
BUG!
Mencapai sebuah lapangan di atas bukit, Bao Yu tiba-tiba mendaratkan tendangan di punggung Shen Zhu hingga anak laki-laki itu jatuh tersungkur.
Pedang karatan Shen Zhu sampai terlempar dari genggamannya.
"Guru?" Murid-murid seniornya memekik terkejut. Tidak mengira guru mereka akan menyerang Shen Zhu. Lalu salah satu dari mereka menghambur ke arah Shen Zhu untuk menolongnya.
"Biarkan dia berdiri sendiri!" hardik Bao Yu pada murid yang coba menolong Shen Zhu.
Murid-murid Bao Yu membeku dengan ekspresi bingung.
"Apa salah Adik?" tanya salah satu dari mereka.
"Bangun, Liu Shen Zhu!" teriak Bao Yu, tidak menggubris pertanyaan murid seniornya. "Ambil pedang jelekmu dan lawan aku. Kau ingin menjadi lebih kuat, kan?"
Shen Zhu merayap dengan gemetar untuk kemudian memungut pedangnya, lalu menghela bangkit tubuhnya dengan terhuyung. Alih-alih menyerang, dia malah berlutut di depan Bao Yu.
Pada saat yang sama, Bao Yu mendaratkan tendangan lagi. Kali ini di bawah rahangnya.
Shen Zhu kembali terlempar dan jatuh terjengkang.
"Guru! Jangan hukum Adik lagi!" teriak murid-murid lainnya sambil berlutut serempak di depan Bao Yu.
Bao Yu memelototi mereka sambil mengetatkan rahang, "Baik," katanya. "Kalian semua, lawan dia!" perintahnya dalam geraman dalam.
"Apa?" Murid-murid itu memekik bersamaan.
"Ingin membantah Guru?" desak Bao Yu.
"Tapi—" mereka tergagap-gagap.
"Apa salah Adik?" tanya salah satu dari mereka dalam bisikan lirih.
"Lawan dia!" ulang Bao Yu dengan suara lantang.
"Guru!" Murid-murid itu tersungkur bersamaan.
"Masih berani memanggilku Guru?" bentak Bao Yu.
"Baik!" Murid-murid itu serentak beranjak, menghambur ke arah Shen Zhu dan mengepungnya.
Shen Zhu menelan ludah dan memucat. Apa aku salah bicara tadi? Apa aku menyinggung Guru? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. "Guru! Aku tak ingin melawan guru dan kakak-kakak! Aku tak ingin menjadi kuat lagi!"
"Apa?" geram Bao Yu. "Begitu cepat kau sudah berubah pikiran? Di mana jiwa ksatriamu?"
"Aku tak ingin melawan Guru dan kakak-kakak!" ulang Shen Zhu.
"Hajar dia!" perintah Bao Yu.
Dan…
__ADS_1
BUG! BUG! BUG!
Pukulan kakak-kakak seperguruannya menerjang dari berbagai arah.
Shen Zhu terhuyung dan jatuh berlutut sambil terbatuk-batuk hingga memuntahkan segumpal darah.
"Lebih keras lagi!" perintah Bao Yu sekali lagi.
"Guru! Kumohon!" Salah satu dari murid senior itu berlutut di depan Bao Yu. "Kalau diteruskan, bisa-bisa… Adik terbunuh!"
"Aku memang ingin membunuhnya," tukas Bao Yu tanpa ekspresi.
"Apa?" Murid-muridnya memekik bersamaan.
Shen Zhu menatap gurunya dengan dahi berkerut-kerut.
"Baiklah," geram Bao Yu tak sabar. "Aku tahu kalian semua para pengecut tak bisa melakukannya. Biar aku saja yang melakukannya." Begitu ia selesai mengucapkannya, ia sudah menerjang ke arah Shen Zhu dan mendaratkan tendangan di dada anak itu.
BUG!
Shen Zhu kembali terjerembab. Darah menyembur dari mulutnya.
Ketika Bao Yu berusaha mengayunkan kakinya lagi, murid-murid seniornya menyergap kaki Bao Yu di sana-sini.
"Guru! Jangan bunuh Adik!" ratap mereka.
"Ternyata kalian semua begitu payah," geram Bao Yu. "Begitu mengecewakan dan… memalukan." Ia menyentakkan sebelah kakinya dan menjejakkannya di permukaan tanah, dan seketika semua muridnya terpental. "Aku akan membunuh kalian semua orang-orang tak berguna."
"Tak ingin mati? Maka patuhlah!" tegas Bao Yu. Lalu menudingkan telunjuk ke arah Shen Zhu. "Bunuh orang tak berguna ini!"
Murid-murid senior itu kembali bangkit dan memasang kuda-kuda. Dengan terpaksa mematuhi perintah gurunya.
"Serang bersama-sama!" instruksi Bao Yu.
Dan…
BUUUUUUUUM!
