tombaknya ke atas.


Tiba-tiba langit di atas arena yang terbuka itu mendadak mendung. Awan-awan gelap menggulung disusul keredap kilat dan gelegar halilintar, kemudian menumpahkan hujan.


"Ingin beradu sulap?" Shen Zhu menyentil pedangnya dan sekali lagi suara berdenting membahana seperti lonceng raksasa. Lalu semburat cahaya pelangi memancar ke ujung pedangnya hingga menembus langit dan menjadikan seluruh tempat terang benderang. Lalu ketika cahaya meredup, hujan berhenti dan pelangi membentang di atas arena.


Para penonton menggumam takjub.

__ADS_1


"Apa Mata Ganda-mu hanya menjadikanmu ahli sulap dan membual?" cemooh Shen Zhu.


"Tidak perlu buru-buru," tukas Ryu seraya menggerakkan jemarinya lagi di sisi wajah. Tali kilat memancar dari telapak tangannya. "Rasakan saja pelan-pelan," katanya.


"Ternyata dia juga memiliki elemen ganda!" seru seorang juri.


"Dia baru mengeluarkannya!" timpal yang lainnya.


"Kecuali trik kartu, aku belum merasakan serangan!" sanggah Shen Zhu seraya memasang kuda-kuda lagi.


Ryu melontarkan elemen petirnya ke langit. Tali petir menjalar menembus awan. Dan ketika ia menyentakkan tali petir itu ke bawah, sebongkah bola api sebesar gunung meluncur ke bawah seperti bintang jatuh.


Para penonton terpekik ngeri.


Ketua dan para ksatria kembali menegang dan memucat.


"Elemen api juga!" desis juri yang tadi seraya mendongak dan menelan ludah.


Shen Zhu kembali menyentil mata pedangnya, semburat cahaya putih kebiruan melesat keluar dan bersamaan dengan itu, Shen Zhu menghujamkan pedangnya ke atas.


BLAAAASSSH!


Cahaya seperti laser menembus bola api itu.


Shen Zhu melejit dan menyerampang ke sana-kemari seraya mengayun-ayunkan pedangnya dalam gerakan cepat yang membuatnya terlihat seperti berkeredap dan berpindah-pindah tempat dalam sekejap.


Jyang Ryu mengulurkan tangannya ke atas dengan jemari membentuk cakar, kemudian mengepal dan seketika bola api itu meledak dan berubah menjadi hujan api.


Para penonton kembali terpekik dengan ngeri.


Shen Zhu memutar-mutar tubuhnya di udara dan pada waktu bersamaan, pedangnya kembali membelah diri yang dalam sekejap berubah menjadi cakram yang terus berputar, semakin lama semakin cepat. Sebuah lingkaran formasi sihir tercipta dari putaran itu, kemudian menyapu dan menyerap habis hujan api di atas arena.


"Trik sulapmu membuatku bosan!" gerutu Shen Zhu sambil menerjang ke arah Ryu.


Ryu mengayunkan tombaknya seraya melejit menjauhi Shen Zhu.


"Ternyata tubuhmu hanya kotak sulap!" cemooh Shen Zhu sambil menerjang lagi ke arah Ryu.


"Memangnya siapa di sini yang ksatria?" sergah Ryu seraya memutar di udara dalam gerakan salto. Kemudian mendarat dan menyapukan tendangan memutar di lantai, tepat ketika Shen Zhu hampir mendarat.


Shen Zhu tergelincir, namun dengan cepat ia melompat ke belakang dengan gerakan salto. Lalu menerjang lagi dengan berlari secepat kilat.


Ryu memutar-mutar tombaknya di depan wajahnya seperti kincir angin. Pusaran air membuncah dari tombaknya dan menerjang Shen Zhu.


"Lagi-lagi trik sulap!" gerutu Shen Zhu sambil melompat dan terbang berputar-putar dengan posisi horizontal. Pedangnya terjulur lurus ke depan dan menyeruak ke tengah-tengah pusaran air itu.


DUAAAAARRRR!


Arena kembali membuncah oleh ledakan cahaya dan gelegar halilintar. Kemudian berguncang dan bergemuruh.


Kedua peserta menghilang dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2