Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
121


__ADS_3

"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya!" Suara Ketua Aliansi menggelegar di tengah arena yang telah meledak. "Gedung arena telah hancur. Dengan ini, aku nyatakan Ujian Ksatria resmi ditutup!"


Orang-orang terpekik di sana-sini. Menggumam bising seperti dengung lebah yang sedang gelisah.


"Di mana muridku?" Bao Yu berteriak dari tengah-tengah kerumunan, terombang-ambing di antara semua orang yang berseliweran melarikan diri.


"Muridmu?" Ketua Aliansi tergelak dan terbahak-bahak.


Bao Yu mengetatkan rahangnya dan menerjang ke arah Ketua Aliansi.


TRAAAAANG!


Sejumlah mata tombak tertaut di sekeliling lehernya. Sekelompok ksatria tahu-tahu sudah mengepungnya.


Bao Yu membeku dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya.


SLAAAASSSH!


SLAAAASSSH!


Sejumlah belati melesat ke arah para ksatria yang mengepung Bao Yu.


Bao Yu memanfaatkan kesempatan itu untuk melesat keluar dari kepungan dan melarikan diri.


Sedetik kemudian, pertempuran meledak di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang sedang mencoba beranjak dan menggeliat-geliut dalam himpitan puing bangunan yang telah hancur.


Sejumlah ksatria menerjang ke arah Bao Yu dan memburunya.


SLAAAASSSH!


SLAAAASSSH!


Hujan belati membadai dari berbagai arah. Para Sicarii melompat keluar dari sudut-sudut pekarangan.


Sesosok bayangan gelap melesat ke arah Bao Yu dan menyergap pergelangan tangannya, kemudian membawanya terbang melesat menembus awan.


Sekelompok pemuda berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat menyeruak di koridor menuju gedung tahanan.


Sekelompok besar ksatria mengepung mereka.


Jyang Ryu melejit ke udara, kemudian terbang memutar seraya mengayunkan tombaknya ke arah kelompok ksatria itu.


SLAAAASSSH!


Ketua Aliansi menjentikkan jarinya dan melontarkan energi cahaya ke arah Jyang Ryu. "Sekte Majusi ingin memberontak?" geramnya dengan suara yang membahana. Kemudian menjulurkan sebelah tangannya ke depan dengan jemari membentuk cakar.


Jyang Ryu tercekik tanpa tersentuh, kemudian mengambang di udara sembari menggeliat-geliut memegangi lehernya.


WUSSSHHH!


Semburat cahaya berbentuk sabit melesat ke pergelangan lengan Ketua Aliansi, dan seketika Jyang Ryu terbebas.


Seorang gadis bergaun elegan dengan cadar putih melesat ke arah Jyang Ryu dan melarikannya.

__ADS_1


"Tangkap semua orang yang memberontak!" Ketua Aliansi berteriak murka.


Lalu dalam sekejap para ksatria melesat ke arah Jyang Ryu dan beterbangan seperti kawanan burung.


Sejumlah gadis bergaun elegan dengan cadar putih lainnya menyeruak mencegat mereka sementara gadis pertama yang melarikan Jyang Ryu terbang melesat dan menghilang di balik awan.


"Aku ingin Sekte Bao, Sekte Majusi dan Sekte Dewa Pemburu diratakan sekarang juga!" perintah Ketua Aliansi.


Sejumlah besar ksatria menyeruak dari berbagai sudut bangunan dan menghambur keluar gerbang.


Orang-orang menjerit di sana-sini. Berlarian tanpa arah dengan tersaruk-saruk di antara puing-puing bangunan yang berserakan di mana-mana.


Rombongan Sekte Shu menyelinap diam-diam dan melarikan diri.


Di Sekte Majusi, Jyang Ryu menyeruak ke dalam rumah dan berteriak pada istrinya dengan terengah-engah. "Bawa Shu Xie dari sini!"


"Apa yang terjadi?" Xie Ma tersentak.


"Long Qiuyun sudah menjadi dewa, Ujian Ksatria berakhir kisruh. Sekte kita mungkin akan diserang sebentar lagi!"


Long Qiuyun adalah nama Ketua Aliansi Ksatria.


"Apa?" Xie Ma menoleh ke arah Ryu dengan mata dan mulut membulat.


Baru selesai Ryu mengatakannya, suara berderak dan berdebuk ribut terdengar di pekarangan, disusul teriakan-teriakan kasar dan ledakan pertempuran.


Jyang Ryu mendesah kasar seraya mengatupkan matanya.


Bersamaan dengan itu, atap rumah mereka meledak diterobos seseorang.


"Paman!" Xie Ma terpekik dan tergagap-gagap.


"Waktunya sudah mendesak! Berikan putrimu!" Liu Tang menghambur ke arah Xia Ma dan merenggut putrinya. "Aku akan membawanya ke Sekte Liu."


"Ibu!" Shu Xie menjerit dan meronta-ronta di pangkuan Liu Tang.