Gabungan kekuatan spiritual murid-murid senior itu meledak menyemburkan semburat cahaya terang benderang bercampur gemuruh angin hingga seluruh tempat hanya terlihat putih di dalam penglihatan Shen Zhu.
Teriakan Shen Zhu melengking dan membahana, memantul-mantul ke dinding tebing. Tubuhnya terpelanting hingga ratusan meter dan mendarat dengan punggung membentur dinding tebing.
BRUAAAAAAKKKK!
Jeritan Shen Zhu berakhir dan tubuhnya berhenti bergerak. Pedangnya yang berlumuran darahnya sendiri, terlepas dari genggaman tangannya yang jatuh terkulai.
Sesuatu yang dingin menarik Shen Zhu ke dalam kegelapan. Dan ia bisa merasakan tubuhnya melayang ringan. Tidak merasakan sakit lagi.
Shen Zhu mengerjap dan mencoba membuka matanya. Ia melihat sebuah lubang, jauh di atas kepalanya. Dan ia seperti meluncur jatuh menjauhinya.
Ia mencoba mengulurkan tangannya, tapi hanya menggapai udara kosong.
__ADS_1
Apa aku sedang terjun ke jurang? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Dan ketika ia menduga punggungnya akan membentur dasar jurang, tubuhnya tiba-tiba berhenti dan mengambang di udara.
Shen Zhu mengedar pandang dan menyadari dirinya bukan sedang meluncur ke dasar jurang dengan posisi terlentang, tapi sedang melayang ke dalam gua dengan posisi berdiri dan terbang mundur.
Tak lama kemudian, kedua kakinya mendarat ringan di atas permukaan batu.
Shen Zhu terhuyung dan memutar tubuhnya, memeriksa sekelilingnya dengan wajah linglung.
Sesuatu di belakangnya menarik perhatiannya.
Sebilah pedang tertancap di permukaan batu itu dan menyala merah mengeluarkan lidah-lidah api dan kepulan asap tipis berwarna hitam.
Shen Zhu tertunduk menatap pedang itu dengan mata terpicing, merasa familier dengan pemandangannya.
Ia mengedar pandang dan mendapati dirinya sedang berdiri di tengah ruangan yang sepintas terlihat seperti arena pertempuran. Tapi di sekelilingnya tak ada barisan bangku penonton. Hanya ada barisan rak dan tumpukan buku-buku berjilid tebal hingga ke langit-langit.
Ruangan itu juga sama luasnya dengan arena pertempuran.
Lantainya berlapis lingkaran cahaya transparan berbentuk cakram bercorak simbol-simbol astrologi seperti formasi sihir.
Pedangnya tertancap di tengah-tengah lingkaran itu.
Asap gelap menyembur dari retakan lantai di mana pedang itu tertancap, kemudian membentuk pusaran gelap yang secara perlahan membentuk sosok misterius berjubah gelap dengan tudung kepala seperti penyihir.
Suara tawanya mendesis di antara gemuruh angin.
"Berterima kasihlah pada gurumu," kata sosok berjubah gelap itu. "Berkat dia kau bisa sampai di sini. Tapi dia sedikit keterlaluan!"
Shen Zhu menelan ludah dan tergagap, mencoba membuka mulutnya tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tenggorokannya mendadak terasa kering seperti suara tawa sosok misterius itu.
"Lihatlah pedang ini!" perintah sosok misterius itu. "Salurkan sedikit tenaga dalammu ke arah permata!"
Shen Zhu mendekat dengan ragu, kemudian mengikuti instruksi sosok misterius itu dengan rasa penasaran. Ia menyalurkan sedikit tenaga dalamnya ke arah permata dan permata itu menyala mengeluarkan lidah-lidah api, yang kemudian menjalar ke seluruh bagian pedang dan melalapnya hingga hanya menyisakan bulatan kecil.
Ternyata sebuah cincin. Bentuknya seperti miniatur pedang yang ditekuk menjadi bulat.
Shen Zhu terkesiap tanpa dapat menutupi perasaan takjubnya.
"Sekarang pakailah cincin ini!" instruksi sosok misterius itu. Kemudian menyentil cincin tadi ke arah Shen Zhu dengan jemarinya yang hanya berupa kepulan asap hitam. Dan seketika, cincin itu tahu-tahu sudah terpasang di jari Shen Zhu.
Shen Zhu kembali terkesiap.
"Cincin itu disebut ruang warisan," sosok itu memberitahu. "Dan di sinilah kita berada sekarang. Di dalam cincin."
"Ruangan ini…" Shen Zhu mengerjap dan tergagap sambil mendongak, mencoba menatap bagian yang seharusnya menjadi wajah tapi hanya melihat kegelapan pekat.
Tiba-tiba ia ingat di mana ia pernah bertemu sosok misterius itu pertama kali.
"Aku ingat," katanya. "Kau yang memberikan pedang patah itu padaku!"
__ADS_1
"Benar!" jawab sosok misterius itu. "Akulah roh pedang itu!"