Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
92


__ADS_3

"Kalian tunggulah di sini!" Shen Zhu berkata pada rombongan itu.


Rombongan itu serentak menegang. Seperti anak-anak yang akan kehilangan ayahnya.


"Tuan Muda mau ke mana?" tanya pemuda yang bukan seorang Liu, yang dengan suka rela mengikut mereka. "Perlu kutemani?"


"Tidak perlu, aku tak akan lama," jawab Shen Zhu seraya memutar kudanya ke arah hutan belantara. "Jangan bertengkar!" pesannya sebelum pergi.


Para penduduk itu tersenyum kikuk. Lalu saling melirik satu sama lain.


Xiao Mao melompat dari pangkuan Shen Zhu, kemudian mendarat di sisi kuda yang ditungganginya. "Bagaimana kalau kita balapan?" tantangnya.


"Baik!" Shen Zhu menanggapinya dengan antusias, "Siapa takut?" Kemudian mempercepat laju kudanya sementara Xiao Mao berlari di sisinya seperti puma.


Mencapai sebuah tebing, Shen Zhu menghentikan kudanya.


"Kau payah!" ejek Xiao Mao yang tahu-tahu sudah berdiri dan bersedekap di tepi tebing di depan Shen Zhu dalam wujud manusia.


Shen Zhu melompat turun dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon. Kemudian berjalan pelan menghampiri Xiao Mao di tepi tebing.


"Lembu petarung tingkat lima!" Xiao Mao memberitahu sambil menunjuk ke arah lembah.


"Hanya monster tingkat lima?" Shen Zhu menyandarkan sebelah bahunya pada sebatang pohon dan menautkan kedua kakinya. "Bermainlah dengannya!" instruksinya sambil mengayunkan dagunya ke arah lembah.


"Baik!" Xiao Mao menanggapinya dengan bersemangat. "Kalau begitu aku harus mendapat jatah paling banyak."


"Tidak masalah," jawab Shen Zhu tanpa ekspresi.


Sedetik kemudian, Xiao Mao sudah melesat ke arah lembah dan mendarat di depan seekor sapi buas berkulit keras seperti badak. "Mau mencoba cakarku?" tantangnya seraya memasang kuda-kuda.


GROAAAAAAARRR!


Monster itu menggeram seraya melengkungkan punggungnya. Kepalanya tertunduk dalam posisi siap menanduk.


Xiao Mao tersenyum miring.


Monster itu menjejakkan satu kakinya ke permukaan tanah. Bukit di belakangnya bergetar dan retak. Bongkahan kecil bebatuan berguguran di sekelilingnya.


BUUUMM!


Monster itu menerjang ke arah Xiao Mao. Namun pada saat bersamaan, Xiao Mao juga menerjang ke arah monster itu dengan tendangan harimau. Benturan energi keduanya menyebabkan lembah disapu oleh ledakan cahaya bersama suara bergemuruh.


Shen Zhu mengawasi pertarungan itu dengan ekspresi datar. Berdiri miring bertopang pada satu kaki dengan satu bahu bertopang pada batang pohon seraya bersedekap. Ujung kakinya tertaut di punggung kaki lainnya.


"HIAAAAAAAT!" Xiao Mao terlihat bersemangat. Menerjang di sana-sini, menyerampang dan memantul-mantul seraya mendaratkan tendangan mengincar titik-titik paling mematikan di tubuh monster berkulit keras itu.

__ADS_1


Terlihat sekali sedang bermain-main.


Sebagai makhluk spiritual yang terikat perjanjian darah dengan Shen Zhu, gadis itu sebetulnya memiliki kekuatan setara, karena pada prinsipnya, perjanjian darah adalah berbagi daya hidup dan kekuatan.


Tapi tampaknya Xiao Mao sedang sedikit senggang.


"Xiao Mao," Shen Zhu menegurnya dengan bujukan lembut. "Jangan lama-lama!"


"Baik!" Xiao Mao melompat ke atas panggung monster itu, menjejakkan sebelah kakinya untuk kemudian memantulkan tubuhnya dan bersalto di udara, kemudian mendarat di samping binatang itu dengan ringan.


Ia mengulurkan tangannya ke samping dengan jemari membentuk cakar, beberapa inci dari leher monster itu. Semburat cahaya berwarna merah darah berpendar dari telapak tangannya dalam bentuk tali kilat yang dalam sekejap sudah menyergap leher monster di sampingnya.


Lalu ketika gadis itu mengepalkan tangannya…


DUAAAAARRRR!


Monster itu tersentak dan jatuh terguling seperti disambar petir.


Shen Zhu mengulurkan tangannya ke arah lembah dengan jemari terkembang. Cincin penyimpanannya menyala dan menerangi tubuh monster itu dan menghisapnya ke dalam cincin. Lalu kembali bersedekap.


Xiao Mao melompat naik dengan gerakan salto dan mendarat di sisi Shen Zhu dalam posisi setengah jongkok setengah berlutut, satu kakinya mendarat dengan lutut sementara kaki lainnya mendarat dengan telapak kaki. Lalu mendongak menatap Shen Zhu seraya tersenyum miring.


Shen Zhu balas menatapnya seraya tersenyum samar. Masih bergeming dengan posisi berdiri miring dan bersedekap. Bisa dikatakan terlalu santai.


