Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
101


__ADS_3

"Mundur!" teriak salah satu tetua yang memimpin para perusuh.


Lalu dalam sekejap para tamu tak diundang itu lari kocar-kacir meninggalkan aula singgasana ketua. Para tetua mereka menghilang dalam sekejap dengan kekuatan teleportasi.


Tidak satu pun dari anggota Sekte Bao menghalangi para perusuh yang melarikan diri.


Semua orang sekarang menatap Shen Zhu dengan terperangah.


Shen Zhu membeku di tengah-tengah reruntuhan akibat ulahnya sendiri.


Sesingkat itu.


Semuanya sudah berakhir.


Bao Yu mendesah dan menatap Shen Zhu sembari bertolak pinggang.


"Hanya terbang sedikit, sudah menghancurkan setengah dari sekte," erang Lim Hua seraya memutar-mutar bola matanya.


"Sudah sebesar ini masih saja jadi pengacau," Bao Yu pura-pura memarahi Shen Zhu.


"Sudah kubilang selama sepuluh tahun ini kerjaku hanya tidur," gumam Shen Zhu beralasan, kemudian menoleh ke arah Jyang Ryu sembari menyeringai. "Kakak Ipar, bagaimana kalau malam ini aku menginap di tempatmu saja?"


"Tidak, tidak!" tolak Jyang Ryu cepat-cepat. "Kusarankan kau kembali saja ke habitat aslimu!"


Para wanita terkekeh seraya membekap mulut mereka dengan jemari tangan.


"Padahal aku baru saja pemanasan!" gerutu Tianjin. Jialin mengusap-usap kepalanya.


Jyang Yue dan Xie Ma tersenyum seraya melontarkan tatapan geli ke arah anak laki-laki itu.


Xiao Mao menghampiri Shen Zhu dan mendesah berat.


"Auraku tak punya mata!" Shen Zhu memelototi Xiao Mao ketika gadis itu baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


"Aura memang tak punya mata, tapi rantai harusnya punya," tukas Xiao Mao setengah menggerutu.


"Apa maksudnya rantai punya mata?" Shen Zhu memelankan suaranya berupa bisikan tajam seraya merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Xiao Mao dengan alis bertautan.


"Kau tak pernah dengar istilah mata rantai?" tanya Xiao Mao.


"Sungguh salah aku mempercayaimu!" erang Shen Zhu sembari memutar-mutar bola matanya.


"Kau masih ingat bagaimana menemukanku?" tanya Xiao Mao.


"Terikat pada rantai," jawab Shen Zhu tanpa berpikir.


Xiao Mao menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring sembari bersedekap.

__ADS_1


Shen Zhu mengerjap dan tergagap.


Xiao Mao menyingkap lengan hanfunya memperlihatkan gelang besi yang masih menyisakan seuntai rantai yang sudah terpangkas. Lalu tersenyum miring sekali lagi sambil menaik-naikkan sebelah alisnya.


Aku mengerti, pikir Shen Zhu akhirnya. Rantai petaka membelenggu aura petaka!


Sementara itu di Ruangan Ketua Aliansi Ksatria, seorang pria berjubah gelap dengan tudung kepala berlutut seraya menautkan kedua tangannya di depan wajah dan melaporkan, "Perjamuan itu untuk menyambut kepulangan Liu Shen Zhu!"


"Tempatkan mata-mata di Sekte Bao dan Sekte Majusi!" perintah Ketua Aliansi.


"Baik!" pria bertudung itu kembali membungkuk dan memohon diri.


Keesokan harinya, Shen Zhu mengunjungi salah satu gunung di Sekte Bao untuk menemui Bao Hu bersama Bao Yu. Tapi Mata-mata Aliansi mencurigai tempat itu sebagai tempat menimbun sepuluh pusaka yang dicuri bersama tubuh Shen Zhu di akhir Ujian Ksatria, kemudian melaporkannya pada Ketua Aliansi.


Sejumlah ksatria bayangan pun diutus pada malam harinya untuk menyelinap ke dalam kuil di puncak gunung di mana Bao Hu mengasingkan diri.


Shen Zhu sedang berlatih mengontrol aura petaka di beranda kamarnya di lantai dua ketika para ninja itu menyelinap.


Jarak dari wisma tamu ke kuil pertapaan Bao Hu sekitar seribu meter lebih.


Tapi karena letak kuil itu berada di ketinggian, Shen Zhu bisa melihat pergerakan mereka yang halus dan cepat melalui aura mereka yang bercahaya dalam gelap, kemudian menyentil udara kosong yang melesatkan energi cahaya seperti laser ke arah lonceng di depan kuil pertapaan Bao Hu untuk mengirimkan sinyal.