"Tidak apa-apa, Shu Xie. Ikutlah dengan Kakek Tang. Ibu akan menyusul!"


"Tidak mau! Tidak mau!" gadis kecil itu mengais-ngais udara kosong ketika Liu Tang melarikannya.


Xie Ma memejamkan matanya dan menghela napas dalam-dalam. Lalu melesat keluar bersama Jyang Ryu.


Pertempuran sudah membara di pekarangan.


Begitu juga di Sekte Bao.


Bao Yu dan istrinya juga putranya memantul-mantul di tengah kepungan para ksatria yang dikirim Aliansi untuk meratakan sekte mereka.


Para tetua dan guru-guru berjibaku di sana-sini untuk melindungi murid-murid junior.


Di Sekte Dewa Pemburu, peperangan juga berlangsung sengit. Sekte Shu membantu mereka.


Seekor kuda melesat keluar dari istana kekaisaran Jiangnan. Seorang pria berjubah gelap dengan tudung kepala menunggangi kuda itu menuju perbatasan negara.

__ADS_1


Long Hua Ze, bergegas menuju kekaisaran Qingyun di mana kakak perempuannya, Long Yueyan menjadi permaisuri.


Kaisar Qing sudah menunggunya dengan gelisah. Ia sudah tahu adik iparnya akan segera menemuinya.


Insiden di Markas Besar Aliansi Ksatria membuat mereka mengerti situasi benua sudah genting.


Tidak lama lagi, Ketua Aliansi segera menyadari konspirasi mereka.


"Kirim bantuan untuk menyelamatkan beberapa sekte yang dikecam Aliansi Ksatria!" pinta Hua Ze tanpa basa-basi, begitu ia bertemu dengan kakak iparnya. "Dewa Petaka itu akan membunuhku kalau sampai gurunya mati."


"Kakekmu sudah menjadi dewa sekarang," sergah kakak iparnya. "Dia juga akan membunuhmu kalau sampai tahu cucunya memberontak!"


"Lebih baik mati di tangan Kakek dari pada mati di tangan Liu Shen Zhu," Hua Ze berkilah. "Percayalah, setelah mati pun kita masih akan disiksa di dunia bawah kalau menentang Dewa Petaka!"


Kaisar Qing terkekeh menanggapinya.


"Ke mana perginya pasukan abadi kerajaanmu?" Yueyan menyela.


"Aliansi Ksatria sudah menurunkan perintah darurat di Jiangnan," erang Hua Ze tak berdaya.


Dan sebelum Kaisar Qing mengeluarkan perintah, seorang utusan Aliansi Ksatria datang membawa perintah darurat berisi: Setiap kekaisaran wajib mengirim satu legiun tentara. Atau akan dianggap sebagai pemberontak dan kekaisaran akan dihapuskan.


Di Kota Pangkalan, para ksatria mendapat misi darurat. Meratakan Sekte Bao, Sekte Majusi dan Sekte Dewa Pemburu.


"Celaka!" gumam Qianxi. "Tak disangka revolusi akan tiba secepat ini," katanya pada Li Qinfeng.


Ketika sejumlah divisi bergegas keluar benteng, Qianxi dan teman-temannya, dibantu divisi rahasia Liu Tang terpaksa menghadang mereka meski kalah jumlah.


Pertempuran pun tak terelakkan.


Kota Pangkalan berubah menjadi medan perang.


Rencana pemberontakan berubah menjadi penjajahan.


Celakanya, perintah darurat juga sudah menyebar di masyarakat. Setiap sekte wajib mengirim pasukan ke Aliansi Ksatria dengan dalih krisis militer.


Bersamaan dengan itu, merebak isu bahwa Sekte Bao, Sekte Majusi, Sekte Shu dan Sekte Dewa Pemburu terbukti sesat.


Benar-benar celaka!


Sementara itu, di Benua Jingling, Shen Zhu terpuruk tidak sadarkan diri setelah berhasil mencabut Tongkat Kaisar. Mungkin butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan kesadarannya. Meski selama itu ia mendapat penglihatan mengenai kekacauan di Benua Xuang melalui mimpi buruk yang menelannya begitu dalam.


Begitu ia sadarkan diri, Shen Zhu telah resmi menjadi penerus tahta kaisar dan akan menjalani serangkaian acara dan ritual penobatannya.


Sungguh merepotkan!


Situasi di negeri asalnya sudah sekarat.


Tapi Kaisar Liu tidak mengerti. Jadi, ia membiarkan Shen Zhu tetap beristirahat.


Liu Tang dibuat kocar-kacir.


Sejumlah murid terbaik yang dimiliki perguruan Sekte Liu dikerahkan untuk membantu Sekte Majusi. Para Sicarii dikirim ke Sekte Bao.

__ADS_1


Siapa sekarang yang bisa membantunya untuk menenangkan dua kekaisaran?


__ADS_2