"Jangan lupa jatahku!" Xiao Mao mengingatkan sambil menarik bangkit tubuhnya dan mendekat ke arah Shen Zhu.


Xiao Mao menggembungkan pipinya dan mengekor di belakangnya dengan cemberut.


Shen Zhu melompat naik ke atas kudanya dan mengulurkan sebelah tangannya, mengisyaratkan Xiao Mao untuk kembali ke pelukannya sebagai si kucing kecil.


Xiao Mao menghentakkan sebelah kakinya sambil menggerutu. "Kenapa aku tak boleh menjadi gadis?"


"Tidak mau kupeluk?" ancam Shen Zhu, tetap dingin dan datar.


Kedua mata Xiao Mao spontan membulat. "Dipeluk?" pekiknya antusias. "Aku suka!" katanya sambil melompat ke dalam pelukan Shen Zhu, duduk miring di paha Shen Zhu dengan kedua tangan menggelayut di lehernya.


Sebagai seorang gadis!


Shen Zhu spontan tergagap dan mengerang. Lalu mengernyit dan menjauhkan wajahnya seraya menggertakkan gigi. "Sebagai Xiao Mao!" desisnya dalam geraman tertahan.


Xiao Mao artinya kucing kecil.


Xiao Mao mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah sebal. "Kenapa kau berubah membosankan setelah bangun dari koma?" gerutunya dalam gumaman lirih.


Shen Zhu mendesah berat dan terdiam. Memandang ke dalam mata Xiao Mao dengan sorot memelas.

__ADS_1


"Xiao Mao," katanya setelah sejenak terdiam, lalu mengusap puncak kepala Xiao Mao. "Kau tak boleh begini saat menjadi manusia," ia menasihati.


"Kenapa?" gumam Xiao Mao. "Mengganggu pernapasanmu?"


Shen Zhu tersenyum geli. "Ya," jawabnya tanpa ekspresi. "Aku menderita gangguan pernapasan sejak mengetahui wujud aslimu!"


"Kau memang membosankan!" sembur Xiao Mao seraya memukul dada Shen Zhu dengan kepalan tangannya.


Shen Zhu tersenyum samar.


"Situasi macam apa ini?" Suara bariton seseorang mengusik mereka.


Shen Zhu dan Xiao Mao serentak menoleh ke sumber suara dan mendapati tiga orang pria berpakaian khas pemburu monster berdiri tak jauh dari mereka, mengenakan mantel kulit binatang dan membawa senjata tajam. Panah, tombak dan pedang.


"Sembunyi di dalam gelap, berdua-duaan di hutan pada malam hari… rasanya aku mencium bau skandal kaum bangsawan!" kata salah satu dari mereka.


"Dan aku mencium bayaran tinggi!" timpal pria lainnya.


"Daripada itu, aku lebih tertarik dengan wanitanya!" timpal yang lainnya lagi.


"Jangan coba-coba berebut denganku!" sergah pria pertama sambil menjulurkan sebelah tangannya ke samping, menghadang rekannya.


"Kalian datang mencari mati?" tanya Shen Zhu dengan ekspresi dingin. "Katakan, ingin mati dengan cara apa?"


Ketiga pria itu terbahak-bahak.


"Kakak!" Xiao Mao mendongak ke arah Shen Zhu dengan sorot memohon. "Aku boleh bermain?"


"Tidak," jawab Shen Zhu tanpa mengalihkan perhatiannya dari ketiga pria itu. Ia melompat dari kudanya sambil membopong Xiao Mao, kemudian menurunkan gadis itu dan melipat kedua tangannya ke belakang. Lalu mendekat ke arah tiga pria itu.


Ketiga pria itu serentak menghunus senjata mereka masing-masing dengan sikap waspada.


"Begini saja," kata Shen Zhu sambil menarik satu lengannya dan tahu-tahu sudah berdiri di samping pria yang pertama, menyentuh dahi pria itu dengan ujung telunjuk dan jari tengahnya. "Kuberi kau… kematian tanpa harapan!"


Pria itu terkesiap dan terbelalak. Lalu tersentak dan terjengkang dengan tubuh kaku yang sudah tidak bernyawa.


Dua pria lainnya tersentak ke belakang dan terperangah.


"Kuberi kau..." Shen Zhu mengulurkan tangannya ke arah pria kedua, kemudian mengepal. "Kematian sesak!"


Pria kedua tiba-tiba terangkat beberapa inci dari permukaan tanah dengan leher tercekik tali cahaya berwarna merah berkilat-kilat. Pedang di tangannya terlempar sementara kedua tangannya terangkat ke lehernya, mencoba merenggut sesuatu yang tak tersentuh untuk melepaskannya. Kedua kakinya mengais-ngais udara kosong dengan kalang-kabut.


Pria terakhir berteriak ketakutan seraya berbalik dan menghambur.


Shen Zhu mengayunkan tangan lainnya, menebarkan bola-bola cahaya berwarna emas seperti taburan bunga dandelion ke arah pria itu. "Kuberi kau kematian tanpa rasa sakit!" tandasnya tetap memasang ekspresi datar.

__ADS_1


Sedetik kemudian, kedua pria itu sudah terkapar tanpa cahaya kehidupan.


"Sangat menggangu," gerutu Shen Zhu tanpa ekspresi. Lalu berbalik sambil menyilangkan tangannya lagi di belakang tubuhnya dengan raut wajah datar.


__ADS_2