Lonceng itu berdentang nyaring dan mengacaukan konsentrasi Bao Hu yang sedang bermeditasi dan membangunkan semua orang.


Para penyelinap itu tersentak dan tertangkap oleh Bao Hu.


SLAAAASSSH!


SLAAAASSSH!


Para ninja itu melontarkan banyak belati dari berbagai sudut ke arah Bao Hu.


Shen Zhu menepiskan belati-belati itu dengan cara yang sama, melontarkan energi cahaya seperti laser dari kejauhan.


Bersamaan dengan itu, para pengawal yang bertugas patroli malam itu segera bergegas ke kuil Bao Hu.


Tapi para penyusup itu sudah melarikan diri.


Bersamaan dengan itu, sebuah desa di perbatasan wilayah antara Sekte Bao dan Sekte Majusi diserang monster yang keluar dari reruntuhan kuno peninggalan leluhur Sekte Bao.


Rakyat sipil mengecam pihak Sekte Bao.


"Ini jelas bukan kebetulan," gumam Bao Yu ketika semua orang dikumpulkan di pekarangan. Aula singgasana ketua belum selesai direnovasi.


"Kirim bantuan sekadarnya," usul Shen Zhu. "Sejumlah pihak mungkin sedang menunggu kesempatan untuk menyelinap ke Sekte Bao!"


"Aku akan berangkat bersama timku!" Jialin menawarkan diri.

__ADS_1


"Aku ikut!" Tianjin menimpali dengan antusias.


"Tidak!" Bao Yu dan istrinya menghardik anak laki-laki itu bersamaan.


"Guru!" Shen Zhu menyela perdebatan mereka. "Aku akan membawa Tianjin. Yang lainnya tak perlu pergi. Perketat saja penjagaan!"


"Apa?" Jyang Yue memelototinya.


"Baguslah!" Tianjin menanggapi dengan bersemangat.


"Baiklah," jawab Bao Yu tak berdaya.


"Suamiku!" Jyang Yue mencoba memprotes. Tapi Bao Yu menyergap pergelangan tangannya dan menahannya.


Dan sebelum semua orang dapat bereaksi, Shen Zhu sudah melesat membawa Tianjin bersama Xiao Mao.


Tak sampai setengah dupa, mereka sudah sampai di perbatasan.


Pekik jerit semua orang membahana di antara suara-suara berderak dan berdebuk ribut.


Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima belas tahun dikepung sejumlah serigala berbulu perak. Ketika salah satu serigala menerjang ke arahnya, Tianjin melesat dengan cepat seraya mengayunkan pedangnya ke arah serigala itu.


DUAAAAARRRR!


Semburat cahaya putih berbentuk sabit membuncah dari ayunan pedang Tianjin. Gerombolan serigala itu terpelanting dalam satu kibasan.


Anak laki-laki berusia lima belas tahun itu tercengang melihat Tianjin. Anak laki-laki berusia enam tahun itu mendarat di depannya dalam sikap kuda-kuda.


"Anak-anak! Pergi dari sini!" Seorang pria menyeruak ke arah Tianjin sambil menghunus pedang. "Tempat ini berbahaya!"


Bersamaan dengan itu, seekor serigala yang lebih besar menerjang ke arah pria itu.


Tianjin spontan melejit ke arah serigala itu dan menikamkan pedangnya di leher serigala itu.


Pria itu terperangah melihat Tianjin. "Anak kecil dari mana—" pekiknya tergagap-gagap.


"Sudah kuduga dia tak perlu dikhawatirkan!" Shen Zhu tersenyum miring.


"Aku lebih mengkhawatirkan auramu!" tukas Xiao Mao sambil mendelik ke arah Shen Zhu, kemudian melejit ke arah Tianjin ketika serigala lain mulai mengepung.


"Auraku tak punya mata," gumam Shen Zhu, lebih terdengar untuk dirinya sendiri. Kemudian mengayunkan sebelah tangannya ke samping, menyentakkan jemarinya membentuk cakar, "Tapi rantaiku punya mata!" Ia menambahkan seraya melontarkan rantai petaka dari telapak tangannya ke arah kawanan serigala yang baru keluar dari balik tebing.


BUUUUUUMMM!


Salah satu gunung batu meledak menyemburkan cahaya bersama kepulan asap debu dan serpihan bebatuan.


Kawanan serigala yang baru keluar itu tersapu dalam sekejap.

__ADS_1


__ADS_2